
********
Lisa mandi dengan tergesa-gesa. Entah siapa pria nyasar yang melamarnya. Perasaan Lisa semakin tidak karuan. Dia tak ingin membuat ibunya kecewa.
Lisa menyisir rambutnya sebentar lalu berjalan keluar kamar. Sementara di luar, baik Yuyun dan Lidya saling bertukar cerita mengenai masa lalu mereka.
Regan tampak tak tenang menunggu kemunculan gadis pujaan hatinya itu. Berkali-kali dia melirik arloji yang melingkar di tangannya.
"Kenapa nak Regan?" tanya bu Yuyun penasaran.
"Apa Lisa masih lama bu?"
"Mungkin sebentar lagi." Bu Yuyun tersenyum melihat Regan yang sepertinya tak sabar bertemu putrinya. Tak berselang lama Lisa keluar. Matanya melotot melihat Regan dan ibunya ada di sana.
Lisa duduk di samping ibunya dengan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan ibunya terlihat akrab dengan ibu Regan.
"Ibu .... "
"Lisa, tante kesini ingin mewakili Regan anak tante untuk meminang kamu untuk menjadi menantu tante." Lidya menggenggam jemari Lisa dengan erat. Lisa menatap ragu ke arah Lidya. Sementara Regan hanya diam namun tatapan matanya tak sedikitpun lepas dari wajah Lisa.
"Tapi tante, sepertinya tante salah sangka. Kami bahkan tidak saling mencintai. Jadi bagaimana bisa tante melamar Lisa?" Lisa melirik Regan, namun secepatnya Lisa mengalihkan tatapan matanya karena jujur saja Lisa malu ditatap sebegitu intens oleh Regan.
"Tante tahu, seperti halnya Delano dan Lusiana. Hal baik itu jangan ditunda. Toh perasaan cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu."
"Jika kamu ragu, tunangan saja dulu. Sebagai pengikat kalian."
Lisa menatap ibunya, baru kali ini Lisa melihat ibunya tersenyum bahagia. "Bagaimana bu?"
"Ibu terserah kamu Lisa. Kamu yang akan menjalaninya. Selama Lisa bahagia dan tidak terluka ibu akan merestuimu sayang."
"Aku tidak akan menyakitimu seujung kuku pun Lisa, percayalah padaku." Regan kini bersuara. Dia hanya ingin Lisa mau menerima lamarannya.
Lisa menatap tiga orang di hadapannya bergantian. Jujur saja dia ragu, terlebih lagi hubungannya dengan Regan bisa dikatakan tidak ada apa-apanya hanya berawal dari ketidaksengajaan.
"Lisa, tante bisa jamin, jika putra tante sangat menginginkan kamu. Kalau sampai suatu saat dia menyakiti baik hati maupun fisikmu tante sendiri yang akan menghukumnya."
Lisa memejamkan matanya sejenak. Memori-memori penolakan ibu Sean terlintas begitu saja. Ada rasa sakit yang begitu menusuk hingga tanpa sadar Lisa menitikkan air matanya. Regan yang melihat itupun menjadi salah sangka. Regan berpikir jika Lisa tak ingin menerima lamarannya.
"Aku akan beri waktu kamu berpikir. Ayo ma, kita pulang." Wajah Regan terlihat sangat kecewa. Lidya tahu itu apalagi dia juga melihat Lisa meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru mengambil keputusan Lisa. Kami akan memberi kamu waktu. Jangan sampai keputusan yang kamu ambil akan merugikan diri kamu sendiri dan akhirnya akan menjadi penyesalan untukmu."
Lisa membuka matanya seraya menghapus air matanya. Lisa menatap Lidya dan Regan bergantian. Lalu Lisa menoleh ke arah ibunya.
"Lisa, bersedia tante," liriknya.
"A... apa kamu bilang Lisa?" tanya Regan mencoba memastikan pendengaran tidak salah.
"Aku bersedia .... " kali ini suara Lisa terdengar lebih keras. Regan tersenyum dan tanpa diduga dia menarik tangan Lisa dan membawa gadis itu kedalam pelukannya.
"Terima kasih. Aku janji tidak akan menyakiti mu." Desis Regan. Lisa begitu terkejut, bahkan ia mengerjapkan matanya berulangkali. Bu Yuyun tersenyum bahagia melihat putrinya kini memiliki pria yang melindunginya.
.
.
.
Sebelum ke rumah sakit, Delano dan Lusi ke kantor polisi untuk menjadi saksi. Pengacara Delano bahkan sudah mengeluarkan semua bukti kejahatan Karisa dari 6 tahun lalu Ketika ia melakukan penjebakan Karina dan Delano. Bahkan bukti saat Karisa meminta seseorang untuk mencelakai Karina saat hamil agar keguguran namun sayangnya semua rencananya tak ada yang berjalan baik. Bahkan terakhir Karisa membayar seorang dokter untuk menyuntikkan obat agar Karina mengalami gagal jantung.
Semua bukti itu mengarah padanya. Karisa benar-benar frustasi tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini.
"Kasusnya sudah naik ke pengadilan tuan. Kali ini nona Karisa akan lama mendekam di penjara." Ujar Kevin pengacara Delano.
Selama dalam perjalanan Lusi terus diam, tak ada sepatah kata pun yang dia ucapkan. Delano merasa jika saat ini Lusi terlihat sangat berbeda.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu sayang?"
"Tidak mas, aku hanya merasa lelah." Lusi menoleh seraya memberikan senyuman untuk Delano.
"Jika ada yang mengganggu pikiranmu, katakan padaku. Jangan memendam semuanya sendirian. Kita diciptakan berpasangan untuk saling melengkapi dan berbagi. Jangan menanggung semua sendirian.
"Aku hanya masih terbawa perasaan mas. Bagaimana jika saat itu aku tidak di sana dan menemukan Devan dan Davin."
"Semua sudah diatur oleh Allah. Meskipun mereka tidak bertemu kamu, jika mereka ditakdirkan hidup maka mereka akan hidup entah bagaimanapun caranya. Aku bersyukur, Allah sudah mempertemukan mereka denganmu. Sehingga mereka masih bisa merasakan kasih sayang meskipun mereka tidak bersamaku. Nyatanya mereka tumbuh dengan baik."
"Hmm ... kamu benar mas, entah mengapa rasanya aku jadi gampang terbawa perasaan," gumam Lusi.
"Mungkin karena kamu hamil, makanya mudah baper." Delano tersenyum seraya mengusap kepala Lusi.
__ADS_1
"Jangan berharap terlalu banyak mas, aku takut kamu kecewa."
"Jika kali ini gagal aku akan bekerja lebih giat lagi setiap malam," Delano tersenyum smirk dan menaik turunkan alisnya.
"Mesum .... "
Lusi dan Delano tiba di rumah sakit. Mereka sudah mendaftar kemarin. Sehingga begitu tiba mereka tinggal mengkonfirmasi. Delano dengan setia menunggu Lusi yang sedang dicek berat badannya dan juga diukur tensinya.
"Silahkan masuk tuan dan nyonya Delano."
"Terima kasih suster," Lusi tersenyum lalu berjalan masuk.
"Selamat siang dokter ... " sapa Delano dan Lusi bersamaan, dokter paruh baya tapi masih terlihat cantik itu tersenyum.
"Selamat datang, tuan dan nyonya. Nyonya Lusi, saya sudah mendapat laporan dari dokter Rama tentang kondisi nyonya Lusi saat ini. Beliau mengatakan ada kemungkinan anda hamil tapi anda juga seorang penderita Aligomenorea."
"Iya dokter itu benar. Kemarin saya sempat melakukan tes urin dan hasilnya garis dua namun salah satunya masih samar-samar.
"Apakah kondisi Aligomenorea anda dari sejak awal anda mengalami menstruasi nyonya?"
"Iya dokter, apa ini ada hubungannya dengan saya yang dulu mengkonsumsi obat antipsikotik?"
"Maaf jika boleh saya tahu, kenapa anda mengkonsumsi obat tersebut?" tanya dokter Zhafira
"Sejak belia saya mengalami trauma yang membuat saya merasa selalu cemas dan ketakutan." Lusi menjeda ucapannya, dia menarik nafasnya panjang. Delano menggenggam jemari Lusi seakan menyalurkan kekuatan untuk istrinya itu.
"Tidak apa² tidak perlu dilanjutkan jika itu berat untuk di sampaikan."
"Apakah hingga sekarang anda masih mengkonsumsi obat itu?"
"Tidak dokter, sudah hampir 2 tahun saya tidak mengkonsumsinya. Semenjak itu menstruasi saya tidak teratur. Kadang sebulan sekali, kadang dua bulan sekali."
"Baiklah, sekarang coba kita pastikan dulu saja. Silahkan berbaring dulu nyonya."
Lusi berdiri dan berjalan menuju brankar. Dia berbaring di bantu oleh seorang suster. Baju Lusi dinaikkan hingga tampaklah perutnya yang rata dan putih. Dokter memberikan gel dan mulai menggerakkan probe di atas perut Lusi. Delano dengan serius menatap layar.
"Sepertinya janinnya belum bisa terlihat namun anda bisa melihat jika sudah terbentuk kantungnya. Kembalilah 2 minggu lagi. Saya akan resep kan Vitamin untuk anda. Dan jangan lupa konsumsi susu hamil, perbanyak makanan bergizi.
" Baik dok, terima kasih."
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Like, komen dan Giftnya jangan lupa ya.. 🥰🥰