Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 69. Aku Baik-baik Saja


__ADS_3

*******


Delano sudah selesai menebus vitamin untuk Lusi. Rencananya hari ini Lusi ingin berada di butik untuk memantau pesanan yang masuk. Dia bekerja hanya by phone selama ini sejak menikah Lusi hampir jarang ke butik. Bahkan design baju selalu dia kirim lewat email.


Saat ini Shanti lah yang menjadi penanggung jawab di butik Lusi. Saat Lusi turun dari mobil seorang pria dengan senyum yang menawan mendatangi Lusi.


"Hai cantik. Apa kabar?" senyum pria itu merekah, Lusi membalas senyuman itu. Namun Delano buru-buru turun dan menatap pria itu dengan tajam.


"Ngapain lo di sini?" ketus Delano.


"Suka-suka lah, ini jalan umum. Butik Lusi pun juga dibuka untuk umum" jawab pria itu acuh. Lusi hanya geleng-geleng kepala lalu berjalan masuk ke butiknya.


"Ya ampun mbak, akhirnya setelah sekian purnama." Shanti memeluk lengan Lusi.


"Lebai banget sih. Lagian baru beberapa hari ga berangkat. Emang kenapa?" tanya Lusi penasaran.


Pria yang tadi menyapa Lusi masuk dengan gaya cool. Dia tak mengindahkan sama sekali larangan Delano. Dia menghampiri Lusi dan kembali tersenyum ramah


"Bisakah kamu merancang baju khusus untukku?"


"Tentu saja bisa," jawab Lusi.


"Sayang, jangan dengarkan permintaannya." Cegah Delano tatapan matanya sangat mengintimidasi.


"Mas, Raffi ini pelanggan aku lho. Aku tidak bisa membeda-bedakan pelanggan."


Ya, pria yang membuat kesal delano siang ini adalah Raffi. Entah mengapa melihat Raffi membuat Delano kesal setengah mati.


"Lihatlah tatapan mata suamimu Lusi." Raffi mencoba memprovokasi Lusi agar menjauhkan dirinya dari Delano yang seakan siap menerkam dirinya.


"Maas .... " tegur Lusi, ia dapat melihat tatapan intimidasi dari suaminya pada Raffi. Delano mendengus saat Lusi justru tampak membela Raffi.


"Tapi sayang .... "


"Mas ga percaya sama aku?" tanya Lusi, tapi kali ini tatapan Lusi terlihat sendu.

__ADS_1


"Tentu saja mas percaya sama kamu" jawab Delano singkat.


"Ya kalo gitu jangan seperti itu. Raffi ini pelangganku lho."


"Ya sudah, kalau begitu mas mau ke kantor. Kamu jangan lupa makan siang. Vitamin dan susu hamilnya juga jangan sampai telat," ujar Delano lalu membenamkan kecupan lembut di kening Lusi.


"Iya, mas juga hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siang juga." Lusi meraih tangan kanan Delano dan mengecup punggung tangannya. Delano tersenyum lebar di hadapan Raffi hingga membuat Raffi melengos karena tak tahan melihat kemesraan mereka berdua.


Shanti yang melihat adegan mesra itu hanya tersenyum malu. Apalagi ketika tatapan matanya berbenturan dengan Raffi. Delano meninggalkan butik Lusi dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya.


"Mentang-mentang udah nikah kamu mesra-mesraan seenaknya saja." Gerutu Raffi.


"Nanti kalo kamu udah nikah juga pasti ngerti rasanya." Jawab Lusi diplomatis.


"Tapi aku senang, kamu sekarang sudah tidak takut lagi saat berdekatan dengan laki-laki. Padahal dulu setiap aku mendatangi Lisa kamu yang gemetaran."


Lusi tersenyum mendengar penuturan Raffi. "Ya, kamu benar. Aku bersyukur bertemu mas Delano. Berkat dia sekarang aku lebih bisa mengontrol diri."


"Andai saja pria beruntung itu adalah aku" ujar Raffi.


"Apaan sih, Jadi pesan baju apa cuma mau ngomporin suami aku?" Di saat pembicaraan hangat itu terjadi tiba-tiba pintu terbuka dan muncul sosok pria paruh baya yang masih terlihat tampan.


"Tuan Aditya," Lusi menundukkan kepalanya sejenak.


"Saya ingin mencari koleksi terbaru. Dan kebetulan saya melihat nona ada di sini."


Lusi hanya tersenyum tipis. "Mari silahkan, pegawai saya akan menunjukkan beberapa model terbaru. Tapi maaf, saya tidak bisa menemani karena ada tamu." Lusi meninggalkan Aditya dan Shinta sementara Raffi mengikuti Lusi masuk ruangannya.


Lusi duduk di sofa tunggal. Tangannya gemetaran, wajahnya mendadak pucat. Raffi yang melihat perubahan sikap Lusi kembali seperti dulu langsung bertanya.


"Apa kamu baik-baik saja Lusi?" tanya Raffi cemas. Lusi hanya mengangguk lemah. Berulangkali dia mencoba mengatur nafasnya agar lebih tenang.


Raffi mengambilkan botol air mineral dan membukanya untuk Lusi. Setelah Lusi menerima botol itu, Lusi meneguknya hingga tersisa setengahnya.


"Terima kasih Raffi."

__ADS_1


"Apa kamu takut dengan pria tadi?" tanya Raffi, Lusi pun mengangguk.


"Ya, aku takut. Tatapan matanya seolah ingin menerkamku." Lirih Lusi. Raffi menatap iba pada gadis itu. Dia sudah mendengar apa yang dia alami dari Diana, tantenya. Di usia yang terbilang masih sangat muda kebahagiaan Lusiana sudah terenggut oleh perbuatan ayah tirinya hingga menyebabkan trauma berkepanjangan pada gadis itu.


"Tenanglah, ada aku di sini. Apa aku perlu menghubungi Lano agar dia kembali kemari?"


Lusi menggeleng. Dia tak ingin melibatkan Delano meskipun pria itu adalah suaminya. Dia akan berusaha menghilangkan ketakutan dirinya sendiri agar dirinya segera terbebas dari traumanya.


"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Hanya perlu membiasakan diri."


"Jangan terlalu memaksakan dirimu Lusiana."


"Tidak, aku benar-benar tidak apa-apa Raffi. Aku hanya butuh waktu saja." Lusiana tetap bersikeras. Akhirnya Raffi memilih diam. Namun saat Lusi sudah mulai tenang tidak gemetaran lagi, pintu ruangannya diketuk oleh Shanti.


"Mbak Lusi, itu pak Aditya maksa mau ketemu mbak Lusi."


"Ya sudah, tidak apa-apa Shanti. Biarkan beliau masuk. Bagaimanapun beliau adalah pelanggan." Lusi sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Dia sudah bertekad dalam hatinya akan menjadi wanita yang lebih kuat dan tak mudah di tindas lagi.


"Ada yang bisa saya bantu tuan Aditya?" sapa Lusi ramah.


"Aku akan mengambil masing-masing 3 warna untuk setiap model tapi aku ingin kamu yang mengantarnya, sekaligus menerima undangan makan malam di kediaman ku." Aditya menatap Lusi penuh minat. Rasanya hatinya tak akan puas jika tidak memilikinya.


Lusi yang mendapat tatapan seperti itu dari Aditya merasa tidak nyaman tapi dia tetap bersikap profesional.


"Baiklah tuan saya akan penuhi undangan makan malam anda."


"Jika begitu aku akan sangat menantikannya nona Lusi." Aditya menampakkan senyum misterius. Raffi menatap pria itu dengan tatapan tajam. Dia bisa melihat jika pria tua itu sepertinya begitu bern*fsu pada Lusi.


"Shanti, tolong kamu urus pesanan tuan Aditya. Saya masih ada tamu." Shanti mengangguk. Aditya mau tak mau pergi meninggalkan ruangan Lusi. Dia tahu betul jika gadis itu mengusirnya secara halus. Tapi Aditya masih tetap tersenyum karena wanita itu setidaknya mau datang ke kediamannya.


"Kenapa kamu menerima undangannya. Kamu tahu sekali jika dia menginginkan hal yang lain darimu. Pesanan itu hanya pancingan Lusi," Geram Raffi. Namun Lusi justru tersenyum.


"Selagi itu menguntungkan untuk butikku mengapa tidak. Aku bisa saja datang ke undangan itu dengan suamiku. Bukankah dia tidak mengatakan jika aku harus datang seorang diri?" ujar Lusi.


Raffi kagum pada kepintaran Lusi. Dia tidak berpikir sampai ke dana karena terlalu mengkhawatirkan Lusi.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ayok like komen dan giftnya jangan lupa! biar besok makin rajin UP nya. 😘😘😘


__ADS_2