Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 100. Akhir Penantian Regan


__ADS_3

*******


Hari yang di nanti oleh Regan pun tiba, dia tahu hanya dirinya yang begitu antusias dengan pernikahan ini karena ia tahu Lisa pasti belum bisa menerima sepenuhnya pernikahan ini.


Acara nanti akan begitu panjang, diawali dengan lamaran, lalu siraman di dua tempat berbeda, lalu setelah itu ijab kabul. Semua sudah diatur sedemikian rupa oleh WO yang dipilih oleh Lidya.


"Lisa cepat lah sedikit." Ujar Lusi seraya mengetuk pintu kamar mandi. Kebiasaan Lisa jika sedang gugup, ia akan terus bolak balik ke kamar mandi karena perutnya terasa melilit.


"Tapi gue benaran gugup Lusi." teriak Lisa dari kamar mandinya. Lusi terkekeh dengan kebiasaan sahabatnya yang satu itu.


"Ayolah, sepupuku sudah terlalu lama menunggu. Nanti dikira para tamu undangan mempelai wanitanya kabur."


Setelah mengatakan itu Lusi mendengar suara kloset yang di flush berulang-ulang, dan sedetik kemudian Lisa membuka pintu kamar mandi dengan wajah juteknya.


"Ish.. mau nikah kok cemberut gitu sih." Lusi mencubit dan menarik pipi Lisa agar Lisa tersenyum.


"Aw ... sakit Lusi." Lisa mengusap pipinya yang semakin memerah oleh bekas cubitan Lusi.


"Ayo buruan."


Lisa dan Lusi berjalan beriringan. Seorang pegawai WO yang memakai kebaya segera menyambut keduanya. Regan sudah siap menyambut di depan pintu di dampingi oleh Hans dan Lidya.


Lisa berjalan pelan saat Regan sudah terlihat berdiri di depan pintu. Mas Tio dengan kursi rodanya berdampingan dengan bu Yuyun menyambut Lisa yang pagi itu terlihat sangat cantik.


Senyum Regan mengembang saat ia melihat pujaan hatinya semakin dekat. Setelah beramah tamah prosesi acara lamaran itu di akhiri dengan acara tukar cincin.


Senyum Regan mengembang sempurna. Sebentar lagi dia akan menjadi pemilik Lisa sepenuhnya. Berbeda dengan Regan yang tampak lepas selalu menampilkan senyumnya. Lisa justru menunduk malu. Ia tak terbiasa menjadi pusat perhatian. Meskipun sebenarnya yang ada di sana hanya anggota keluarga besar dan beberapa kolega namun Lisa benar-benar malu. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan dan keningnya. Bu Yuyun yang tahu akan kebiasaan putrinya dengan lembut mengusapnya.


"Jangan gugup sayang," bisik bu Yuyun menenangkan Lisa


"Lisa tidak bisa bu, rasanya semua mata itu sedang menunggu Lisa untuk membuat kesalahan." Lirih Lisa cemas. Bu Yuyun terkekeh bahkan Lusi yang duduk di samping Lisa pun ikut tertawa.

__ADS_1


"Lisa, kamu terlalu overthinking." Lusi ikut memberi komentar. "Tarik nafas dalam dari hidung dan buang dari mulut. Lakukan berulang-ulang" lanjut Lusi. Lisa menurut saja dan mencoba apa yang Lusi katakan padanya, dia sedikit mulai tenang. Lalu petugas dari WO menjemput Lisa untuk berganti baju adat Jawa untuk prosesi siraman.


Mau tak mau Lisa berjalan meninggalkan Lusi dan ibunya. Sementara mas Tio kakak Lisa berbaur dengan Delano, ayah Suryo dan Hans.


"Semoga nanti terapinya lancar mas." kata Delano menyemangati kakak Lisa.


"Sebenarnya aku malu. Aku merasa justru malah menjadi beban semua orang."


"Kita ini keluarga sekarang. Jangan merasa berkecil hati. Justru nanti setelah kamu sembuh kamu bisa membuktikan pada dunia bahwa kamu memang memiliki potensi." Kata Suryo.


"Terima kasih om, saya seperti memiliki sosok ayah lagi." Ucap Tio seraya mengusap air mata haru.


"Kamu juga boleh memanggil saya ayah."


Air mata Tio semakin deras mengalir. Bahagia sekali rasanya. Tak hanya adiknya yang mendapat keluarga baru tapi juga dirinya.


"Sudah ayo, sebentar lagi acara siraman dimulai."


Suryo dan yang lainnya beranjak. Delano membantu Tio mendorong kursi roda Tio menuju ke tempat prosesi acara siraman.


"Kenapa malah mau tidur. Kamu belum bersiap-siap sayang? sebentar lagi kita dimake-up." Kata Mitha, Lusi hanya meringis mendapati tatapan tajam ibunya.


"Biar saja tante, toh masih ada dua jam. Kasihan bumil bawaanya ***** (Nempel molor) terus." kata Lisa. Mitha hanya mendesah panjang lalu meninggalkan putrinya. Dan benar saja, Lusi langsung terlelap tanpa menunggu lama.


Lisa dan bu Yuyun hanya geleng kepala mendapati Lusi yang begitu mudahnya tertidur.


"Bagaimana nanti kuliah kamu Lisa?"


"Semua urusan kampus sudah di urus Regan bu, Lisa ngikut aja apa kata suami nanti."


"Baguslah, memang seperti itu seharusnya seorang istri. Harus menaati apa kata suami."

__ADS_1


"Lisa nanti pasti akan kangen sama ibu." Ujar Lisa seraya menangis memeluk ibunya.


"Ponsel sekarang canggih-canggih Lisa. Kita bisa bertatap muka meskipun berbeda benua."


"Tapi Lisa tidak bisa lagi memeluk ibu seperti ini." kata Lisa semakin erat memeluk bu Yuyun.


"Sudah ah, jangan lebai. Nanti kamu bisa minta suami kamu untuk mengantar ke Singapura sekalian bulan madu."


"Bulan madu apa sih bu."


"Ingat Lisa, kamu tidak boleh menolak permintaan suami. Hukumnya dosa besar."


"Iya iya bu, Lisa juga tahu."


Kini acara proses ijab kabul dimulai, Tio yang menjadi wali nikah Lisa. Regan menjabat tangan Tio dan mulai mengucapkan ikrarnya dengan lancar tanpa kendala. Semua yang ada di tempat itu seketika berteriak Sah.


Regan benar-benar bahagia saat matanya melihat Lisa berjalan diiringi oleh mamanya dan ibu Yuyun. Gadisnya tampak sangat cantik dengan kebaya rancangan Lusi. Senyum malu-malu terbit di bibir Lisa. Saat keduanya berhadapan, Regan tersenyum lebar dan tangannya tak sabar membelai wajah Lisa.


"Sabar dulu ya mas Regan, tanda tangan dokumen dulu nanti baru setelah itu boleh touching-touching istrinya." Kata penghulu hingga membuat wajah Regan memerah seraya menggaruk tengkuknya. Sebagian tamu yang hadir ada yang langsung tertawa namun sebagian lagi hanya mengulum senyum melihat tingkah pengantin prianya.


Setelah tanda tangan buku nikah kini saatnya Lisa mencium punggung tangan Regan ada getaran halus yang seakan mengalir di hati Lisa. Terlebih saat Regan mencium keningnya rasanya jantung Lisa berdebar dengan kencang.


Lisa memejamkan matanya merasakan lembutnya bibir Regan yang menyentuh keningnya.


"Terima kasih Lisa, aku mencintaimu." bisik Regan sebelum akhirnya bibirnya terurai dari kening gadis itu. Lisa hanya menunduk dan menitikkan air matanya.


Lisa mendongak dan menatap Regan. "Terima kasih karena kamu telah mencintaiku. Untuk pertama kalinya Lisa memberanikan diri mencium pipi Regan.


"Oalah, pengantin wanitanya juga sudah ga sabar ternyata." kata penghulu hingga membuat Lisa malu dan menyembunyikan wajahnya di dada Regan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Ga kerasa udah sampai 100 bab. Kalian yang masih setia mengikutiku benar-benar luar biasa.


Terima kasih semuanya. Love kalian pokoknya. 🙏💕🙏💕


__ADS_2