Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 120. Kelahiran Putri Delano


__ADS_3

********


Dokter Andreas datang dan langsung memeriksa Lisa, senyumnya terkembang saat mendengar detak jantung Lisa lewat stetoskop miliknya.


"Nervous... ?" tanya dokter Andreas. Lisa mengangguk.


"Calm down, saya yakin semuanya baik-baik saja." ujar dokter Andreas. Setelah itu, pria paruh baya yang sepantaran dengan papa Hans itu memberikan sebuah alat berbentuk persegi panjang lalu menyerahkannya pada Lisa. Lisa bangkit dari rebahannya dan mulai ke kamar mandi. Untuk mencoba alat tes kehamilan itu. Dengan hati berdebar Lisa mulai menampung urin dan meneteskan nya ke alat itu. Dalam sekejap tanda di tengah alat itu menunjukkan tanda + yang artinya Lisa benar-benar hamil.


Lisa keluar dari pintu kamar mandi dengan air mata yang berderai, Regan langsung memeluk Lisa, dan mengusap lengan Lisa. Ia pikir hasilnya negatif makanya Lisa menangis.


"Sudah, tidak apa-apa, kita bisa mencobanya lagi dan lagi sampai berhasil." Kata Regan berusaha menghibur Lisa. Lisa melirik ke arah Regan dengan kesal. Momen harunya dirusak oleh suaminya sendiri. Lisa menarik tangan kiri Regan dan meletakkan tespeck berbentuk persegi panjang itu dengan kasar di tangan Regan lalu Lisa berjalan mendahului Regan dan memeluk Lidya.


"Aku beneran hamil, mah," ucap Lisa penuh haru. Lidya pun ikut menangis senang karena Lisa benar-benar hamil.


Regan menatap alat itu dengan alis mengernyit. dia membaca tanda + pada alat itu. Lalu seringai tipis terbit di bibirnya.


Regan menyerahkan alat tes kehamilan pada dokter Andreas. Lalu ia ikut bergabung dengan Lidya memeluk Lisa. Dokter Andreas hanya geleng kepala melihat kebahagiaan keluarga itu.


"Sepertinya aku sudah tidak dibutuhkan lagi," Celetuk dokter Andreas. Regan, Lisa dan Lidya seketika mengurai pelukan mereka.


"Jangan bicara seperti itu Dre...." ujar Lidya, Andreas terkekeh.


"Regan, sementara waktu Lisa harus bedrest karena dia baru saja melakukan perjalanan lewat udara. Tentu Lisa juga tahu resikonya. Tapi aku kira kondisi janinnya sangat kuat, namun Lisa tetap harus berhati-hati. Mengingat usia kandungannya yang baru memasuki semester awal. Nanti aku akan meresepkap Vitamin untuk Lisa dan jangan lupa, beli juga susu hamil untuknya."


"Terima kasih, dokter," ujar Lisa.


"Panggil aku paman Andre," kata Dokter Andreas, senyumnya begitu meneduhkan dan santun. Lisa tampak ragu hingga membuat Lidya terkekeh.


"Dia ini adik ipar, papa, sayang," Kata Lidya menjelaskan.


"Kalo Regan memanggilku dokter, itu artinya dia sedang dalam kondisi serius," sambung dokter Andreas. Setelah pria paruh baya itu keluar diantar oleh Lidya. Regan langsung memeluk Lisa dan mencium perut Lisa berulang-ulang.


"Tumbuhlah menjadi bayi yang sehat dan kuat ya, sayang." bisik Regan pada perut Lisa. Lisa mengambil gambar tespeknya lalu mengupload nya di sosial media.



"Terima kasih ya Allah, New life, New member."


Tulis Lisa dalam captionnya. Tak lama unggahan Lisa langsung banjir ucapan selamat dari teman-temannya termasuk Lusi. Meskipun disini hampir pukul 7 pagi. di Indonesia pastilah menjelang malam.


Dari semua komentar yang masuk, ada satu komentar yang benar-benar membuat suasana hati Lisa memburuk. Yaitu komentar dari Sean. Pria itu terang-terangan masih mengharapkan Lisa dan tidak senang melihat Lisa bahagia bersama pria lain.


"Ada apa, Lisa?" tanya Regan, saat ia melihat raut wajah Lisa yang cemberut. Lisa lantas menyerahkan ponselnya pada Regan. Saat Regan membaca komentar Sean, seketika rasanya kepalanya berasap. Dia kesal sekaligus marah.


"Kenapa tidak kamu blokir atau unfollow dia?" tanya Regan kesal. Lisa tersenyum lalu menggenggam tangan Regan.


"Kamu boleh memblokir nya jika mau," kata Lisa. Regan menatap tak percaya pada gadis itu. Mulutnya sampai ternganga karena terkejut.


"Serius?"


"Ya, lakukan apapun yang kamu mau. Karena milikku, milikmu juga."


Regan langsung meng-unfollow Sean saat itu juga dengan senyum sumringah.


Sementara itu di Indonesia, Sean terkejut saat akun sosmed nya mendadak di unfollow Lisa. Sean menatap ponselnya nanar. Chandra yang duduk di kursi roda di sampingnya mencoba menggapai bahu Sean, Sean menoleh ke arah Chandra. Dengan gerakan cepat Sean menjatuhkan kepalanya di pangkuan wanita yang telah melahirkannya itu lalu menangis seperti anak kecil.

__ADS_1


Hati Chandra terenyuh. Selama hampir 29 tahun dia tidak pernah melihat Sean menangis seperti itu kecuali saat usianya 3 tahun waktu itu. Chandra menyesali semua, menyesal karena ulahnya putranya kini hancur. Tak hanya memisahkan putranya dari wanita yang dicintainya tapi tanpa Chandra sadari Chandra juga lah yang menghancurkan Sean. Chandra ikut menangis seraya memeluk putranya dengan keterbatasannya. Tangan kirinya lumpuh, lidahnya benar-benar tak dapat berucap dengan benar. Chandra menerima karmanya karena selalu menghina Lisa. Tapi kini hanya untuk berkata menyesal pun dia tidak bisa.


.


.


.


7 bulan kemudian


"Pelan-pelan sayang. Jangan buru-buru!!" Seru Regan saat Lisa berlari kecil. Perutnya yang membesar membuat Lisa tampak sangat menggemaskan sekaligus membuat Regan ngeri dengan segala tingkah Lisa.


Lisa kembali setengah berlari menghampiri Regan dan bergelayut manja di lengan suaminya itu.


"Ayo, aku mau segera bertemu Lusi," ujar Lisa seraya tersenyum senang. Regan hanya bisa mengiyakan keinginan Lisa.


Saat itu Lusi sedang membantu Mitha menyiapkan sarapan untuk semuanya. Sejak pagi, Lusi sudah merasa perutnya tidak nyaman. Namun dia tak ingin membuat siapapun khawatir padanya. Lusi pikir mungkin karena sudah masuk bulannya melahirkan hingga dia merasakan hal itu.


Tapi satu kejadian tak terduga terjadi. Saat Lusi akan membawa piring lauk ke meja makan, tiba-tiba dia berteriak. Mitha langsung menghampiri Lusi.


"Sayang, ada apa?" tanya Mitha panik.


"Ibu,sepertinya ketuban aku pecah," lirih Lusi seraya melirik ke bawah. Mitha seketika mengalihkan tatapannya ke bawah kaki Lusi.


"Ya ampun, sayang, kamu duduk dulu. ibu panggil Delano sebentar."


"Jangan tinggalin Lusi, bu." Lusi menahan tangan Mitha. Di saat bersamaan Suryo yang akan menuju ruang makan menatap istri dan putrinya dengan tatapan bingung.


"Ada apa ini, Mitha."


Suryo langsung bergegas naik, saat itu Delano baru saja menutup pintu kamar dan akan menyusul Lusi.


"Lano cepat bawa Lusi ke rumah sakit sekarang. Dia sudah mau melahirkan." Delano seketika langsung berlari turun ke bawah. Mitha sudah membawa Lusi masuk ke mobil, tinggal menunggu menantunya. Delano langsung masuk ke mobil begitu saja dan segera menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Delano sudah disambut oleh dokter Zhafira. Karena saat dalam perjalanan tadi, Delano sudah menghubungi dokter Zhafira.


Lusi segera dibaringkan di brankar. Wajahnya tampak pucat menahan rasa sakit karena kontraksi.


Lusi terus menggenggam tangan Delano. Kadang genggamannya terasa sangat kuat lalu tak beberapa lama mengendur. Dokter Zhafira memeriksa jalan lahir Lusi. Dia tersenyum lembut menatap pasangan muda itu.


"Bagaimana,;dokter?" tanya Delano.


"Sudah bukaan 7, apa anda merasakan seperti ini sejak pagi, nyonya?"


"Tidak, dokter, tapi sejak semalam. Saya pikir karena perut saya semakin besar makanya rasanya seperti itu."


"Tidak apa-apa. Ini wajar karena ini kehamilan pertama anda." Saya akan persiapkan ruang bersalin nya. anda bisa makan dulu atau minum agar nanti tenaganya terisi untuk mengejan." Ucap dokter Zhafira, beliau lalu berlalu meninggalkan Delano dan Lusi.


Delano mengambil nampan yang baru saja diantarkan oleh seorang perawat.


"Makan dulu, ya, ingat kata dokter Zhafira, kamu butuh tenaga untuk nanti." Delano langsung menyuapi Lusi. Meski sesekali meringis menahan sakit tapi Lusi berhasil menghabiskan separuh dari porsi makanan dari rumah sakit itu.


Setelah persiapan selesai, Lusi segera di dorong ke ruang bersalin. Wajahnya semakin memucat saat dia merasakan sakit yang luar biasa di inti tubuhnya.


"Sshh.. sakit, mas." Lirih Lusi, seraya mencengkeram tangan Delano.

__ADS_1


"Sudah siap, nyonya?" Lusi pun mengangguk.


"Baiklah, sekarang ikuti aba-aba saya. Jangan mengejan dulu." ujar dokter Zhafira saat melihat Lusi sudah mengejan.


"Aargh, tapi ini sakit sekali, dokter. Rasanya saya mau mengejan." ujar Lusi. Delano sesekali mengusap kening Lusi. Hatinya pun tak kalah berdebar. Dia sebenarnya tidak tega melihat kesakitan Lusi, berjuang melahirkan anak mereka.


"Ayo, sayang. Kamu pasti bisa." Bisikan Delano di telinga Lusi. Lusi kembali mengangkat kepalanya saat ia di perbolehkan mengejan. Tak lama suara bayinya terdengar, Delano berulang kali mengecup wajah Lusi tak peduli dengan keringat yang masih mengembun di wajah Lusi. Delano tersenyum haru.


"Selamat, tuan, selamat nyonya. Bayi kalian berjenis kelamin perempuan." ucap dokter Zhafira dengan senyum ramahnya.


"Terima kasih dokter."


Setelah Lusi dibersihkan dan di ganti dengan baju pasien baru. Lusi di bawa ke kamar VVIP sesuai permintaan Delano. Tak lama Mitha dan yang lain tiba di rumah sakit bersama Regan dan juga Lisa. Tadinya Mitha dan Suryo akan segera menyusul Lusi, tapi lalu Lisa datang sehingga mereka menunggu sebentar untuk berangkat bersama-sama.


Lusi saat itu sedang terlelap, tubuhnya terasa begitu lelah setelah perjuangannya melahirkan putri pertamanya. Diana dan kedua putra Delano juga sedang dalam perjalanan setelah mendapat telepon dari Delano.


Suryo dan Mitha masuk ke ruang perawatan putrinya diikuti Regan dan Lisa. Mereka melihat Lusi tertidur sendirian namun Delano tidak ada di sana. Pria itu kini sedang mengadzani putrinya sebelum di bawa ke kamar Lusi. Dokter anak sudah mengatakan jika kondisi bayi mereka sangat baik. Sehingga sewaktu-waktu bisa di pindahkan ke ruang perawatan ibunya.


Diana dan si kembar pun sudah sampai rumah sakit. Kini ruangan Lusi ramai oleh keluarga mereka. Lusi membuka matanya saat mendengar suara kedua putranya. Senyumnya langsung terbit, saat dua bocah itu mendekatinya.


"Bunda... katanya oma, adik bayinya sudah lahir. Mana?" tanya Devan seraya mengedarkan pandangannya.


"Nanti ayah yang akan membawanya kemari, sayang," Kata Lusi. Namun sesaat Lusi terlihat syok saat melihat Lisa dan Regan.


"Lisa... " Pekik Lusi, Lisa tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Lusi. Keduanya langsung saling berpelukan layaknya teletubbies.


"Kamu pulang?"


"Tentu, aku tidak ingin melewatkan momen ini." ujarnya.


"Aa.. senangnya," Wajah Lusi langsung berbinar.


Delano masuk diikuti oleh seorang perawat yang sedang mendorong box bayi mereka. Semua langsung mengerumuni bayi cantik itu.


"Wow, lucu sekali, lihat Regan, pipinya sangat merah," celoteh Lisa gemas. Tak hanya Lisa, semuanya dibuat takjub dengan bayi mungil itu terlebih Devan dan Davin. Keduanya seketika langsung Jatuh cinta pada putri cantik itu.


"Siapa namanya?" tanya Diana penasaran.


"Leticia Ameera Putri Delano," ujar Delano seraya menaik turunkan alisnya.


"Mama pikir kamu akan memberinya nama berawalan huruf D juga." Semua tertawa mendengar sindiran Diana. Karena memang awalnya Delano menyiapkan nama yang berawalan huruf D namun Lusi menolaknya Dia ingin putrinya berawalan huruf yang sama dengannya.


"Artinya apa?"


"Leticia Ameera Putri Delano memiliki arti Anak perempuan Delano yang kelak akan menjadi Pemimpin,"


"Wah bagus sekali namanya," ujar Lisa takjub. Gadis itu benar-benar sangat cantik, perpaduan dari ibu dan ayahnya.


Setelah 3 hari, Lusi dan bayinya diperbolehkan pulang. Semua keluarga menyambut bayi itu dengan gembira, rencananya nanti mereka akan segera mengadakan aqiqah untuk kedua putra Delano dan putrinya. Ratih yang sudah hampir sembuh menatap cicit pertamanya dengan haru. Kini dia bisa ikut merasakan kebahagiaan anak dan cucunya. Satu hal yang dia sadari tak selamanya kebahagiaan terukur dengan materi.


...**End...


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Author mengucapkan banyak Terima kasih kepada kalian semua. Nanti kalo ada kesempatan aku bakalan buatin extra part untuk Regan dan Lisa tapi ga banyak. Mohon maaf jika selama ini karya ini banyak kurangnya, typo bertebaran. Karena sekali lagi, author hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

__ADS_1


Love you all 🥰🥰😘😘**


__ADS_2