
Rumah Asisten Hen.
Asisten Hen baru saja masuk ke dalam rumahnya dan pria itu turun dari mobil dengan banyak darah masih tersisah di kemejanya yang berwarna putih polos. Zenap yang sedang duduk bersama Hengki putranya di ruang tamu rumahnya, segera berdiri kasar dari posisi duduknya dan wanita itu menaruh balita itu di dalam gendongannya, sedari tadi Zenap sedang menunggu kedatangan suaminya itu. Zenap mengetahui jika Suaminya tadi siang sedang dalam
bahaya dan wanita itu sangat gelisah dia begitu ingin menghubungi suaminya
namun Zenap takut jika melihat dirinya yang sedang merasa gelisah akan membuat
sang suami malah dalam bahaya besar.
Zenap membuka pintu rumahnya dan segera berlari dengan masih mengendong Hengki yang sekarang sedang tersenyum girang karena melihat Papanya sudah datang berkerja. Hengki tidak mengetahui apapun itu namun anak seumurannya sudah merasa bahagia jika melihat orangtuanya datang setelah seharian berkerja.
Asisten Hen segera mengecup pipi putranya dan juga Pipi Zenap bergantian seolah-olah pria itu sedang bersyukur pada tuhan karena dia di berikan kebahagian setelah lolos dari
maut. Jika saat anak buahnya tadi tidak datang tepat waktu mungkin saja
keluarga Martin dan juga dirinya kini sedang bersedih karena kehilangan orang
yang sangat di sayangi. Asisten Hen langsung menaruh Hengki di dalam
gendonganya karena anak itu sedang mengulurkan kedua tanganya ke arah Asisten
Hen seakan anak kecil itu sedang merindukan sang Papa.
“Sudah jangan menangis, aku baik-baik saja,” ujar Asisiten Hen dengan mengecup kening istrinya itu dan segera mengendong Hendrik.
“Apa kau tau sejak tadi aku terus berdoa pada tuhan agar dia selalu melindungimu,” Zenap bicara dengan tangis mengisak sampai bibir wanita itu gemetaran saat mengucapkan hal tersebut.
Itu bukan tangisan sedih melainka tangisan bahagia karena dirinya bisa berkumpul lagi dengan sang suami lebih lagi sekarang ada putranya yang masih sangat membutuhkan asisten Hen untuk selalu mejaganya.
“Berhentilah menangis, tuhan sudah mengabulkan doa mu kan,” jawab Asisten Hen dengan memeluk lengan pundak wanita itu dan mereka berdua masuk bersama ke dalam rumah.
“Kau selalu saja menyebalkan seperti ini,” Zenap memukul pelah dada suaminya itu karena geram melihat sikap suaminya yang sangat santai saat berbicara sedangkan dirinya sudah mengkhawatirkan pria itu sejak tadi siang.
“Sayang, apa ada yang terluka?” Tanya Zenap dengan memeriksa tubuh suaminya itu dan ternayata darah di kemeja putih suaminya itu bukan berasal dari tubuh asisten Hen
melainkan darah musuhnya.
“Kau tenag saja Hen junior sedang dalam kondisi yang baik,” Asisten Hen sedikit bercanda agar wajah istrinya yang sedang khawatir itu bisa sedikit lebih tenang.
Hahaha lihat itu wajah Zenap yang tadi kelihatan panik dan khawatir kini mulai berubah menjadi cemberut saat mendengar apa yang di ucapkan oleh suaminya tadi.
Memukul keras lengan suaminya, “Pikiran mu itu sangat mesum, kau sungguh menyebalkan.” Wanita
itu berjalan masuk mendahui suaminya.
__ADS_1
Jelas saja Zenap kesal karena saat dia sibuk memeriksa anggota tubuh suaminya dengan wajah kelihatan khaatir malah sang suami sengaja mengarahkan tangan wanita itu ke dalam Hen junior. Hahaha baru kali ini aku bisa melihat jika diam-diam asisten
Hen juga sangat mesum sama seperti majikannya itu. Atau mungkin saja terlalu
lama menempel pada Martin sampai pria itu ikut ketularan sikap mesum sang CEO.
Hen terseyum tipis dengan melihat punggung istrinya semakin mejauh.
Di rumah Resni.
Baby Eve sedang tidur di dalam ranjang bayi dan Resni berada di atas tempet tidur dengan Ferdi. Resni sedang tidur di lengan suaminya itu dengan mengatakan banyak hal ya seperti itu kehidupan mereka berdua sangat harmonis dengan adanya Eve yang
melengkapi hidup mereka beberapa bulan yang lalu bahkan Karena adanya bayi
mereka itu seakan hubungan dan rasa cinta keduanya terjalin semakin erat setiap
harinya. DI sela-sela perbincangan Ferdi mulai teringat tentang kabar yang tadi
siang dia dengar dari rekan bisnisnya. Ferdi menceritakan gimana kondisi
keluarga Keyla bisa lolos dari maut saat di restoran tadi siang. Resni mulai
tidak tenang dan dia merasa khawatir. Ferdi pun menyuruh istrinya itu besok
itu bisa sirna.
Kediaman Dikra.
“Tante. . tante.. jangan tinggalkan Miranda,” teriak Miranda. Gadis kecil itu sedang tertidur
pulas dan dia sedang bermimpi jika Keyla pergi meninggalkan dirinya dan hampir jatuh
ke jurang di dalam mimpi itu sungguh terlihat nyata sampai Miranda mengeluarkan
Kristal bening dari sudut matanya itu.
Dikra yang kebetulan hendak membuka pintu kamar Miranda langsung masuk dan pria itu segera menyalakan sakral lampu yang ada di samping pintu Miranda. Dikra melihat
Miranda sedang berkeringat dengan jeritan anak itu semakin nyaring terdengar
sampai Jeni juga ikut berlarian masuk ke dalam kamar putrinya itu saat jeritan itu terdengar dari kamarnya sebab kamar Jeni saat itu sedang terbuka, Dikra duduk
di samping Miranda dan segera mengoyangkan lengan anak gadisnya itu.
Plap! Miranda mulai membuka matanya
__ADS_1
“Papa, aku bermimpi buruk tentang Tante Key. Aku ingin segera bertemu dengannya saat ini juga,” gerutu Miranda dengan memeluk tubuh Dikra denga sangat erat dan Air mata Miranda mengalir sangat deras, mimpi gadis kecil itu seakan seperti kenyataan bahkan tubuh Miranda sampai gemetar dengan sangat hebat gadis itu masih mengingat jelas kejadian di salam mimpinya barusan.
“Sayang, itu hanya mimpi sekarang tidurlah kembali biar Mama dan Papa yang menemanimu tidur malam ini,” pria itu mencoba menenagkan anak gadisnya itu agar tak terus terbayang mimpi buruk yang baru
saja di alami.
“Pa, aku sungguh sedang merasakan hal terjadi pada Tante Key,” Miranda ganti memeluk Jeni saat wanita itu duduk di samping anaknya.
"Sayang, kau tau kan jika mimpi hanyalah bunga tidur saja. Pasti karena kau sangat merindukan Tante Key mangkanya kau sampai bermimpi buruk," bujuk Jeni dengan membelai lembut puncak rambut anaknya itu.
Beberapa saat gadis kecil itu mencoba mencerna apa yang ada di dalam pikirannya dan sesaat kemudian Miranda mulai kelihatan tenang.
Dikra mengelengkan pelan kepalanya menandakan jika Jeni tidak boleh memberitahukan hal yang sedang terjadi tadi siang. Bukan karena Jeni dan juga Dikra tidak
perduli lagi dengan keluarga Martin namun mereka tidak ingin jika putri mereka
terus merasa bersedih dan sampai bermimpi buruk untuk yang kedua kalinya. Jeni
berusaha meyakinkan putrinya itu jika Keyla baik-baik saja dan Jeni menemani
Miranda tidur di kamarnya.
Beberapa saat kemudian Miranda sudah kembali tertidur lelap dan Dikra mengajak Jeni keluar dari kamarnya untuk membicarak sesuatu hal yang penting. Dikra sengaja tidak
berbicara di dalam kamar putrinya karena takut jika Miranda akan terbangun dari
tidurnya dan bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan itu.
“Bagaimana dia sampai bermimpi buruk seperti itu?” Tanya Jeni dengan bersandar di dinding depan kamar putrinya.
“Pasti karena Miranda dan juga Keyla sangat dekat sehingga dia bisa merasakan jika Key tadi siang hampir saja dalam bahaya,” imbuh DIkra dengan menatap Jeni.
“Lalu bagaimana apakah kita besok akan pergi menemui mereka?” Tanya Jeni dengan wajah kelihatan kahawatir dengan kondisi adiknya saat ini walaupun wanita itu tau dengan sangat Jelas jika sekarang kondisi Keyla sudah aman dari bahaya namun tetap saja hati seorang kakak tidak akan tenang jika mendengar adiknya hampir saja terbunuh
dalam sebuah pertarungan besar.
“CEO Martin tadi bilang, jika kita tidak perlu datang ke sana karena dia memikirkan jika Miranda akan bersedih untuk yang kedua kalinya kalau sampai berpisah lagi dari
mereka lebih lagi sekarang Keyla sedang hamil dua minggu,” imbuh Dikra. Tadi
sore Dikra menghubungi Martin dan pria itu memberitahukan tentang kabar gembira
itu pada Dikra dan menyuruh menyampaikannya pada Jeni dan juga Miranda.
BESOK AKAN SEMAKIN SERU INI CERITANYA SI CEO AKAN TAU JIKA DIRINYA SEDANG MENGIDAM APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA YA. . JANGAN LUPA BACA KELANJUTANNYA BESOK. .
__ADS_1