Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 78. Beda Kasta


__ADS_3

*********


Terkadang tidak perlu melihat untuk dapat merasakan cinta. Seperti itulah sekarang hubungan Lusi dan Delano. Kali ini Lusi tidak dapat menolak saat Delano memaksanya ikut ke kantor miliknya. Kedua putranya pun tak lagi mempermasalahkan keberadaan Lusi. Meskipun Lusi sibuk dengan Delano tapi asal Lusi bahagia, mereka akan mendukungnya.


"Nanti kami di jemput oleh oma dan onty Claire. Bunda ikut ayah saja. Jangan sampai ayah di goda tante-tante centil." Devan dan Davin mengatakan itu seraya tertawa.


"Siapa yang mengajari kalian ngomong begitu?" tanya Lusi penasaran.


"Onty Claire yang bilang bunda, katanya ayah kalo di perusahaan suka banyak yang godain ayah. --- Iya kan, yah?" Davin berbicara dua arah menatap ibu dan ayahnya bergantian, Delano hanya tersenyum menanggapi ucapan putra bungsunya. Sedangkan Lusi membuang wajah ke samping dan memilih menatap keluar jendela mobil.


Hari ini penampilan Lusi terlihat lebih fresh dan segar. Dia menggunakan dress berwarna abu-abu tua tanpa lengan. Rambutnya dibiarkan terurai hingga menambah kesan seksi bagi Delano. Delano menggenggam tangan kanan Lusi dan mengecupnya mesra.


"Tenang saja. Hati dan pikiranku sudah penuh terisi oleh namamu." Senyuman manis itu mengembang dari bibir Delano dan menular bukan hanya pada Lusi namun juga pada kedua putra mereka. Keluarga mereka terlihat sangat harmonis pagi ini. Setelah menurunkan kedua putranya, Delano langsung melajukan mobilnya menuju ke Zenon Corp, kantor perusahaan miliknya.


Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran khusus. Delano mengajak Lusi masuk ke kantor lewat lift yang memang dikhususkan untuk pimpinan perusahaan.


"Apa agendanya hari ini banyak?"


"Mungkin. Kenapa memangnya?" tanya Delano seraya melirik tangan Lusi yang masih membelit manja di lengannya.


"Tidak ada apa-apa. Aku ingin menyelesaikan beberapa gambar pesanan Raffi."


"No, aku tidak akan ijinkan. Hari ini kamu khusus menemaniku bekerja." Bibir Lusi langsung cemberut namun dia tidak bisa menolak semua yang suaminya perintahkan. Lusi sudah berjanji pada dirinya akan membalas semua ketulusan Delano dengan baktinya menjadi seorang istri yang baik dan penurut.


Delano mengusap-usap kepala Lusi, "Kamu benar-benar seperti kucing penurut dan aku benar-benar menyukainya."


Sampai di kantornya Delano melihat sudah ada tamu yang menunggunya, seorang pria paruh baya dan seorang wanita muda dengan pakaian yang sangat mengganggu penglihatan.

__ADS_1


"Tuan Delano." Sapa pria itu tersenyum ramah.


"Apa kita ada janji pertemuan hari ini tuan Frederick?"


"Maafkan saya jika mengganggu anda. Kemarin pertemuan yang kota jadwalkan tiba-tiba di batalkan begitu saja oleh asisten anda. Saya belum merasa puas karena saya ingin mendengar langsung jawaban dari anda.


"Baiklah, silahkan masuk." Delano menarik tangan Lusi dan menggenggamnya dengan erat. Sementara tuan Frederick menatapnya dengan penasaran. Siapa gadis manis yang Delano bawa saat ini.


Delano duduk di kursi kebesarannya setelah mempersilahkan tamunya untuk duduk. Dia bahkan tanpa ragu menarik pinggang Lusi hingga gadis itu terduduk di pangkuan Delano. Wajah Lusi memerah, tapi dari isyarat mata Delano Lusi tahu jika dia tidak boleh menolak maka jadilah dia hanya diam saja dengan perlakuan suaminya.


"Apa yang ingin anda perjelas tuan Frederick?"


"Saya ingin mempertanyakan perihal kerjasama kita tuan."


"Jika itu mengenai kerjasama, saya rasa asisten saya sudah cukup mengingatkan anda. Bagi saya jika anda bersungguh-sungguh maka jangan campur adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan."


"Baiklah, perkenalkan dirimu!" ucap Delano datar.


Gadis berambut merah, dengan pakaian minim bahan itu berdiri dan hendak berjalan mendekat namun tangan Delano langsung terangkat mengisyaratkan agar gadis itu tetap di posisinya.


"Perkenalkan tuan saya Raihana, tapi anda bisa memanggil saya Hana."


"Sudah 'kan tuan Frederick? lalu setelah itu apa yang anda inginkan?"


Lusi akhirnya memilih menyandarkan kepalanya di dada Delano dan menyembunyikan wajah malunya di dada bidang itu. Ia tahu betul tatapan tajam tamu Delano yang mengarah kepadanya. Namun dia bisa apa?


"Saya ingin kita bekerjasama."

__ADS_1


"Jika tanpa syarat, maka saya akan menyetujuinya" jawab Delano enteng.


"Apa salahnya jika anda mengenal putri saya lebih dekat lagi? dia berpendidikan tinggi. Karirnya pun cemerlang dan kita dari kasta yang sama. Daripada mempertahankan wanita yang tidak jelas. Saya rasa anda pasti paham betul maksud saya." Ucap Frederick dengan senyum yang masih mengembang, dia tampak puas membanggakan putrinya di depan Delano tanpa melihat jika raut wajah Delano sudah berubah kelam.


"Saya pikir anda masih belum paham dengan penjelasan dari asisten saya dan perkataan saya. Saya akan perjelas lagi. Jika memang anda menginginkan kerjasama ini maka jangan campur adukkan masalah pribadi di dalamnya. Anda berbicara mengenai pasangan saya, seolah-olah anda tahu semua mengenai istri saya. Apa anda mencari tahu informasi mengenainya dengan benar?"


Wajah Frederick tampak sangat kaget begitupun Hana putrinya saat mendengar jika wanita yang sejak tadi duduk nyaman diatas pangkuan Delano adalah istrinya. Tapi kenapa dia tidak tahu ada berita mengenai pernikahan mereka?


"Dengan melihat wajah terkejut anda, saya bisa menebak jika anda memang tidak tahu sama sekali. Lagipula istri saya memang tidak sekasta dengan kita karena kastanya jauh lebih tinggi dari kita. Dia adalah cucu perempuan keluarga Syailendra yang anda tahu kan jika perusahaan milik Suryo Syailendra memiliki setidaknya 5 tambang batu bara, dan 12 perusahaan dibidang export import. Tentu saja kasta istri saya tidak bisa dibandingkan dengan kita."


Frederick menatap nanar gadis yang masih nyaman berada di dekapan Delano itu. Dia bisa apa sekarang. Alih-alih mendapat keuntungan dengan bekerjasama dan menjodohkan putrinya namun dia justru mendapatkan malu karena sudah salah strategi.


"Silahkan anda keluar, karena saya masih banyak pekerjaan." Delano berkata dengan arogan. Frederik tertunduk malu. Hana hanya diam menatap iri pada Lusi. Namun mau tak mau keduanya keluar dari ruangan Delano.


"Ayah, apa ayah tidak bisa melakukan sesuatu untukku? aku benar-benar jatuh cinta padanya."


"Kita tidak sebanding dengannya Hana." Ujar Frederick dengan wajah marah. Hana hanya menunduk kesal. Namun dalam hati dia akan mencari cara untuk mendapatkan Delano.


Sementara itu, Lusi justru malah terlelap karena terlalu nyaman dengan posisinya saat ini. Delano mengangkat tubuh gadis itu dengan hati-hati dan membawanya masuk ke kamar pribadinya.


"Sepagi ini bahkan kamu sudah pulas. Aku rasa kamu benar-benar sedang mengandung buah hati kita." Bisik Delano lalu mengecup mesra kening Lusi.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Semoga nanti bisa up 2x ya.


jangan lupa Like, komen dan Vote kalian ini hari senin. Saatnya Vote.

__ADS_1


__ADS_2