Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 102. Ulah Papa Hans


__ADS_3

*********


"Bunda, sakit." Rengek Davin. Lusi tahu efek biusnya sudah mulai menghilang bahkan suhu tubuh Davin kini dirasa lebih tinggi.


"Sabar ya sayang. Atau Davin mau makan? Habis itu Davin minum obat biar sakitnya hilang ya." Ah ibu mana yang bisa dan tega melihat buah hatinya kesakitan? sekalipun anak itu bukan berasal dari rahimnya. Setidaknya Lusi yang merawat keduanya sejak bayi merah.


Davin duduk di pangkuan Lusi memeluk Lusi dan menyandarkan kepalanya di dada sang bunda.


"Apa bunda boleh tahu? kenapa Davin bisa terluka?"


"Tadi Marvel anak tante irene mendorong Devan bunda, Davin mau tolongin tapi malah dagu Davin yang terkena sudut meja kaca itu. Tapi Davin ga mau nangis takut nanti Devan merasa semakin bersalah. Coba tadi kalo Devan yang jatuh, pasti yang terkena sudut meja itu mata Devan bunda." Cerita dari putranya semakin membuat Lusi menangis dalam diam. Dia tak ingin putranya melihat kesedihannya.


"Berati anak bunda ini hebat dong ya?" tanya Lusi dengan suara parau. Davin hendak mendongak menatap wajah Lusi, namun Lusi buru-buru menahan kepala Davin.


"Bunda nangis ya?" tebak Davin.


"Ehm ... engga sayang. Bunda sedang sakit tenggorokan." Lusi segera menghapus air matanya agar putranya tidak melihatnya. Saat Davin mulai memejamkan matanya lagi. Devan terlihat gelisah tidurnya. Lusi mengangkat tubuh Davin, namun pria kecil itu menolak dan memilih turun. Davin mendekati Devan dan menyentuh kening kakaknya.


"Bunda, Devan panas." kata Davin. Lusi pun langsung mendekat dan menyentuh kening Devan.


"Ya ampun, Devan sayang. Bangun sayang." Lusi mencoba membangunkan Devan. Tapi bocah itu justru malah mengigau. Lusi meraih thermometer di meja dan mengecek suhu tubuh Devan.


"40,4° ... " Lusi menoleh pada Davin.


"Sayang di sini dulu temani kakakmu. Bunda panggil ayah dulu." Lusi bergegas berjalan keluar kamar si kembar. Tanpa mengingat kondisinya yang sedang hamil. Lusi menuruni tangga setengah berlari.


"Ya Tuhan, Lusi. Jangan berlari sayang." Ujar Mitha panik melihat Lusi berjalan cepat menuruni tangga.


Delano dan Suryo langsung menoleh ke arah tangga dan mereka berdua

__ADS_1


sama terkejutnya. Delano segera menghampiri istrinya.


"Ada apa sayang? kenapa kamu berlari-lari seperti itu."


"Devan demam tinggi mas. Ayo kita bawa ke rumah sakit."


Mitha dan Suryo segera ke kamar kedua cucunya. Sementara Delano menahan Lusi untuk tidak naik lagi karena nafas Lusi tersengal-sengal. Seorang pelayan membawakan Lusi segelas air putih hangat. Delano membantu memegangi gelas Lusi karena tangan Lusi gemetaran.


Suryo sudah turun bersama Mitha. Devan ada dalam gendongan Suryo sementara Davin di gendong Mitha.


"Ayah dan Ibu akan membawa mereka ke rumah sakit. Lano tolong kamu awasi Lusi. Dia sedang hamil jangan sampai terbawa stress."


"Lusi ikut yah."


"Percaya sama ayah dan ibu. Mereka akan baik-baik saja." Suryo dan Mitha langsung meninggalkan Delano dan Lusi.


"Mas, kita susul mereka ya." Pinta Lusi dengan air mata yang mengalir deras.


.


.


.


Jika di luar terjadi kehebohan karena si kembar yang sakit, berbeda halnya di kamar pengantin baru. Karena kecanggungan keduanya Regan dan Lusi meminum air yang sudah disiapkan di kamar itu. Tanpa mereka tahu jika ada seseorang yang memasukkan sesuatu ke dalam salah satu gelas.


Tak beberapa lama Lisa tampak kegerahan. Matanya bergerak mencari keberadaan remot AC. Lisa berjalan mengambil remot itu dan mulai menurunkan suhunya hingga di titik terendah. Regan tampak heran melihat tingkah Lisa.


"Ada apa?" tanya Regan, matanya memicing saat Lisa melepas dua kancing atas dressnya. Hingga b*ra yang Lisa gunakan tampak menyembul.

__ADS_1


"Kenapa kamar ini panas sekali?" tanya Lisa. Tangannya bergerak mengipasi wajahnya. Regan semakin yakin ada yang salah dengan ini. Regan menyentuh tangan Lisa. Namun hal itu justru semakin membuat Lisa belingsatan merasakan gelenyar aneh yang tiba-tiba terasa menggelitik inti tubuhnya.


"Aku perlu mandi. Aku merasa aneh dengan tubuhku. Mungkin aku terlalu lelah. Lisa buru-buru bangkit dari duduknya. Namun kepala Lisa terasa berdenyut dia hampir saja terhuyung jatuh kalo saja Regan tidak menahannya. Tapi lagi-lagi Lisa merasa benar-benar mendambakan sentuhan Regan itu. Keduanya saling menatap. Namun tatapan Lisa seakan penuh kabut gairah.


" Oh **** ... daddy pasti memberi obat pada minuman itu." Batin Regan, jemari Lisa membelai lembut mata, hidung dan bibir Regan dan sialnya melihat wajah Lisa yang mendamba membuat sesuatu di bawah sana menggeliat. Lisa mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir Regan. Regan bukan tipe orang yang memanfaatkan keadaan. Dia mencoba mendorong Lisa namun Lisa justru mengalungkan tangannya di leher Regan.


"Lisa, jangan begini."


"Aku menginginkanmu sekarang Re .... " Lisa tahu ada yang salah dengan dirinya. Pikirannya masih sekuat tenaga menolak tapi hatinya seakan memberi lampu hijau. Toh Regan adalah suaminya dia berhak atas dirinya. Sekarang atau nanti pasti akan sama saja.


"Kamu akan menyesalinya nanti." ucap Regan, tanpa basa basi mengangkat Lisa dan membawanya ke bathtub. Dia mengisi air sementara tangan Lisa masih setia bergelayut di leher Regan.


"Tidak akan Re .... "


"Kamu pasti akan menyesal. Kita akan melakukan saat kamu benar-benar sadar."


Byur!!


Tubuh Lisa seluruhnya di masukkan oleh Regan kedalam bathtub. Gadis itu menggigil kedinginan dengan perasaan malu dan sedih.


Lisa menunduk, wajahnya berubah sendu. "Keluarlah. Biarkan aku sendiri." Ujar Lisa lirih. Regan begitu berat menatap wajah sendu istrinya tapi dia tidak akan mampu menghadapi wajah kecewa Lisa nanti. Regan akhirnya memilih keluar dan mencari papanya. Papanya benar-benar keterlaluan.


Dia menggedor pintu kamar mamanya. Namun sampai sekian lama pintu itu tidak terbuka. Kepala pelayan menghampiri Regan.


"Nyonya dan Tuan pergi ke hotel tuan. Mereka akan survei tempat resepsi besok. Tuan tadi berpesan jika nona Lisa yang minum setidaknya butuh 3 jam. Beliau juga mengatakan semoga jantung Lisa kuat.


" Oh, **** dia masih saja suka berulah sesuka hatinya sendiri." Teriak Regan kesal. Mau tak mau dia harus ke kamar dan membantu Lisa. Di dalam bathtub Lisa menangis sungguh dia pun sebenarnya tidak mau berada di posisi sekarang. Lisa bahkan menggigit lengannya untuk meredam efek obat itu. Dia tahu seseorang pasti sudah mencampur sesuatu ke minumannya. Tapi siapa? tidak mungkin itu Regan. Karena sekarang Regan menolaknya. Bibir Lisa mulai membiru karena kedinginan.


Pintu kamar mandi di buka kasar oleh Regan. Regan segera mengangkat tubuh Lisa dan melepas dress Lisa dan juga pakaian dal*am Lisa.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2