Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 44. Aku Teman Yang Buruk


__ADS_3

*******


Bangun tidur Karisa kembali merasa kesal. Dia melempar apapun hingga pecah berserakan. Niatnya kemarin ingin mendatangi rumah Delano untuk mendekati Diana. Tapi sayangnya dia justru mendapatkan kejutan yang tidak dia harapkan. Penjaga mansion Delano mengatakan jika kemarin Delano dan keluarga besarnya sedang merayakan pernikahan Delano. Karina pulang dengan hati yang sangat kecewa. Jangankan memiliki salah satu di antara Jeff atau Delano tapi kini dirinya justru harus kehilangan keduanya.


Karina terus meluapkan rasa kecewanya, rasa marahnya. Dia berteriak histeris. Karina menatap dirinya di pantulan cermin lalu sesaat dia tersenyum miring.


"Aku akan buat kau menjadi milikku Delano apapun caranya. Bahkan jika harus melenyapkan wanita itu dan anak-anaknya." gumam Karina, lalu dia terbahak-bahak karena memiliki begitu banyak ide di otaknya untuk menyingkirkan Lusi dan kedua anaknya.


.


.


.


Sementara itu Lusi masih dengan sabar menunggu Lisa berbicara.


"Bisakah kau meminta suamimu untuk keluar dulu?"


Lusi menatap Delano, meskipun rasanya Delano sangat penasaran dia juga tak ingin di anggap ikut campur masalah wanita.


Delano mengecup kepala Lusi sekilas. "Aku akan ke kafe seberang." Lusi pun dengan wajah memerah mengangguk. Bagaimana pria itu bisa menciumnya di depan sahabatnya?


"Sekarang katakan, dan ceritakan semua masalah yang sedang kau hadapi Lisa." ujar Lusi. Namun Lisa menggelengkan kepalanya.


"Intinya aku dan Sean sudah selesai, dan maaf Lusi jika aku mengambil keputusan tanpa meminta pendapatmu. Aku akan ikut menjadi tenaga bantu medis di kota terpencil di pelosok. Ibu sudah mengizinkan aku, toh saat ini aku juga tidak bisa melanjutkan kuliahku. Jadi sementara aku ingin menjauh dulu dari masalah hidupku dan menata ulang semuanya. Jika Sean terus melihatku aku takut dia gagal move on."


"Tapi kenapa harus pergi jauh Lisa?" Lusi menatap sendu ke arah Lisa.


"Karena hanya di sana jiwaku terasa terpanggil." Jawab Lisa. Lusi mendekat dan memeluk Lisa. Tangis keduanya pecah. Ini pilihan yang sulit untuk Lisa. Tapi dia tidak ingin masalah jodohnya menjadi penghalang dirinya menuju kesuksesan. Dia harus membunuh rasa cintanya yang sangat menyiksa dan kembali menjadi Lisa yang kuat.


"Jangan beri tahu siapa pun. Hanya kau dan ibu yang tau tentang masalah ini. Sampaikan terimakasih ku pada sepupumu." Ucap Lisa lirih.


"Kapan kau akan berangkat?"


"Secepatnya .... " jawab Lisa berbohong. Padahal tiket sudah dia dapatkan dan besok dia akan berangkat. Lisa hanya belum siap mengucap kata perpisahan pada Lusi sahabat yang sudah bertahun-tahun menemaninya. Sama-sama anak yatim yang berjuang menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. (Setidaknya itu dulu saat Lusi belum mengetahui jika Suryo masih hidup)


.


.

__ADS_1


.


Delano segera membayar pesanannya saat ia melihat Lisa keluar dari butik Lusi, sebelumnya dia juga memesan menu take away untuk Lusi.


Delano menyebrang jalan dengan langkah lebarnya. Sementara itu Lusi masih mengusap air matanya yang terus mengalir. Andai saja dia menyempatkan waktu untuk menjadi tempat berbagi Lisa mungkin semuanya tak akan seperti ini. Lusi merasa gagal menjadi sahabat yang baik untuk Lisa. Padahal gadis itu selalu ada untuknya.


Delano mengetuk pintu sejenak lalu membukanya. Ia menatap heran ke arah Lusi yang sesekali mengusap air matanya.


Delano meletakkan box take away nya di meja kerja Lusi. Delano mendekati Lusi dan mengangkat dagu gadis itu.


"Apa ada masalah serius?" tanya Delano cemas, Lusi menggeleng sembari sesekali menghapus air matanya yang kembali menetes. Tanpa banyak bertanya lagi Delano memeluk Lusi. gadis itu membelalak kaget. Namun sejurus kemudian Lusi melingkarkan tangannya di punggung Delano dan terisak semakin kencang.


"Aku teman yang buruk .... " lirih Lusi terisak.


"Sshh ... kau tidak boleh merasa seperti itu." Delano membelai puncak kepala Lusi.


Setelah merasa tenang, Lusi langsung melepas pelukannya. Ia pun merasa kaget kenapa reflek tubuhnya justru memeluk Delano.


"M... maaf." lirih Lusi seraya menunduk. Delano tersenyum ia mengangkat dagu Lusi, dan membelai pipi gadis itu.


"Tidak apa-apa bukankah ini awal yang bagus untuk kita? kamu sudah tidak gemetaran saja itu sudah bagus." Ujar Delano. Wajah Lusi memerah hingga menjalar ke telinga.


"Makanlah dulu, tadi kau hanya sarapan roti."


Lusi pun mengangguk dan mengambil paper bag yang tadi Delano bawa. Dia kembali duduk di dekat Delano dan membuka box take away nya. Matanya terpana melihat apa yang pria itu pesan kan untuknya. Lusi menatap Delano tak percaya.


"Kamu memesannya asal?"


"Tentu saja tidak? bukankah itu makanan kesukaanmu?" tanya Delano menatap Lusi, senyum Lusi mengembang, dia menatap lagi pada menu lunch box miliknya yang berisi nasi, tumis kangkung perkedel kentang dan Daging yang di masak semur.


"Aku bahkan tidak tahu apa makanan kesukaanmu .... " ujar Lusi terharu.


"Kau akan segera mengetahuinya. kita masih memiliki banyak waktu untuk saling mengenal dan penjajakan. Tapi untuk yang itu aku harap tak butuh waktu lama. Karena sudah 5 tahun lebih aku berpuasa." Kata Delano seraya melirik sesuatu di pangkal paha nya.


"Uhhuuk .... " Lusi seketika tersedak saat mengetahui apa yang di maksud Delano. Wajah lusi memerah dia terus menepuk dadanya. Delano terkejut, ia tak menyangka reaksi Lusi akan seperti itu. Delano segera membuka air mineral yang ada di meja dan memberikannya pada Lusi.


"Maafkan aku istriku sayang, aku terlalu berlebihan." Ujar Delano. Wajah Lusi masih memerah, antara merasakan sakit di tenggorokan dan malu mendengar ucapan Delano.


Delano terus mengusap-usap punggung Lusi. Padahal gadis itu sudah baik baik saja."

__ADS_1


"Hmm ... apa kau akan terus mengusap pundakku? tanya Lusi tanpa berani menoleh ke arah suaminya tersebut. Seketika Delano mengangkat tangannya dan menggeleng, senyum tipis menghiasi wajahnya yang tampan.


"Lanjutkan makanmu aku tidak akan mengganggu. Aku harus menelepon Regan dulu menanyakan pekerjaan."


.


.


.


Regan sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaannya. Ia menutup lembar berkasnya dengan kasar. Entah mengapa bayangan wajah Lisa yang menangis sangat mengganggunya.


Setelah dari hotel Regan langsung datang ke kantor. Dia hanya berganti baju memakai baju gantinya yang ada di mobil. Regan malas menginjakkan kakinya di mansion dia benar-benar menghindari bertemu dengan Suryo dan yang lain. Ia merasa jika bertemu mereka, pasti mereka akan menanyakan hal mengenai Lisa dan Regan tidak tahu nanti harus menjawab apa.


Ponsel pria itu berdering dengan malas dia merogoh ponsel yang ada di saku jasnya. Dan ternyata Delano yang menghubungi dirinya.


"Ya tuan .... "


"Dimana kamu?"


"Saya ada di kantor tuan."


"Apa ada berkas yang memerlukan tanda tanganku?"


"Tidak tuan semua draf kerjasama dengan klien sudah beres. Saya hanya tinggal mengurus di bagian perencanaan dan produksi saja."


"Baiklah jika begitu. Untuk sementara tolong kamu handle semuanya terlebih dahulu."


"Baik tuan .... "


Setelah mengakhiri pembicaraan dan menutup telepon nya, Regan menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Lelet ya? othor kurang gercep ya? maaf sekali ya idenya beneran ga berkembang. Cuaca lagi ga bersahabat ma kondisi fisik. Susah mikir.


Besok othor mau libur dulu. Mau bertapa, sembari nunggu mampir nyok di karya temen othor yang satu ini. Tinggalkan jejak kalian di sana.


__ADS_1


__ADS_2