Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
Bab 80. Dia Pingsan


__ADS_3

*******


Lusi meminta supir taksi yang ditumpanginya untuk lebih cepat. Sementara ia terus menggenggam ponselnya. Tak lama ponsel milik Lusi berdering dan ternyata yang menghubunginya adalah Regan.


"Halo Regan .... "


"Kamu dimana? kembali sekarang juga atau suamimu bisa menghancurkan gedung kantornya karena marah."


"Aku sedang dalam perjalanan ke apartemen Sean. Lisa diculik Sean, Regan?"


"Om Harlan dan orangnya sudah ada di sana bersama pihak kepolisian. Jadi sekarang juga, lebih baik kamu kembali ke Zenon. Biar masalah Lisa aku yang urus." Suara Regan terdengar dingin.


Meskipun dalam keadaan panik. Lusi langsung meminta supir taksi berbalik arah.


Regan langsung mengendarai motor sport menuju apartemen milik Sean. Tak butuh waktu lama, Regan kini sudah bergabung dengan Harlan dan beberapa anggota polisi yang telah tiba terlebih dahulu. Dengan bantuan polisi akhirnya pihak manager apartemen Sean mau turun tangan dan membantu.


Dengan keycard cadangan dengan mudah pihak apartemen bisa membuka akses pintu apartemen Sean. Dengan perasaan berdebar, dan kemarahan yang sudah menyelimuti pikiran dan hatinya, Regan langsung menerobos masuk begitu pintu terbuka.


Namun suasana begitu hening. Semua menyebar termasuk beberapa anggota polisi dan salah satunya mengikuti kemana Regan berjalan.


Hanya ada dua kamar pribadi, Regan mendobrak pintu yang ada di samping kirinya dan menerobos masuk. Matanya mengedar dengan seksama. Regan bahkan setengah berlari membuka setiap pintu almari. Sedangkan polisi yang tadi membuntuti Regan membuka pintu yang ia yakini adalah pintu kamar mandi. Saat pintu kamar mandi terbuka, dia langsung berteriak hingga mengalihkan perhatian semua orang termasuk yang ada di ruangan sebelahnya. Dengan jantung yang berdetak tak beraturan Regan berjalan mendekat. Kakinya terasa lemas saat ia melihat tubuh Lisa terikat dengan mulut tersumpal kain. Regan setengah berlari menghampiri polisi yang terlebih dulu memeriksa kondisi Lisa. Dia langsung merengkuh tubuh Lisa dan memeluknya erat.


"Lisa ... Lisa, bangunlah!" Regan menepuk-nepuk pipi Lisa dengan lembut. Polisi yang lain mencoba mencari keberadaan Sean namun nihil. Hanya pintu balkon yang terbuka lebar namun tidak ada Sean di sana.


Regan meminta kunci mobil Harlan dan mengangkat tubuh Lisa. Setelah itu ia membawa tubuh lemah Lisa turun menggunakan lift diikuti dua orang anak buah Harlan. Sedangkan Harlan tinggal untuk memberi keterangan pada polisi dan membuat laporan atas apa yang terjadi pada calon nyonya muda di keluarga Syailendra.


Mobil melaju tanpa hambatan karena ada salah satu petugas yang membawa motor patroli sehingga bisa mengawal laju mobil hingga sampai rumah sakit.


Wajah Regan terlihat sangat cemas, Ponselnya berdering berulang dan dia melihat nama pemanggilnya. Dia baru ingat dengan sepupunya yang pasti juga sangat mengkhawatirkan kondisi Lisa.


"Bagaimana Regan? apa kamu menemukan Lisa." tanya Lusi.


"Ya, saat ini aku masih di rumah sakit. Dia pingsan."


"Tolong jaga Lisa, nanti setelah rapat suamiku selesai aku akan menyusul."


"Tidak perlu kamu ingatkan, aku akan menjaganya. Dia adalah calon istriku." Suara Regan terdengar lemah. Setelah meyakinkan Lusi bahwa kondisi Lisa baik-baik saja Regan mematikan ponselnya.


Seorang dokter keluar dari bilik pemeriksaan dimana Lisa terbaring. Regan segera menghampirinya.


"Bagaimana kondisinya dokter?"

__ADS_1


"Pasien mengalami syok. Tadi pasien sudah sadar tapi kami memberinya obat penenang karena dia mengalami tremor berlebihan. Nanti kami akan melakukan observasi dan sebaiknya pasien dirawat inap."


"Lakukan apapun yang penting dia segera pulih seperti semula" sahut Regan.


1 jam sebelumn Lisa ditemukan.


Lusi langsung kembali ke ruangan Delano begitu tiba di perusahaan milik suaminya. Saat itu Delano sudah memundurkan jadwal meeting 1 jam karena ada kejadian itu. Dia menunggu dengan resah kedatangan istrinya. Saat Lusi membuka pintu, Delano langsung memeluknya dengan erat.


"Apa aku harus mengikatmu dengan tali agar kamu tidak bisa pergi seenaknya saja?" tanya Delano dengan suara berat. Sungguh dia benar-benar takut jika tragedi Karina terulang lagi pada Lusi. "Jangan pernah pergi tanpa memberitahuku. Aku bisa tiada jika sesuatu yang buruk menimpamu." Entah mengapa ucapan Delano bagaikan oase di tengah dahaga bagi Lusi. Lusi menyandarkan kepalanya di belahan dada Delano.


"Maafkan aku suamiku." Lirih Lusi. Delano memejamkan matanya. Ketakutannya perlahan sirna berubah menjadi ketenangan. Pelukan Delano semakin erat hingga membuat Lusi kesulitan bernafas.


"Ehm ... jangan terlalu erat. Aku tidak bisa bernafas."


Delano akhirnya melepas pelukannya dan membingkai wajah Lusi dengan kedua tangannya.


"Jangan pernah mengulanginya lagi. Jika ada apa-apa kamu harus selalu mengabariku. Aku sungguh tidak bisa kehilangan kamu."


"Mas, nanti kalo aku diabetes bagaimana?"


Alis Delano mengernyit. "Kok bisa?"


"Habisnya mas terlalu manis" ucap Lusi seraya tersenyum simpul.


"Mas, aku khawatir sama Lisa."


"Regan sudah berangkat mencari Lisa. Kamu yang tenang ya. Semuanya akan baik-baik saja. Mas rapat dulu, kamu jangan kemana-mana. Telepon saja Regan jika ingin tahu perkembangan masalah Lisa." Tegas Delano. Lusi mengangguk patuh. Tak lama Gisel dan Sally masuk ke ruangan Delano menemani Lusi dengan membawa banyak makanan.


Saat bersama Gisel dan Sally, Lusi lebih banyak melamun memikirkan nasib Lisa. Karena tak sabar menunggu Lusi berulang kali menghubungi Regan namun tak satu pun panggilannya diterima oleh sepupunya.


Hingga akhirnya dia memutuskan menghubunginya sekali lagi dan akhirnya tersambung. Lusi lega saat suara sepupunya terdengar.


Setelah bertanya mengenai kondisi sahabatnya, Lusi merasa tenang karena setidaknya saat ini ada yang menjaga Lisa.


.


.


.


Delano mengajak pulang Lusi setelah rapatnya selesai. Lusi sebenarnya ingin menjenguk Lisa tapi Regan melarangnya dengan berbagai alasan. Tanpa menaruh rasa curiga Lusi pun akhirnya mengurungkan niatnya dan justru mengajak Delano pergi ke mall untuk menonton bioskop.

__ADS_1


Delano tersenyum tipis saat melihat Lusi kembali bersemangat. Dia pun menuruti keinginan Lusi. Di saat dia memarkirkan mobilnya dia melihat ibunya dan Claire membawa Devan dan Davin. Sepertinya mereka juga baru saja tiba. Senyum Delano semakin lebar, Lusi ikut menoleh kearah tatapan Delano. Namun dia tidak melihat apapun karena baik Diana, Claire dan kedua putranya sudah masuk ke dalam mall.


"Mas, jangan bikin merinding deh." Tegur Lusi karena Delano masih menyimpan senyumnya.


"Kenapa memangnya, sayang? senyum 'kan ibadah" ucap Delano.


"Ibadah sih ibadah mas, tapi kalo tanpa sebab aku malah jadi ngeri." Lusi menjauhkan tubuhnya dan merapatkan pada pintu mobil. Delano malah terkekeh melihat Lusi yang ketakutan.


"Aku itu senyum karena tadi melihat anak-anak sama mama dan Claire. Mereka sepertinya juga baru tiba."


"Kalo begitu kita susul mereka saja deh mas."


"Jangan dong, katanya mau nonton." Delano membukakan sabuk pengaman Lusi. Ia lantas turun dan membukakan pintu untuk sang istri. Keduanya berjalan bergandengan tangan memasuki area mall dan menuju lantai atas.


Saat berjalan melewati area food court Lusi melihat seorang anak sedang membawa gula-gula kapas. Entah mengapa Lusi sangat ingin mencicipinya. Lidahnya bahkan terjulur menyapu sudut bibirnya.


"Mas, kita beli permen kapas itu dulu yuk!" Delano menghentikan langkahnya dan menatap Lusi intens. Senyum Delano seketika merekah. Ia langsung menarik tangan Lusi lembut lalu membawanya hingga ke depan stand penjual permen kapas.


"Kamu mau yang apa?" tanya Delano.


"Yang bentuknya doraemon itu saja ya mas, lucu soalnya." Tunjuk Lusi, Delano mengangguk lalu membawa Lusi duduk di sebuah bangku.


"Tunggu sini sebentar. Aku akan belikan untukmu." kata Delano. Dia segera berbaur dengan antrian dari peminat permen kapas itu.


Lusi tampak sibuk berkirim pesan hingga tak sadar jika di depannya berdiri seorang wanita dengan pakaian yang begitu anggun dan mewah.


"Hai .... " sapa wanita itu. Lusi mendongak sebenar lalu kembali menunduk menatap layar ponselnya hingga membuat wanita itu geram.


"Hei, aku bicara padamu. Kamu tidak tuli 'kan?" ujar wanita itu dengan suara meninggi. Lusi kembali menatapnya. Senyum wanita itu mengembang sesaat.


"Aku tidak tuli. Aku hanya tidak mengenalmu." Jawab Lusi tak acuh.


"Kau istri Delano 'kan? aku Hana, tadi pagi kita sempat bertemu." Ujar Hana seraya mengulurkan tangannya.


Lusi menatap tangan itu datar lalu berujar. "Aku tahu kamu."


"Bisakah kita menjadi teman? setidaknya sebutkan siapa namamu." Kata Hana pura-pura bersikap lembut. Namun bukannya di sambut dengan baik oleh Lusi, Hana justru mendapat sambutan tak terduga dari Lusi.


"Maaf, saya tidak berteman dengan duri. Karena bisa jadi suatu saat duri itu akan menusuk dan melukai saya." Lusi beranjak dari bangkunya meninggalkan Hana yang kesal setengah mati mendapat perlakuan seperti itu dari Lusi.


"Dasar perempuan sial" desis Hana.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


hari ini satu ya guys.


__ADS_2