Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 42. Beri sedikit waktu


__ADS_3

********


Setelah mendapat informasi dari anak buahnya, Suryo memastikan lagi video rekaman terakhir Lisa ada di kediamannya.


Suryo tampak menggelengkan kepalanya melihat Video rekaman itu.


"Bagaimana aku akan mengatakannya pada Lusi?" gumam Suryo. Dalam rekaman itu, Sean masih mencoba mengejar Lisa, namun Raffi berhasil menghalangi dan perkelahian pun terjadi. di taman itu suasana sepi karena sebagian besar tamu undangan dan keluarga terfokus di halaman. Raffi dan Sean saling pukul, tapi nahas Lisa pun terkena pukulan tangan Sean. Seketika tubuh Lisa limbung tapi Regan datang dan langsung mengangkat tubuh Lisa begitu saja.


Suryo meraih ponselnya dan menghubungi Regan. Namun hingga deringan ketiga kalinya Regan tidak menjawabnya. Suryo menarik nafas dalam dan menghela nya dengan kasar. Dia pun kembali ke dalam rumah.


.


.


.


Lusi sudah siap namun dia masih menunggu ayahnya. Saat Suryo masuk Lusi langsung menghampiri ayahnya dan menanyakan keberadaan Lisa.


"Bagaimana ayah? apa ayah tau dimana Lisa?"


"Onty kenapa bunda?" tanya Devan yang melihat raut kecemasan di wajah Lusi. Namun Delano mengisyaratkan agar kedua buah hatinya untuk diam.


"Lisa, kemarin di antar oleh sepupumu."


"Lalu dimana Regan sekarang?" tanya Lusi tak sabar. Karena dia tau saat ini Lisa sedang tidak baik-baik saja.


"Sayang, Si kembar bisa telat masuk sekolah. Nanti di kantor aku akan tanyakan pada Regan dimana Lisa." Sahut Delano saat melihat wajah Suryo tampak kebingungan menanggapi Lusi.


Lusi tampak kecewa, "Baiklah ayah, aku antar anak-anak dulu. Setelah itu sepertinya aku akan ke butik untuk mengecek pekerjaanku. Karena sebentar lagi akan ada event besar. Setelah mencium punggung tangan Suryo, Lusi pun meminta Devan dan Davin melakukan hal sama pada Suryo. Lusi membawa kedua anaknya masuk ke dalam mobil. Beruntung hujan sudah reda, dan hanya menyisakan rintik kecil. Sementara Delano mendekati mertuanya.


" Ada apa yah?"


"Lisa dibawa Regan pergi entah kemana? Kemarin Lisa terkena pukulan, dan sepupumu Raffi juga ikut terlibat dalam perkelahian itu. Aku sudah menghubungi Regan tetapi tidak di jawab." Ujar Suryo lirih setengah berbisik takut jika Lusi mendengarnya.


"Ayah tenang saja aku akan urus semuanya."


Delano segera menyusul ke dalam mobil untuk mengantar si kembar dan juga Lusi. Di dalam mobil hanya suara si kembar yang tampak begitu bersemangat dan antusias.


"Bunda sama ayah nanti antar kita sampai di kelas kan?" tanya Davin dengan senyuman yang tak sedikitpun pudar dari bibirnya yang mungil.


"Iya sayang .... " Jawab Lusi, ia sedikit melirik ke arah Delano, pria itu membalasnya dengan senyuman hangat. Delano sedang berpikir apa yang harus dia katakan pada Lusi mengenai Lisa. Namun belum juga terpikir caranya mereka sudah tiba di depan gerbang sekolah berbasis Islam.

__ADS_1


Delano bergegas turun mengambil payung di kursi belakang. Ia merentangkan payungnya dan membukakan pintu untuk Lusi. Lusi tersenyum tipis mendapat perlakuan manis dari Delano.


"Terimakasih .... " Lirih Lusi.


Delano juga membukakan pintu untuk putra-putranya. Lusi berjalan menggandeng Davin. Sedangkan Devan di gendong oleh Delano dengan satu tangan, dan tangan yang lain menahan payung untuk mereka berempat.


"Kakak, nanti pulang gantian ya. Aku yang sama ayah, kakak sama bunda." Ucap Davin, Devan pun mengangguk.


Lusi mengetuk pintu sekolahan baru kedua putranya. Sekolah yang kualitasnya jauh di atas dibanding sekolah lama mereka.


"Assalamu'alaikum, maaf Bu saya sedikit terlambat mengantar mereka." ucap Lusi.


"Oh tidak apa-apa nyonya." jawab guru pengajar di kelas si kembar. Devan dan Davin menyalimi tangan kedua orang tuanya. Lusi dan Delano langsung berpamitan setelah Devan dan Davin masuk. Delano menutup payungnya karena hujan benar-benar sudah reda.


Saat tiba di samping mobil, "Hmm ... aku akan naik taksi saja ke butiknya." Ucap Lusi seraya menunduk. Delano memegangi pundak Lusi, satu tangannya mengangkat dagu gadis itu agar menatapnya.


"Kenapa? bukankah kemarin kamu bilang mau berusaha menerima pernikahan ini." tanya Delano.


Lusi hendak kembali menunduk namun Delano menahan dagu Lusi. "Jawab aku Lusi!!"


"A...aku hanya belum terbiasa."


"Apa ini alasan baru bagimu untuk menghindariku?" wajah Delano tampak kecewa. Lusi dapat melihat itu dari kilat mata Delano. Perlahan tangan Delano melonggar dan pegangan tangan di dagu Lusi terlepas.


"Beri aku sedikit waktu lagi. Aku berjanji akan merubah diriku."


Delano kembali menghadap ke arah Lusi, dia pun tak tega melihat mata istrinya berkaca-kaca.


"Apa pernikahan ini begitu sulit bagimu Lusi?" Lusi pun menggeleng. Karena nyatanya setengah hatinya telah menerima pernikahan ini. Namun setengah lagi hatinya masih ragu untuk melangkah lebih jauh. Lusi benar-benar dilema.


Dengan ragu Lusi menatap Delano, wajah pria itu di hiasi senyuman lembut yang mampu menghangatkan hati Lusi.


"Bantu aku, aku ingin merasakan kehidupan normal seperti yang lainnya." Ujar Lusi dengan suara bergetar. Delano langsung menarik tangan Lusi dan membawa tubuh gadis itu dalam dekapannya.


"Aku sudah berjanji padamu bukan? aku akan selalu membantumu, aku juga akan mengajarimu semua hal yang belum pernah kamu lakukan. Aku akan memberikanmu pengalaman yang berkesan yang tak terlupakan olehmu." Desis Delano seraya mengusap kepala Lusi.


"I...ini masih lingkup sekolah."


Delano langsung mengurai pelukannya dan membukakan pintu mobil untuk Lusi. Setelah Lusi masuk Delano memutar langkahnya menuju kursi kemudi.


Setelah mobil kembali berjalan Lusi hanya diam seraya memainkan jemari tangannya dengan Gelisah.

__ADS_1


"Apa kau masih kepikiran mengenai Lisa?" tanya Delano, Lusi mengangguk. Tidak biasanya Lisa sampai tidak ada kabar seperti ini.


Delano menepikan mobilnya, Lusi menatap Delano dengan heran. Mereka belum sampai butik kenapa justru berhenti.


"Lusi ada yang ingin aku katakan, ini mengenai Lisa."


"Lisa kenapa?" Sela Lusi.


"Ayah tadi melihat rekaman CCTV, kemarin kata ayah Raffi dan seorang pria yang mungkin lebih tua dari kalian terlibat cekcok dan aku rasa itu pacar Lisa yang salah paham. Namun saat berkelahi Lisa sempat terkena pukulan dan Regan yang menolong. Namun sampai sekarang baik ayah maupun orangku belum bisa menemukan Lisa." Tutur Delano, ia menatap wajah Lusi yang tampak sangat mencemaskan sahabatnya itu.


"Apa yang akan aku katakan pada bu Yuyun jika beliau menanyakan keberadaan Lisa?"


"Aku sedang berusaha melacak keberadaan mobil Regan sekarang. Jadi ku harap kau tenang dulu."


"Bagaimana aku bisa tenang? rumah kita berada di belakang butik. Bagaimana jika bu Yuyun melihatku dan menanyakan keberadaan Lisa? aku harus menjawab apa?" tanya Lusi gusar. Delano hanya menghela nafas berat dirinya pun sudah menghubungi anak buahnya untuk melacak Regan, hanya saja sampai sekarang belum ada kabar sama sekali.


.


.


.


Sementara itu 2 orang yang menjadi bahan pembicaraan Delano dan Lusi saat ini masih pulas tertidur. Keduanya belum menyadari apa yang sudah terjadi. Pakaian mereka berserakan di lantai. Kaki Lisa berada di dekat wajah Regan sementara Lisa memeluk kaki Regan. Posisi yang sebenarnya sangat aneh.


Regan perlahan membuka mata, dan seketika matanya membulat karena telapak kaki Lisa berada tepat di depan wajahnya. Regan menjauhkan wajahnya, dan perlahan ia menarik kakinya yang sedang di peluk Lisa.


Regan menelan salivanya saat ia melihat tubuh Lisa yang hanya berbalut kemben dan CD berenda berwarna hitam. Seketika ia menutup tubuh Lisa menggunakan selimut. Regan mengusap wajahnya kasar. Kenapa dia bisa begitu ceroboh membawa gadis itu ke hotel. Bagaimana jika pamannya mengetahui tentang hal ini. Meskipun tidak terjadi apapun, tapi siapa yang akan percaya pada mereka nanti?


Regan memunguti pakaiannya, dan segera mengenakannya kembali. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi menggunakan fasilitas yang sudah disediakan oleh hotel.


"Kamu menggali lubang kuburmu sendiri Regan, jika sampai paman tahu habislah dirimu."


Disaat Regan sedang mumet memikirkan nasibnya di kamar mandi. Lisa terbangun dari tidurnya. Saat kesadarannya sudah kembali sepenuhnya Lisa justru terbelalak melihat tubuhnya hanya berbalut CD dan kemben.


"Ya Allah apa yang sudah ku lakukan? Kamu gila Lisa, benar-benar kau sudah gila." Lisa mengedarkan pandangannya. Saat ia tak menjumpai Regan dan melihat pintu kamar mandi tertutup Lusi segera memakai pakaiannya yang kemarin ia gunakan saat acara pernikahan Lusi. Dengan tergesa-gesa Lisa meraih gagang pintu dan segera keluar. Regan yang mendengar pintu di banting dengan keras langsung berlari keluar dari kamar mandi.


"Ah sial, kemana gadis itu? jangan sampai dia tiba di rumah dan menceritakan yang tidak-tidak." Regan segera meraih kunci mobil, dompet dan ponselnya yang ada di nakas tanpa berniat mengeceknya terlebih dahulu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Wah kira-kira nasib Lisa dan Regan gimana ya??

__ADS_1


Apakah Delano bisa segera membobol gawangnya ?? ikuti kisah mereka.


Like komen dan giftnya jangan lupa. Hari ini satu dulu ya guys


__ADS_2