
*******
Regan meringkuk di kursi, tubuhnya bagai di hantam ribuan batu. Semalam dia tidur di atas kursi. Lisa begitu tega menyiksanya tak memberikan tempat untuk dia beristirahat. Dalam pikiran Regan ingin menyerah namun hatinya begitu kuat menahannya.
Pagi ini Regan terbangun dengan wajah pucat. Dari semalam tubuhnya terasa sakit dan lemah. Bahkan Regan sempat mual-mual.
Lisa berjalan mendekat menatap Regan. Ia merasa aneh dengan pria itu.
"Ada apa denganmu?" tanya Lisa pada Regan. Tapi pria itu seolah tak mendengar pertanyaan Lisa. Dia terus diam dan meringkuk. Lisa merasa sangat penasaran akhirnya semakin mendekatkan dirinya dan menyentuh bahu Regan. Tapi lagi-lagi pria itu tidak merespon dan kini justru Lisa lah yang di buat terkejut dengan suhu tubuh Regan.
"Tuan Regan bangunlah?" ujar Lisa panik. Regan perlahan membuka matanya dengan enggan. Kepalanya berdenyut sakit dan badannya pun terasa lemas tak bertenaga.
"Eghh .... " Suara lenguhan Regan mampu membuat Lisa bernafas lega.
"Kamu sakit??"
"Aku hanya kurang enak badan." lirih Regan.
"Bangunlah dan pindah ke tempat tidurku." perintah Lisa.
"Tidak perlu .... "
"Nurut tidak? kalo kamu mau aku ikut pulang, nurut!" Bentak Lisa dan anehnya Regan justru langsung menuruti perintah Lisa. Ia segera pindah ke ranjang Lisa yang hanya berukuran 120x200.
Lisa mengambil termometer dan mengukur suhu tubuh Regan. setelah mengukur suhu tubuh pria itu, Lisa keluar untuk mencari makanan agar Regan bisa segera sarapan dan meminum obatnya.
Saat Lisa kembali masuk Regan dalam keadaan meringkuk dan menggigil. Sepertinya memang kondisi Regan sedang tidak baik.
"Tuan Regan, minumlah ini dulu." Lisa duduk dan menyentuh kening pria itu. "Suhu badannya ternyata meningkat, sebenarnya ada apa denganmu? apa kau tidak terbiasa dengan cuaca di sini?" Lirih Lisa. Akhirnya Lisa memilih mengambil baskom dan mengisinya dengan air hangat lalu mengompres kening Regan. Sesaat Lisa memandangi maha karya Tuhan yang sempurna itu. Hidung yang mancung, bibir tipis, dan bulu mata yang lentik menjadi pusat perhatian Lisa.
"Lisa ... ikutlah denganku. Aku membutuhkanmu." Gumam Regan di bawah alam sadarnya. Namun suara Regan mampu membuat seorang Lisa tertegun dan tersenyum getir.
"Apalah arti kehadiranku? Kamu, dan Sean itu sama saja. Kalian bagaikan bintang yang ada di langit sementara aku, aku hanyalah butiran debu. Kenapa kalian para orang kaya senang mempermainkan hatiku." Batin Lisa.
.
__ADS_1
.
.
Pagi yang berbeda kini terasa di kamar tidur Delano masih mendekap tubuh Davin dan Devan mereka bertiga masih bergulung dalam selimut. Namun Lusi lebih dulu memisahkan diri dari kehangatan ranjang karena perutnya terasa seperti diaduk-aduk.
Lusi berlari menuju wastafel namun tak ada sesuatu yang bisa dia muntahkan hanya cairan kuning yang terasa sangat pahit.
"Kenapa akhir-akhir ini tubuhku lemah sekali?" gerutu Lusi. Tak ingin terus menerus memikirkan tubuhnya. Lusi memilih melepaskan pakaiannya dan mandi di bawah kucuran shower. Sedikit merasa lebih baik setelah tertimpa air Lusi segera menyelesaikan mandinya karena ada sesuatu yang tiba-tiba dia inginkan.
Tak menunggu lama, setelah memakai baju Lusi turun ke bawah menemui koki di mansion Delano.
"Pagi mah, kenapa mama sepagi ini sudah ada di dapur?" Alis Lusi mengernyit heran.
"Mama sengaja, karena hari ini semua keluarga berkumpul mama akan buatkan masakan spesial."
Ucap Diana tanpa mengalihkan perhatiannya dari pisau dan bahan makanan yang akan di olah.
"Pak Toni, apa di rumah ada alpukat?" Lusi bertanya pada kepala koki. Pria tua itu mengangguk seraya tersenyum.
Diana menatap heran dengan permintaan Lusi. Apakah dia boleh menyimpulkan jika menantunya itu hamil?
"Sayang, apa kamu sedang ngidam?" tanya Diana memandang penuh binar bahagia. Namun gerakan Lusi selanjutnya membuat bahu Diana yang semula terangkat tinggi perlahan turun. Lusi menggeleng seraya tersenyum.
"Maaf ya mah .... "
"Tidak apa-apa sayang. Apa kamu sudah melakukan tes?" Diana masih belum menyerah.
"Belum mah, tapi memang setiap akan mendapat tamu bulanan, aku terkadang selalu menginginkan sesuatu yang aneh-aneh." Tutur Lusi. Memang seperti itulah dia, setiap akan mendapat tamu bulanannya dia selalu menginginkan sesuatu yang tak biasa. Jadi Lusi berpikir dia tidak mungkin hamil saat ini.
Lusi kembali ke atas dengan membawa segelas teh hijau untuk Delano. Saat tiba di kamar Lusi melihat suami dan kedua anaknya masih meringkuk manja di balik selimut. Lusi berjalan mendekat dan mengguncang bahu Delano.
"Bangunlah, ini sudah siang."
"Kamu bahkan tidak mau menyebut suamiku. Aku tidak mau bangun." ucap Delano merajuk.
__ADS_1
"Eh ... " wajah Lusi bersemu merah. "Ba... bangunlah suamiku." ucap Lusi dengan suara bergetar. Merasa tak tahan dengan kepolosan Lusi Delano menarik tangan Lusi dan menghujani wajah Lusi dengan ciuman bertubi-tubi.
"Kenapa sepagi ini kamu sudah cantik sekali istriku?" Bisik Delano hingga membuat telinga Lusi memerah sepenuhnya. Delano menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Lusi. Rasanya nyaman sekali menghirup aroma tubuh Lusi yang terasa menenangkan.
"Mama sudah menunggu di bawah untuk sarapan bersama. Kamu lekaslah mandi?" Lirih Lusi namun Delano bergeming.
"Panggil aku dengan benar istriku." Delano menggigit cuping telinga Lusi hingga gadis itu tanpa sadar mengerang. Suaranya benar-benar membuat Delano menggila.
Pria itu bergerak cepat lalu mengangkat tubuh Lusi.
"Ka... kamu mau apa?"
"Aku ingin mandi bersamamu."
"Tapi aku sudah mandi." Wajah Lusi mengiba.
"Kamu sudah membangunkan little bro ku. Aku tidak bisa melepasmu." Ucap Delano.
"Tapi .... " Belum juga Lusi menyanggah Delano sudah melu*mat bibir Lusi dengan gemas.
"Egh ... hen-hentikan." Lusi menggeliat saat bibir Delano turun menjelajah ke lehernya.
"Tidak, sebelum aku menuntaskan keinginan little bro ku." Ucap Delano menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.
Di bawah kucuran shower, Delano melancarkan aksinya tanpa bisa di tolak oleh Lusi. Bahkan entah mengapa reaksi tubuh Lusi mengisyaratkan bahwa dirinya pun menginginkan sentuhan Delano.
"Bahkan tubuhmu tak bisa berbohong Lusi." Ujar Delano di tengah gempuran yang dia lakukan dari belakang tubuh Lusi. Tangan Delano bergerak liar memainkan buah kecil yang tersembunyi hingga membuat Lusi mengerang dan menegang.
Tubuh Lusi terus terhentak mengikuti ritme pergerakan Delano. Kakinya saat ini terasa lemas setelah merasakan pelepasan. Namun tubuh Delano seakan tak menandakan jika dirinya akan segera menyudahi pertempuran ini.
"Akh ... aku letih suamiku." Ujar Lusi. Delano tersenyum samar dan semakin mempercepat ritme pergerakannya hingga tak lama tubuh Delano menegang dan kepalanya menengadah ke atas.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Semoga mengobati kangen kalian. Bangkit dari kematian ide cerita ini begitu sulit. Ditambah kondisi kesehatan othor di musim hujan ini benar-benar butuh kesabaran dan perhatian khusus.
__ADS_1
jangan lupa like komen dan gift juga Votenya. Mendekati akhir bulan neh