
********
Pagi itu hujan turun dengan lebat. Baik Delano maupun Lusi belum membuka mata. Lusi sebenarnya sudah bangun tapi dia merasa canggung dengan situasinya, ia memilih memunggungi Delano. Hawa dingin membuat sesuatu di bawah sana menggeliat. Tubuh Lusi yang menempel dengan Delano dapat merasakan pergerakan itu.
"Ya Allah, apa ini?" Lusi bergidik membayangkan benda di bawah sana hidup menggeliat. Bahkan semakin mengeras.
Entah mengapa bukannya mengurai pelukannya Delano semakin kencang memeluk Lusi. Karena mungkin merasakan dinginnya cuaca saat hujan begini. Namun Lusi justru meringis karena benda di bawah sana mulai menekan tubuh bagian bawah Lusi.
Delano ternyata sudah membuka mata, namun karena tubuh Lusi menegang Delano yakin gadis itu merasakan pergerakan little brother nya. Akhirnya Delano memiliki ide jahil untuk mengerjai Lusi. Selama Lusi tidak gemetaran maka Delano akan meneruskan perjuangannya untuk mendapatkan hak untuk little brother nya.
Delano menarik tubuh Lusi dan mendekapnya lebih erat. Hingga little brother nya tepat berada di tengah-tengah pantat Lusi. Beruntungnya gadis itu tadi merubah posisi tidurnya memunggungi dirinya. Jadi Delano memiliki banyak kesempatan untuk menyusun strategi.
Tubuh Lusi semakin menegang saat benda dibawah sana seakan mendesak pantatnya. Apalagi baju tidur Lusi yang berbahan sutra semakin memperlicin gerakan si benda tumpul itu.
Nafas Lusi memberat. Entah mengapa tubuhnya terasa panas menyengat padahal di luar cuaca sangat dingin.
Delano tersenyum dalam hati. Namun dia juga tak bisa berlama-lama karena bisa saja keseringan di gesek di sana little brother nya akan muntah, dan tentu saja itu dapat merusak image Delano.
Lusi yang sudah tidak tahan dengan posisi itu akhirnya bergerak menarik tubuhnya. Namun pergerakannya terhenti saat Delano menyapanya.
"Selamat pagi istriku, apa tidurmu nyenyak?"
"I...iya."
"Mulai sekarang kau harus memanggilku suamiku, atau sayang, atau honey, atau my love terserah padamu." Ucap Delano mengulum senyumnya melihat reaksi Lusi yang tampak malu-malu itu.
"Ta...tapi."
"Tidak ada kata tapi. Aku harap dengan nama panggilan yang berubah kita akan cepat mengakrabkan diri. Cobalah ....!!"
"B...baiklah su...amiku." Ujar Lusi terbata-bata.
__ADS_1
"Terimakasih istriku." Delano meraih kepala Lusi dan menahan wajah Lusi. Tanpa permisi Delano mengecup kening dan bibir Lusi."
"Morning kiss .... " Ujar Delano seraya tersenyum lalu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Dia akan menuntaskan hasratnya yang masih meninggi di kamar mandi. Ia berharap ini hanya sementara waktu.
Selama Delano di kamar mandi, Lusi merapikan ranjangnya dan hendak menyiapkan baju untuk Delano. Saat ia membuka koper Delano wajahnya langsung memerah melihat segitiga pengaman milik suaminya itu berada di tumpukan paling atas.
Lusi sengera mengambilnya dengan asal. Lalu mengambil kemeja dan celana panjang hitam untuk Delano. Lusi meletakkan baju ganti Delano di atas ranjang. Lusi segera keluar dari kamar. Dia takut dan malu terjebak dengan Delano di dalam sana.
.
.
.
Di bawah Devan dan Davin sudah bersiap berangkat ke sekolahnya. Lusi merapikan rambutnya dan bergabung dengan yang lain.
"Selamat pagi sayang, apa kau belum mandi?" tanya Laila nenek Lusi. Lusi sontak menggeleng, ia mendekati kedua putranya dan menghadiahkan ciuman di kening Devan dan Davin.
"Tidak, ibu kira Lisa pamit sama kamu."
"Engga bu, semalam juga ponsel Lisa tidak aktif. Aku takut dia kenapa-kenapa bu."
"Kenapa tidak menghubungi ibunya saja?" saran Mitha.
"Aku takut bu Yuyun cemas."
"Ayah akan perintahkan orang-orang ayah untuk memeriksa CCTV siapa tau Lisa terekam pergi kemana." Suryo beranjak menuju samping mansionnya dimana di sana ada ruang monitoring dan tempat para penjaga mansion itu tinggal.
Delano keluar dari kamar mandi. Dia mengedarkan pandangan mencari sosok Lusi. Delano tak menyadari jika dirinya terlalu lama di kamar mandi. Namun seulas senyum tergambar jelas di wajahnya kala ia melihat baju gantinya telah tersedia di atas tempat tidur.
"Ah ... manis sekali istriku ini."
__ADS_1
Delano segera memakai baju gantinya, setelah menyemprotkan parfumnya Delano keluar. Disaat bersamaan Lusi juga mendorong pintu. Alhasil tubuh Lusi terhempas masuk ke dalam dekapan Delano.
Sesaat keduanya terpaku. Lusi memejamkan matanya saat aroma maskulin dari Delano menyeruak kedalam indra penciuman nya.
"Apa kita akan menghabiskan waktu dengan berpelukan?" tanya Delano, Lusi langsung tersentak kaget. Ia melepaskan diri dari kungkungan Delano.
"Ma...maaf."
"Tidak apa-apa aku tau kau merindukanku." ucap Delano seraya tersenyum tipis.
Lusi menggigit bibir bawahnya dengan wajah yang telah memerah sepenuhnya hingga menjalar ke telinga.
"Kau sedang menggodaku kan?" bisik Delano, Lusi mengangkat wajahnya. Apa maksud suaminya ini? Darimana bisa dia dikira menggodanya.
"Jangan gigit bibirmu atau aku akan menggigitnya." Goda Delano. Wajah Lusi semakin memerah karena malu. Ia berlari melewati Delano masuk ke dalam kamar mandi.
Lusi bersandar di pintu seraya memegangi dadanya yang berdegup kencang.
"Berdetak lah dengan normal, dasar bodoh." Umpat Lusi pada jantungnya.
Lusi bergegas mandi karena dia akan mengantarkan kedua putranya ke sekolah. Dengan perasaan tak menentu Lusi menyelesaikan mandinya dengan cepat. Dia merias sedikit wajahnya yang terlihat agak pucat. Mungkin karena terlalu lelah dengan acara kemarin sehingga dia tampak kelelahan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Like nya guys jangan lupa. Komen, vote gift kalian bawa kesini ya.
Sembari nunggu karyaku. Aku rekomendasi kan karya teman literasi ku kak Huzna_az Judulnya Impian Dira.
Mengisahkan tentang hidup Dira yang penuh cobaan dan penghianatan. Akankah Dira menemukan kebahagiaannya? simak kisahnya di Impian Dira
__ADS_1