Di Paksa Menikahi CEO 2

Di Paksa Menikahi CEO 2
Hamil Part 1.


__ADS_3

Keyla yang mengetahui Jeni sedang muntah-muntah hendak berdiri dari kursinya namun isyarat tangan Sinta tidak menggijinkannya meninggalkan meja makan tersebut. Sinta segera berdiri dari posisi duduknya dan menghampiri Jeni yang masih menyandarkan punggungnya di wastafel tersebut.


''Nak, ada apa dengan mu?'' Tanya Sinta dengan menatap ke arah Jeni.


''Entah lah Ma, aku sudah ada satu minggu ini terus menerus merasakan mual dan pusing kepala,'' Sahut Jeni sembari menelan ludahnya yang terasa getir.


''Pergilah istirahat Jen, biar Mama dan adikmu yang membereskan mejanya.'' Ucap Sinta sembari mengusap pelan punggung Jeni.


Tak lama kemudian Jeni segera pergi dan masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan Sinta kembali mendudukkan tubuhnya di meja makan.


''Ma, bagaimana jika aku panggil dokter untuk memeriksa keadaan JeniĀ  saat ini?'' Tanya Martin sembari menatap ke arah Sinta.

__ADS_1


''Baiklah Nak Martin terserah padamu saja jika itu yang terbaik untuk Jeni.'' Sahut Sinta sembari menyunggingkan senyumannya.


_ _ _ _ _ _


Tak lama kemudian dokter pribadi yang biasanya memeriksa Keyla tiba di rumah tersebut. Dokter itu langsung masuk ke dalam kamar Jeni bersama Sinta. Sedangkan Martin dan Keyla masih menunggu di luar. Terlihat wajah Keyla sangat khawatir akan kondisi Jeni saat ini, Key sangat menyayangi Jeni walaupun kakaknya itu hampir saja membunuh janinnya namun tetap saja Keyla masih menyayangi Jeni dengan sepenuh hatinya.


''Sayang, jangan khawatir Jeni akan baik-baik saja.'' Martin bicara sembari memeluk lembut tubuh Keyla agar istrinya itu tidak merasa khawatir lagi.


''Semoga saja Kak, Aku tidak ingin sampai Kak Jeni sakit.'' Sahut Keyla sembari membalas pelukan suaminya itu.


''Ya, bilang saja.'' Ucap Keyla sembari masih memeluk tubuh Martin.

__ADS_1


''Dari mana kau belajar menjadi wanita yang licik seperti ini?'' Tanya Martin dengan masih memeluk istrinya itu.


''Dari mu!'' Jawab Keyla dengan cengar-cengir meledek Martin.


Hahaha! Kau bahkan lupa Martin jika Keyla diam-diam menirukan gaya mu itu yang terlihat kejam dan sadis. Hahaha lihat itu mata Martin sampai melotot tajam saat mendengarkan Keyla mengucapkan hal yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Namun Asisten Hen sudah mengetahuinya sejak lama tapi dia hanya dia saja karna takut Martin akan tersinggung setelah mendengarkan ucapannya itu, jika saja asisten Hen ada di sini dia pasti tidak akan bisa menahan tawanya saat mendengarkan Nona mudanya mengatakan hal tersebut.


Tak lama kemudian dokter tersebut keluar dari kamar Jeni, dan Martin perlahan mulai melepaskan pelukannya. Dokter tersebut segera membungkukkan badanya saat berada di hadapan Martin.


''Katakan apa yang terjadi padannya?'' Tanya martin dengan wajah datar.


Menyeka peluh yang ada di jidatnya, padahal selama berada di dalam kamar Jeni dokter paruh baya tersebut terlihat baik-baik saja namun saat dia berada di hadapan Martin. Tiba-tiba dokter tersebut sakit sesak nafas mendadak. Hahaha itu pasti karna sorot mata Martin yang tajam sampai membuat dokter tersebut terjena asma mendadak.

__ADS_1


''BIcara!'' Teriak martin karna dokter tersebut belum juga bicara. Jika kau bertanya dengan cara yang tidak lazim seperti itu pantaslah dokter tersebut sampai gagu saat di hadapan mu.


''Ba, baik Tuan muda. Begini Nona Jeni sedang hamil satu bulan.'' Ucap dokter tersebut sembari menundukkan pandangannya.


__ADS_2