
********
Lusi kini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dia ingin menemui sahabatnya. Setelah beradu pendapat dengan Delano, akhirnya pria bucin itu mengijinkan Lusi pergi dengan Marco dengan catatan jaga jarak aman. Bahkan sebelum berangkat pun Marco sudah mendapat ultimatum dari Delano.
"Marco, maaf ya. Sikap suamiku sangat kekanakan" ucap Lusi canggung.
"Tidak apa-apa nona, itu wajar saja. Bagaimanapun nona adalah wanita yang paling tuan Delano cintai. Jadi dia akan memperlakukan anda dengan sangat istimewa. Saya pun juga jika kelak memiliki tambatan hati akan saya jaga sepenuhnya. Karna jaman sekarang banyak sekali godaan di luaran sana."
"Ya, kamu benar. Apalagi sekarang mencari yang tulus itu sangat sulit. Kebanyakan dari mereka selalu memandang status sosial seseorang. Bahkan ada yang rela berhutang demi menutupi gaya hidup. Tapi akhirnya mati gaya karena terlilit hutang besar.
Dari balik spion Marco tersenyum samar. Ia pernah mendengar kehidupan pahit yang pernah nona mudanya jalani. Dan Marco sangat salut dengan Lusi. Kini Lusi sepertinya terbawa suasana dengan topik pembicaraan yang dia bawa sendiri sehingga dia terlihat kesal.
"Kita sudah sampai nona" Marco menatap Lusi dari kaca spion karena dia di larang bertatap muka langsung dengan Lusi. Dan larangan itu dicetuskan oleh Delano.
"Turunlah, temani aku. Rasanya jika masuk ke rumah sakit besar seperti ini aku takut tersesat."
Saat turun dari mobil, Lusi merapikan lagi penampilannya. outfit yang Lusi kenakan saat ini adalah celana kulot berwarna coklat susu dan inner atasan tanpa lengan berwarna navy serta outer berwarna coklat terang dan ia juga mengenakan flatshoes berwarna putih serta menenteng handbag berwarna navy senada dengan innernya.. Penampilannya sama sekali tidak menunjukkan jika dia putri orang kaya. Marco berjalan di belakang Lusi seraya mengamati kondisi di sekitar, berjaga-jaga jika ada bahaya mengintai.
Lusi tiba di depan pintu kamar Lisa. Dia mengetuk perlahan. Setelah diijinkan masuk Lusi langsung memeluk Lisa yang saat ini sedang duduk bersandar. Keduanya menangis seraya berpelukan. Regan yang baru saja selesai mengurus administrasi, terbengong melihat sepupunya ada di sana.
Setelah beberapa saat keduanya tampak tenang, mereka akhirnya mengurai pelukannya. Lisa mengusap air mata Lusi begitupun sebaliknya. Tangan Lusi mengusap air mata Lisa.
"Maaf aku tidak ada di saat kamu butuh aku." lirih Lusi. Lisa menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak apa-apa. Lihatlah. aku baik-baik saja." Lisa berusaha tersenyum meskipun trauma yang Sean torehkan untuknya begitu membekas di hati Lisa.
"Kamu udah laporin masalah ini?" Lusi menatap Lisa dan Regan bergantian.
__ADS_1
"Aku udah pasrahin semua sama Regan. Dia kan calon suami aku, jadi apapun keputusan yang dia ambil nantinya aku ngikut aja." Ucap Lisa dengan suara bergetar. Regan mengusap punggung Lisa agar bisa tenang. Regan tahu masalah yang ditimbulkan Sean begitu membekas pada diri Lisa.
Lusi manggut-manggut mendengar jawaban Lisa, dia tahu saat ini sahabatnya sedang berusaha terlihat baik-baik saja. Tapi Lusi tidak ingin terlihat mengasihani Lisa agar tidak membuat mental Lisa semakin down.
"Kapan pulang?"
"Tunggu dokter Visit dulu nanti siang. Setelah itu aku pulang."
"Kalau gitu aku ga akan ganggu kamu, sebaiknya gunakan waktu untuk beristirahat. Aku juga mau periksa ke dokter obgyn sebentar lagi. Aku duluan ya. Nanti kabari aku kalau ada apa-apa." Lisa mengangguk seraya tersenyum. Lusi memeluknya sejenak lalu mengecup puncak kepala Lisa.
"Duluan ya." pamit Lusi pada Regan. Lusi berjalan cepat meninggalkan ruang rawat inap Lisa. Saat sudah menjauh Lusi menangis dalam diam. Dia paling tahu bagaimana rasanya pura-pura terlihat baik-baik saja tapi sebenarnya dia sedang tertekan. Seperti itulah yang Lusi lihat dari Lisa saat ini.
Lusi mengepalkan tangannya. Dia akan membuat perhitungan pada Sean, karena telah membuat sahabatnya menjadi seperti ini. Marco berjalan cepat menyusul Lusi. Ia sedikit kaget saat melihat Lusi setengah berlari meninggalkan ruangan Lisa.
"Nona, apa anda baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja. Tenanglah!"
"Aku akan ke dokter obgyn. Kamu kembali saja ke mobil." ujar Lusi pada Marco. Pria itu mengangguk. Lusi langsung meninggalkan Marco, namun ternyata Marco mengikuti Lusi. Dia tidak ingin kembali kecolongan karena nyawa Lusi begitu berharga untuknya.
Tak lama Lusi tiba di depan ruang praktik dokter obgyn, kini giliran dia di panggil untuk periksa. Sebenarnya jadwal periksanya masih 1 minggu lagi. Namun Lusi sudah tidak sabar untuk memastikan apakah dirinya betul-betul hamil atau tidak.
"Nyonya Lusiana, di sini tertulis seharusnya anda kembali satu minggu lagi. Tapi jika anda kemari sekarang berati ada sesuatu 'kan?"
"Iya dokter, saya hanya ingin kembali memastikan saja. Karena akhir-akhir ini saya merasa aneh dengan tubuh saya sendiri."
"Misalnya seperti apa?" tanya dokter itu.
__ADS_1
"Saya jadi lebih gampang capek, sering tidur. Bahkan saya sampai tidak bisa mengontrol nafsu makan saya dokter." Tutur Lusi. Dokter wanita paruh baya itu tersenyum. Itu hal yang wajar saja menurutnya jika memang dalam kondisi hamil.
"Baiklah, mari sekarang saya periksa. Semoga saja janinnya sudah terlihat ya. Apa anda ingat kapan terakhir kali anda menstruasi?"
"Saya lupa dokter, saya tidak terlalu memperhatikan." kata Lusi. Seorang perawat menurunkan celana Lusi dan mengoleskan Gel di perutnya. Dokter mulai menggerakkan probe keatas dan bawah menggesernya ke kiri kanan. Lalu segaris senyum tercetak jelas di bibirnya yang merah.
"Lihatlah nyonya, itu janin anda sudah terlihat." Ucap dokter Zhafira. Lusi mencoba melihat ke arah layar LCD yang ada di atasnya. Namun hanya ada titik hitam di sana. Alisnya bertaut karena bingung. Dokter Zhafira tertawa.
"Yang anda lihat itu titik yang kecil itu adalah janin anda nyonya. Ukurannya masih sebesar biji kacang usianya di perkirakan 5 minggu, berdasarkan ukurannya."
"Apa anda yakin dok? Pernikahan saya bahkan mungkin baru 6 minggu."
"Memang banyak pasangan yang sering bingung mengenai usia kandungan. Tapi ketetapan perhitungan kehamilan diambil dari Hari pertama haid terakhir. Bukan dari kapan pasangan bersenggama. Maka dari itu sangat penting mengetahui kapan siklus menstruasi anda."
"Untuk tanggalnya saya tidak bisa mengingatnya. Tapi menstruasi saya sepertinya 2 atau 3 minggu sebelum saya menikah. Setelah itu saya tidak mendapatkannya lagi. Saya pikir ini seperti biasanya jadi saya tidak terlalu mengingatnya. Jika tahu ini penting saya akan mencatatnya." Ucap Lusi penuh penyesalan.
"Tidak apa². itu hanya sekedar perhitungan. Jika dilihat dari berat dan panjang janin diperkirakan usia kandungan anda 5 minggu." Dokter Zhafira begitu sabar dan ramah dalam menjelaskan mengenai perkembangan janin dari minggu ke minggu hingga Lusi cukup mengerti akhirnya Lusi keluar dari ruangan dokter dengan membawa berkas pemeriksaannya.
Marco segera mendekati Lusi. "Biar saya saja yang mengurus administrasinya nona."
"Tapi saya juga harus menebus vitamin itu." Lusi tetap mempertahankan berkasnya di tangan.
"Biarkan saya yang melakukannya nona. Sejak tadi saya tidak melakukan apa-apa."
"Baiklah jika kamu memaksa." Lusi melepaskan berkasnya dan duduk di ruang tunggu. Sembari menunggu Lusi melihat ponselnya namun sama sekali tidak ada panggilan dari suaminya. Dia berniat ingin memberi kejutan pada Delano sekalian menunjukkan hasil USGnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan Lupa **Like, komen dan gift kalian.
Buat yang udah like komen kasih gift dan Vote (spesial gift) thankyou verry much. 🥰🥰😘😘**