Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 53. Kamu Sempurna Di mataku


__ADS_3

********


Setelah menikmati waktu berdua yang mendadak beku. Lusi keluar dari kafe dengan memasang wajah kesal dan tidak mau menanggapi semua ucapan Delano. Entah mengapa dirinya merasa tidak suka melihat kedekatan Delano dan Florencia tadi yang hanya sesaat. Apalagi selepas wanita itu pergi senyum Delano masih belum luntur dari wajah tampannya.


"Istriku ada apa?" Delano mengusap jemari Lusi namun Lusi langsung menepisnya. Delano hanya mengulum bibirnya melihat bagaimana Lusi tampak sangat kesal karena perjumpaannya dengan Florencia.


Lusi berjalan mendahului Delano. Setibanya di tempat bermain kedua putranya langsung menghambur memeluk tubuh Lusi.


"Bunda Devan senang sekali."


"Davin juga bunda. Kapan-kapan kita main kemari lagi ya bun boleh kan?" Ucap Davin dengan wajah penuh harap.


"Tentu saja sayang." Jawab Lusi seraya tersenyum. Namun kedua putranya dapat menangkap jika Lusi tidak sedang baik-baik saja.


"Bunda kenapa?"


"Bunda tidak apa-apa sayang. Ayo kita pulang!" Lusi menggandeng kedua putranya tanpa sedikitpun menoleh ke arah Delano.


Delano menatap punggung Lusi dengan tatapan gemas. Jika saja saat ini sedang di rumah sudah pasti dia akan menerkam Lusi saat ini juga. Sayangnya mereka masih berada di pusat perbelanjaan dan memerlukan waktu 1 jam untuk tiba di kediamannya.


Devan dan Davin terlelap di pangkuan Lusi. Para pengasuh duduk tenang di belakang Lusi. Sementara Delano terpaksa pindah duduk di depan karena posisi kedua putranya.


Lusi bersandar di jok dan memejamkan matanya. Dia tak ingin membawa kekesalannya hingga di rumah. Namun entah mengapa setiap kali mengingat senyum Delano pada Flo membuat sudut hatinya berdenyut nyeri. Berulang kali Lusi menarik nafas panjang dan menghembuskannya.


Semua yang di lakukan oleh Lusi tak luput dari netra Delano. Senyum tipis menghiasi bibirnya, Delano tahu saat ini Lusi sedang cemburu hanya saja sepertinya istri polosnya itu masih belum menyadari perasaannya.


Setibanya di kediaman keluarga Wibisana, Devan dan Davin di bawa oleh pengasuhnya. Lusi hanya menyapa Diana sebentar lalu bergegas masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Lano, ada apa dengan Lusi?"


"Sepertinya dia sedang cemburu mah." Ujar Delano seraya tersenyum.


"Cemburu?" alis Diana berkerut.


"Tadi aku bertemu dengan Flo, dan dia justru terang-terangan menggodaku di depan Lusi. Sepertinya Lusi menjadi kesal karena itu mah." Tutur Delano.


"Ya sudah kamu susul istrimu. Jangan sampai kekesalannya berlanjut hingga malam nanti."


Delano segera menyusul sang istri yang sedang merajuk itu. Saat tiba di dalam kamar, Delano mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Lusi. Namun istrinya itu tidak tampak. Saat Delano menatap kamar mandi yang tertutup muncul ide untuk mengerjai Lusi.


Delano mengendap-endap masuk ke dalam kamar mandi. Satu rahasia yang Lusi tak tahu jika kamar mandi Delano bisa di buka dari luar meskipun terkunci dari dalam. Diam-diam Delano melepas semua kain yang melekat di tubuhnya dan masuk ke dalam bathtub dimana Lusi sedang memejamkan matanya.


Gadis itu terkejut dan langsung meringkuk.


"Ke... kenapa kamu bisa masuk. Aku yakin sudah menguncinya tadi." Ucap Lusi gugup. Bagaimana Lusi tidak gugup? jika saat ini dirinya dan Delano sama-sama tanpa mengenakan sehelai kain pun yang membalut tubuh mereka. Meskipun pernah melakukan penyatuan tubuh tapi saat itu dalam keadaan sedikit remang-remang tapi sekarang Cahaya di kamar mandi itu begitu menyilaukan dan lagi busa yang tadinya menutup tubuh Lusi kini sudah mulai menghilang sedikit demi sedikit.


"Ja... jangan begini." Lirih Lusi dengan wajah yang bersemu merah.


"Kenapa sejak tadi kamu terlihat kesal dan marah padaku?"


"Ti... dak aku tidak marah."


"Tapi kamu bahkan menepis tangan suamimu Lusi. Aku tahu kamu sedang kesal." Delano mengecup pundak Lusi dan menghisap nya.


"Akh .... " Desah Lusi. Seketika tubuhnya terasa lemas.

__ADS_1


"Aku tidak mau kamu berprasangka buruk padaku. Aku milikmu dan kamu milikku, Jiwa dan ragaku seutuhnya milikmu. Jangan meragukan perasaanku untukmu Lusi." Desis Delano dengan posisi yang masih begitu in*tim.


"Aku tidak pernah meragukanmu. Aku meragukan diriku sendiri. Dibandingkan dengan temanmu tadi aku merasa benar-benar bukan apa-apanya."


"Jangan bebani dirimu dengan pikiran yang tidak-tidak. Nyatanya wanita yang aku cintai hanya dirimu sayang." Delano memiringkan kepalanya dan memagut bibir Lusi. Awalnya Lusi hanya mematung namun sesaat dia mulai terhanyut dan membalas ciuman Delano.


Bibir Delano menyusuri leher jenjang Lusi dan meninggalkan banyak jejak di sana. Bibir Lusi terus merintih dan mende*sah seiring pergerakan Delano yang semakin liar. Bahkan salah satu tangan Delano sudah berada di inti tubuh bagian bawah Lusi dan bermain liar dengan sesuatu yang tersembunyi di dalamnya hingga tubuh Lusi bergetar dan menegang. Wajah Lusi benar-benar merah padam merasakan pelepasan dari permainan tangan Delano. Namun satu hal lagi yang membuatnya menegang adalah sesuatu yang saat ini mengeras menyentuh pantatnya.


"Giliran little boy yang akan beraksi sayang, aku akan membawamu terbang tinggi." bisik Delano. Delano mendorong tubuh Lusi hingga posisi Lusi sedikit menung*ging membelakangi Delano. Lusi berpegangan pada bibir bathtub. Tanpa aba-aba lagi Delano melesakkan little boy nya hingga memenuhi ruang kosong di inti tubuh Lusi.


Suara desa*han dan erangan keduanya menggema di dalam kamar mandi, Delano bergerak memacu Lusi dengan lembut. Hingga tubuh keduanya bergetar bersamaan.


"Aakh ... sayang." Pekik Delano. Delano tersenyum dan kembali mengecup pundak Lusi.


"Aku mencintaimu Lusi, hanya kamu." Bisik Delano. Mendengar ucapan suaminya yang terdengar tulus. Lusi tersenyum namun ia masih malu untuk membalikkan badannya.


Delano tak menunggu jawab Lusi. Dia segera bangkit dan mengangkat tubuh Lusi membawanya ke bawah shower. Dengan penuh kelembutan Delano memandikan Lusi. Setelah keduanya selesai lagi-lagi Delano mengangkat tubuh Lusi dan membawanya keluar. Delano bahkan menyiapkan baju ganti untuk Lusi.


"Kamu tidak perlu memperlakukan aku berlebihan seperti ini. Menyiapkan baju ganti adalah tugasku" Ujar Lusi.


"Biarkan hari ini spesial aku yang melayanimu. Untuk menebus kekesalanmu sayang."


Lusi langsung terdiam dan membiarkan Delano melayani dirinya. Lusi merasa perlakuan Delano padanya begitu istimewa hingga mampu menembus relung hati Lusi yang terdalam.


"Terimakasih sudah mencintaiku seperti ini dan maafkan aku yang masih banyak kekurangan ini." Lirih Lusi seraya menunduk tak berani menatap Delano.


"Kamu sempurna di mataku." Ujar Delano dan mengecup puncak kepala Lusi.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa Like vote komen dan giftnya ya ada hadiah pulsa menanti kalian di akhir bulan


__ADS_2