
*******
Regan sudah mengajukan cuti selama seminggu. Rekor baru yang tercatat untuk pertama kalinya karena selama bertahun-tahun menjadi asisten Delano, Regan tak pernah sekalipun absen dari pekerjaannya.
Delano merasa asing dengan Regan saat ini. Karena sekarang asistennya itu lebih tertutup dan tampak tidak bersemangat dan selalu murung.
"Ada sesuatu hal yang harus saya urus tuan." Ucap Regan sebagai alasan untuk meminta cutinya. Padahal dia sendiri ingin memastikan keberadaan Lisa. Karena menurut orang-orangnya Lisa pergi ke sebuah kampung pedalaman di pulau NTT dan dirinya ingin memastikan sendiri dengan mata kepalanya.
Regan bertekad untuk menemukan Lisa. Sudah hampir satu bulan lamanya dia mencari keberadaan gadis itu. Ia ingin menuntaskan rasa penasarannya. menuntaskan rasa yang asing yang tiba-tiba mengetuk jiwa jomblonya yang telah lama bersemayam di dirinya.
Regan sudah memesan satu tiket pesawat tanpa memberitahu pada siapapun tentang kepergiannya.
Regan tiba di tempat dimana seharusnya Lisa berada. Wanita yang tanpa sadar menyiksa lahir dan batinnya. Karena sejak terakhir bertemu Lisa, Regan jadi sering kurang tidur dan tidak tenang.
Regan menatap ponselnya yang tiba-tiba tak ada sinyal sama sekali. Dia pun membuang nafas kasar. Semoga dia segera bisa menemui Lisa dan mengobati rasa rindunya.
"Ck ... rindu? sepertinya aku benar-benar sudah gila." Desis Regan.
"Permisi, tolong minggir, berat nih." Gerutu seorang gadis di balik tumpukan kardus yang dia bawa.
Deg!!
Suara ini? ya Regan sangat mengenali suara ini.
"Mas, om, siapa aja tolong minggir!" Seru Lisa. Namun bukannya beranjak Regan justru menyambar kardus Lisa hingga membuat gadis cantik itu tersentak kaget.
"Eh ... apa-apa nih. Siapa sih iseng banget." Lisa menahan kardus itu.
"Jika kamu tidak diam dan terus banyak bicara aku akan menciummu di sini." Ancam Regan. Seketika Lisa bungkam mendengar suara pria yang terakhir kali membuatnya kesal setengah mati.
Akhirnya Lisa mengalah dan membiarkan Regan membawa kardus yang berisi beberapa stok obat-obatan dan peralatan medis lainnya.
Setelah tiba di depan pintu puskesmas Regan meletakkan kardus itu. Lisa diam saja, ada perlu apa pria ini datang kemari? Pria yang sangat ingin ia hindari.
"Kenapa diam?" tanya Regan.
"Bukannya tadi anda meminta saya diam?" ketus Lisa.
Regan menatap wajah kesal Lisa dengan intens. Rasanya dia ingin menyerap semua memori hanya untuk mengingat raut wajah gadis di hadapannya itu. Senyum sangat tipis terukir di bibir Regan. Sepertinya dia sudah benar-benar gila menginginkan gadis kasar seperti Lisa.
__ADS_1
.
.
.
Delano yang di tinggalkan oleh Regan pun kini harus menerima konsekuensi dari memberikan ijin pada asistennya. Alhasil dia harus benar-benar menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Saat pintu ruangannya di ketuk dari luar, suara seorang wanita menginterupsinya.
"Tuan, ada nona Karisa mencari anda. Apakah anda bersedia menemuinya?" tanya seorang sekertaris Delano. Delano diam tampak berpikir sejenak.
"Aku sibuk. Lain kali saja, tolong katakan padanya." Ujar Delano.
"Baik tuan .... "
Setelah sekertaris menjawab perintah Delano dia segera menyampaikan pesannya pada resepsionis untuk menolak Karisa.
Namun bukannya pergi Karisa justru membujuk resepsionis itu untuk mengatakan alasannya datang menyangkut mantan istri Delano.
Resepsionis itu pun kembali menghubungi Siska sekertaris Delano, dan dengan terpaksa Delano akhirnya menerima kedatangan Karisa.
Senyum Karisa mengembang. Akhirnya dia punya kesempatan untuk menemui Delano. Banyak pasang mata menatapnya dengan tatapan aneh namun Karisa tidak pernah mempedulikan hal itu. Hatinya benar-benar sudah mati rasa. Bahkan bersimpati atas kematian saudari kandungnya sendiri pun tidak. Karisa justru memanfaatkan kematian saudarinya untuk meminta pihak Delano melepas uang asuransi Karina dengan alasan dia akan membaginya dengan anak-anak Yatim piatu.
Delano tak pernah mempermasalahkan perihal uang yang tak seberapa menurutnya. Namun sejak mengetahui semua kebusukan dan kejahatan Karisa Delano merasa tak perlu lagi bertemu wanita itu. Tapi kini dirinya terus menerus di usik olek Karisa.
"Apa lagi yang sebenarnya wanita itu inginkan. Tidak bisakah dia membiarkanku hidup tenang?"
Rasanya aku benar-benar lelah menghadapinya. Jika saja bukan karena permintaan Karina, aku sudah pasti akan menjebloskan dia ke penjara. Andai saja kau tau Karina jika saudarimu itu yang telah membuatmu kehilangan kebahagiaanmu selama ini.
Author Pov
Karisa masuk ke ruangan Delano dengan penampilan yang begitu seksi dan menunjukkan semua bagian yang tampak menonjol dengan sempurna. Namun itu semua tak ada pengaruhnya bagi Delano. Meskipun wajah Karisa mirip dengan mantan istrinya namun mereka bagai bumi dan langit. Dan lagi kini dirinya sudah memiliki bidadari yang lebih dari segalanya jadi jika untuk sekedar tergoda rasanya Delano tidak akan bisa.
"Katakan apa maumu, setelah itu pergilah dari sini." Ujar Delano datar. Karisa berpura-pura memasang wajah sendu.
"Aku tahu kau membenciku karena aku adalah kekasih Jeff. Aku tahu jika.... "
"Cukup... kau salah menafsirkan sikapku rupanya Karisa. Kau tidak mengenalku cukup baik. Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?"
"La...lalu kenapa kau sangat tidak ingin melihatku? apa karena rupaku sama seperti adikku? tapi itu juga bukan inginku. Ini takdir Delano. Ku mohon ... beri aku kesempatan." Ucap Karisa, aktingnya kali ini perlu diacungi jempol. Tapi sayang gelagat Karisa masih bisa terendus oleh Delano.
__ADS_1
Delano berdiri, ia berjalan mendekat ke arah Karisa. Wajahnya masih tetap datar. Namun hal itulah yang justru membuat Karisa semakin tertantang untuk menaklukkan Delano.
"Tidak ku sangka wanita licik sepertimu bisa begitu naif. Kau bertanya kenapa? apa kau pernah sekali saja bercermin dan menilik kedalam dirimu? Atau kau masih perlu penjelasanku?" desis Delano. Karisa menatap ngeri melihat tatapan mata Delano yang seakan-akan bisa meremukkan tubuhnya saat itu juga.
"A... apa maksudmu Lano, aku sungguh tidak tahu."
Delano semakin mendekat dan mengikis jarak dengan Karisa. Delano mencengkeram dagu Karisa dan tersenyum miring.
"Jangan main-main denganku Karisa. Aku tahu apa yang kau perbuat selama ini. Bahkan jika aku mau, saat ini juga aku bisa menghancurkanmu hingga ke dasar. Pergi dari sini....!!"
"Tidak...! sebelum aku mengatakan padamu siapa yang menculik kedua putramu dan melenyapkan nya"
"Apa urusannya denganmu sekarang?" tanya Delano namun dengan alis berkerut.
"Bagaimanapun anak-anakmu itu keponakanku. Jeffrey yang melenyapkan mereka."
Delano terkekeh mendengar penuturan Karisa. "Kau tahu selama ini tapi kau diam? Apa tujuanmu sekarang mengatakannya padaku? Apa kau ingin kembali mengadu domba diriku dan Jeff?" Sarkas Delano.
Karisa mendadak kelu, dia tak menyangka respon Delano akan seperti ini.
"Pergi sekarang juga ....!" hardik Delano.
Karisa langsung pergi meninggalkan ruangan Delano. Pikirannya sangat kacau. Setelah dirinya di tinggalkan Jeff dan di permalukan di kantor Aditya Karisa sudah tidak dapat lagi berpikir jernih.
"Sekarang kau bisa mengusirku. Tapi lain kali lihatlah aku akan balas semua perlakuanmu padaku Delano. Aku juga bersumpah akan menghancurkan hidupmu dan Jeff." Ujar Karisa, ia kembali berjalan dengan angkuh meninggalkan kantor Zenon milik Delano.
.
.
.
Delano mendengus kesal, begitu Karisa keluar Delano menghubungi orangnya untuk mengikuti mengawasi Karisa. Ia merasa jika wanita itu tidak akan menyerah begitu saja untuk mengusik hidupnya.
"Ikuti Karisa, dan awasi dia. Kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?"
"Mengerti tuan .... "
Delano segera mengakhiri panggilannya. Rasanya kini ia menyesal memberikan cuti pada Regan.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Nungguin yah? maaf ya othor juga sudah mengupayakan hanya saja RL menyita banyak energi. ketika ada waktu otak udah benar-benar lelah.