Di Paksa Menikahi CEO 2

Di Paksa Menikahi CEO 2
Tidur Sendiri Part 2.


__ADS_3

"Kasihan sekali kau Dad, kau akan di maki oleh Mom habis hari ini. Lihat itu Mom sudah mulai mengeluarkan taringnya bahkan selera makannya langsung hilang ketika kau mulai muntah tadi," gumam Michael dalam hati dengan tersenyum usil  di balik penderitaan yang Martin alami.


Martin memang sudah terbiasa melihat selera makan istrinya yang rakus itu tapi entah mengapa baru sekarang ini dia merasa mual dan juga tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan semua makanan yang ada di dalam perutnya itu. Bahkan semua pelayan sangat kebingungan namun mereka tak berani menegur majikannya. Keyla mulai menaruh sendok yang tadi dia pegang dan meminum air dalam gelas yang ada di hadapannya. Kini Key mulai bersandar di kursi yang sedang dia duduki tadi selera makannya hilang dengan sekejap bahkan wajahnya terlihat memberengut saat ini.


Martin mulai berjalan kembali dari wastafe menuju meja makan yang ada di dalam dapur itu. Dan dia menatap wajah istrinya yang sangat jelas jika wanita itu terlihat sedang kesal, Martin mendudukkan tubuhnya di kursi dengan keringat dingin masih terlihat di jidatnya itu.


"Sayang maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja melakukannya," ujar Martin dengan wajah memelas seolah tenagannya sudah terkuras habis saat dia memuntahkan semua makanannya tadi.


"Akan aku maafkan, tapi malam ini kau tidur sendirian!" Selesai bicara wanita itu langsung berdiri dari posisi dudunya dan berjalan menaiki anak tangga rumahnya.


     "Mommy mu sangat menjengkelkan," gerutu Martin dengan menatap ke arah Michael yang sedang melihta Keyla menaiki anak tangga rumahnya itu.


"Dad kau sudah tau kan Mom itu mudah tersinggung tapi, kau malah muntah di hadapannya saat dia sedang asyik menikamati makan siangnya," ujar Michael dengan wajah datar.


"Kau tau, Mommy mu jika makan sangat rakus dan membuat orang ingin muntah saja," tandas Martin dengan wajah terlihat datar.


Michael dan juga Martin makan dengan wajah datar sehingga tak ada perbincangan yang terjadi di dalam meja makan itu. Ayah dan anak memiliki wajah yang sama seperti sebuah manekin yang berwajah datar.


        Rumah Jeni

__ADS_1


     Jeni baru saja sampai di halaman rumahnya dan pelayan yang ada di rumah itu segera menyambut kedatangan mereka, Miranda masih berada di dalam mobil dengan menekuk wajahnya Jeni mengandeng tangan anak itu untuk turun dari mobil, Dikra membantu pelayan rumahnya mengatuir barang yang dia bawah tadi. Jeni bergandengan dengan Miranda masuk ke dalam rumah. Rumah itu terlihat sangat besar walaupun tidak sebesar rumah Martin. Tapi bukan hal itu yang membuat Miranda sedih melainkan karena di rumah itu tidak ada Martin dan juga Keyla di sana.


"Sayang, jangan terus bersedih seperti itu nanti juga kau akan terbiasa lagi," bujuk Jeni dengan membelai lembut puncak rambut anaknya itu namun Miranda masih juga belum membuka mulutnya.


Ini pasti tidak mudah bagi dia untuk beradapatasi di lingkungan yang baru lebih lagi Miranda sudah terbiasa dengan kehadiran kehadiran keluarga Martin di setiap hari,harinya. Jeni masuk ke dalam rumah dengan tangannya masih mengandeng Miranda, Jeni menaiki anak Tangga rumahnya dan begitu pula dengan Miranda masih tetap setia menikuti langkah mamanya itu. Kini Jeni sudah tiba di depan pintu kamar Miranda dan wanita itu segera membuka kamar tersebut. Di dalamnya sudah di penuhi dengan banyak boneka dan juga banyak mainan yang Miranda sukai. Miranda tersenyum tipis karena dia merasa boneka-boneka kecil itu bisa menjadi temannya dalam kegelapan dan kesunyian kamar yang dia lalui.


        Kantor Asisten Hen.


     Zenap datang dan membawa makan siang untuk suaminya tentu saja wanita itu tidak datang sendirian karena putra mereka yang bernama Hengki ikut dan Zenap dengan sengaja menyuruh Hengki masuk duluan saat asisten Hen sedang melakukan pangilan vidio call bersama Martin di rumahnya. Saat asisten Hen sedang serius membahas tentang urusan saham Hengki berjalan masuk ke dalam ruangan itu.


     "paipa," ujar anak itu dengan berjalan mendekati asisiten Hen yang sedang fokus menatap layar laptonya.


       "Sayang sini biar papa gendong," ucap Asisten Hen dengan senyum tersirat dalam bibirnya itu. Sedangkan Zenap menaruh bekal yang dia bawa dia atas meja dan wanita itu lansung meyiapkan makanan siang untuk suaminya itu.


      "Pa, makanlah dulu, kau pasti belum makan kan?" ujar Zenap dengan mengambil Hengki dalam gendongan suaminya.


     "Terimakasih sayang, kau memang istriku yang paling pengertian," ujar Asisiten Hen dengan mengecup jidat istinya.


      asisten Hen langsung makan dengan sangat lahap dia bahkan tak menyisahkan sedikit makanan pun dalam piringnya itu sedangkan Zenap hanya bisa mengeleng-ngelengkan pelan kepalanya saat melihat suaminya yang sudah menghabiskan makanan tersebut dalam piringnya. Zenap selalu datang ke kantor jika Martin sedang libur berkerja namun Asisten Hen melupakan satu hal jika majikannya sedang menunggunya di dalam laptop.

__ADS_1


     Rumah Martin.


           Martin sedang berada di ruang kerjanya pria itu terlihat sedang marah karena Asisten Hen meninggalkan dirinya begitu saja saat melihat Hengki bahkan tanpa berpamitan pada majikannya itu. Lihat itu Martin menyatuhkan alisnya dengan menatap ke arah Laptopnya itu.


    "Hen jika kau belum kembali juga habis kau jika aku masuk kerja besok," Martin mengirimkan pesan melalui ponselnya.


      Kantor asisten Hen.


Asisiten Hen yang sedang duduk dengan menaruh Hengki dalam pangkuannya segera menyambar ponselnya yang ada di atas meja pria itu segera membuka pesan WhatsApp yang ada. Matanya melotot saat membaca pesan dari CEO arogan itu.


"Ma, aku lupa jika sedang berbincang dengan CEO Martin tadi." Setelah bicara pria itu mengendong balitanya dan duduk kembali di meja kerjanya.


Martin hendak marah bahkan sorot matanya sudah kelihatan tidak bersahabat namun saat melihat wajah Hengki dari sebrang sana, emosi Martin seakan sirna dan mulai memudar dia tersenyum dengan menatap ke arah Hengki.



"Sayang, kau menyelamatkan Papa dari amukan si raja hutan itu," asisten Hen bergumam dalam hati dengan menghembuskan nafas lega.


__ADS_1


Jika saat itu tidak ada Hengki maka Asisten Hen akan habis di maki beruntun oleh sang CEO. Martin memang sangat kejam namun di sisi lain dia juga sangat menyayangi anak kecil itulah sisi baiknya.


__ADS_2