
*******
"Davin, tadi bunda menangis." Devan tampak sedih hingga membuat Davin mengernyit bingung.
"Apa ayah kita menyakiti bunda?" Davin menatap penasaran pada Devan.
"Aku juga tidak tahu. Tapi aku sedih karena bunda sepertinya tidak bahagia bersama ayah."
"Kakak, aku ada ide." Davin tersenyum misterius. Kedua bocah ini terkadang ada saja akalnya.
"Apa?" tanya Devan. Davin memberi isyarat dan berbisik di telinga Devan. Devan mengangguk saat mendengar rencana Davin.
"Apa kamu yakin?" Devan tampak ragu dengan
"Tentu saja. Ayo kita ke tempat bu guru dulu." Davin berjalan dengan Devan menuju ruang guru. Lalu sesaat Devan dan Davin mengacak-acak penampilan mereka. Bahkan Devan mencubit pipinya sendiri hingga merah sementara Davin mencakar tangannya sendiri.
Devan dan Davin masuk ke ruang guru, Devan berlari menghampiri gurunya seraya menangis. Begitupun Davin keduanya mulai berakting jika mereka bertengkar karena ayahnya. Akhirnya guru pun menghubungi Lusi dan mengatakan jika kedua putranya bertengkar.
Lusi yang tidak pernah melihat kedua putranya bertengkar serius pun menjadi panik. Ia lantas langsung ke sekolah kedua putranya diantar oleh Marco.
Lusi tidak sempat menghubungi Delano. Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah kedua putranya. Sesampainya di sekolah Lusi setengah berlari untuk mencapai ruang gurunya.
Lusi mengetuk pintu ruang guru, saat pintu terbuka tampak dari dalam wajah Devan dan Davin merah karena terlalu lama menangis.
"Selamat siang nyonya," Sapa bu Daria pada Lusi. Lusi hanya mengangguk sebentar lalu menghampiri kedua putranya. Bukannya tak punya sopan, tapi Lusi masih belum bisa melupakan bagaimana terakhir kalinya bertemu dengan guru itu. Bu Daria menatap penuh minat ke arah suaminya dan kekesalan itu masih membekas hingga sekarang.
"Devan, Davin kenapa kalian bertengkar, nak?" Lusi berjongkok di depan kedua putranya.
Devan menunduk, dia tak tau skenario apa yang ingin dimainkan sang adik. Dia hanya ikut-ikutan saja.
"Bunda .... " Davin memeluk Lusi masih dengan tangisannya. Akting kedua bocah itu benar-benar totalitas. Lusi mengusap punggung Davin hingga tangis putranya reda.
"Ada apa sayang?"
"Aku mau pulang, ga mau di sini." Rengen Davin. Akhirnya Lusi pun memintakan ijin pada gurunya untuk membawa kedua putranya pulang. Devan hanya diam dan mengikuti langkah ibunya Sementara Davin yang tahu jika Lusi bersama Marco, meminta lewat jalan lain yang dekat dengan taman tanpa sepengetahuan bodyguard Lusi.
__ADS_1
Lusi sama sekali tak menyadari jika semua itu akal-akalan kedua putranya saja hanya mengiyakan agar hati kedua bocah itu tenang.
"Bunda, aku mau lihat hewan ke kebun binatang," rengek Davin.
"Jika begitu, kita kembali ke sekolah dan minta om Marco mengantar kita saja ya?"
"Ga mau, aku maunya kita seperti dulu hanya bertiga naik bus atau taksi saja. Aku ga mau ada ayah, ga mau ada om Marco. Ya 'kan kak?" Devan mengangguk saja meski belum mengerti tujuan adiknya apa.
Akhirnya demi menyenangkan kedua putranya Lusi pun menghentikan taksi yang lewat dan membawa kedua putranya ke kebun binatang.
Marco yang menyadari putri dari bos besarnya tak kunjung keluar, akhirnya dia pun menyusul ke ruang guru dan menanyakan keberadaan Lusi. Namun sayangnya info yang dia dapat membuatnya benar-benar terkejut.
Marco segera menghubungi Suryo dan mengatakan jika Lusi dan kedua putranya lepas dari pengawasannya. Suryo yang sedang menemani Mitha segera meminta Marco menghubungi Harlan dan beberapa orangnya untuk mencari. Bahkan Marco juga menghubungi Delano.
Semua orang menjadi kalang kabut terutama Delano. Saat mendengar istrinya menghilang bersama kedua putranya. Delano langsung menghentikan rapat. Dia bergegas keluar dan meminta Regan membantu mencari Lusi dan kedua putranya.
Lusi mencoba mencari ponselnya di tas, tapi nihil. Dia tak melihat benda penting itu ada di sana. Sepertinya dia lupa membawanya karena terlalu panik tadi. Dia mendesah berat. Semoga saja dia tak membuat siapapun khawatir. Setibanya di kebun binatang. Devan dan Davin berjalan mendahului Lusi, di saat itu Devan mendekati adiknya.
"Davin, sebenarnya apa rencanamu?" Davin menatap sang kakak lalu senyumnya terbit.
"Kenapa begitu?"
"Kata onty Claire, ayah itu ga bisa jauh dari bunda. Kalo kita bawa bunda pergi, kita bisa lihat ayah benar-benar mencari atau tidak. Jadi kita bisa tahu apa yang bikin bunda tadi nangis."
"Aku masih belum mengerti .... " alis mata Devan bertaut. Namun tepukan di pundak Devan membuat Davin urung menceritakan maksudnya.
"Bisa sekarang kalian jelaskan? Kenapa tadi kakak dan adik bertengkar?"
"Itu salahku bunda. Aku memaksa kakak untuk mengajaknya pulang."
"Kenapa sayang? apa ada yang menjahati kalian lagi?" Lusi tampak cemas mendengar alasan putranya.
"Tidak bunda, aku hanya tiba-tiba ingin. Tapi kakak melarang ku. Sekarang bunda lebih banyak punya waktu untuk ayah. Sedangkan dengan kami, bunda jarang sekali. Padahal dulu saat kita belum punya ayah, bunda selalu punya waktu untuk kita." Davin tampak sedih saat membicarakan itu. Ini memang sebagian isi hatinya yang lama dia pendam.
"Oh sayang, maafin bunda ya, nak." Bunda janji akan lebih banyak luangkan waktu untuk kalian."
__ADS_1
Lusi memeluk kedua putranya erat. Delano jadi uring-uringan karena usahanya untuk menemukan Lusi belum membuahkan hasil. Dia hanya cemas jika sampai Aditya bertindak sementara tidak ada yang mengawal Lusi.
"Bagaimana Regan?"
"Aku harus melacak kemana lagi? sementara ponselnya tertinggal di mobil Marco." Regan masih mengecek rekaman CCTV di area sekolahan Devan dan Davin.
Menunggu menit demi menit akhirnya Regan menemukan cuplikan CCTV di belakang gedung sekolah yang menangkap sosok perempuan dengan membawa dia anak yang ia yakini itu adalah sepupunya.
"Ketemu .... " pekik Regan hingga membuat Delano langsung mendekat. Delano menatap layar laptop Regan dan melihat istri dan anaknya naik ke sebuah taksi.
"Taksinya membawa mereka kemana?"
"Aku juga tidak tahu. Tapi dari lambangnya aku tahu taksi yang beroperasi itu. Aku akan menghubungi pusat dan menanyakan kemana tujuan mereka." Regan segera mencari tahu keberadaan keponakan dan juga sepupunya itu.
"Dari info supir taksi nya, ia mengatakan jika mereka turun di Ragunan."
"Ragunan?" beo Delano. Dia tak habis pikir untuk apa istri dan anaknya ada di sana. Dia lantas menghubungi Marco untuk segerae meluncur ke sana, sementara dirinya akan menyusul dari kantor.
"Tapi 1 jam lagi kita ada meeting dengan klien tuan." Regan menghentikan langkah Delano.
"Kamu bisa gantikan aku. Mereka adalah segalanya bagiku. Jika terjadi hal yang buruk pada mereka, aku tak akan memaafkan diriku sendiri." Delano tetap melangkah dengan yakin meninggalkan Regan.
"Huh ... bilang saja bucin." Regan mendengus kesal. Namun dalam hati ia bersyukur karena keberadaan sepupu dan keponakannya telah di temukan.
Di dalam mobil, Delano harap-harap cemas. Ia berharap semoga saja Marco lekas menemukan istri dan kedua anaknya. Di sisi lain, saat ini Lusi, Devan dan Davin sedang menikmati es krim mereka. Setelah mendengar alasan Davin entah mengapa timbul rasa bersalah yang amat besar di hati Lusi pada kedua putranya.
"Bunda kenapa murung?" tanya Davin. Lusi menggeleng lalu tersenyum lembut pada Davin.
"Tidak apa-apa sayang. Bunda minta maaf ya, kalo bunda sekarang jadi sering ga bisa menemani kalian," ucap Lusi.
"Bunda ga salah kok. Maafin aku dan kakak ya bunda. Tadi bunda pasti sangat khawatir. Kami janji ini adalah yang pertama dan terakhir."
"Iya sayang."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Like, komen, Vote dan giftnya jangan lupa tsay .... 🥰🥰