
*******
Setelah selesai dengan pembayaran tuan Aditya, Shanti kembali ke ruangan Lusi.
"Mbak Lusi, ini tadi pak Aditya memesan 12 kemeja dan 9 jas terbaru. Langsung dibayar lunas."
"Ya sudah, kamu urus saja. Tolong nanti juga bilang ke yang lain. Untuk segera membungkus pesanannya. Soalnya nanti mau saya antar ke kediaman beliau."
"Iya mbak. Oh iya mbak, kata pak Aditya, mbak disuruh ke mansionnya pukul 7."
"Iya Shan. Shan, tolongin mbak ya. Itu sekalian kamu ukur pak Raffi." Raffi melotot melihat senyum menggoda Lusi. Ia tahu maksud Lusi apa sebenarnya.
"Kamu saja yang mengukurku, Lusi"
"Maaf Raffi, tapi aku tidak bisa bersentuhan dengan pria selain ayah dan suamiku. Maaf ya." Raffi pun mende*sah pasrah saat Shanti mulai membawa meteran dan buku lalu mendekat ke arahnya.
Shanti mengukur tubuh Raffi dengan kepala yang terus menundukkan. Wajahnya memerah saat berdekatan dengan pria yang terbilang tampan itu, apalagi dia diberi kehormatan untuk sedekat itu dengannya.
"Sudah tuan," ucap Shanti.
"Ya, terima kasih" jawab Raffi dingin.
Shanti menyerahkan buku itu pada Lusi. "Kok muka kamu merah gitu Shan? kenapa malu sama pak Raffi ya?"
"Ish... mbak Lusi. Ga mbak."
"Iya juga ga apa-apa. Ya kan Raff?" goda Lusi. Namun Raffi justru melengos sebal mendengar candaan Lusi padanya.
.
.
.
Delano tiba di kantor dengan perasaan tak tenang. Dia langsung meraih ponselnya dan menghubungi Lusi. Baru dering pertama, suara Lusi yang merdu menyapanya.
"Assalamu'alaikum mas, sudah sampai kantor?"
"Wa'alaikumsalam, sudah. Kamu lagi apa?"
"Lagi mencatat pesanan Raffi, mas."
"Tadi Aditya datang ke butik?" tanya Delano. Namun mendengar pertanyaan itu membuat alis Lusi berkerut dalam.
__ADS_1
"Mas tahu dari mana? tadi bukannya mas sudah pergi baru pak Adit datang ya?" tanya Lusi curiga.
"Ya pokoknya mas tahu, kamu ga kenapa-kenapa kan?"
"Ga apa-apa mas. Cuma tadi pak Adit minta untuk aku mengantar sendiri pesanan dia nanti malam sekalian makan malam."
"Apa ... ? ga, mas ga ijinin kamu."
"Ya nanti kesana-nya aku sama kamu mas. Ga mungkin sendirian juga, aku takut."
"Lain kali ga usah ditanggapi permintaan aneh kaya gitu."
"Iya, ga ada lain kali." jawab Lusi pasrah.
Raffi menatap Lusi yang sedang berbicara dengan Delano. Ia merasa iri pada sepupunya itu. Mendengar bagaimana Lusi membujuknya dengan lembut. Rasanya ia ingin bertukar posisi dengan Delano sebentar saja.
Lusi sudah mengakhiri sambungan telepon nya. Dia menatap Raffi yang sedang melamun.
"Raffi ... Raff. Kenapa?"
"Eh, ga kok aku ga apa-apa. Ya sudah, kalo begitu aku pulang dulu ya."
"Ok. Nanti kalau sudah jadi semua aku hubungi kamu."
Lusi meraih tasnya dan keluar ruangan. "Shanti nanti kalau ada pesanan atau apapun tolong kabari saya. Dan untuk pesanan tuan Aditya tolong di persiapkan saja. Nanti sore akan saya ambil.
Lusi berjalan masuk ke gang rumahnya ada yang ingin dia cari tahu tentang sahabatnya. Dia mengetuk pintu rumah Lisa, bu Yuyun yang membukakan pintu untuk Lusi.
"Assalamu'alaikum ibu, Lisa di rumah 'kan?" tanya Lusi tak sabar.
"Wa'allaikumsalam sayang, Sayangnya Lisa sedang keluar. Masuk dulu yuk!" tawar bu Yuyun dan Lusi pun dengan senang hati mengikuti langkah kaki bu Yuyun masuk ke dalam rumah.
"Tadi pagi ada yang melamar Lisa."
"A... apa bu? ibu serius? siapa orangnya bu?" tanya Lusi bertubi-tubi.
"Ibu serius Lusi, tadi pagi ada yang mencari Lisa. Namanya Regan. Dia datang bersama ibunya. Dan yang lebih bikin ibu kaget, ternyata dulu ibu yang pernah bantu ibunya Regan melahirkan."
"Ya ampun ibu, itu namanya jodoh ga kemana."
"Terus sekarang Lisa kemana bu?"
"Lisa pergi sama Lidya. Katanya mau diajak pesan baju kebaya untuk acara tukar cincin." Kata bu Yuyun. Lusi langsung memeluk tubuh bu Yuyun. Dia turut bahagia dengan kabar ini.
__ADS_1
"Lusi senang bu, akhirnya kita akan jadi keluarga. Eh tapi kenapa ibu tidak ikut mereka?"
"Jika ibu ikut, bumi gimana? Tio gimana?"
"O iya bu, kabar mas Tio bagaimana?"
"Ya begitu lah, hanya sekarang sudah ada kemajuan meskipun belum sepenuhnya pulih." wajah bu Yuyun berubah sendu. Lusi mengusap lengan bu Yuyun.
"Sabar ya bu, semua pasti ada hikmahnya." Bu Yuyun mengangguk dan tersenyum pada Lusi.
Lusi pun akhirnya berpamitan pada Bu Yuyun. Lusi kembali ke depan. Dia berencana akan ke Kafe di seberang jalan. Perutnya dari tadi sudah meronta minta diisi.
Lusi duduk di sudut ruang kafe di dekat kaca yang menghadap ke butiknya. Setelah memesan makanan dan avocado float, Lusi mengecek ponselnya. Beberapa pesan masuk dari ayahnya yang menanyakan kapan Lusi akan menginap di kediamannya. Suryo memang mendengar putrinya sempat berada dalam bahaya tapi saat dia tahu putrinya baik-baik saja dia juga merasa lega dan tidak terlalu khawatir.
Setelah makananya tiba Lusi melihat Regan dan Lisa masuk ke dalam gang di sebelah butiknya. Senyum manis mengembang di bibir Lusi. Dia bersyukur jika sahabatnya akan menikah dengan sepupunya. Setidaknya Lusi tidak terlalu khawatir Lisa akan disakiti.
Setelah menghabiskan makanan yang ia pesan Lusi meminum Vitaminnya dan segera membayar. Lusi akan bersiap karena waktu sudah menunjukkan pukul 4. Perjalanan dari butik ke kediaman Delano cukup jauh. Saat Lusi akan menyeberang jalan tiba-tiba tangannya di gandeng oleh seseorang. Senyum Lusi langsung terbit saat melihat siapa orang itu.
"Mas, kok di sini?"
"Aku tidak tenang bekerja. Aku terus kepikiran kamu."
"Ih ... sekarang pinter banget ya gombalin aku."
"Kita pulang sekarang?"
"Iya mas, tapi aku mau ambil bajunya dulu yang mau di antar ke rumah pak Adit."
"Kenapa juga kamu mau repot-repot seperti ini?" tanya Delano ketus.
"Ya gimana lagi mas? Mau ditolak pesanannya juga sayang yang ada rugi dong aku." Lusi menjawab dengan senyum. "Lagian kan selama tidak merugikan kita apa salahnya. Nanti kesana juga ada om Harlan sana Marco."
Alis Delano bertaut sejak kapan istrinya tahu Marco? tiba-tiba Delano semakin merasa tidak senang.
"Kamu tau dari mana tentang Marco?"
"Dari malam kemarin pas ada masalah sama Karisa. Dan lagi ayah yang bilang nanti akan dikawal sama mereka berdua. Aku cerita pada ayah soal mau ke rumah pak Adit."
"Bagus, tapi jangan dekat-dekat sama Marco!"
"Iya ... iya mas. Aku juga nyamannya cuma dekat sama mas aja." ujar Lusi dengan wajah memerah.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
doble nih .... 😍😍 mawarnya jangan lupa.