Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 94. Cukup Cintai Aku


__ADS_3

********


Hans, ayah Regan tiba malam hari. Lidya menyambutnya dengan manja hingga membuat Regan jengah melihatnya.


"Mom, please! bisa tidak jangan seperti itu."


"Why? daddy kamu menyukainya. Ya kan honey?" Lidya mendongak meminta dukungan Hans. Tangannya bergelayut manja di lengan Hans. Hans mengangguk dan mencium bibir Lidya.


"Daddy terlalu memanjakan mama." protes Regan. Dia merasa malu sendiri karena mereka bermanja-manja di muka umum. Apalagi melihat usia mereka. Perbuatan mereka sangat tidak patut.


"So what? dia adalah my angel. Jadi tidak ada salahnya." jawab Hans enteng. Ketiganya akhirnya meninggalkan bandara. Regan dan Lidya sengaja menjemput Hans untuk menikmati waktu bersama.


"Dimana calon istrimu?" tanya Hans.


"Dia masih perlu istirahat dad."


"Kenapa tidak kau hancurkan saja pria pengganggu itu?" mata Hans menatap tajam ekspresi wajah Regan.


Regan hanya menghembuskan nafas panjang. "Entahlah, calon istriku tidak ingin masalah ini berbuntut panjang. Dia hanya ingin hidup tenang. Itulah sebabnya saat daddy menawariku untuk pindah ke Manchester, aku menyetujuinya."


"Bukan karena masih cinta kan?" Hans terlihat tersenyum tipis. Dia senang menggoda putra kesayangannya itu. Akhirnya kini putra semata wayangnya akan mengakhiri masa lajangnya.


"Semoga kelak kalian bahagia tanpa ada gangguan dari pihak mana pun."


"Aamiin." jawab Regan dan Lidya serentak.


"Sebaiknya langsung saja menikah. Jadi besok itu acara Lamaran dilangsungkan ijab resepsinya sesuai jadwal saja."


"Mana bisa begitu dad?"


"Bisa saja. Nanti daddy yang akan ngomong dengan keluarga mereka. Daddy hanya tidak mau hal serupa terjadi menimpa menantu daddy."


"Baiklah, terserah daddy saja."


Mobil yang dikemudikan Regan tiba di kediaman Syailendra. Hans menatap sekelilingnya dan tidak ada yang berubah selain orang-orang kakak iparnya yang semakin bertambah banyak. Padahal Suryo bukanlah seorang mafia. Tapi dia memiliki begitu banyak pengawal di mansionnya.


"Kakakmu masih belum berubah." desis Hans.


"Tentu saja." Jawab Lidya enteng lalu keluar dari mobil dan kembali menggandeng suaminya, keduanya masuk diikuti oleh Regan. Pria itu menarik koper milik papanya. Keluarga Suryo sudah berdiri menyambut mereka. Suryo berpelukan dengan Hans. Lidya terpaksa minggir memberi ruang sedangkan Regan berjalan terus meletakkan koper ke dalam kamar mamanya.

__ADS_1


Setelah selesai dengan urusan koper, Regan masuk kedalam kamarnya mencari keberadaan pujaan hatinya


"Lisa, ibu ayo kita keluar. Papa sudah di depan." Kata Regan. Lisa dan ibunya keluar mengikuti Regan. Tangan Regan dan Lisa bergandengan erat hal itu sukses menarik perhatian Hans yang saat itu sedang berbincang dengan Delano dan Suryo.


"Inikah calon menantu daddy?" tanya Hans seraya menatap Lisa. Namun gadis itu memilih menunduk tak berani menatap calon ayah mertuanya.


"Lisa, angkat kepalamu nak dan perkenalkan dirimu." ujar bu Yuyun lembut. Dia sejenak mengangguk memberi hormat pada Hans.


Lisa akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap malu ayah mertuanya. Hans merasa gemas sendiri lantas mengusap puncak kepala Lisa.


"Lisa, om" Lisa mengulurkan tangannya


"Jangan panggil om dong. Kan sebentar lagi kamu jadi menantu papa. Panggil daddy atau papa juga boleh."


"Terima kasih pa," lirih Lisa senang. Akhirnya dia kembali dapat merasakan sentuhan seorang ayah.


"Oh iya mbak Yuyun. Ada yang mau dibicarakan sama suami saya mengenai agenda besok."


"Sebaiknya kita bicara di ruang tamu saja." Kata Suryo. Semua mengikuti Suryo menuju ruang tamu. Setelah semuanya duduk. Hans segera mengutarakan maksud dan keinginannya. Bu Yuyun hanya memasrahkan semua keputusan pada putrinya.


"Saya terserah Lisa nya saja mas. Karena ini kan yang akan menjalani mereka."


"Ya aku bersedia papa." jawab Lisa. Hans dapat melihat jika pancaran mata Lisa belumlah mengisyaratkan cinta. Tapi sebagai orang tua, Hans hanya bisa mendukung setiap pilihan putranya.


Setelah membicarakan perubahan jadwal itu semua langsung kembali ke kamar masing-masing. Lisa ikut ibunya ada yang ingin dia bicarakan pada ibunya mengenai sesuatu.


"Ibu .... " Lisa memeluk ibunya dari belakang begitu masuk ke kamar.


"Ada apa?" tanya ibu Yuyun lembut seraya mengusap punggung tangan putrinya yang melingkar di perut.


"Bu, apa ibu marah?"


"Marah tentang apa?"


"Karena aku dan semua kejadian ini?"


Bu Yuyun menarik nafas panjang. Lalu berbalik badan dan tersenyum lembut pada Lisa.


Dia menarik lembut tangan putrinya dan mengajaknya duduk di ranjang. Bu Yuyun membelai wajah putrinya dengan senyum yang tidak pernah surut dari bibirnya.

__ADS_1


"Sekarang ibu yang tanya padamu. Apa Lisa merasa semua ini sudah benar? kamu tidak hanya sedang menuruti nafsu sesaat untuk memilih jalan pintas ini 'kan nak?"


Lisa menggeleng, dia menggigit bibir bawahnya yang mulai bergetar karena akan menangis.


"Lisa tidak tahu bu, yang Lisa tahu saat ini aku memilih untuk dicintai. Mencintai terlalu menyakitkan untuk wanita miskin seperti Lisa bu."


"Lisa, jika ini hanya mengenai harga diri sebaiknya kamu mundur dari sekarang. Agar tidak lebih banyak menyakiti hati orang lain."


"Bukan bu, bukan tentang itu. Aku hanya merasa terlalu lelah mencintai. Di saat bersamaan Regan datang menawarkan cinta tanpa syarat untuk Lisa. Kenapa Lisa harus menolaknya. Soal hati, Lisa sangat yakin jika kelak Lisa bisa mencintai Regan dengan segenap hati dan jiwa Lisa."


"Baguslah jika begitu. Ibu akan tenang. Apa kau tau sayang? kakakmu dan istrinya juga Bumi mungkin sekarang sudah tiba di Singapura. Keluarga Regan membiayai pengobatan kakakmu agar cepat pulih. Ibu sangat bersyukur kamu dipertemuan dengan orang-orang baik yang begitu menyayangimu."


Lisa tak lagi sanggup berkata-kata. Bahkan tanpa diminta Regan meringankan beban keluarganya.


"I-ibu, Lisa mau ketemu Regan dulu." Lisa segera pergi dari kamar ibunya mencari Regan.


Lisa mencari Regan di kamar namun tidak ada. Dia keluar dan melihat Regan berdiri di bersandar di sebuah pagar teralis. Lisa langsung memeluk Regan dan menangis di pelukan pria itu. Regan yang terkejut langsung melingkarkan tangannya membalas pelukan Lisa.


"Ada apa hmm?"


"Kenapa kamu lakukan semua ini tanpa mengatakan apa-apa padaku?"


"Mengatakan apa?"


"Mengenai kak Tio. Ibu tadi sudah mengatakan semuanya padaku."


Regan hanya tersenyum, sedangkan Hans masih asik duduk di kursi menatap interaksi putranya dan gadis pilihannya itu. Dia tahu betul Regan sangat mencintai Lisa.


"Aku hanya tidak mau kamu nanti kepikiran mereka saat kita ada di Manchester. Semua harus selesai dulu biar nanti kita bisa menikmati masa-masa di sana dengan menyenangkan."


"Tapi ini terlalu berlebihan. Aku bahkan tidak punya apa-apa untuk membalasmu."


"Cukup cintai aku dengan seluruh hatimu."


"Hmm .... " Hans yang tidak tahan dengan ucapan putranya akhirnya menunjukkan eksistensi nya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


like, komen, giftnya ojo lali guys

__ADS_1


__ADS_2