Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 66. Istriku Di dalam!!


__ADS_3

********


Setelah sejenak berbasa-basi akhirnya Delano dan Lusi memilih pulang.


"Mas sebentar, aku mau ke toilet."


"Baiklah." Delano langsung memberi kode Harlan untuk mengikuti Lusi.


"Paman, apa tidak apa-apa jika paman mengikutiku?"


"Tentu saja nona."


"Baiklah, paman tunggu di sini saja." Lusi masuk ke dalam kamar mandi namun matanya tanpa sengaja melihat Karisa ada di sana. Lusi mengurungkan niatnya dan memilih bersembunyi di ruang sempit tempat menyimpan alat kebersihan.


"Lihat saja Lano. Aku akan membuatmu menyesal telah menolakku. Jika aku tidak bisa memilikimu maka tidak ada satupun wanita yang boleh memilikimu."


Di dalam kamar mandi Lusi bergidik ngeri, "Dasar wanita gila. Aku tidak akan membiarkan kau merusak kebahagiaan putraku" desis Lusi.


Lusi mendengar Karisa mengokang senjata. Hati Lusi semakin berdebar. Lusi tersentak saat mendengar suara langkah kaki Karisa semakin mendekat, Lusi melihat ada ember berisi air kotor. Ia langsung mengambilnya dan saat suara tapak kaki Karisa semakin mendekati pintu Lusi segera membuka pintu dan mengguyur Karisa.


BYUUR!!


"Breng*sek apa-apaan ini?" Pekik Karisa, mendengar teriakan dari dalam Harlan bergegas masuk tanpa berpikir panjang. Matanya membelalak saat melihat Karisa menodongkan senjata ke arah Lusi. Dia menekan tombol di jam tangannya yang terhubung dengan Marco.


"Gawat tuan, sepertinya nona dalam bahaya." Marco memperlihatkan alarm jam tangannya yang terus menyala.


"Sial .... " Delano menendang udara lalu bergegas mengikuti Marco.


Di toilet, suasana terasa sangat mencekam. Mata Karisa menatap tajam Lusi. Ia juga menodongkan senjata apinya tepat di hadapan Lusi.


"Oh, kamu janda kegatelan yang sudah merayu Delano kan? Jangan harap aku akan diam saja. Lihatlah, jika aku tak bisa memiliki Delano maka jangan harap kau memilikinya." Karisa tersenyum miring.


"Nona .... "


"Mundur, atau ku tembak kepalanya," kata Karisa gusar. Namun anehnya Lusi tampak tenang dan sama sekali tak terpengaruh melihat senjata api itu mengarah padanya.


"Aku merasa kasihan pada ibumu yang melahirkan anak berhati iblis sepertimu," ucap Lusi memprovokasi.


"Diam .... " Pekik Karisa. Delano yang tiba di depan toilet tiba-tiba jantungnya berdebar kencang.


"Tuan jangan gegabah. Setidaknya Harlan ada di dalam bersama nyonya." Marco berkata lirih.


"Tapi istriku di dalam. Bagaimanapun keselamatannya sedang terancam." Delano mengacak rambutnya gusar.


Sementara di dalam Karisa seperti orang kesetanan tangannya bergetar karena marah mendengar ucapan Lusi.


"Janda si*alan beraninya kau. Saat Karisa akan menekan pelatuknya, kaki Lusi menendang perut Karisa hingga terdorong ke belakang.


DOR!!

__ADS_1


Senjata api yang Karisa pegang tetap meletus namun sasarannya meleset. Harlan yang melihat kesempatan segera menendang pistol dari tangan Karisa. Delano terkejut mendengar letupan senjata api langsung menerobos masuk.


"Lusi ...." Delano langsung memeluk Lusi dengan erat. "Apa dia melukaimu?" Delano mengurai pelukannya dan meneliti seluruh tubuh Lusi.


"Aku baik-baik saja." Lusi tersenyum seraya membelai wajah Delano.


"Tuan, kita apakan wanita ini?"


"Tunggu Marco dulu." Jawab Delano datar. Ia menatap Karisa yang sudah pingsan karena Harlan berhasil memukul tengkuknya.


"Wanita ini benar-benar tidak ada kapoknya." Dengus Delano kesal.


Tak lama berselang Marco datang dengan 3 orang jajaran polisi. Mereka membekuk Karisa dan membawa bukti senjata api yang tadi sempat terlempar.


"Apa kamu yakin? kamu baik-baik saja?"


"Ya aku rasa begitu."


Delano lantas membawa keluar Lusi. Sementara Harlan dan Marco saling melempar pandangan.


"Ada apa denganmu?" tanya Marco pada Harlan.


"Aku merasa jika nona sebenarnya bukan wanita yang lemah," ujar Harlan.


"Maksudmu?"


"Tadi jala*ng itu menodongkan pistolnya namun nona terlihat santai, dan nona bahkan menendang wanita itu dengan gerakan yang sangat bagus."


"Ya, aku yakin." Tegas Harlan. Keduanya kini mengikuti mobil polisi untuk dimintai keterangan mengenai kejadian hari ini.


.


.


.


Lusi terlelap di kursi penumpang. Bahkan dia tak terganggu sama sekali saat Delano menurunkan sandaran kursinya dan menutupi tubuhnya dengan selimut tipis yang terdapat di dalam mobil.


Delano melajukan mobilnya menuju mansionnya. Bahkan Lusi sama sekali tak terbangun saat Delano mengangkatnya dan membawanya masuk ke kamar.


"Aku hampir saja membuatmu jadi korban Karisa. Beruntung Tuhan masih berpihak pada kita dan melindungimu," Lirih Delano.


Lusi terbangun dari tidurnya, ia merasa perutnya seperti terhimpit dan ternyata suaminya sedang memeluknya dengan posesif.


Lusi memiringkan tubuhnya menatap kearah Delano. "Dari mana kamu mengenal wanita mengerikan seperti dia?" lirih Lusi. Lusi tak sanggup membayangkan jika dia terlambat mengetahui semua yang Karisa rencanakan. Bisa saja saat ini pria yang ada di sampingnya itu kini sedang terbujur di rumah sakit.


Tanpa sadar Lusi membelai wajah Delano. Pria itu membuka kelopak matanya.


"Kamu bangun?"

__ADS_1


Lusi mengangguk berulang kali lalu tersenyum. "Apa yang akan kamu lakukan pada wanita itu?"


"Aku akan membuat dia dihukum seberat-beratnya karena dia berani menodongkan senjata padamu."


"Tapi sebenarnya senjata itu dia siapkan untukmu. Dia bilang jika dia tidak bisa memilikimu maka siapapun tidak boleh memiliki kamu." Suara Lusi bergetar, kerongkongannya serasa tercekat.


Delano meraih tubuh Lusi dan mendekap nya erat. Istrinya pasti sangat ketakutan tadi. "Tenanglah, sekarang semuanya akan baik-baik saja."


Lusi mengangguk. Dia menyusupkan wajahnya di belahan dada bidang Delano dan menghirup aroma tubuh suaminya itu.


"Aku lapar."


Delano menatap jam digital yang ada di atas nakas. waktu menunjukkan pukul 1 dini hari.


"Kamu mau makan sesuatu?"


"Hmm, aku ingin makan di luar."


"Di taman maksudnya?" Seketika Lusi memukul dada Delano.


"Aku ingin makan di warung lesehan."


"Dimana tempatnya?"


"Kita cari di sekitar daerah sini saja. Aku ingin makan pecel lele."


"Aku pesankan koki rumah saja ya? biar dia yang buatkan." tawar Delano, Lusi menggeleng.


"Jika tidak mau tidak apa-apa, besok saja." lirih Lusi. Delano pun merasa tak tega jika Lusi harus menahan lapar hingga besok.


"Ayo lekas ganti baju. Kita keluar sekarang cari pecel lele." Ujar Delano seketika bangun dari posisi tidurnya.


"Janji ya, ga boleh ingkar." Lusi mengangkat jari kelingkingnya. Delano tersenyum dan mengacak rambut Lusi.


"Iya, buruan." Senyum Delano mengembang saat melihat wajah Lusi yang terlihat begitu bahagia.


"Hal sekecil ini saja sudah mampu membuatmu tersenyum." Gumam Delano, ada rasa hangat menjalar di hatinya. Sepertinya dia benar-benar sudah jatuh kedalam pesona Lusiana.


"Ayo, kenapa malah melamun?" tegur Lusi, saat melihat Delano justru mematung menatapnya. "Kenapa? ada yang aneh ya?"


"Engga ... kamu cantik."


Blush!


Wajah Lusi memerah mendengar ucapan Delano.


"Ga usah mengada-ada." Lusi berjalan cepat meninggalkan Delano yang malah terkekeh melihat tingkah maluยฒ Lusi.


"Huh, coba di kamar. Udah aku serang kamu." gumam Delano, ia langsung menyusul sang istri yang masih malu-malu.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Yok giftnya jangan ****kendor****, like komen kalian othor tungguin biar makin semangat upnya.


__ADS_2