Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 96. Memberi Hukuman


__ADS_3

*******


Suryo, Hans dan Delano berada di sebuah ruangan. Setelah olahraga malam tadi dan memastikan istrinya pulas tertidur. Delano menyusul ayah mertuanya dan Hans yang sudah berangkat terlebih dahulu.


Ketiga pria beda generasi itu kini berdiri menjulang menatap dua orang wanita yang tak sadarkan diri dengan tatapan tajam.


"Apa yang akan kamu lakukan Lano?" tanya Hans menatap tajam menantu kakak iparnya itu.


"Lano masih memikirkan hukuman apa yang pantas untuk mereka om." jawab Delano.


"Ck.... kamu itu. Jangan terlalu lembut terhadap lawanmu Lano. Apa kau berpikiran ingin memberi mereka kesempatan lagi?" sindir Hans. Suryo hanya diam seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. Dia merasa cukup puas karena orang-orangnya berhasil menangkap wanita yang membuat putrinya resah. Suryo memang tidak suka bertele-tele dalam bertindak. Kehidupannya yang dulu mengajarkannya banyak pelajaran hidup yang sampai sekarang menjadi pedoman hidupnya. Seperti saat dia bersikap terlistrinya. pada ibunya yang justru membuatnya kehilangan istri dan anaknya selama 23 tahun lamanya. Dia tidak mau kejadian yang sama terulang lagi. Suryo ingin kebahagiaan putrinya sempurna tanpa ada celah bagi pelakor masuk dan merusaknya.


"Apa kita hanya akan berdiri dan memandangi mereka berdua?" Tanya Hans mulai malas. Suryo berjalan mendekati dua wanita itu. Tangannya meraih satu botol air mineral dan mengguyurkannya di atas kepala mereka.


Kedua wanita itu gelagapan. mereka membuka matanya dengan susah payah karena mata mereka kemasukan air.


Mata mereka langsung membulat saat mendapati tatapan tajam dari ketiga pria di hadapan mereka. Suryo berjongkok dan melepas lakban yang menutup mulut kedua wanita itu.


"Lano, kenapa kamu mengikat ku seperti ini. Ingatlah aku ini pacar Jeff." teriak Florencia. Sementara Karisa hanya diam membaca situasi. Jangan sampai Delano kembali menjebloskan dirinya ke penjara.


Delano hanya diam tidak menyahut. Delano melangkahkan kakinya mendekaki Flo, dia mencengkeram kuat dagu gadis itu.


"Selama ini aku masih menganggapmu teman, tapi apa yang sudah kau lakukan membuatku benar-benar kecewa padamu Flo."


"Aku melakukan semua ini demi Jeff. Apa kamu pikir polisi akan melepaskan Jeff begitu saja setelah semua laporan dari pengacaramu masuk? Aku tidak bisa melihat Jeff menderita Lano. Ku mohon mengertilah."


Hans tiba-tiba tertawa terbahak. Cara pikir anak muda jaman sekarang memang sulit di mengerti.


"Kau tidak bisa melihat pacarmu menderita, tapi kamu mengorbankan kebahagiaan orang lain? ternyata pikiranmu cukup picik juga ya." Sarkas Hans. Delano diam saja lalu dia melepas cengkeraman tangannya dengan kasar.

__ADS_1


"Aku pasrahkan mereka pada ayah dan paman."


"Hati menantumu terlalu lembut, Kak." Hans benar-benar tidak habis pikir dengan Delano.


"Bukan seperti itu paman. Aku hanya teringat istriku yang sedang hamil. Aku tidak bisa menyiksa mereka." Ujar Delano membela diri.


Suryo menatap Karisa yang sejak tadi hanya diam. Harlan masuk menyeret seseorang pria dan kedua anak buahnya menyeret dua orang perempuan. Karisa melebarkan matanya saat melihat siapa pria itu.


Suryo tersenyum miring melihat wajah terkejut Karisa. Pria yang tadi diseret oleh Harlan hanya menunduk.


"Apa kau lihat ketiga manusia itu, Lano? mereka adalah sekutu wanita iblis ini dan Jeff waktu itu dalam misinya melenyapkan Karina dan kedua bayimu," Ujar Suryo.


"Ampuni saya tuan, saya hanya diperintah oleh nona itu," kata pria itu gemetaran. Saat dia pulang dari bekerja tadi, tiba-tiba ada orang yang tidak dikenalnya memukul kepalanya hingga ia pingsan.


"Apa kau memikirkan akibat yang kau timbulkan setelah itu?" tanya Delano dengan tatapan tajam dan matanya memerah.


Pria itu menggeleng, dan satu pukulan mendarat di wajahnya kemudian. Delano menjadi emosi saat melihat pria itu, ua jadi membayangkan bagaimana istrinya dulu.


"Sa-saya hanya disuruh pura-pura menjadi anak buah pria yang bernama Jeff, dan menakut-nakuti saudari kembarnya." Delano kembali menghadiahi bogem mentahnya untuk pria itu tanpa ampun.


Karisa menundukkan kepalanya, namun Suryo buru-buru menarik rambut Karisa dari belakang hingga kepala Karisa mendongak.


"Angkat kepalamu, kau harus menyaksikan bagaimana akhir dari mereka. Kau telah melibatkan orang-orang itu dalam permainanmu. Dan lihatlah apa yang akan kami lakukan pada mereka nanti."


Pria itu jatuh terkulai tak sadarkan diri. Anak buah Harlan langsung menyeretnya. Kedua wanita yang tadi juga di seret oleh anak buah Harlan seketika terduduk karena kaki mereka gemetaran.


Hans tersenyum melihat kemarahan Delano. Ini baru tontonan, tidak sia-sia dirinya datang ke indonesia.


"Katakan apa peran kalian?" Aku tidak akan segan-segan memukul wajah kalian jika kalian sampai berbohong."

__ADS_1


Kedua wanita tadi masih gemetaran. Namun sedetik kemudian salah satu dari mereka jatuh pingsan karena terlalu takut.


"Salah satu dari mereka adalah perawat wanita itu di rumah sakit jiwa. Dia yang membantu memalsukan data kesehatannya agar wanita itu bisa keluar dari rumah sakit jiwa." Terang Harlan, mata Florencia membelalak kaget.


"Wah sepertinya ini akan seru." Hans menarik kursi dan duduk dengan tenang menjadi penonton.


"Apa maksud om Harlan."


"Saudari kembar nona Karina itu sudah 2 tahun mendekam di rumah sakit jiwa karena psikologinya terganggu. Dia bahkan membakar ibunya sendiri saat dia berusia 18 tahun. Lalu dia menyerahkan diri. Berkat nona Karina berita ini dapat ditutup. Nona Karina begitu menyayangi wanita itu. Saat wanita itu sedikit mendapatkan kenormalan nya dia meminta perawat itu memalsukan data kesehatannya. Hingga dia bisa bebas. Saat itu nona Karina menjadi kekasih tuan Jeff. Namun melihat bagaimana tuan Jeff begitu menyayangi dan menjaga nona Karina, dia menjadi iri dan mulai menjatuhkan nama baik nona Karina dengan cara menfitnahnya dengan anda." Terang Harlan.


Delano sampai melongo mendengar penjelasan itu. Sakit jiwa? terang saja wanita itu seakan tanpa rasa bersalah selalu saja mengusik hidupnya dan Karina dulu ternyata, memang mentalnya terganggu.


"Ha... ha.. ha... jangan menatapku seperti itu Delano sayangku. Aku tulus mencintaimu. Aku tidak sakit, Karina lah yang sebenarnya sakit jiwa."


"Lalu bagaimana yang satu lagi?" tanya Delano tanpa mendengarkan ucapan Karisa.


"Yang satu lagi adalah perawat yang membantu nona Karina kabur dari rumah sakit menyembunyikan Devan dan Davin agar nyonya Diana yang saat itu menunggu tidak melihat kepergian mereka."


"Ya Tuhan, aku sampai kehilangan kata-kata. Apa benar mereka ini manusia?" gumam Delano. Sementara itu Flo yang mendengar penuturan Harlan hanya terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Ayah, bisakah masalah ini ku serahkan padamu?"


"Tentu saja. Ayah akan senang sekali mendapat bagian ini." Suryo menepuk bahu menantunya. Ia sangat hapal betul sifat Delano sama seperti Galuh, mendiang ayahnya. Hanya bisa bersikap kasar pada sesama pria.


"Pulanglah, ayah takut istrimu mencarimu."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Maaf guys sore baru bisa up. Soalnya anakku minta nonton barong sai mau ngetik ga fokus juga denger suara tang teng tang teng terus.

__ADS_1


Like nya jangan lupa ditekan tiap episode jangan karena up 3 kali likenya di tekan cuma di akhir episode aja ya.


__ADS_2