
*******
Flashback awal mula penculikan Lisa
Setelah berpamitan dengan ibunya Lisa mencegat taksi di depan butik Lusi. Tujuannya adalah ke kampusnya untuk mengurus masalah cuti kuliahnya yang akan ia perpanjang hingga satu menjadi satu semester.
Namun di tengah perjalanan ponselnya bergetar dan ada pesan masuk. My beloved nama yang tertera di layar ponselnya. Lisa tersenyum getir melihat nama itu yang tak lain dan tak bukan adalah Sean. Lisa membuka kontak list dan mengganti nama itu menjadi Sean. Setelah itu Lisa membuka pesan dari pria yang pernah mengisi hampir 3 tahun hari-harinya.
Aku ingin bertemu denganmu. Mari kita selesaikan semuanya secara baik-baik. Temui aku di taman dekat apartemenku pukul 10, aku menunggumu.
Lisa sedikit menimbang apakah dia akan datang atau tidak. Namun demi menghargai hubungan yang sudah terjalin lama, Lisa memilih menemui Sean. Kebetulan apartemen Sean dan kampus jaraknya tak terlalu jauh.
Lisa meminta supir taksi menghentikan taksinya. Setelah membayar ongkos taksi Lisa mencari keberadaan Sean. Pria itu selalu tampil rapih, seperti saat ini ia memakai setelan kemeja berwarna abu-abu dan celana bahan berwarna hitam.
"Hai .... " sapa Sean dengan senyum hangat seperti biasanya.
"Hai Sean." Gestur tubuh Lisa terkesan kaku karena dia merasa canggung kembali bertemu dengan Sean.
"Apa kabarmu Lisa? beberapa waktu lalu aku mencarimu tapi kamu tidak ada di rumah.
"Aku baik, dan ya aku sibuk. Ada perlu apa mencariku?" Lisa tampak tak sabar ingin mendengar apa yang akan Sean katakan.
"Sabarlah dulu Lisa, bukankah sudah ku katakan aku ingin bicara baik-baik denganmu" ucap Sean seraya menggenggam tangan Lisa tapi buru-buru ditepis oleh gadis itu.
__ADS_1
"Bisa ga? ga usah pegang-pegang aku." ketus Lisa, Sean tersenyum kecut. Meskipun penampilan Sean terbilang rapi tapi wajahnya tampak pucat dan hal itu tidak luput dari pengamatan mata Lisa.
"Apa kau sakit?" tanya Lisa, meskipun hubungan mereka retak tapi tak memungkiri sisa rasa itu masih ada dan sewaktu-waktu bisa terpercik kembali.
"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
"Anggap saja ini perhatianku sebagai seorang teman." Jawab Lisa singkat. Namun dia tersentak saat tubuh Sean terhuyung dan hampir terjatuh. Lisa menahannya, dia menatap cemas kearah Sean.
"Aku bawa kamu ke rumah sakit ya?" tawar Lisa.
"Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat di apartemenku."
"Baiklah aku akan membantumu," ucap Lisa lalu memapah tubuh Sean yang jangkung. Lisa sama sekali tidak menaruh curiga. Yang dia tahu Sean adalah pria baik yang berasal dari keluarga terhormat. Tanpa disadari Lisa, senyum licik Sean tersungging.
Sesampainya di depan unit apartemen Sean, Lisa hendak pergi meninggalkan Sean. Namun lagi-lagi pria itu merintih kesakitan hingga membuat Lisa tak tega untuk meninggalkannya.
"Lisa, kamu milikku selamanya." Desis Sean. Lisa akhirnya memilih diam dan perlahan membuka resleting sling bag miliknya dan menekan angka 1 dimana itu adalah kontak nomor Lusi. Tapi sebelum itu dengan tanpa melihat ponselnya Lisa menekan tombol volume agar tidak bersuara. Dia hanya ingin Lusi tahu keberadaannya saat ini.
"Mau apa kamu Sean, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi." ujar Lisa dengan tubuh gemetaran karena takut.
Sean mengangkat tubuh Lisa dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Dia menghempaskan tubuh Lisa di atas ranjangnya yang berukuran besar. Sean lantas mengunci pergerakan tangan dan kaki Lisa.
"Sean, lepas. Kenapa kamu jadi seperti ini?"
__ADS_1
"Karena kamu yang memaksaku. Kamu yang membuatku menggila menginginkanmu Lisa."
"Kita tidak akan mungkin bisa bersama Sean. Terima saja semuanya. Ibumu tidak pernah menyukaiku."
"Sudah berapa kali aku bilang, ibuku merestui kita." Bentak Sean. Tubuh Lisa semakin gemetaran. Pria yang dulu selalu bersikap lembut padanya kini telah berubah.
"Sshh ... jangan takut sayang. Aku akan melakukannya dengan lembut." Sean membuka satu per satu kancing bajunya. Melihat ada kesempatan, Lisa langsung berlari menuju pintu. Tapi sayangnya pintu itu terkunci. Sean yang merasa marah dengan penolakan Lisa langsung mencengkeram rambut Lisa dan menariknya.
"Aarghh ... lepas Sean sakit." Lisa memegangi rambutnya yang di tarik oleh Sean. Kepalanya terasa berdenyut sakit. Penglihatan Lisa semakin lama semakin kabur dan akhirnya Lisa jatuh tak sadarkan diri. Melihat Lisa yang jatuh terpejam membuat Sean seakan tersadar dari kegilaannya. Dia meraih kepala Lisa dan meletakkannya di pangkuannya.
"Lisa sayang, bangun. Maafkan aku. Bangunlah Lisa ...!" Seru Sean dia menepuk-nepuk pipi Lisa. Lisa perlahan membuka matanya. Namun saat melihat wajah Sean dia berteriak ketakutan. Dia berusaha mencakar wajah Sean bahkan meludahi wajah tampan pria itu.
Sean kembali di telan emosi dan kalap. Dia mengangkat tubuh Lisa lalu Sean melepas ikat pinggangnya dan mengikat tangan Lisa kebelakang makai ikat pinggangnya. Lisa terus meronta dan berteriak. Karena frustasi mendengar teriakan Lisa Sean menyumpal mulut Lisa memakai sapu tangannya. Sean mendengar suara ketukan pintu dari luar, itu adalah saat Harlan dan 3 anggota polisi mendatanginya. Sean mengendap dan melihat dari layar monitor. Dia begitu terkejut melihat ada polisi di sana. Sean akhirnya kembali masuk ke kamar dan memukul tengkuk Lisa hingga pingsan. Setelah itu Lisa di angkat dan dibawa masuk ke kamar mandi. Sean menggeletakkan tubuh Lisa begitu saja. Sean lari kearah balkon dan melompati teralis ke balkon sebelahnya. Sean memang membeli dua unit apartemen. Awalnya dia ingin menggabungkannya menjadi satu saat menikahi Lisa kelak. Namun kini mimpi hanya tinggallah mimpi. Sean kabur lewat apartemen satunya, beruntung balkon disebelahnya tak pernah ia kunci.
Flashback End.
Regan masih setia duduk di samping blangkar Lisa seraya menggenggam tangan Lisa. Perlahan Lisa membuka matanya. Namun kemudian tubuhnya bergetar dan dia mulai histeris. Regan langsung memeluk dan menenangkan Lisa.
"Lisa, ini aku. Tenanglah ... kamu sudah aman sekarang." Regan terus membelai punggung Lisa. Saat indra penciuman Lisa mengenali aroma tubuh Regan gemetar di tubuhnya perlahan berkurang. Lisa bahkan membalas pelukan Regan dengan erat seakan takut lepas.
"Please jangan pergi. Aku takut." lirih Lisa. Regan memejamkan matanya untuk meredam emosi yang kembali naik menghantam dirinya. Sebenarnya apa yang sudah Sean lakukan hingga Lisa sampai seperti ini?
"Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan menemanimu selalu di sini." desis Regan lalu dia menyematkan ciuman lembut di puncak kepala Lisa.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa Like komen dan gift kalian tsay 🥰🥰😘😘