Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 47. Apakah Harus?


__ADS_3

*********


Karisa duduk di sebuah klub malam. Pikirannya terlalu kacau, semua yang dia rencanakan tak berjalan dengan lancar. Dia minum wiski dengan resah berulang kali gadis itu menghembuskan nafasnya kasar.


Seorang pria mendekati dirinya dan menebar senyuman nya. "Halo nona, bolehkah aku bergabung denganmu?" Tanya pria itu.


"Tentu saja, siapa namamu tuan tampan?" tanya Karisa dengan suara setengah diseret karena dia telah banyak menenggak minuman beralkohol itu.


"Aku Aditya, nona. Jika boleh tahu siapa namamu?" jawab pria itu.


"Aku Karisa tuan, kau bisa memanggilku Risa." Ujar Risa menjabat tangan Aditya. Aditya segera duduk di samping Risa. Badan gadis itu tak lagi tegap. Tubuhnya mulai lesu bersandar di sofa.


"Apa kau mau aku antar pulang?" tanya Aditya melihat Karisa sepertinya sudah mabuk berat.


"Kenapa pulang? kau tidak ingin melewati malam ini denganku? kau pasti akan puas dengan servisku." Desis Karisa. Tentu saja pria hidung belang seperti Aditya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang terbuka di depan mata.


"Baiklah, aku ingin tahu sehebat apa dirimu." Kata Aditya. Kedua orang itu akhirnya pergi meninggalkan klub itu naik ke lantai atas dimana terdapat hotel.


.


.


.


Delano tersenyum melihat wajah Lusi yang memerah. Bahkan gadis itu membuang pandangannya kearah samping sangking malunya.


"Minggirlah, sepertinya kita lanjutkan lain kali saja." ucap Lusi dengan suara bergetar. Delano menatap taktak percaya.


"Hei mana bisa seperti itu." Protes Delano, dia meraih dagu Lusi dan kembali menyematkan ciuman di bibir Lusi. Ciuman yang lembut dan menghanyutkan, namun Lusi masih terlalu tegang untuk menikmati semua perlakuan Delano. Delano mengurai ciumannya dan mengusap bibir Lusi yang sedikit membengkak.


"Kenapa kau tidak membalas ciumanku?"


"Apakah harus ....?" tanya Lusi dengan wajah merah padam menahan malu.


"Tentu saja istriku, kau harus membalas ciumanku. Agar aku tahu jika kau juga menikmatinya." Lirih Delano. Sepertinya dia perlu banyak waktu untuk bisa membuat Lusi mengerang di bawah kendali nya.


Delano menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan keras.


"Apa kamu kecewa denganku?" tanya Lusi, ia menggigit bibir bawahnya menunggu jawaban Delano. Namun pria itu justru tersenyum lembut dan membelai wajah Lusi lalu berguling di samping Lusi.

__ADS_1


"Aku akan bersabar dan menunggu hingga kamu benar-benar bisa mengendalikan rasa takutmu." Ucap Delano.


"Padahal aku sudah menawari. Tapi jika kamu mau menunggu kesiapanku. Sepertinya butuh banyak waktu berbulan-bulan." Kata Lusi, tanpa sadar dia sedikit merasa kecewa dengan keputusan Delano padahal dia sudah mulai nyaman dan ingin menyerahkan diri sepenuhnya pada Delano.


"A... apa kamu yakin? karena jika aku sudah memulai aku tak akan pernah mundur lagi." ujar Delano terperangah mendengar ucapan Lusi. Lusi pun mengangguk.


Delano kembali bersemangat. Ia kembali menindih Lusi, gadis itu terkejut dan memekik lirih. Wajah Delano di hiasi senyum, dia langsung melu*mat bibir Lusi, kali ini Lusi dengan kaku membalas ciuman Delano, merasa mendapat balasan dari Lusi Delano semakin gencar bergerak liar. Tangannya bahkan sudah bergerilya membuka kancing baju Lusi. Gadis itu tampak kembali tegang, namun Delano membisikkan sesuatu pada Lusi hingga membuat tubuh Lusi berangsur-angsur kembali rileks. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Delano mengusap gundukan kenyal milik Lusi. Tangan Delano aktif me*rem*as dan mem*lin ujungnya hingga membuat Lusi mengerang.


Lusi mulai menikmati permainan Delano, meskipun masih sedikit canggung, apalagi tangan Delano mulai berada di salah satu bagian sensitif di tubuhnya. Delano menyusuri setiap lekuk tubuh Lusi dengan jil*tan yang memabukkan dan mampu menciptakan gelenyar yang membuat mahkota Lusi terasa berdenyut.


"Uhmm ... stop." Lusi berusaha menghentikan Delano yang sudah menunduk menghadap mahkota nya yang masih terbungkus kain segitiga berwarna hitam. Namun Delano seakan tuli, dia terus menarik turun kain penutup terakhir dan mulai mendorong wajahnya menghirup aroma mahkota Lusi, tanpa ragu lidahnya turut bermain liar membuat Lusi terus mende*sah. Lusi mencengkeram rambut Delano, tapi semua itu tak membuat Delano menghentikan aksinya namun justru bergerak semakin liar. Wajah Lusi merah padam saat tangan Delano juga mulai bergerak melucuti celananya, jantung Lusi berdebar kencang dia membuang pandangan ke arah samping dan menggigit bibir bawahnya.


"Hmm ... su-suamiku, kita lanjutkan be-besok saja."


Lirih Lusi dengan suara terbata-bata. Rasanya ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari mahkotanya. Tapi dia terlalu malu pada Delano karena pria itu masih betah menghi*sap dan men*ji*lati mahkotanya.


"Keluarkan sayang, jangan di tahan." Ucap Delano saat merasakan mahkota Lusi menegang. Tubuh Lusi bergetar, kakinya tegang menjepit kepala Delano dan Lusi pun akhirnya mendesah panjang menandakan dia mencapai titik puncaknya.


Seketika tubuh Lusi terasa lemas. Sedang Delano mengusap bibirnya dengan punggung tangannya lalu menyeringai ke arah Lusi. Gadis itu berpaling dengan mengulum bibirnya karena malu. Delano merangkak naik, pusakanya sudah bersiap menghujam mahkota Lusi.


"Sekarang giliran my little brother yang bekerja. Ini akan sedikit sakit, tahanlah!"


Lusi hanya meringis nyeri saat 3 kali percobaan Delano selalu meleset. Namun yang keempat kalinya ujung pusaka Delano melesak masuk membelah jalannya. Lusi memekik, wajahnya merah padam menahan sakit.


Delano berhenti sejenak memberi jeda Lusi agar menarik nafas dengan teratur. Delano mengusap peluh di kening Lusi lalu mengecupnya. Setelah merasa istrinya cukup tenang Delano mulai menggerakkan tubuhnya memacu Lusi dengan lembut.


Ruangan yang semulai terasa dingin kembali memanas. Suara erangan dan desa*han Lusi dan Delano seiring bergantian saat puncak pelepasan mereka terjadi. Tubuh Delano ambruk di samping tubuh Lusi. Keduanya masih sama-sama terengah-engah mengatur nafas mereka.


Lusi tersenyum tipis hampir tak nampak. Dirinya telah berhasil lepas dari trauma yang bertahun-tahun menjadi mimpi buruk nya. Semua berkat ketulusan dan kelembutan Delano. Apalagi saat tadi dirinya sempat meragu, Delano dengan lembut nya meyakinkan dirinya bahwa Delano tidak akan membiarkan pria manapun menyentuh dirinya.


Delano bergerak meraih tubuh Lusi dan mengungkungnya dalam pelukannya.


"Terimakasih istriku .... "


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kamu mau bersabar menunggu kesiapanku." Lirih Lusi dengan wajah yang memerah malu.


"Itu memang sudah tugasku, toh aku hanya menunggu selama 2 hari bukan 2 minggu, atau bulan atau tahun. Jelas aku kuat." Desis Delano seraya menahan tawanya saat Lusi memukul dadanya perlahan.


"Aku mencintaimu Lusi ... kau istriku yang berharga." Batin Delano.

__ADS_1


Keduanya terlelap dalam keadaan polos. Namun beberapa jam kemudian Delano sudah kembali on dan memacu tubuh Lusi hingga pagi menjelang.


"Sudah hentikan aku lelah, ini sangat sakit, perih." protes Lusi lemas, kakinya bahkan terasa gemetaran.


"Maafkan aku sayang, kamu terlalu indah untuk di lewatkan." Ucap Delano. ---- "Ayo aku bantu membersihkan dirimu. Setelah kita mengantar Devan dan Davin, kamu bisa kembali tidur."


Lusi hanya pasrah dia benar-benar tidak sanggup untuk berjalan. Bahkan untuk berdiri pun dia tak yakin sanggup.


Namun yang terjadi di dalam kamar mandi semakin menguras tenaga Lusi karena Delano kembali menyerangnya tanpa ampun entah pria itu mendapatkan stamina dari mana. Tenaganya seperti selalu penuh bahkan tak berkurang sedikitpun.


Lusi tergeletak di atas tempat tidur sementara Delano pergi ke kamar si kembar.


"Lano mana Lusi?" tanya Diana heran, melihat Delano sendirian dengan pakaian santai.


Delano menggaruk tengkuknya dengan wajah canggung dia pun mengatakan jika Lusi tertidur karena kelelahan.


Diana tertawa, ia turut senang karena menantunya tidak lagi takut di sentuh oleh putranya.


"Ya sudah, kamu temani istrimu. Mama dan Claire yang akan antar Devan dan Davin."


Delano tersenyum lalu mengecup kening ibunya.


"Terimakasih mama .... "


Sebelum kembali ke kamar untuk menemani Lusi, Delano masuk ke ruang kerjanya dan menghubungi Regan.


"Iya tuan?"


"Apa rapat hari ini jadi di laksanakan?"


"Iya tuan, apa tuan tidak mau menghadirinya?" tanya Regan. Karena ini kali pertama Delano tidak ke kantor dalam kurun waktu yang cukup lama.


"Aku akan ikut mengawasi jalannya meeting dari laptop sambungkan saja jika sudah mulai." Ucap Delano.


"Baik tuan .... "


Delano mematikan sambungan teleponnya. Ia lantas menghubungi Suryo menanyakan perkembangan pencarian Jaka.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Hehehhe kemarin othor bukan ngeprank kalian. Niatnya sih mau doble up. cuma ternyata dari sore sampai malem Noveltoon di hapeku sistemnya eror. Tiap mau ngetik ga bisa. kembali ke menu terus. Sampai othor hapus aplikasi download lagi tapi tetap sama saja hasilnya.


berhubung di sini mendung aku kasih yang sedikit panas. Jangan lupa like komen dan Vote kalian, kasih kopi, kasi bunga juga boleh asal sekebon 😂😂


__ADS_2