
*******
Suara kesakitan Lusi terdengar dari balik pintu kamar mandi. Saat terbangun tadi, perutnya terasa begitu mual. Delano membuka matanya perlahan dan melirik ke arah tempat tidur Lusi namun istrinya tak ada di sana. Delano menajamkan pendengarannya.
Dia bergegas lari membuka pintu kamar mandi dengan sekali hempas hingga mengagetkan Lusi.
"Ya ampun mas ... " Lusi menatap kesal pada Delano tapi tak lama dia kembali memuntahkan isi perutnya. Delano langsung menghampiri Lusi dan membantu memijat tengkuk Lusi. Setelah menuntaskan segala ketidaknyamanannya Lusi hampir saja tergeletak karena lemas.
Delano langsung mengangkat tubuh Lusi dan membawanya duduk bersandar di sofa.
"Tunggu di sini sebentar, aku akan buatkan sesuatu untuk menghilangkan mualmu." Delano berbalik, namun Lusi menahan tangan pria itu.
"Tidak perlu suamiku sayang, duduklah dulu di sini." ucap Lusi seraya tersenyum. Meskipun wajahnya pucat namun sepertinya kehamilan Lusi ini membuat dia terlihat semakin cantik.
Delano menggigit bibir bawahnya mendengar panggilan dari istrinya, rasanya darahnya berdesir hebat dan hasrat Delano tiba-tiba saja naik.
Namun karena istrinya sedang hamil muda, Delano tidak mau mengambil resiko. Lebih baik dia menahan dirinya daripada nanti menyakiti janin yang ada di perut istrinya. Itu yang dia pikirkan saat ini. Delano duduk di samping Lusi, tanpa diduga Lusi langsung melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh Delano. Seketika tubuh Delano kaku, inti tubuhnya merespon dengan cepat. Namun sebisanya Delano menahan nya berkali-kali dia menarik nafas panjangnya.
"Kenapa jantung mas berdebar kencang?" Lusi yang menyandarkan kepalanya di dada bidang Delano dapat mendengar degup jantung pria itu yang seakan berkejaran.
"Ehm ... ti-dak apa-apa sayang."
"Apa mas yakin? Lusi bangkit dan menatap serius kearah Delano dengan alis mengernyit.
Delano justru tersenyum gemas lalu mencium pipi Lusi. " Iya sayang, mas berdebar karena ini." Delano menarik tangan kanan Lusi, Lusi yang belum paham maksud suaminya hanya menurut. Namun sejurus kemudian mata Lusi membelalak dengan wajah yang merona saat tangannya menyentuh pangkal paha Delano dimana di sana naga api milik suaminya telah bangkit.
"Little bro terbangun." bisik Delano. Lusi menyembunyikan wajahnya di belahan dada Delano. Kedua tangannya menutupi telinga, malu bukan main kini yang Lusi rasakan. Meski mereka sudah menikah sebulan lebih rasanya Lusi masih malu membahas hal-hal yang bersifat intim dengan suaminya.
"Bunda .... " Lusi langsung menengok ke ranjangnya, ternyata Devan mencarinya. Akan tetapi mata bocah itu masih terpejam. Akhirnya Lusi menyudahi kemesraan yang hanya sebentar itu. Lalu melangkah mendekati ranjang.
Lusi membelai kepala Devan dengan lembut. Bocah itu akhirnya membuka matanya lalu tersenyum kearah Lusi. Devan bangkit dari tidurnya dan mengecup pipi Lusi.
"Morning bunda ...."
"Morning my sunshine." Lusi mendekap Devan dan mencium puncak kepala putranya. Hati Delano semakin menghangat saat melihat Lusi begitu menyayangi kedua putranya. Devan melepas pelukan Lusi, dia menggoyangkan tubuh adiknya hingga terbangun.
__ADS_1
"Davin bangun ... " Tangan Devan menguncang bahu adiknya. Davin menguap seraya mengucek kedua matanya.
"Aku ngantuk kak, ini weekend." protes Davin, bocah itu kembali memejamkan matanya.
"Ok kalo begitu. Kita ke Sea world bertiga saja ya bunda." Goda Devan, dan karuan saja mata Davin langsung terbuka lebar. Dia langsung tersenyum lebar dan mencium pipi Lusi.
"Beneran kita mau ke Sea World bunda?" wajah Davin dengan bola mata yang bersinar terang. Dia menatap penuh harap pada Lusi, lalu melempar tatapannya pada Delano. Lusi tersenyum lembut dan mengusap kepala Davin.
"Ehm .... gimana ya?" Lusi mengetukkan telunjuknya di dagu seperti sedang berpikir. Sudut bibir Davin yang semula melengkung ke atas berubah turun melengkung ke atas.
"Bunda .... " Suara Davin terdengar mulai parau dan hampir menangis. Lusi lalu menarik perut Davin dan memeluk nya.
"Iya sayang, kita akan pergi ke sana. Jadi sekarang kalian harus mandi dulu. Panggil mbak nya untuk membantu kalian."
"Asik ... Davin sayang bunda." Davin memeluk Lusi erat. Devan pun ikut menghambur memeluk ibunya. Awalnya dia hanya bercanda mengenai Sea world. Tapi siapa sangka jika akhirnya bunda nya mau di ajak ke sana.
Devan dan Davin turun dari ranjang berlari menghambur ke arah Delano. Setelah mencium pipi ayahnya kedua bocah itu berlari ke kamarnya. Semalaman mereka merengek ingin tidur bersama kedua orang tuanya hingga akhirnya Diana terpaksa mengantar Devan dan Davin ke kediaman Syailendra.
.
.
.
Dia bergegas turun dan menemui tamunya yang pagi-pagi sudah bertamu ke rumahnya.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Frederick bersikap sesopan mungkin pada tamunya.
"Selamat pagi tuan. Kami mendapat laporan jika saudari Raihana adalah seorang pemakai narkoba. Kami mohon kerja sama anda untuk di lakukan penggeledahan tuan." Ujar tamu tersebut yang tak lain tak bukan adalah aparat kepolisian. Frederick menelan salivanya kasar namun bisa apa dirinya selain mengikuti proses hukum yang berlaku.
Sementara itu si tersangka masih asyik terlelap setelah semalam mabuk-mabukan di dalam kamarnya dan memakai obat-obatan terlarang. Ternyata video dan foto yang dikirim oleh Harlan sama sekali tak berefek kepadanya. Justru kebencian Raihana pada Lusi semakin besar.
Pintu diketuk berkali-kali namun tidak ada sahutan dari dalam. "Apa ada kunci cadangan?" tanya salah satu anggota polisi dengan sopan. Frederick meminta pelayan untuk mengambilkan kunci cadangan. Perasaan Frederick benar-benar cemas. Jantung nya berdegup kencang saat slot kunci mulai di putar. Frederick memejamkan mata saat pintu terbuka sepenuhnya. Bau alkohol begitu menyengat di kamar gadis itu, Polisi segera masuk menggeledah kamar Raihana. Di dekat beberapa botol yang tergeletak ada alat penghisap sabu beserta dua paket sabu yang satu sudah berkurang isinya dan polisi yakin itu karena Raihana saat ini memakainya.
"Maaf pak, karena barang bukti ada di tempat maka kami akan melakukan penangkapan atas saudari Raihana. Frederick mencoba membangunkan Raihana yang saat itu hanya memakai crop top dan hot pant. Polisi yang bertugas hanya menggelengkan kepalanya saat gadis itu justru mengumpat kasar tanpa membuka matanya.
__ADS_1
Salah satu polisi menghubungi rekan wanitanya agar bisa segera membawa tersangka. Frederick mer*emas rambutnya frustasi. Masalah di kantor saja belum sempat ia urus sekarang tambah masalah baru. Raihana kali ini benar-benar salah memilih lawan.
Harlan tersenyum puas saat mendengar laporan dari orangnya jika Raihana sudah di giring ke dalam mobil polisi. Setelah mendapatkan foto-foto penangkapan Raihana, Harlan kembali menjalankan misinya menyebar foto penangkapan anak Frederick itu. Sekali tepuk dua lalat mati. Harlan menyeringai saat wajah putus asa Frederick tertangkap jelas di foto yang dikirim oleh anak buahnya.
.
.
.
Lusi dan Delano sama sekali belum mengetahui ledakan kabar mengenai Raihana. Saat ini yang dirinya dan suami sedang menikmati masa-masa kebersamaan bersama kedua buah hatinya.
Mereka berempat tampak begitu bahagia, Devan dan Davin tak henti-hentinya terpukau melihat semua satwa laut yang ada di SEA world. Beberapa kali mereka berempat berfoto bersama. Senyum di keempat orang itu tampaknya sangat bahagia.
Setelah keluar dari tempat itu Lusi duduk di sebuah bangku di dekat pohon. Dia memijat kedua kakinya yang terasa sakit. Delano datang membawa sebotol air mineral untuk Lusi. Senyum Lusi mengembang mendapat perhatian-perhatian kecil seperti ini.
Lusi terperangah saat Delano justru berjongkok dan melepas sepatunya. Pria itu bahkan tak malu memijat telapak kaki Lusi.
"Jangan mas ... !" Lusi menyentuh lengan Delano namun pria itu justru mengecup punggung tangan Lusi itu.
"Tidak apa-apa. Aku senang melakukannya." Perlahan pegangan tangan Lusi mengendur. Dia memilih membiarkan suaminya berbuat apapun yang ia mau. Devan dan Davin menatap takjub perlakuan sang ayah pada bunda nya. Mereka ikut bahagia melihat kedua orang tuanya saling menyayangi.
"Devan, nanti kalo besar aku ingin seperti ayah" ucap Davin penuh semangat. Ia menjilati es krim nya namun tetap menatap kedua orang tuanya.
"Seperti ayah?" beo Devan tak paham.
"Iya, aku mau jadi seperti ayah yang selalu bikin bunda senang."
"Aku juga, aku akan selalu buat bunda bahagia." sahut Devan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
**Kalo sekarang aku up nya malem-malem mohon maaf ya. Dunia nyataku tak seindah dunia halu yang aku ciptakan seperti di novel ini.
Vote, like dan komen ya**.
__ADS_1