Di Paksa Menikahi CEO 2

Di Paksa Menikahi CEO 2
Merindukan.


__ADS_3

Rumah Miranda.


       Anak kecil itu sedang tidur dengan memeluk guling dia masih belum bisa memejamkan matanya karena sangat rindu dengan keluarga Martin, Miranda melihat foto kebersamaan mereka dari layar ponselnya dengan air matanya tiada henti jatuh dan terus jatuh membasahi pipi putihnya itu bahan tangisan itu semakin lama semakin terdengar sangat memilukan. Lampu kamar Miranda sudah di matikan namun tetap saja anak perempuan itu belum bisa memejamkan matanya karena rasa rindu yang semakin dalam dia rasakan di tambah lagi keheningan malam itu semakin membuat dirinya merasa kesepian. Jika siang hari Jeni akan menghiburnya hingga Miranda tak merasakan kesepian, namun di malam hari rasa rindu dan juga kesedihan yang Miranda rasakan semakin jelas dan membuat dadanya seakan penuh hingga pecah menjadi sebuah tangisan di malam hari.


Miranda mulai beranjan berdiri dari posisi tidurnya dan dia berjalan membuka jendela kamarnya, dia hirup udara malam itu yang sangat sejuk dan mampu menenagkan pikirannya, Miranda masih menitihkan air matanya dengan pandangan lurus ke depan membayangkan jika MIchael berada jauh darinya itu semakin membuat rasa kesepian yang dia rasakan semakin dalam rasa rindu akan canda tawa dan kemarahan Michael selalu teringat di benaknya.


      "Sayang, kau belum tidur?" tanya Jeni dengan tangannya menyalakan lampu kamar Miranda. Jeni tidak sendirian karena Dikra juga ada di belakang wanita itu.


"Ma, Pa." Miranda berhamburan ke dalam pelukan Jeni dengan air mata jatuh membasahi pipinya untuk yang kesekian kali.


"Kau pasti sedang merindukannya kan?" tanya Dikra dengan ganti memeluk Miranda.


      Miranda, Jeni dan juga Dikra duduk di sofa yang letaknya ada di bawah ranjang Miranda. Dikra mengusap air mata yang jatuh di kedua pipi anaknya itu bergantian sedangkan Jeni membelai lembut puncak kepala gadis kecil itu, Miranda duduk di anatara keduanya.


"Percayalah Nak, seiring berjalannya waktu semua ini akan berakhir kau tidak akan lagi merindukan mereka," ucap Dikra mencoba menenagkan kegundahan hati putri kecilnya itu.


       Satu minggu kemudian.


     Kantor Martin.

__ADS_1


       Hari ini CEO Martin sedang berkerja seperti biasanya dia berkerja dengan sangat serius dan membaca setiap berkas yang sedang bertumpuk-tumpuk di hadapanya namun tak lama setelah itu datanglah asisten Hen, pria itu membungkukkan tubuhnya di depan CEO Martin dengan menyodorkan satu piring nasi goreng yang tadi di pesan oleh sang CEO. Asisten Hen menaruh nasi goreng itu di hadapan CEO Martin namun sesaat kemudian yang terjadi ialah.


"Buang makanan ini, kenapa dengan mencium aromanya saja bisa membuat ku ingin muntah," Asisten Hen melihat ke arah CEO Martin dengan mengerutkan keningnya heran dengan apa yang di ucapkan oleh majikannya itu.


      "Lihat apa! Cepat singkirkan makanan ini dari hadapanku kau mau aku habisi, Hah!" ancam Martin dengan menutup hidungnya dengan tangan.


     CEO Martin mulai merasakan perutnya seperti sedang di aduk-aduk dia mulai mengembungkan mulutnya dan berlari masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kantornya, CEO Martin muntah di wastafel yang ada di dalam kamar mandi itu. Keringat dingin mulai mengucur deras dari jidatnya dan mulai jatuh perlahan membasahi pipinya itu. Setelah di rasa makanan yang ada di dalam perutnya itu terasa kosong CEO Martin melipat kemejanya sampai ke siku.


Kemudian pria itu mulai membaik wajahnya dengan air dingin dari wastafel, CEO Martin bersandar di wastafel tersebut dengan memegangi perutnya dia sendiri juga heran kenapa hal ini bisa terjadi sungguh aneh. kira\-kira begitu arti dari pandangan kosong sang CEO.


       Sedangkan asisten Hen mulai kebingungan melihat sikap majikannya itu karena baru kali pertama ini Asisten Hen melihat sikap Martin seperti itu padahal nasi goreng tersebut ialah nasi goreng yang paling di sukai oleh yang CEO. Asisten Hen mengambil piring yang berisikan nasi goreng tersebut dan mulai mencium nasi aroma nasi goreng itu. Wajah asisiten Hen semakin kebingungan karena aroma nasi goreng itu sunguh sangat menggoda indra penciumannya untuk segera melahap makanan sederhana namun sangat lezat dengan pengajian yang sangat memanjakan mata.


     "Asisten Hen! Kau mau mati ya. Cepat buang makanan berbau busuk itu aku ingin muntah jika melihat nasi goreng itu!" perintah Martin dari depan kamar mandi, pria itu menatap Asisten Hen dengan mata melotot.


     "Uhuk. . uhuk. . baik Tuan muda," asisten Hen langsung tersedak saat dia mendengar teriakan lantang yang bernada ancaman mulai keluar dari pita suara majikannya itu.


       Setelah membungkukkan badannya asisten Hen keluar ruangan itu dengan membawa nasi goreng yang ada di atas meja tadi. Asisten Hen berjalan menuju dapur yang ada di dalam perusahaan besar itu semua pegawai yang berpapasan dengannya membungkukkan badannya dan menyapanya namun asisten itu masih tetap memasang wajah datar seperti biasanya. Tapi semua perkerja kantor itu tidak heran karena memang seperti itu sikap asisten Hen. Sekarang asisiten Hen sudah mulai membuka pintu dapur dan semua koki handal dari berbagai daerah langsung berbaris rapi di hadapan asisten Hen dengan menundukkan pandangannya.


Jika di lihat dari mimik wajah Asisten Hen semua penghuni dapur itu pasti mengetahui jika pria yang sedang berada di hadapannya sekarang sedang marah besar. Dan benar saja asisiten Hen langsung membuang kasar piring yang berisikan nasi goreng itu ke lantai sampai nasi tersebut terburai ke mana-mana namun satupun koki tak ada yang berani beranjak dari posisinya berdiri saat ini. Mereka masih menundukkan kepalanya dengan tubuh gemetar karena kaget dari kebisingan piring saat bersentuhan dengan lantang yang terdengar begitu nyaring.

__ADS_1


      Plak. . plak. . plak. . .


     Semua orang yang ada di hadapan asisiten Hen mendapatkan satu kali tamparan di pipi kiri mereka namun tak ada satu orangpun di antara mereka yang berani memegangi pipinya yang mulai memerah dan terasa nyeri, para koki itu masih menundukkan pandangannya menerima nasib mereka dengan pasrah karena mereka tak akan berani menentang keputusan asisten Hen.


      "Kalian sangat bodoh! Percuma di gaji mahal jika membuat nasi goreng saja tidak bisa!" teriak Asisten Hen dengan mata melotot seakan hendak mencabik-cabit orang yang ada di hadapannya itu. Mereka semua masih diam membisu tanpa bergeming sedikitpun dari posisinya berdiri.


       "Untuk kali ini saya maafkan, tapi ingat tidak ada yang kedua kalinya," ucapan asisten Hen sedikit bertoleransi pada para koki itu tapi tetap saja kata-kata yang keluar dari pita suarannya itu bernada ancaman yang tidak bisa di abaikan begitu saja.


      Selesai bicara Asisten Hen keluar dari dapur dan segera menghubungi dokter pribadi keluarga CEO Martin.


JIKA PENASARAN APA YANG TERJADI BERIKUTNYA JANGAN LUPA TERUS BACA KELANJUTAN CERITANYA YA AKAN SEMAKIN SERU NIH. DAN JANGAN LUPA MAMPIR JUGA KE NOVEL KHAIRIN YANG LAIN YA.



DI BAWAH INI NAMA PEMENANG GIVEAWAY TANGGAL 10 AGUSTUS KEMARIN YA. . SILAHKAN DM AUTHOR BAGI YANG NAMANYA DI SEBUT YA.



JANGAN LUPA FOLLOW IG AUTHOR YA.

__ADS_1



__ADS_2