
"Miranda kau jaga baby Eve dulu apa tidak papa?" Tanya Resni dengan menatap Miranda yang sedang berjongkok di depan kereta dorong bayi.
"Baik Tante," Jawab Miranda dengan senyum terbit di wajahnya.
Selesai bicara dengan Miranda, Resni segera menghampiri Michael yang sedang berdiri di samping asisten Hen. Asisten Hen tersenyum tipis pada Resni saat tatapan mereka saling beradu. Sikap asisten Hen tidak sedingin dulu sebelum pria itu menikah dengan istrinya yang bernama Zenap dan dikarunia anak baru berusia 3 tahun bernama Hengki dan usianya selisih 4 tahun dari Michael.
"Michael kemana Mommy mu?" Tanya Resni dengan berhenti tepat di depan Michael.
"Mommy kurang enak badan jadi dia tidak bisa pergi ke mall hari ini." Bicara dengan wajah datar namun masih kelihatan sangat tampan.
"Hai asisten Hen, tumben kau mengantar Michael hari ini?" Sapa Resni dengan begitu ramah.
"Daddy yang menyuruhnya." Michael yang menjawab dengan berjalan mendahului Resni masuk ke dalam rumah.
*Dasar bocah ingusan ini sama menjengkelkannya dengan Daddy nya. Key kau harus sabar dengan sikapnya yang sedingin es di kutub Utara itu*. gerutu Resni dalam hati.
__ADS_1
Mereka semua masuk ke dalam rumah Resni mengikuti Michael. Walaupun Resni seringkali jengkel dengan sikap dingin Michael namun wanita itu juga sangat menyayangi Michael seperti putranya sendiri. Mau gimana lagi buah memang tak jauh dari induknya sikap dingin Michael sangat mirip dengan Martin dan sikapnya yang licik itu persis seperti Keyla.
Malam Hari.
Tengah malam Keyla bermimpi buruk dia berteriak histeris mungkin saja Key masih mengingat kejadian siang tadi. Karna sebab ini lah Martin sejak dulu menyembunyikan kelompok Mafia yang dia miliki karna dia tau Key tidak akan sanggup menerima kenyataan ini. Martin terbangun dari tidurnya dan memeluk istrinya.
Dia merasakan tubuh Keyla sangat panas sampai dari balik baju rasa panas itu seakan sedang membakar istrinya. Martin segera keluar dari kamarnya dan menuju kamar Jeni. Setelah tiba di depan kamar Jeni Martin mengetuk pintu itu berkali\-kali tak lama kemudian Jeni mulai membuka pintu kamarnya. Dia sangat terkejut melihat Martin berada di depan kamarnya tengah malam seperti ini.
"Ada apa Martin, kau sampai mengetuk pintu kamarku selarut ini?" Tanya Jeni dengan berusaha mengumpulkan nyawanya karna baru bangun tidur.
"Badan Keyla tiba\-tiba panas bisakah kau ambilkan kompres di dapur? Aku akan menemaninya." Martin meminta tolong pada Jeni karna dia tak ingin meninggalkan Keyla sendirian di kamar.
"Tidak perlu aku sudah menelponnya dia akan segera datang." Sahut Martin.
Dikra juga ikut terbangun dia berjalan masuk ke dalam kamar Martin dan berdiri di sisi ranjangnya. Keyla masih menutup matanya dan badan wanita itu masih terasa sangat panas. Martin kebingungan semua ini karna salahnya jika saja dia mengetahui keyla akan datang maka Martin akan menyelesaikan para pembunuh itu lebih cepat. Jeni tiba dengan membawakan air hangat dan handuk kecil berwarna putih.
Ketika Jeni hendak mengompres Keyla Martin menghentikan niatnya, karna Martin ingin merawat istrinya sendiri. Jeni mengiyakan keinginan Martin.
__ADS_1
Martin adalah pria yang di takuti di dunia mafia dan juga di dunia bisnis. Sikapnya terkenal sangat kejam dan bisa membunuh musuhnya dengan satu kali taktik saja. Tak heran jika dia bertambah kaya karna bisnis jual beli senjata ilegal yang di jalani berkembang pesat sampai keluar negri namun sangat jarang orang yang mengetahui tentang bisnis haram yang sejak dulu Martin geluti. Mereka tidak tau nama Martin, Yang mereka tau CEO Mafia yang sangat di hindari adalah bernama "MK" mereka tidak pernah tau jika itu adalah singkatan dari Martin Kwang.
Jangankan orang luar bahkan para pengawal Martin saja hanya beberapa orang yang tau jika CEO mereka adalah Raja di dunia bisnis dan Mafia.
Dokter tiba dan masuk ke dalam kamar Keyla. Tak butuh waktu lama dokter itu sudah selesai memeriksa kondisi Keyla.
"Ini obat di minumkan setelah Nyonya besar nanti bangun. Dia akan tidur sampai pagi hari dan sudah saya beri obat lewat suntikan yang saya berikan tadi." Ucap dokter itu pada Martin sembari menyodorkan beberapa macam jenis obat.
"Bagaimana keadaan istriku? Kenapa panasnya belum sembuh!" Martin bicara dengan menyatuhkan alisnya.
Jika saja yang bicara saat itu bukan Martin mungkin dokter itu akan tertawa terpingkal\-pingkal setelah mendengarkan ucapan konyol pria di hadapannya itu. Namun karna Martin yang bicara dokter paruh baya itu mulai berkeringat dingin dan gemetaran.
"Daddy, kan Mommy baru saja di berikan suntikan. Biarkan obatnya bereaksi dulu baru nanti mommy akan sembuh di pagi harinya." Sahut Michael dengan masuk ke dalam kamar itu.
"Terimakasih Tuan muda kecil kau menyelamatkanku dari kebodohan CEO jika sudah menyangkut tentang Nyonya besar." Gumam dokter itu dalam hati dengan menghela nafas panjang.
__ADS_1