
*******
Delano mengusap wajahnya kasar. Dia menghubungi Selly untuk menanyakan agendanya hari ini beruntung tidak ada agenda penting hari ini. Sehingga dia bisa pulang lebih awal.
Dia butuh Lusi saat ini untuk meredam keresahan di hatinya. Setelah pertemuannya dengan Jeff muncul rasa bersalah dalam dirinya karena menutupi keberadaan Florencia. Apa beda dirinya dengan Jeff jika begini?
Delano segera pulang ke mansionnya karena dia belum tahu sama sekali tentang kabar kematian Jaka. Wajahnya sudah kembali normal tidak kusut seperti tadi saat di kantor. Di dalam mobil Delano sudah membayangkan sambutan Lusi nanti saat tahu dirinya pulang lebih awal. Seulas senyum terbit di bibir Delano.
Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam lamanya Delano tiba di mansionnya. Dia memarkirkan mobilnya sembarangan. Dia bergegs masuk ke mansion tapi mansion begitu sepi. Delano berteriak mencari keberadaan istrinya.
"Apa kau melihat istriku?" tanya Delano pada salah satu pelayan di rumahnya.
"Nyonya muda pergi tuan, tadi sama den Devan dan den Davin."
"Kemana?" wajah Delano langsung masam, bahunya yang semula tegap langsung jatuh.
"Saya kurang tahu tuan, kalo nyonya besar ada di kamarnya. Tadi nyonya muda pamitnya sama nyonya besar." kata pelayan itu seraya menunduk.
Delano langsung melesak menuju kamar mamanya. Diana yang saat itu sedang membaca majalah fashion tersentak kaget saat melihat Delano langsung menerobos masuk ke kamarnya.
"Kamu kenapa sih Lano?" Diana menatap heran pada putranya.
"Mama tahu kemana istriku pergi?"
"Tentu saja mama tahu, Lusi kan memang pamit sama mama. Lagian kamu ga kerja memangnya?"
"Kerjaan aku udah selesai mah. Makanya aku pulang mau ketemu Lusi." terang Delano.
"Istri kamu kembali ke mansion Syailendra. Katanya ada kabar kalau Jaka, mantan bapak sambungnya Lusi meninggal ditusuk orang. Lusi langsung ke sana bawa si Devan dan Davin."
"Apa? kok bisa gitu sih mah?" tanya Delano terkejut.
"Ya mana mama tahu." jawab Diana tak acuh. Delano segera merogoh ponselnya dan menghubungi Lusi. Beruntung dering pertama langsung diangkat oleh sang istri.
__ADS_1
"Sayang, kamu pergi kok ga pamit aku?" tanya Delano.
"Maafkan aku ya mas, tadi aku beneran terkejut sama berita yang aku dengar makanya aku langsung ke rumah ayah."
"Trus sekarang gimana? aku nyusul ke sana ya?" Suara Delano terdengar merajut.
"Ya sudah, mas kesini saja, aku tungguin."
Setelah sambungan terputus aku bergegas menuju ke mansion Syailendra. Meskipun letak mansionnya terbilang jauh dari komplek mansion Delano namun tak membuat semangat Delano luntur.
Dia kembali melesak membelah jalanan ibukota yang padat. Butuh waktu satu jam lebih untuk bisa mencapai mansion Syailendra.
Delano tiba dan langsung masuk. Dia disambut oleh kepala pelayan di rumah itu. Delano dibawa ke taman belakang untuk menemui Lusi.
"Mas.... " Lusi tersenyum hangat ke arah Delano. Tangannya merentang menandakan dirinya ingin dipeluk. Tanpa ragu Delano langsung memasukkan Lusi ke dalam dekapannya.
Kedua insan itu berpelukan tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di sekitarnya. Lusi terlihat sangat nyaman berada dalam dekapan Delano.
Wajah Lusi memerah mengingat tadi dirinya sedang bersama Regan dan Lisa saat suaminya datang. Lusi menyembunyikan wajahnya di dada Delano.
"Udah lanjutin aja. Kita mau masuk duluan ya." Lisa menarik Regan seraya tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya.
Delano sesaat mengurai pelukannya. Dia membingkai wajah Lusi dengan menangkup kedua pipi Lusi yang mulai terlihat chubby.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku juga tidak tahu. Aku hanya di kabari ibu tadi. Makanya aku langsung kemari. Kata ibu, laki-laki itu mati karena ditusuk orang."
"Sshh... kamu ga boleh bilang begitu. Pakai frasa yang baik." tegur Delano, Lusi hanya mengerucutkan bibirnya masam.
"Sayang, kita tidak boleh menyimpan dendam pada orang yang sudah meninggal. buang rasa bencimu dan biarkan semua menjadi urusan Tuhan, Biarkan Tuhan yang menghukumnya atas semua perbuatannya. Kita sebagai yang masih hidup wajib memaafkannya," tutur Delano lembut, Lusi mengangguk dengan malas.
Memaafkan adalah kata yang mudah diucapkan namun sulit di terapkan. Mungkin lisan bisa dengan mudah berkata ya aku memaafkannya. Tapi yakin? hati tidak lagi menyimpan membenci? apalagi kesalahan yang di perbuat oleh orang tersebut terbilang fatal.
__ADS_1
Lusi hanya bisa mengiyakan apa yang Delano sampaikan. Dia kembali menyusupkan wajahnya di dada bidang Delano.
"Bunda sama ayah ngapain?" Devan tiba-tiba ikut menghambur memeluk tubuh Lusi. Davin juga berlari ikut menubruk tubuh saudara kembarnya.
"Bunda lagi manja, pengen dipeluk ayah." kata Delano seraya tersenyum melihat tingkah kedua putranya.
Angan Delano tiba-tiba melayang, bagaimana jika waktu itu Lusi tidak menemukan keberadaan Devan dan Davin? akankah saat ini dia dapat menatap senyum mereka seperti saat ini? sungguh Delano tidak dapat membayangkan jika pada waktu itu terjadi hal buruk pada mereka.
Setitik air mata lolos jatuh dari sudut mata Delano. Pria itu buru-buru mengusapnya, ia lalu menyematkan ciuman lembut di kening Lusi dalam.
"Terima kasih sayang, aku benar-benar beruntung bertemu denganmu." batin Delano.
"Ayah, bunda kita nginep di sini lagi?" tanya Davin, Lusi mengurai pelukannya begitupun Devan dan Davin. Lusi berganti memeluk putra bungsunya itu.
"Maunya gimana?" tanya Lusi dengan tetap menampilkan senyum yang lembut untuk putranya.
"Pulang ke mansion oma, kasihan oma di rumah ga ada temannya bunda. onty Claire selalu pergi."
"Jika itu yang kalian mau, oke. Ayo kita pulang." ujar Lusi, Delano mengangkat Devan sementara Davin menggandeng Lusi.
Kadang kebahagiaan hanya perlu di capai dengan kata cukup. Cukup kita bersyukur atas apa yang kita miliki pastilah kebahagiaan itu akan terasa. Seperti saat ini, Lusi benar-benar merasa kebahagiaannya telah lengkap. Ada Suami yang menyayangi dirinya, ada anak-anak yang selalu menjadi hiburan tersendiri untuknya. Dan ada orang tua yang selalu mendukung dan menemaninya, Lusi juga memiliki mertua, sepupu dan ipar yang semuanya peduli terhadapnya.
Semua terasa cukup bagi Lusi, apalagi kini orang yang membuatnya memiliki trauma mendalam telah pergi untuk selama-lamanya semakin lengkap sudah kebahagiaan Lusi.
Akhirnya Delano, Lusi dan kedua anak mereka pergi meninggalkan mansion Syailendra. Setelah berpamitan pada semua penghuni mansion Delano langsung melajukan mobilnya.
Lusi berharap kebahagiaannya akan bertahan selamanya, tapi yang namanya hari esok siapa yang akan tahu? akan seperti apa hari esok untuk nya?
Akankah kebahagiaan itu akan terus bertahan?
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
jangan lupa like komen dan Gift kalian ya guys
__ADS_1