Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 113. Kehebohan Pagi Hari


__ADS_3

*********


Lusi terbangun dari tidurnya dan bergegas masuk ke kamar mandi. Dia terus menerus muntah, bahkan kepalanya terasa berdenyut sekarang ini.


"Gara-gara terbawa perasaan sekarang malah jadi seperti ini." Gerutu Lusi. Dia berjalan tertatih lalu duduk di tepi ranjang. Lusi mengusap perutnya yang terasa lapar, dia melirik jam yang ada di di dinding waktu menunjukkan pukul 2 pagi. Dia baru ingat jika sejak semalam dirinya sama sekali belum mengisi perutnya. Lusi lantas melirik ke atas pembaringan dia tak melihat sosok suaminya ada di sana.


Lusi mengambil mantel tidurnya yang berbahan sutra lalu mengikatkan erat talinya. Perlahan Lusi turun menuju dapur, dia menyalakan semua lampu karena Lusi takut gelap.


Lusi mulai mencari bahan-bahan yang bisa dia olah dengan cepat. Lusi juga mengambil apel untuk dia makan karena dia benar-benar kelaparan saat ini.


"Sabar ya, sayang, bunda akan buatkan makanan dulu. Maafin bunda ya," ujar Lusi seraya mengelus perutnya yang mulai membuncit.


Delano yang berada di ruang kerjanya sesekali memantau CCTV untuk memastikan keadaan Lusi. Seperti sekarang dia sedang tersenyum sendiri melihat semua yang Lusi lakukan di dapur termasuk saat Lusi berbicara sendiri seraya mengusap perutnya Delano mematikan laptopnya dan keluar dari ruang kerjanya lalu bergegas menghampiri istrinya.


"Sayang... " Delano memeluk Lusi dari belakang sampai membuat Lusi melonjak kaget.


"Mas, ihh. Bikin kaget saja." Lusi menepuk lengan Delano yang membelit perutnya.


"Kamu sedang apa sayang?"


"Membuat sesuatu. Aku lapar."


"Biar aku saja. Kamu duduk di sana." Delano mengambil pisau dari tangan Lusi. Dia sekilas menatap Lusi yang masih terlihat pucat. Delano meletakkan punggung tangannya di kening Lusi. Alisnya seketika bertaut.


"Kamu demam, sayang?"


Lusi ikut menempelkan tangannya di leher lalu dia mengangguk. "Hmm.. sepertinya begitu."


"Duduklah, aku akan buatkan makanan untukmu." Delano membawa Lusi di mini bar, dia mendudukkan Lusi di sana. Delano mengecup puncak kepala Lusi sebelum meninggalkannya. Delano dengan cekatan berkutat di dapur. Dia berencana membuatkan spaghetti carbonara untuk istrinya.


"Mas membuat apa?"


"Spaghetti carbonara, apa kamu suka?"

__ADS_1


"Hmm.. sepertinya kedengaran enak. Aku mau kejunya yang banyak. Apa bisa ditambah Mozzarella?" tanya Lusi antusias.


"Tentu saja, sayang."


Dengan cekatan Delano menyelesaikan dua porsi spaghetti. Tampilannya cukup membuat Lusi sering menelan salivanya.


"Wah, sepertinya itu sangat enak," kata Lusi. Wajah pucatnya bahkan berbinar sangking senangnya. Delano menyiapkan air putih hangat juga untuk Lusi. Dia meletakkan kedua piring itu di meja bar.


"Mau makan di sini? atau di ruang makan?" tanya Delano.


"Di sini saja. Aku sudah sangat lapar, mas." Lusi menarik piring bagiannya. Dia berdoa sejenak sebelum menyantapnya.


Lusi makan dengan sangat lahap. Delano sesekali memperhatikan perubahan raut wajah istrinya saat hasil masakannya masuk ke mulut Lusi.


"Enak?" tanya Delano.


"Banget, mas, ini makanan terenak yang pernah aku makan," ucap Lusi seraya menggulung spaghetti dan memasukkan suapan besar ke mulutnya. Delano terkekeh lalu ikut menyuapkan satu sendok penuh ke mulutnya. Meskipun rasanya sedikit asin karena banyaknya keju yang dia masukkan tapi dia puas dengan hasilnya. Karena istrinya makan dengan begitu lahap.


"Ahh.. kenyang sekali, mas. Terima kasih suamiku tercinta," Lusi mengecup pipi Delano sekilas. Delano tersenyum dengan tingkah manis sang istri. Menurutnya sejak hamil Lusi memang lebih ekspresif dari sebelumnya.


"Mas, nanti siang aku akan tetap menemui tuan Aditya. Sepertinya lebih baik aku memutuskan kerja sama itu. Meskipun ganti ruginya cukup banyak tapi aku akan menyelesaikan urusan dengannya. Agar kelak tidak perlu lagi berurusan dengannya."


"Kau tidak perlu memikirkan itu. Biar itu menjadi urusanku. Saat ini mas hanya minta kamu fokus dengan kehamilan kamu dan kesehatan kamu. Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu segera sampaikan padaku. Aku tidak mau kamu bertindak ceroboh seperti semalam." Delano mengusap kepala Lusi, dia benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Lusi dan kandungannya.


"Tapi, mas...?"


"Tidak ada penolakan, sayang, semua aku lakukan demi kamu."


Lusi pun akhirnya mengangguk patuh. Dia merebahkan tubuhnya bersandar pada dada bidang Delano. Degup jantung Delano yang selalu berdebar kencang saat bersama Lusi membuat Lusi meraba dada kiri Delano dengan lembut.


"Kenapa debar jantungmu kencang sekali mas?"


"Itu karena kamu, sayang. Tidak ada yang mampu mengguncang debaran di sini selain kamu. Delano menggenggam tangan Lusi yang ada di dada sebelah kirinya. Lusi tersipu malu saat Delano menunduk dan menatap matanya dalam.

__ADS_1


"Besok pagi aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Delano. Lusi mengernyit bingung.


"Kenapa?"


"Untuk memastikan kondisimu, sayang, mas tidak bisa tenang jika tidak memastikan sendiri jika kamu baik-baik saja. Ayo sekarang tidur." Delano dengan lembut menepuk-nepuk bahu Lusi. Karena kenyang Lusi pun dengan mudah kembali terlelap begitu juga Delano. Dia butuh tenaga besok untuk menghadapi Aditya, dan mengakhiri semua kegilaan pria tersebut.


Keesokan paginya Delano dan Lusi yang masih terlelap harus terbangun karena suara gedoran pintu dan rengekan kedua putranya.


"Oh, ya ampun. Ada apa dengan mereka mas? ini masih sangat pagi." gerutu Lusi yang merasa tidurnya terganggu. Delano menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul 7 pagi. Delano segera bangkit dari tidurnya dan membukakan pintu untuk kedua putranya.


"Ada apa dengan kalian ini?"


"Ayah, bunda dimana?"


"Ada apa memangnya kalian cari bunda?"


"Kami mau bunda rayain ulang tahun kita di sekolah." ujar Devan dan Davin.


Delano tampak berpikir wajahnya sejenak berubah murung. Benar sekali, sebentar lagi adalah hari kelahiran kedua putranya sekaligus hari kematian ibu mereka.


"Baiklah, nanti ayah akan sampaikan pada bunda. Sekarang kalian sarapan dulu sama mbaknya. Ayah mau mandi dulu, ok!" Kedua putra Delano pun akhirnya turun, tanpa memperhatikan perubahan raut wajah sang ayah. Keduanya tampaknya sangat berharap ulang tahun mereka segera dirayakan. Karena mereka ingin seperti teman mereka yang mendapat banyak hadiah.


"Cucu-cucu oma kok girang banget sih?"


"Oma tahu tidak? sebentar lagi kami ulang tahun." Diana tampak terkejut. Dia benar-benar melupakan hari dimana tragedi pahit menimpa keluarga putranya, Sejak kehadiran Lusi dan kembalinya Devan dan Davin, Diana benar-benar melupakan hari dimana menantunya meninggal dan cucu-cucunya menghilang.


"Benarkah? Wah oma harus siapkan kado kalo begitu," ujar Diana raut wajahnya seketika berbinar melihat kebahagiaan kedua putra Delano itu.


"Yey... benar ya, oma?" seru kedua bocah itu.


"Iya, oma akan siapkan hadiah spesial untuk kalian berdua."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Visual othor ganti ya, ini Lusi dan Delano.



__ADS_2