
********
Marco dan beberapa anak buah Harlan tiba di lokasi Ragunan. Mereka menyebar dengan bermodal Foto yang Marco kirimkan. Mereka menyisir di setiap sudut. Hingga setengah jam berlalu akhirnya salah satu dari mereka melihat keberadaan Lusi dan kedua putranya yang sedang makan siang.
Semua anak buah Harlan yang berjumlah 10 orang berkumpul mengelilingi lokasi. Marco dan Harlan berjalan mendekati Lusi dan kedua putranya. Ketiganya sama sekali belum menyadari jika tempat mereka makan saat ini telah sepi karena Delano memerintahkan Marco untuk mensterilkan tempat itu. Jadilah sekarang hanya tinggal mereka bertiga. Devan merasa aneh saat melihat di sekeliling mereka telah berkumpul para pria dewasa dengan penampilan yang cukup membuat Devan ketakutan. Dia menggoyangkan lengan Lusi.
"Bunda Devan takut." Lusi seketika mengedarkan pandangannya melihat di sekelilingnya. Ia baru sadar tidak ada pengunjung si sana sama sekali. Hanya ada Marco dan Harlan begitu juga anak buahnya.
"Marco ada apa ini? bagaimana kamu bisa menemukanku?"
"Saya .... "
"Tentu saja karena diriku, Marco bisa menemukan dirimu dengan mudah." Sahut Delano yang baru tiba di tempat itu.
Namun belum juga Delano mendekat, Devan dan Davin berdiri di depan Lusi menghadang Delano dengan tatapan yang begitu tajam
"Lho, sayang. Kenapa kalian halangi ayah ketemu bunda?" Delano benar-benar tidak tahu kenapa kedua putranya bersikap waspada terhadapnya.
"Ayah ga boleh deketin bunda." Teriak Davin, Lusi berdiri. Namun Davin dan Devan langsung meminta Lusi untuk kembali duduk.
"Bunda duduk aja. Biar aku dan kakak yang ngomong sama ayah."
"Ada apa sebenarnya sayang?" Delano masih mencoba berbicara pada Lusi. Tapi Lusi mengangkat bahunya. Ia pun tak tahu ada apa dengan kedua putranya yang bersikap aneh.
"Ayah ga sayang sama bunda. Pagi tadi kakak lihat ayah bikin bunda nangis."
"Ya ampun sayang, itu bunda nangis karena senang."
"Ayah bohong. Mana mungkin orang senang malah nangis." Seru Davin.
"Davin, Devan. Dengerin ayah ya. Tidak semua masalah orang dewasa bisa kalian pahami. Seperti yang ayah bilang tadi, bunda menangis karena bunda senang Karena sebentar lagi kalian akan punya.... "
"Mas .... " Lusi menggeleng. Sebelum dia memastikan dirinya hamil. Dia tak ingin kedua putranya tahu. Lusi tak ingin membuat siapapun kecewa nantinya.
"Punya apa ayah?" Devan dan Davin tampak sangat penasaran. Delano yang mengerti maksud Lusi mencoba berpikir mencari jawaban lain.
"Hmm .... punya akuarium besar dengan ikan yang banyak." Hanya itu yang terlintas di pikiran Delano. Namun tanpa diduga kedua putranya terlihat antusias.
"Beneran yah?" Devan dan Davin tampak bersemangat saat mendengar mereka akan memiliki ikan.
"Serius bunda? bunda nangis karena kami akan punya akuarium?" Devan dan Davin menoleh kearah Lusiana. Meskipun bingung namun Lusi tetap mengangguk. Delano tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Devan dan Davin akhirnya tidak lagi menghalangi Delano mendekati ibunya. Delano langsung memeluk Lusi, namun seketika Lusi mendorong dada Delano untuk memberi jarak.
"Jangan seperti ini, mas! di sini banyak orang." Wajah Lusi memerah dan Delano menyukai wajah malu-malu itu.
"Jangan pergi tanpa pamit lagi. Kamu benar-benar membuatku hampir gila." Delano mengecup puncak kepala Lusi. Lusi tersenyum samar dan mengangguk. Devan dan Davin menatap kearah kedua orang tuanya. Keduanya pun akhirnya meyakini jika bundanya tadi bukan menangis karena sedih.
.
.
.
Suryo yang mendapat laporan jika putrinya sudah ditemukan merasa lega dan meminta Harlan menambah orangnya untuk mengawasi Lusi agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
"Ada apa sih mas? kok ketawanya sampai begitu?"
"Cucu kamu berulah, bikin Marco dan Harlan sampai kelabakan nyari Lusi."
"Kok bisa? Lusi sama si kembar hilang apa gimana sih?" Mitha terlihat cemas tapi Suryo buru-buru menepuk punggung tangan Mitha agar tenang.
"Mereka tidak hilang, tapi kedua cucumu mengelabuhi Marco, mereka diam-diam membawa Lusi ke kebun binatang."
Kini keduanya sedang bersiap mempersiapkan acara tahlilan untuk Laila. Mereka hanya mengundang beberapa tetangga dan anak-anak dari panti asuhan.
.
.
.
Delano dan Lusi duduk di sofa. Lusi memijat kakinya yang terasa pegal setelah mengikuti kedua putranya memilih akuarium dan ikannya. Saat ini kedua bocah itu sedang bersama Marco dan Harlan memasang perangkat akuarium di kamar mereka.
"Apa kakimu sakit?" tanya Delano. Lusi mengangguk lemah, namun bibirnya tetap tersenyum. Delano beranjak dari duduknya dan ke belakang meminta seorang pelayan menyiapkan air hangat untuk berendam di kamarnya.
"Pak Tan, tolong nanti kalo sudah siap airnya panggil aku."
"Baik, tuan muda."
Delano kembali ke ruang tamu membawa segelas teh dengan potongan lemon dan Jahe.
"Minumlah ini dulu. Biar badanmu sedikit lebih enakan." Delano menyodorkan cangkirnya kedepan bibir Lusi. Gadis itu meminumnya dengan malu-malu. Setelah Lusi meneguknya setengah, sisa teh di cangkir itu diteguk habis oleh Delano. Lusi membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Mas, itu kan sisa aku."
"Jangankan menghabiskan sisa minummu, menghabiskan dirimu saja aku juga sanggup."
"Hish ... mulai deh." Lusi mendelik kesal dengan wajah yang merona.
Saat melihat kepala pelayan menghampirinya Delano mengangkat tubuh Lusi ala bridal style menuju ke kamar mereka. Lusi memekik, namun dia langsung melingkarkan tangannya di leher Delano karena takut Jatuh.
"Ayo, saatnya kita mandi."
Lusi hanya menggigit bibir bawahnya mendengar kata-kata yang terbilang vulgar itu. Delano tersenyum senang bisa membuat Lusi tersipu malu.
"Kenapa tadi kamu ke sekolah mereka dan tidak mengabariku?"
"Tadi aku cemas, dan panik. Kata gurunya mereka bertengkar dan itu baru pertama terjadi. Meskipun mereka sering ribut tapi tidak pernah sampai bertengkar."
"Lalu, apa kamu tahu alasan mereka bertengkar?"
"Aku hanya mendengar dari gurunya jika mereka bertengkar karena memperdebatkan kamu mas. Tapi saat aku tanya ada apa pada mereka, Davin justru berkata karena dia ingin bolos sekolah dan Devan melarangnya."
"Bolos? anak seusia mereka berfikir mau bolos?" Delano belum paham dengan penjelasan Lusi. Dia merasa tidak mungkin anak sepolos mereka berpikir seperti itu.
"Iya mas, Davin merasa sekarang aku ga pernah ada waktu dengan mereka makanya dia memaksa Devan untuk bolos agar bisa ke kebun binatang." Wajah Lusi tampak muram, ini semua salahnya.
"Sudahlah, jangan bersedih lagi ya. Sekarang kita mandi. Delano melepas dress Lusi dengan sekali tarik resleting nya. Wajah Lusi merah padam saat tubuhnya kini hanya terbalut pakaian dalam saja. Delano pun melepas semua baju dan celananya serta kain segitiga, yang menutup little bro nya. Lusi memejamkan matanya, apalagi saat dia merasa Delano semakin mendekat mengikis jarak dan menyentuh pundak Lusi hingga membuat seluruh bulu kuduk Lusi meremang.
Delano menyematkan ciuman lembut di pundak putih Lusi sebelum akhirnya tangannya bergerak membuka penutup dada Lusi. Tangan Lusi reflek menutup dadanya namun Delano menahan tangan Lusi. Lusi membuka matanya dan mendongak. Delano yang sejak tadi sudah menahan hasratnya saat menatap wajah kemerahan Lusi langsung memagut bibir Lusi dengan liar.
Awalnya Lusi masih kaku, namun lama kelamaan bibirnya membalas serangan Delano. Delano menyusupkan lidahnya kedalam rongga mulut Lusi dan Lusi pun membalas dengan membelit kan lidahnya dan menghisap lidah Delano. Nafas keduanya memburu saat ciuman panas itu terurai. Lusi menyembunyikan wajahnya di dada bidang Delano.
Delano menarik segitiga terakhir di tubuh Lusi dan memasukkan tubuh Lusi ke dalam bathtub. Dia pun langsung ikut masuk dan bergabung membawa tubuh Lusi agar bersandar di tubuhnya.
Lusi menatap dari samping wajah suaminya yang begitu tampan. Delano memiringkan wajahnya menatap Lusi. Hingga keduanya kini saling beradu pandangan.
"Apa aku terlalu serakah jika berharap kamu mencintaiku?" lirih Lusi dengan suara bergetar. Delano membelai wajah Lusi lalu tersenyum.
"Tidak sama sekali, kamu bisa memilikiku dan cintaku seutuhnya Lusiana. Hanya kamu saat ini yang berhasil menguasai seluruh sendi kehidupan ku termasuk hatiku." Bisik Delano seraya menjilat daun telinga Lusi, hingga Lusi melenguh. Delano membenamkan bibirnya menghisap leher Lusi hingga menimbulkan bekas kemerahan. Keduanya kini larut dalam kegiatan panas. Hingga beberapa menit kemudian tubuh keduanya bergetar dan menegang. Tidak ada jarak dan keraguan lagi di hati Lusi. Dia akan mempercayakan sepenuhnya hatinya pada ayah dari Devan dan Davin.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
like, komen, gift dan vote karya ini ya tsay 🥰🥰
__ADS_1