
********
Sean pulang ke mansionnya dalam keadaan berantakan. Aroma alkohol begitu menyengat hingga menbuat nyonya Chandra terkejut.
"Sean, ada apa denganmu?"
"Oh.. ibu Chandra yang terhormat. Bagaimana perasaan anda saat ini? apa anda sudah puas memisahkan saya dan Lisa?" Sean menceracau tidak jelas.
Keluarga Sean terbilang keluarga kaya raya. Ibunya yang masih keturunan darah biru memiliki beberapa pabrik tekstil dan ayah Sean adalah seorang dokter ahli bedah dan beliau adalah pemilik 5 rumah sakit swasta di negri ini. Bahkan kabarnya ayah Sean memiliki 2 rumah sakit di luar negeri.
Selama ini Chandra selalu menjaga nama baik keluarganya. Saat ia mengenal Lisa dan mengetahui latar belakang gadis itu awalnya Chandra melarang keras hubungan Sean dan Lisa. Namun karena lama kelamaan sifat Sean berubah menjadi pembangkang, akhirnya Chandra berpura-pura menerima kehadiran Lisa dan memutuskan menindas gadis itu bila Sean membawanya ke mansion.
Penindasan yang Lisa terima tidak hanya berupa penindasan Verbal tetapi juga fisik. Namun karena Lisa masih menghargai Sean sebagai kekasihnya Lisa memilih diam. Chandra bisa bersikap sangat kasar. Dia sering sekali mendorong kepala Lisa jika gadis itu menolak perintahnya untuk menjauhi Sean, dan puncak kesabaran Lisa adalah saat Chandra membawa seorang gadis yang digadang-gadang akan menjadi tunangan Sean dan jelas mereka satu kasta. Hal itulah yang akhirnya membuat Lisa menyerah dengan hubungannya dengan Sean.
Chandra terus menatap punggung Sean hingga menghilang di balik pintu. Tidak ada penyesalan di hatinya. Dia hanya merasa putranya masih belum bisa menerima kenyataan saja, dan suatu saat ia yakin putranya akan menerima calon yang dia perkenalkan.
Sean duduk termenung di kamar. Dia terus merutuki kebodohan dirinya sendiri. Gara-gara menuruti egonya dia bahkan sampai menyakiti Lisa, gadis yang selama ini dia cintai.
"Maafkan aku Lisa, aku benar-benar minta maaf." lirih Sean lalu tertidur di lantai.
Chandra mengintip dari balik pintu kamar Sean yang tidak tertutup rapat. Saat melihat kondisi putranya dia menghembuskan nafas panjang. Dia yakin putra kesayangannya hanya belum terbiasa dan belum menerima perpisahannya dengan Lisa.
"Suatu saat kamu pasti akan berbahagia dengan wanita pilihan mama Sean." gumam Chandra.
.
.
.
Sepulang dari menonton bioskop Delano mengajak Lusi makan setelah itu Lusi memaksa ingin melihat keadaan sahabatnya dan akhirnya mau tak mau Delano akhirnya menuruti keinginan istrinya itu.
Lusi menatap keluar, saat itu hujan tiba-tiba saja turun dan membuat suasana terasa dingin menggigit. Lusi menggosokkan kedua telapak tangannya agar lebih hangat. Delano menepikan mobilnya dan meraih jasnya di jok belakang.
"Pakai ini, agar kamu tidak kedinginan."
"Oh suamiku, kamu memang yang terbaik." Lusi menyunggingkan senyum manis kearah Delano. Delano menatap lusi dengan tenang lalu ia mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Kita pulang saja bagaimana? ini sudah terlalu malam untuk membesuk Lisa. Lagipula kasihan dia jika sedang istirahat. Kamu pun juga membutuhkan istirahat." Lusi menatap Delano dalam, tatapan pria itu selalu teduh seperti biasa saat menatap dirinya. Lusi pun akhirnya mengangguk meskipun hatinya setengah mati penasaran dengan kondisi Lisa. Apalagi tadi Lusi sempat mendengar Delano menyebut polisi.
Delano tersenyum saat Lusi begitu penurut. Entah mengapa dia sangat bahagia memiliki Lusi dalam hidupnya.
Lusi selesai membersihkan dirinya. Kini tubuhnya yang ramping telah terbungkus baju tidur berbahan sutra. Lusi duduk di meja rias dan memakai beberapa produk perawatan kulit dan wajahnya. Delano masuk ke kamar dengan membawa nampan yang di atasnya sudah ada segelas susu coklat khusus untuk ibu hamil dan beberapa kue yang tadi sempat mereka beli saat di mall.
"Minum susumu dulu sayang."
"Terima kasih mas" Lusi tersenyum seraya menerima gelas susunya.
Setelah menghabiskan susunya Lusi mengambil satu kue dan menyodorkannya ke mulut Delano, Delano memundurkan wajahnya. "Aku tidak suka yang manis-manis sayang."
"Berati kamu juga ga suka aku dong mas, kan aku manis." Lusi mengerlingkan matanya nakal, Delano terkekeh lalu mau tak mau dia membuka mulutnya dan mengarahkan tangan Lusi agar memasukkan kue tersebut kedalam mulutnya.
Delano mengunyahnya perlahan. Tangan Lusi terangkat dan mengusap sisa remahan di bibir Delano seraya tersenyum. "Udah gede makannya kok masih berantakan sih mas!"
"Sengaja... biar kamu perhatiin." Delano mengangkat tubuh Lusi dan membawanya ke ranjang. Dia meletakkan bantal agak tinggi agar Lusi bisa bersandar dengan nyaman. Delano berbaring di samping Lusi seraya memeluk perut wanita itu. Lusi dengan lembut mengusap punggung tangan Delano.
"Mas, janji ya sama aku" lirih Lusi seraya tangannya terus mengusap punggung tangan Delano.
"Janji.. kalo mas ga akan lirik-lirik atau tergoda wanita lain."
"Itu sudah pasti. Kamu harus percaya aku. Sampai kapanpun cinta abang hanya untuk dedek Lusi seorang." Delano dan Lusi tiba-tiba tertawa mendengar ucapan Delano yang terdengar menggelikan.
"Abang tukang bakso." Celetuk Lusi.
"Mana ada tukang bakso setampan aku."
"Mulai narsis .... " Lusi menepuk tangan Delano yang setia melingkar di perutnya.
"Besok ibu dan ayah pulang. Kita jemput mereka ya mas? mas sibuk ga?"
"Sepertinya, iya.. Mas sibuk. Regan juga pasti masih mengurus Lisa. Tapi nanti akan mas usahakan. Jika sungguh tidak bisa, nanti kamu sama om Harlan saja."
Lusi menggeleng lemah, bibirnya mengerucut. "Tidak mau. Jika kamu tidak bisa ya sudah, aku akan ke rumah sakit saja melihat keadaan Lisa besok."
"Apa kamu marah?" tanya Delano. Lusi tersenyum lantas menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak.. ini bukan perkara yang terlalu penting. Aku bisa mengunjungi mereka saat mereka tiba di rumah." Kata Lusi.
"Baiklah, sekarang kamu harus tidur. Aku akan ke kamar anak-anak untuk melihat mereka dulu." Lusi mengangguk. Delano keluar menuju kamar kedua putranya.
Devan dan Davin sedang membaca buku cerita saat Delano masuk. Keduanya langsung menghambur memeluk ayahnya. Seharian ini mereka tidak bertemu dan itu membuat keduanya benar-benar merindukan kehadiran ayah dan bundanya.
"Bunda mana, yah?"
"Bunda di kamar sayang"
"Bunda sekarang jarang menemani kami tidur" ujar Devan lesu. Delano tersenyum mendengar keluhan putranya.
"Apa kalian mau tidur bareng bunda dan ayah?" tawar Delano. Wajah Devan dan Davin seketika berbinar.
"Mau yah.. kami mau."
"Baiklah, ayo kita ke kamar ayah. Kita kejutkan bunda."
Devan dan Davin berjalan sambil melompat-lompat. Mereka terlalu senang. Saat Delano membuka pintu keduanya langsung berseru.
"Bunda ... !!"
Lusi menoleh kearah pintu, ia tersenyum lembut saat melihat kedua putranya menghampirinya. "Bunda, kita kangen."
"Bunda juga kangen sama kalian." Kata Lusi.
"Kalian kenapa kemari?"
"Kami mau tidur di sini. Kata ayah boleh." Ucap Davin.
"Oh ya? jika begitu ayo sekarang ayo kita tidur."
Delano mengangkat tubuh Devan dan Davin. Keduanya berbaring di tengah, posisi Delano berada di sisi sebelah kiri Devan dan Lusi di sebelah kanan Davin.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
jangan lupa like komen dan giftnya 🥰🥰😘
__ADS_1