Di Paksa Menikahi CEO 2

Di Paksa Menikahi CEO 2
Episode 115


__ADS_3

       Semua pengawal CEO Martin yang berada di depan kamar itu, menahan pintu ruangan itu ketika pengawal Henden hendak menutup pintunya. Namun CEO Martin menyatuhkan alisnya seolah dari sorot matanya menunjukkan jika para pengawalnya tidak boleh melarang apa yang dia perintahkan. Asisten Hen merasa khawatir bahkan sejak tadi dia terus menguping dari balik pintu itu jika ada hal yang terjadi maka asisten hen


akan mendobrak pintu itu untuk menyelamatkan majikannya dari bahaya.


    Tapi percuma semua orang yang berada di


dalam ruangan itu mencoba mendengarkan apa yang terjadi di dalam sana sebab


seluruh dinding ruangan itu telah di beri peredam suaran kecuali pintunya


terbuka maka orang yang berada di luar kamar itu bisa mendengarkan apa yang terjadi di dalam kamar itu. Asisten Hen menjauhkan tubuhnya dari pintu kamar tersebut setelah dia menyadari usahanya sia-sia saat dia mencoba menguping perbincangan yang berada di dalam sana namun gagal.


      Semua pengawal yang berdiri di depan pintu seakan menahan nafas mereka, tidak ada satu pun yang berbicara mereka semua takut memasang wajah cemas jika membayangkan CEO Martin berada di dalam dengan pria licik seperti Henden, namun CEO Martin juga bukann orang yang mudah di bohongi oleh orang lain dia pria yang kejam dan juga pintar membuat siasat. Tapi yang membuat mereka semua semakin merasa khawatir ialah di dalam ruangan tersebut ada Keyzia dan juga Keyla. Kedaa wanita yang  sangat di sayangi oleh majikanya.


      Di Dalam ruangan itu.


            Keyla masih mengayun bayi keyzia dalam gendongannya agar tertidur lelah, Henden dan juga Martin membuang


pistol mereka begitu juga pengawal Henden tadi mereka semua membuang pistolnya


ke salah satu sudut ruangan itu, Henden dan Martin saling bertatapan sorot mata


buas kelihatan dari keduanya. Keyla semakin ketakutan jika sampai suaminya terluka! Martin hendak melangkah mendekati henden dan begitu juga sebaliknya.


 


Dan pertengkaran itu pun tak terelakkan lagi mereka semua saling memukul satu sama lain tidak ada yang mau kalah, Keyla mulai ketakutan ketika melihat suaminya mulai berdarah dan begitu juga dengan Henden.


Keyla memang baru beberapa hari ini mengenal Henden tapi entah mengapa Keyla merasa kasihan pada pria itu.


Keyla mulai memikirkan banyak cara agar kedua orang itu bisa mengehentikan aktifitas mereka, saling membunuh dan menghabisi satu sama lain satu kata itu yang kiri terlihat di mata kedua pria yang terlihat sedang menyakiti satu sama lain.

__ADS_1


"Auch, Kepalaku pusing sekali," Keyla mulai sempoyongan. Martin hendak melayangkan satu tinjunya pada Henden namun apa yang dia lakukan terhenti saat mendengar teriakkan Keyla.


Henden uang mengetahui musuhnya mulai lengah hendak mengambil kesempatan itu untuk menusuk Martin dengan pisau lipat yang ada di saku celana hitam yang sedang dia kenakan saat ini. Tapi Henden menghentikan niatnya saat melihat Keyla hendak terjatuh dengan masih mengendong Keyzia.


\*Tuhan bantu aku agar apa yang aku lakukan ini berhasil bagaimana ini jika aku sampai gagal. Keyzia akan menjadi korbannya tapi aku sangat yakin kedua pria bucin itu tidak akan pernah membiarkan aku sampai terluka\*. agunan Keyla dalam hati dengan masih sempoyongan kesana\\-kemari.



"Bodoh! Cepat kau bantu Keyla jangan sampai dia terjatuh," teriak Henden panik saat melihat Keyla kehilangan keseimbangannya.


Martin menatap ke arah Henden sekilas dan langsung berlari menghampiri anak dan juga istrinya.


 


           “Pa, aku mohon hentikan aku tidak mau kau terluka,” ucap Keyla dengan memeluk tubuh suaminya. Saat pria itu berada di hadapannya.


       Martin mengusap sayang punyak kepala istrinya dan mengecup Keyzia lembut, “Jaga dia jika sesuatu terjadi padaku, Kau keluar dulu biar aku selesaikan semua ini dan kita bisa hidup dengan bahagia lagi seperti sebelumnya." Pria itu bicara dengan senyuman tipis di bibirnya.


suaminya.


       “Bawa Keyzia sebentar,” ucap Keyla pada Martin.


     Henden berdiri di tengah ruangan itu dengan melihat ke arah Keyzia yang menangis saat melihat Keyla mulai menjauh darinya, anak kecil itu hanya menginginkan ibunya saja.


            Keyla mengeluarkan pisau lipat dari balik bajunya yang selama ini selalu dia simpan, dan mengarahkannya ke bagian lehernya mengores sedikit lehernya sendiri dengan belatih kecil namun sangat tajam itu, Martin menyuruh Keyla selalu membawah belatih itu agar jika ada hal yang berbahaya Key bisa  mempertahankan dirinya dari bahaya yang mengancam.  Namun Martin tidak pernah menyangka jika wanita itu akan mengoreskannya pada dirinya sendiri seperti sekarang.


.


      “sayang, apa yang kau lakukan?” tanya Martin dengan berjalan mendekati istrinya yang malah memundurkan tubuhnya menjauh darinya.


       “Keyla apa yang kau lakuakn? Cepat buang pisau itu,” Henden bicara tak kalah panik dari Martin dengan menatap kearah Keyla yang menjauhi mereka berdua.

__ADS_1


        “Teruskan pertengkaran kalian. Kalian sendiri bilangkan tadi jika salah satu dari kalian belum ada yang meninggal maka pertengkaran ini tidak akan selesai! Bagaimana jika aku saja yang pergi dari dunia ini aku sudah lelah melihat pertumpahan


darah yang terjadi di halaman rumah ini aku tidak bisa melihatnya lagi aku sudah terlalu lelah.”


       Keyla menjadikan dirinya sendiri sebagai alasan agar kedua orang itu menghentikan permusuhan mereka dan terbukti Henden dan juga Martin mulai menatap satu sama lain. Martin menatap Henden seolah dari sorot matanya yang redup mengatkan jika dia tidak


ingin melanjutkan pertengkaran ini dan Henden juga menganggukkan kepalanya


tanda jika pria itu setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Martin melalui sorot matanya saat ini.


 


Henden sangat menyayangi Keyla mana mungkin pria itu membiarkan wanita yang dia cintai itu sampai terluka karena dirinya.


 


     Keyla mulai kelihatan lengah dan Martin dengan gesit merampas pisau itu dari tangan istrinya dan membuangnya  sembarangan arah. Martin memeluk tubuh istrinya dengan lembut dan mengecupnya, Martin memberikan Keyzia kembali pada Keyla karena bayi itu sejak tadi tidak mau berhenti menangis.


      Henden tidak pernah menyangak Keyla menghentikan permusuhan di antara dirinya dengan Martin, dengan mengunakan nyawanya sendiri sebagai taruhannya, Henden cemburu melihat Martin dan Keyla berpelukan namun dia bisa menerima semua itu karena Keyzia membutuhkan keluarganya yangnuntuh. Namun yang tak di sangka pengawal Henden justru mengeluarkan satu pistolnyang sejak tadi masih dia simpan di balik jas hitam yang dia kenakan.


     Pengawal itu mengarahkan pistolnya tepat mengenai bagian tubuh Keyla, pria itu pasti


berpikir jika Keyla tiada maka Martin akan sangat menderita. Henden yang


menyadari akan hal tersebut tidak bisa menghentikan pengawalnya sebab pria itu


berdiri dengan jarak yang jauh darinya, namun dia segera berlari mendekati Keyla dan juga Martin yang belum menyadari akan hal tersebut.


           “Keyla, awas.” Pria itu berteriak dengan berlari menekati Keyla yang masih berpelukan dengan suaminya.


      Dorr. .dor. . dor. .

__ADS_1


__ADS_2