Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 112. Rencana Jahat Aditya.


__ADS_3

*********


Setelah penangkapan Frederick dan putrinya, Aditya bersembunyi di Villa miliknya, yang ia yakini orang-orang Suryo tidak akan bisa menemukannya.


Sehari-hari Aditya bekerja hanya mengandalkan laptopnya untuk berhubungan dengan Glen asistennya. Tanpa dia tahu bahwa Delano sudah bergerak cepat membeli beberapa saham di perusahaannya dengan harga yang sangat tinggi. Tujuan Delano hanya 1 yaitu melindungi Lusi agar kelak sewaktu-waktu jika terjadi sesuatu, dia bisa mengambil langkah cepat untuk menjatuhkan Aditya.


Glen adalah asisten kepercayaan Aditya. Meskipun Glen terbilang masih muda namun cara kerjanya begitu memuaskan Aditya. Glen sendiri sudah mengabdi pada Aditya selama 6 tahun.


"Pastikan saja harga saham tidak merosot karena berita itu," perintah Aditya. Glen hanya mengangguk di depan layar laptopnya. Setelah sambungan dengan sang bos terputus Glen segera mengirim pesan pada seseorang melalui aplikasi w*****p. Senyum miring terbit di bibir Glen.


Sementara itu Aditya mengirim pesan pada Lusi alih-alih untuk bertemu membicarakan kerja sama yang saat ini masih berlangsung. Namun sebenarnya Aditya memiliki rencana Jahat pada Lusi. Saat itu, Lusi masih berada di dalam mobil. Dia segera membuka pesan dari Aditya itu.


"Bisakah kita bertemu nona, ada kontrak yang sepertinya harus saya bicarakan dengan anda."


Lusi pun membalas pesan dari Aditya dengan ragu.


"**Anda bisa membicarakan perihal kontrak itu dengan Shanti, asisten saya."


"Tidak bisa, karena kontrak itu anda yang menandatanganinya**." Balas Aditya, ia akan menempuh berbagai cara agar bisa berjumpa dengan pujaan hatinya itu. Dia tak peduli lagi dengan gertakan Suryo. Kini yang dia pedulikan adalah bagaimana caranya untuk memiliki Lusi.


"**Baiklah jika begitu, anda bisa datang ke butik besok siang."


"Tidak bisa, anda yang harus datang karena saya masih dalam masa pemulihan. Besok akan saya kirim alamatnya. Dan jangan lupa membawa berkas kerja sama kita**."


Setelah menerima balasan dari Aditya alis Lusi seketika berkerut. Dia tidak membalas pesan Aditya yang terakhir karena sedang berpikir.


"Mas... "


"Ya, sayang?" Delano menoleh sebentar ke arah Lusi lalu kembali fokus ke depan.


"Besok, tuan Aditya ingin bertemu denganku."


Delano langsung menginjak rem karena terkejut. Beruntung kedua putranya memakai seatbelt dan mereka sudah memasuki komplek mansion Delano.


"Apa...?"

__ADS_1


"Tuan Aditya meminta bertemu. Katanya ada sesuatu dengan kontraknya dan harus direvisi," ujar Lusi.


"Ayah, kenapa berhenti mendadak?" tanya Devan. Delano langsung tersadar jika mereka masih ada di tengan jalan komplek.


"Ah maaf sayang, sepertinya tadi ayah melihat ada kucing menyebrang," jawab Delano berbohong.


Devan hanya mengangguk menanggapi jawaban Delano. Delano segera melajukan kembali mobilnya. Dia bungkam selama diperjalanan, namun otaknya sedang berpikir keras.


Lusi hanya menatap sang suami yang memasang wajah serius dan tiba-tiba menjadi pendiam. Dia tidak berani memanggil ataupun bertanya. Lusi juga ikut diam hingga mobil tiba di depan mansion.


Lusi turun tanpa menunggu pintu di bukakan. Dia membuka pintu belakang dan membantu Davin melepas sabuk pengamannya begitu juga yang Delano lakukan dia membantu membuka sabuk pengaman milik Devan. Keempatnya berjalan memasuki mansion. Namun wajah Lusi tampak sendu. Ia mengira Delano mendiamkan dirinya karena akan bertemu dengan Aditya besok. Lusi membawa kedua putranya naik ke kamar mereka. Ia juga meminta pengasuh mereka untuk menyiapkan air mandi untuk kedua putranya.


"Kalian mandi sama mbaknya ya. Bunda mau ke kamar dulu."


Setelah kedua putranya memberi ijin, Lusi langsung masuk ke kamarnya dan langsung masuk ke kamar mandi. Dia tidak melihat Delano di sana. Lusi semakin kecewa dengan sikap Delano.


Lusi mandi dibawah shower, kucuran air dingin membasahi dari puncak kepala hingga ujung kakinya. Meskipun malam hari, entah mengapa Lusi merasa panas di sekujur tubuhnya. Mungkin karena hatinya terasa panas hingga Lusi sama sekali tidak merasakan dinginnya air itu. Tanpa terasa air mata Lusi menetes. Hormon kehamilannya benar-benar membuat Lusi menjadi mudah bersedih.


Hampir 45 menit Lusi berada di bawah shower hingga ketukan pintu membuatnya langsung mematikan airnya. Bibir Lusi tampak pucat kebiruan. Bahkan tangan Lusi memutih dan keriput karena terlalu lama berada di bawah air.


Lusi mengenakan bathrobe-nya dan membuka pintu. Delano menatap cemas pada wajah Lusi, matanya terlihat bengkak dan bibirnya terlihat pucat.


"Sayang, kamu kenapa?" Lusi menggelengkan kepalanya lalu kembali menangis, Delano segera menarik tubuh Lusi kedalam dekapannya dan mengusap punggungnya lembut.


"Kenapa mas mendiamkanku? apa mas marah sama aku?"


"Oh sayang, aku tidak ada niatan untuk mendiamkan dirimu. Aku tadi diam karena sedang berpikir. Maafkan aku, aku membuatmu bersedih."


Delano segera membawa Lusi duduk di tepi ranjang. Dia membantu Lusi mengeringkan rambut istrinya. Delano menghubungi pelayan di bawah untuk membawakan susu hangat untuk istrinya. Delano merasa sangat bersalah karena tadi dirinya sempat ke ruang kerja tanpa memperhatikan istrinya. Dia pun kaget saat mendengar dari kedua putranya jika istrinya sudah sejak tadi meninggalkan kamar mereka. Bahkan Delano cukup lama menunggu di depan pintu kamar mandi hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk pintunya. Melihat kondisi Lusi sekarang benar-benar membuat hati Delano ikut merasakan sakit. Tidak ada sedikitpun niatan untuk menyakiti hati Lusi. Tapi tanpa sadar sikapnya membuat Lusi menangis dan terluka.


Tak berapa lama pintu kamar mereka di ketuk dari luar. Setelah membantu Lusi mengganti baju, Delano langsung bergegas membuka pintunya.


"Tuan, ini susunya."


"Terima kasih bi," ujar Delano seraya menerima gelas susu hangat itu. Delano segera menutup pintunya dan berjalan menuju pembaringan. Lusi duduk bersandar dengan wajah yang tampak sayu, Delano segera memberikan gelas susu itu pada Lusi. Lusi meneguk nya perlahan hingga tandas dan mengembalikan gelas kosongnya pada Delano.

__ADS_1


"Tidurlah, kamu pasti lelah," kata delano seraya mengusap kening Lusi.


"Apa kamu tidak mau menemaniku?"


"Aku akan menemanimu. Tapi nanti setelah kamu tidur aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku dulu." Lusi mengangguk lemah dia merebahkan tubuhnya dan Delano langsung berbaring di sebelahnya. Delano memeluk tubuh Lusi erat, Lusi membenamkan wajahnya di belahan dada bidang Delano seraya menghirup aroma tubuh Delano, aroma yang kini tanpa disadari oleh Lusi menjadi candunya.


Tak butuh waktu lama, Lusi akhirnya tertidur. Wajahnya terlihat damai meskipun masih terlihat sembab. Delano perlahan membelai wajah Lusi. Lalu mengecup mata, hidung dan bibirnya.


Delano turun ke dapur untuk mengambil minum. Diana yang sedang mimum pun terkejut melihat putranya.


"Lho, kamu pulang? Lusi mana?"


"Lusi sudah tidur, mah," jawab Delano singkat.


"Apa istrimu sakit?" tanya Diana cemas.


"Tidak, mah, hanya saja dia sedang kelelahan."


"Apa dia sudah makan?"


"Belum ma, nanti kalau dia terbangun dan lapar biar Delano yang buatkan,"


"Lano, selama Lusi hamil kamu harus selalu sabar dalam menghadapinya. Karena emosi ibu hamil itu mudah up and down. Sangat mudah tersenyum lalu tiba-tiba menangis tanpa sebab. Jadi kamu harus selalu memberi dia perhatian sesibuk apapun kamu."


"Iya, mah."


Delano akhirnya masuk ke ruang kerjanya. Dia mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang.


"Halo, tuan."


"Aku butuh bantuanmu."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa Like komen dan gift kalian ya guys. 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2