Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
Extra Part. KenyataanYang Tak Menyenangkan


__ADS_3

*******


Sepulang dari rumah sakit. Lisa pada akhirnya membagikan makanan yang dia borong dari rumah sakit kepada para pelayan. Dia merasa takut jika menuruti kemauannya bayinya akan semakin membesar.


"Ada apa dengan istrimu, Re?" tanya mama Lidya. Saat melihat menantunya membagikan makanan di paviliun belakang.


"Tadi kata dokter, bayi dalam kandungannya beratnya sudah mencapai 3,4 kg mah, Lisa takut, jadi hasil berburu kulinernya di bagikan ke orang-orang."


Lisa kembali masuk, lalu ia mendekap Regan dengan manja. Mama Lidya geleng kepala melihat tingkah menantunya yang semakin manja itu.


"Kok sedih gitu mukanya,Lis? habis bagi-bagi kue harusnya senang, Mama aja sampai ga kebagian." goda mama Lidya.


"Mama jangan terlalu banyak gorengan ga sehat. Lisa aja stop ga makan," ujar Lisa dengan sedikit mendengus. Mama Lidya dan Regan hanya mengulum senyum tidak berani tertawa karena bisa saja Lisa akan semakin sedih.


"Jangan cemberut gitu donk. Nanti mama buatkan camilan yang enak dan sehat untuk kamu dan calon cucu mama." tutur mama Lidya. Lisa langsung sumringah.


"Janji ya, mah?" wajah yang semula murung berubah 180°.


"Aku nanti malam ada meeting sayang. Kamu mau tidur sendiri atau dengan mama?" tanya Regan pada sang istri.


"Sendirian saja, lagi pula aku malu. Nanti kalau mama tahu aku tidur nya ga pernah tenang gimana?" bisik Lisa, Regan terkekeh mendengarnya. Istrinya memang jarang tidur dengan tenang. Bukan berati tidak pernah. Lisa akan tidur tenang setelah bercocok tanam dengannya. Lain halnya jika tidak, sepertinya istrinya itu memiliki sisa tenaga yang berlebihan untuk bergerak aktif di malam hari. Suatu malam pernah Regan sampai terjatuh dari ranjang karena ditendang oleh Lisa. Bahkan Regan sering terbangun dengan menghadap kaki Lisa, sementara Lisa memeluk kaki Regan dengan erat.


"Kenapa jawabnya malah bisik-bisik?"


"Hihihi, aku malu, mah. Aku tidur sendiri saja," jawab Lisa.


"Ya sudah, kalau begitu mama mau suapi nenek kalian dulu. Re, bawa istri kamu ke ruang makan. Sudah waktunya makan siang." Lidya meninggalkan pasangan itu. Lisa dan Regan saling adu pandang lalu tertawa. Regan menarik bahu Lisa dan membawa wanita itu ke ruang makan sesuai perintah mamanya.


"Om Regan... " Suara teriakan melengking itu membubarkan keromantisan Regan dan Lisa. Lisa menoleh dengan tersenyum lebar, kedua keponakan tersayang nya datang.


"Kalian, sama siapa?"


"Sama oma dan onty Claire," jawab Davin singkat seraya memeluk perut Lisa yang bulat dan besar

__ADS_1


"Kalian engga nemenin dede Cia?" tanya Lisa.


"Ga mau, dede Cia berisik, onty Lisa. Dia semalaman menangis sampai kami susah tidur." Kini giliran Devan yang menjawab. Lisa terkekeh gemas melihat kedua bocah itu.


Diana dan Claire membawa dua koper kecil milik kedua bocah itu.


"Lisa, tante titip mereka dulu ya hanya dua hari saja. Nanti biar dijemput pulangnya sama Delano. Cia rewel semalaman mungkin karena tali pusarnya mau lepas jadi rewel. Eh mereka yang protes katanya adik bayinya berisik." tutur Diana.


"Memang berisik oma, ya kan, kak?"


"Iya, Devan ga suka. Devan maunya adik bayinya yang lucu bukan cengeng."


"Eh, sayang. Engga boleh gitu. Kasihan dedek Cia kalau kalian tinggalin." Ujar Lisa.


"Ga mau, pokoknya kita mau tidur di sini, sama dedek bayinya onty Lisa saja."


"Baiklah kalau begitu. Tinggal saja, tante. Biar saya yang urus mereka."


Regan menghembuskan nafas panjang. Sepertinya dua hari kedepan dirinya tidak akan diperhatikan oleh sang istri lagi.


.


.


.


Diana dan Claire sedang berada di sebuah acara amal. Keduanya biasa datang sebagai donatur tetap, Diana juga di tunjuk sebagai ketua asosiasi Yayasan terpadu.


"Jeng Diana, ini ada nyonya Chandra dan putranya mau mendaftar menjadi donatur." Diana tersenyum ramah kepada Chandra dan Sean. Sudah lama mereka saling mengenal hanya saja bagi Diana, Chandra tipikal bukan orang yang ramah sehingga Diana tidak begitu dekat dengannya. Claire sejak tadi tersenyum malu menatap Sean. Namun pria itu tampak biasa saja dan bersikap seolah tak melihat gadis itu.


"Kenapa senyam senyum si Claire?"


"Anak tante Chandra tampan ya, mah?"

__ADS_1


"Kuliah dulu yang bener baru mikirin cowok. Kamu itu, jangan malu-maluin. Kalau mama ga salah ingat itu anak tante Chandra, mantan pacar istrinya Regan." ujar Diana, senyum Claire langsung meredup.


"Yah, baru juga mau naksir. Ternyata mantannya mbak Lisa. Berati dia yang masuk berita dulu itu dong, mah."


"Iya... " jawab Diana singkat.


Claire dengan lesu mengikuti langkah Diana masuk ke aula pertemuan. Diana mendampingi beberapa donatur baru termasuk Chandra. Namun Claire tak lagi menatap Sean. Dirinya menyibukkan diri dengan ponselnya. Sean yang sebenarnya tadi menyadari tatapan kagum Claire merasa heran dengan perubahan gadis itu.


Meskipun sebenarnya Claire dan Sean sering berada dalam satu lingkup acara tapi sayangnya mereka hampir tidak pernah berinteraksi. Terlebih Claire juga hanya sebentar mengikuti acara lalu pergi setelahnya.


Sean yang merasa penasaran dengan gadis itu akhirnya menggeser duduknya di sebelah Claire.


"Hai... " sapa Sean dengan lembut. Jantung Claire langsung berdegup tak beraturan. Namun dia sebisa mungkin bersikap biasa.


"Ya... " Claire menoleh menatap Sean datar.


"Sudah lama sering ikut tante Diana?"


"Jika ada waktu luang." jawab Claire singkat. Batinnya terus menggerutu. Di saat dia benar-benar menginginkan seorang pria justru pria itu memiliki catatan buruk dalam hidupnya. Apa lagi itu menyangkut salah satu anggota keluarganya.


"Kenalin, aku Sean." Sean mengulurkan tangannya, Sesaat Claire melirik mama Diana yang sejak tadi menatap keduanya. Wanita paruh baya itu mengangguk. Akhirnya Claire membalas uluran tangan Sean.


"Aku, Claire."


Tidak ada lagi pembicaraan yang mereka lakukan setelah itu. Claire kembali sibuk dengan ponselnya sementara Sean membantu ibunya berkomunikasi dengan beberapa donatur baru.


Semenjak sakit Chandra menyadari harta yang dimilikinya tidak menjamin kebahagiaan sama sekali. Dia kini justru sakit setelah keluarganya hancur, karir putranya juga ikut hancur. Chandra akhirnya berpisah dengan Antonio. Antonio memberikan kepemilikan 2 rumah sakit di Indonesia untuk dikelola oleh Sean. Kini Sean tidak lagi menjalankan praktek namun dia kini menjadi pemilik rumah sakit dan sekaligus pemegang saham terbesar di kedua rumah sakit miliknya tersebut.


Sampai acara selesai Claire berhasil mengacuhkan Sean. Meskipun sesekali Claire mencuri pandang pada Sean begitu juga sebaliknya. Tanpa berpamitan, Claire mengikuti mama Diana begitu acara dibubarkan. Gadis itu berjalan tanpa menoleh lagi. Sementara Sean menatap kepergian Claire dengan hati yang penasaran.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa Like komen dan Vote kalian guys

__ADS_1


__ADS_2