
*********
Acara yang hanya di hadiri oleh keluarga itu berakhir dengan tawa canda dan kebahagiaan tentunya.
Laila berulangkali mengusap air matanya yang terus menetes. Dia ibu sekaligus teman berbagi bagi Mitha. Dia tahu betapa menyedihkannya perjalanan hidup Mitha selama ini. Dijauhi putrinya sendiri, disakiti suaminya. Namun Mitha tetap berdiri dengan tangguh layaknya karang di lautan.
"Selamat nak, akhirnya penantian panjangmu menemukan titik akhir. Ibu berharap meskipun kelak ibu tidak mendampingi kamu lagi, kamu tetap bahagia dan rukun hingga maut memisahkan."
"Ibu, jangan bicara seperti itu. Apa ibu tidak ingin melihat cicit ibu lahir dan tumbuh."
"Tentu ibu sangat ingin. Tapi umur siapa yang akan tahu. Siap atau tidak kita tetap harus pasrah pada takdir" ujar Laila seraya tersenyum lembut dan membelai wajah putrinya.
"Ibu .... " Mitha menangis sesenggukan di pangkuan Laila. Entah mengapa mendengar ucapan ibunya seakan-akan ibunya sedang mengucapkan kata perpisahan padanya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Ini hari bahagiamu." Laila mengusap air mata Mitha, Suryo yang ada di samping Mitha pun sebenarnya mendengar apa yang ibu mertuanya katakan.
"Ibu akan selalu panjang umur" ujar Suryo namun hanya dibalas senyuman oleh Laila
Lusi dan Delano duduk di depan. Delano sedang menemani Lusi menikmati puding coklat dengan fla yang terlihat sangat manis.
"Jangan terlalu banyak sayang."
"Kenapa memangnya?" tanya Lusi seraya menjilati sendok yang dia pegang. Jakun Delano naik turun melihat pemandangan itu. Jamurnya terasa berdenyut saat lidah Lusi menyusuri sisi sendok itu.
"Sayang, kita ke kamar saja ya?"
"Ish ... tidak mau." Lusi mendelik kesal. Delano langsung gelagapan mengusap tengkuknya.
"Maksudku, kamu kan harus banyak istirahat. Lagipula nanti aku ada janji dengan Flo dan Jeff jadi aku tidak mungkin meminta itu."
"Flo?"
"Iya, temanku yang waktu itu ketemu kita di cafe mall." Mata Lusi langsung membelalak.
"Kalau begitu aku ikut" ujar Lusi. Delano terkejut dengan permintaan Lusi.
"Apa kamu yakin?" tanya Delano tak percaya.
"Kenapa tidak? atau jangan-jangan kamu memang tidak mau diganggu?" todong Lusi.
"Bu-bukan begitu. Aku hanya tidak mau kamu nanti sakit hati karena ini akan membahas tentang masa lalu. Lebih tepatnya tentang mantan istriku."
__ADS_1
"Pokoknya aku ikut."
"Baiklah nyonya ..." Delano akhirnya mengalah.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam, Delano dan Lusi tiba di sebuah klub malam. Awalnya Lusi sempat kesal karena mereka memilih tempat pertemuan yang menurut Lusi tidak pantas untuk di kunjungi.
"Pantas saja dari tadi tidak mengijinkan ku ikut. Ternyata ada udang dibalik pintu."
"Dibalik batu sayang." Delano mengoreksi ucapan Lusi.
"Terserah aku lah. Mulut, mulut siapa?"
"Baiklah sayang, aku yang salah. Itu temanku sudah ada di sana. Delano menunjuk sebuah ruangan, Lusi dan Delano akhirnya masuk. Marco dan Harlan yang sejak tadi mengikuti langsung berdiri di depan pintu untuk berjaga.
"Apa kabar Lano?" Flo mendekat hendak memeluk Delano namun Lusi dengan sigap menghadang di depan tubuh Delano lalu menjabat tangan Flo.
"Maaf nona, dia pria beristri. Jadi tolong hargai perasaan istrinya" Ucap Lusi dengan menekan kata istrinya. Delano hanya mengulum senyum namun tak lama setelah itu Lusi meliriknya tajam.
Flo tersenyum kaku mendapat sambutan tak terduga dari istri Delano itu. Jeff pun turut maju dan bersalaman dengan Delano dan Lusi. Namun saat matanya bersitatap dengan Lusi sejenak Jeff tertegun. Lusi memiliki wajah yang cantik dengan bentuk wajah oriental senyumnya begitu menghanyutkan.
"Ehm, istri gue itu!" Seru Delano. Lusi seketika melepas genggaman tangan Jeff.
Lusi duduk merapat pada Delano. Bahkan tubuhnya tampak terbenam di sisi Delano.
Jeff tampak gugup namun Flo berulang kali meyakinkan pria itu.
"Ehm ... Lano, ada yang ingin aku katakan padamu? ini mengenai Karina dan Karisa."
"Ada apa dengan mereka?"
"Maaf jika aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan."
"Aku tidak peduli dengan permintaan maafmu yang itu. Aku lebih ingin mendengar permintaan maafmu yang lain, mengenai kematian Karina dan kau yang telah membuang putra-putraku." Jeff seketika mengangkat kepalanya.
"Ka... kau tau?"
"Tentu saja. Apa kau pikir aku ini bodoh?" sarkas Delano.
"Jadi, pria ini yang sudah membuang Devan dan Davin?" mata Lusi terbelalak, air matanya mengalir deras.
"Apa kau tau tuan? jika saja saat itu aku tidak melewati tempat itu? apa kau pernah berfikir tentang nasib mereka berdua?" Mendadak Lusi menjadi emosi.
__ADS_1
Delano memeluk Lusi dan menenangkan nya.
"Shh ... tenanglah. Kamu sudah berjanji padaku untuk tidak terbawa emosi."
"Maaf, aku benar-benar minta maaf Lano. Tapi itu semua aku lakukan karena Karisa berkata jika sebenarnya mereka berdua adalah anak dari laki-laki lain. Bukan milikku ataupun milikmu."
"Kenapa kau jadi begitu bodoh Jeff?"
"Apa kau pikir aku akan diam saja saat itu bukanlah darah dagingku?" Bahkan foto yang di perlihatkan Karisa padaku semua adalah editan. Dan jika ada yang asli itu bukanlah foto Karina melainkan Karisa."
Jeff terbengong. Ternyata selama ini Delano tahu semuanya. Tapi kenapa dia hanya diam saja?
"Tapi kenapa kamu diam saja Lano?"
"Karena kamu sahabatku. Dan tentang kematian Karina, dokter ahli forensik mengatakan jika Karina sudah mati sebelum kecelakaan. Dia mati karena serangan jantung. Bukan karena terluka saat kecelakaan."
"Lano, aku .... "
"Jika kamu ingin minta maaf, maka orang yang lebih layak menerima permintaan maaf itu adalah istriku. Karena dia harus menghabiskan masa mudanya untuk merawat dan membesarkan anak-anak yang telah kamu buang itu."
"Maaf nona. Aku benar-benar menyesal. Selama ini aku hidup dalam penyesalan. Aku minta maaf." Jeff bersujud di depan Lusi.
"Tuan, aku bukan Tuhan. Jadi jangan bersujud di depanku" tegur Lusi. Jeff mendongak matanya merah karena pria itu pun menangis menyesali semua perbuatannya. Bahkan Delano sampai saat ini masih begitu baik memaafkannya.
"Kenapa kamu tidak membenciku saja Lano?"
"Untuk apa? menyimpan dendam hanya akan merusak tubuh dan hati."
"Lalu apa kamu juga memaafkan Karisa?"
"Entahlah, perbuatannya memang tidak bisa dimaafkan. Sebenarnya ini masalah antara Karina dan Karisa. Tapi mereka berdua akhirnya menyeret kita. Namun jika sekali lagi dia membuat ulah aku pastikan akan menjebloskannya ke penjara."
Setelah saling berbicara dan terbuka. akhirnya kedua sahabat itu kembali bersekutu. Mereka menikmati makan malam bersama.
"Apa kamu ingin menu lain, sayang?"
"Tidak perlu, aku hanya masih kenyang."
"Besok aku janji akan temani kamu ke dokter." Lusi mengangguk lalu kembali menyantap makanannya dengan perlahan karena dia benar-benar tidak berselera sama sekali.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Like komen dan Gift tetap othor tungguin ya 🥰🥰🥰