
********
Lusi dan Lisa telah selesai mendapat treatment seluruh tubuh. Namun bedanya Lusi masih harus mengikuti satu proses lagi yaitu Ratus untuk memaksimalkan performa kewanitaannya saat nanti malam pertama.
Lusi merasa semua itu tidak perlu di lakukan tapi dia hanya menurut saja dari pada harus berdebat dengan ibunya. Meskipun besok menikah tidak sekalipun tersirat kebahagiaan di wajah Lusi. Karena dia pun masih bingung mengartikan perasaannya. Selain dia merasa bahwa pernikahan ini terjadi karena Lusi tak ingin jauh dari anak-anaknya.
Malam pun tiba, Lusi dan Lisa tidur dalam kamar Lusi. Lusi memandangi langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang pada pernyataan cinta Delano tempo hari. Rasanya Lusi ingin mempercayainya tapi dia takut terluka. Lusi merasa dirinya pun mulai jatuh cinta pada Delano tapi dia benar-benar tidak berani berharap lebih pada hubungan ini nanti. Apa lagi dirinya juga memiliki trauma. Lusi takut tidak bisa benar-benar maksimal melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri.
"Belum tidur neng?" tanya Lisa, ia merasakan sahabatnya bergerak dengan gelisah.
"Ga bisa tidur Lis."
"Kenapa? kepikiran omongan kita tadi?"
"Iya, semua yang kamu sebutin tadi aku merasakannya. Tapi aku takut berharap lebih."
"Lusi, setiap orang berhak di cintai dan mencintai. Termasuk diri kamu sendiri. Kamu berhak di cintai."
"Aku takut itu bukan cinta, mungkin jika Delano memiliki perasaan padaku itu hanya sebatas bentuk rasa terimakasihnya padaku."
"Jangan su'udzon ... kamu harus yakin bahwa kamu pun layak di cintai dan di hargai. Lupakan semua kenangan burukmu. Saatnya membuat kenangan yang indah dan tak terlupakan dalam hidupmu." ujar Lisa panjang lebar dengan mata terpejam.
"Hmm ... kamu benar Lis." Lisa tersenyum miring mendengar jawaban Lusi.
"Kamu enak Lus, kamu lebih beruntung. Sedangkan aku? aku masih harus berjuang, aku dan Sean sepertinya tidak akan berjodoh."
"Kenapa begitu? Apa kamu dan Sean ada masalah?" Lusi memiringkan badannya menghadap Lisa. Lisa membuka matanya. Setitik air mata mengalir begitu saja. Lusi tau kisah cinta sahabatnya memang tak semulus jalan tol. Tapi dia tak tahu jika permasalahan yang sedang dihadapi oleh Lisa begitu berat.
__ADS_1
"Aku memilih menyerah dengan hubungan kami, " ucap Lisa parau.
"Kenapa? bukannya kalian baik-baik saja?"
"Ya awalnya begitu. Tapi setelah sekian lama Sean memperkenalkan aku pada ibunya, kamu tahu bukan? jika Sean berasal dari keluarga terpandang. Ibunya seakan tak menginginkan mantu sepertiku. Tapi ibunya selalu memiliki sikap berbeda jika di depan Sean. Dia seakan-akan menerimaku dengan baik. Apa menurutmu aku mau hidup dalam kepura-puraan Lusi? Kau sangat beruntung di kelilingi orang-orang yang begitu peduli terhadapmu dengan begitu tulus. Jangan berpikiran macam-macam lagi dan lekas tidur aku mengantuk." Ucap Lisa.
Lisa tak ingin di hari bahagia sahabatnya dia justru membagi kisah pilu hidupnya. Cukup hanya dia yang merasakan pahitnya percintaan. Dia sangat berharap sahabatnya bisa menemukan kebahagiaannya.
Di tempat lain Delano pun sama tak bisa memejamkan mata. Namun bukan karena nervous menghadapi hari esok. Tapi karena ucapan omnya Dimitri yang mengatakan jika ternyata Lusi adalah gadis yang di sukai oleh Raffi anak Dimitri.
Bagaimana bisa? apa mungkin Raffi yang kemarin di maksud oleh karyawan Lusi adalah Raffi sepupunya.
Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah perkara hati. Ditambah lagi dirinya sangat menginginkan Lusi. Kali ini dia tidak akan mengalah meskipun itu terhadap sepupunya sendiri.
Delano mencoba memejamkan matanya karena besok dia tak mau terlihat kusut di hadapan Lusi dan keluarganya.
Keesokan harinya Lusi menatap dirinya di depan cermin. Rasanya ia tak menyangka akan tiba dimana dia akan menikah. Padahal pasca kejadian buruk yang menimpa nya Lusi benar-benar menutup diri dan berjanji tidak akan menikah. Namun sekarang dirinya ingkar. Semoga saja pilihannya benar.
Lisa sesekali menatap Lusi. Sungguh saat ini sahabatnya terlihat sangat cantik. Lisa tersenyum getir. Dia yang lama berpacaran tapi justru Lusi yang menikah.
"Kamu cantik Lusi."
"Terima kasih Lisa. Kamu juga cantik."
Mitha masuk ke ruang rias Lusi. Senyuman hangat menghiasi wajahnya yang mulai menua.
"Kamu cantik sekali Lusi. Ibu tidak menyangka akan tibanya hari ini. Ibu sangat bahagia kamu mau membuka dirimu."
__ADS_1
"Iya ibu, doakan Lusi ya bu. Semoga Lusi bisa menjalankan tugas Lusi sebagai istri dan ibu yang baik untuk pasangan Lusi dan anak-anak Lusi."
"Tentu sayang, di mana pun kamu berada ibu akan selalu doakan Lusi."
Saat suasana begitu haru, Di layar LCD tampak Delano duduk di depan penghulu dan juga Suryo. Dengan satu tarikan nafas pria itu lantang mengucapkan ijab qabul dengan lancar tanpa perlu mengulang. Setelah semua mengucap Sah, Devan dan Davin langsung menghambur memeluk Delano.
"Ayah ... ye akhirnya kita punya ayah." Ujar anak-anak itu dengan riang. Lusi pun turut merasakan terharu melihat kebahagiaan kedua putranya.
"Ayo sekarang kamu keluar." Mitha menggandeng tangan putrinya, Lisa pun berada di samping Lusi dan mengapit mempelai wanita itu.
Lusi berjalan dengan lambat. Hatinya sangat berdebar-debar apalagi mereka sudah hampir tiba di tempat prosesi ijab di laksanakan.
Lisa tahu sahabatnya gemetaran. Dia mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Lusi.
"Jangan pingsan woy .... " Lusi seketika menyikut perut sahabatnya itu. Lisa terkekeh. Namun sedetik kemudian senyum Lisa hilang saat ia melihat salah satu tamu undangan.
Lusi duduk di samping Delano. Setelah menandatangani surat nikah mereka. Ini saatnya mereka bertukar cincin. Lusi memasangkan cincin di jari manis Delano begitu juga sebaliknya. Tiba lah waktu dimana Lusi harus mencium tangan Delano. Lusi terlihat sekali sangat gugup. Delano mengulum senyumnya. Dengan tubuh sedikit condong dia berbisik pada Lusi.
"Rileks Lusi .... " Lusi pun mengangkat wajahnya, Wajah Delano di hiasi senyum hangat. Lusi pun akhirnya mengecup tangan Delano sekilas.
Kini giliran Delano harus mencium kening Lusi. Dengan perasaan yang berdebar Lusi memejamkan matanya. Delano melabuhkan ciumannya di kening Lusi.
"Jangan pingsan ya .... " bisik Delano. Lusi berdecak kesal. Lagi-lagi kelemahannya jadi bahan olokan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ada karya baru juga dari temen aku judulnya Aku, madu sahabatku karya Kak **Ruth89
__ADS_1
Dukung karyanya ya biar bisa menang lomba berbagi cinta**