Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 46. Aku Malu


__ADS_3

********


Flashback


"Ku mohon jangan ambil anak-anakku Jeff. Kembalikan mereka." pinta Karina dengan air mata berderai.


Jeff tidak menggubris ucapan Karina langsung membawa kedua anak itu atas perintah Karisa. Jeff meninggalkan Karina yang terus memohon. Ia langsung membawa kedua putra Delano masuk kedalam mobil dan memacunya dengan kecepatan tinggi.


Dengan sisa tenaga yang Karina punya dia menyusul Jeff memakai mobil yang tadi ia kendarai. Namun sayangnya karena kondisinya yang masih lemah dia pingsan di saat mobil masih melaju kencang. Mobil yang di kendarai Karina akhirnya menabrak pembatas jalan dan terguling.


Jeff menghentikan mobilnya dia menatap dari spion dimana mobil Karina saat ini dalam posisi terbalik. Mata Jeff langsung berair menyaksikan semua kejadian itu. Namun jika dia berhenti dan menolong Karina bisa di pastikan dia akan berurusan dengan polisi. Jeff memilih meninggalkan wanita yang pernah dia cintai dengan segenap hati dan jiwanya.


"Maafkan aku Karina." Desis Jeff. Jeff kembali menjalankan mobilnya dia sempat mampir ke supermarket membeli diapers dan juga beberapa potong baju untuk kedua bayi tersebut. Selama dalam perjalanan Jeff berpikir akan dia apakan kedua bocah itu? tidak mungkin dia membawanya pulang seperti keinginan Karisa, bisa-bisa Karisa akan membunuh bayi-bayi itu.


Meskipun di hati Jeffrey masih tersimpan dendam tapi dia masih memiliki nurani terhadap dua makhluk tak berdosa itu. Tak lama ponsel Jeff berdering dan itu panggilan dari Karisa.


"Apa kau sudah membawa bayi-bayi itu?" tanya Karisa begitu ponsel tersambung.


"Aku sudah membawanya. Tapi aku akan melenyapkannya sendiri." Ujar Jeffrey.


"Saudariku, apa kau yang membuatnya mati? mayatnya baru saja ditemukan. Mobilnya terguling dan saat ini aku sedang di kediaman Delano."


"Tidak, mungkin tadi dia berniat mengejarku. Aku tidak tahu. Aku tutup teleponnya." Jeff buru-buru mematikan teleponnya. Mata pria itu memerah, dia menunduk meletakkan kepalanya di atas stir mobil.


"Maafkan aku Karina, maaf." Lirih Jeff penuh penyesalan.


Kedua bayi Karina tiba-tiba menangis seakan dapat merasakan jika ibu mereka telah tiada.


Jeff semakin frustasi saat bayi-bayi itu terus saja menangis dan suaranya semakin kencang. Jeff mengambil kardus yang sempat ia minta pada kasir swalayan. Tanpa pikir panjang Jeff meletakkan kedua bayi-bayi itu dalam kardus, dia mengeluarkan sebuah amplop coklat berisi uang 50 juta dan meletakkannya di dalam kardus bersama bayi-bayi itu dan perlengkapannya di dekat semak-semak.


Sesaat Jeff menatap ke dua bayi tersebut.


"Semoga ada orang baik yang menemukan kalian."


Flashback off


Jeff mengusap matanya kasar. Semua ingatan masa lalunya kembali berputar di otak Jeffrey saat Karisa menghubungi dirinya dan mengungkit semua kesalahannya.


"Si*alan ... dasar jalan* aku benar-benar membencimu Karisa." Desis Jeffrey.

__ADS_1


Di saat Jeff masih dalam renungan nya, dua tangan kecil melingkar di dada pria itu.


"Ada apa denganmu sayang?" tanya Florencia seraya menyandarkan kepalanya di punggung Jeff.


"Aku hanya sedang mengingat kesalahan di masa laluku. Aku telah menghancurkan persahabatanku dengan Lano."


"Kau bisa memperbaikinya."


"Aku tidak yakin apakah dia memaafkan kesalahanku dulu atau tidak."


"Kau bahkan belum mencobanya Jeff. Apa kau mau aku temani bertemu Lano?" tanya Florencia. Jeff mengangguk. Sepertinya dia sendiri yang harus mengurai tabir misteri segala akar permasalahan yang dirinya hadapi dan juga Delano.


.


.


.


Lusi dan Delano tiba di mansion milik keluarga Wibisana.


"Selamat datang menantuku yang cantik." Sambut Diana dengan wajah berseri. Diana langsung memeluk tubuh Lusi.


"Apa kalian sudah lama menunggu kami?" tanya lusi dengan tak enak hati.


"Jangan kau pikirkan, kami sejak tadi bermain dengan Devan dan Davin, tapi kini kedua anakmu baru saja tidur." Tutur Diana setelah pelukan mereka terurai.


"Terimakasih sudah menjaga mereka mah."


"Mereka sekarang cucu-cucuku. Sudah sepantasnya aku turut mengambil peran."


Delano membawa Lusi masuk ke dalam kamarnya. mendadak suasana terasa canggung bagi Lusi. Meskipun dirinya sudah resmi menyandang gelar sebagai nyonya Delano Wibisana.


"Apa kau mau istirahat sekarang? Delano mendekat, dan mendekap Lusi. Jantung Lusi mulai berdebar tak karuan. Delano dapat merasakan detak jantung gadis itu yang mulai berpacu cepat.


"Apa begini membuatmu takut?" bisik Delano. Lusi menggeleng. Dia justru memutar badannya menghadap Delano dan membalas pelukan pria tersebut.


"Aku tidak akan takut lagi." Ujar Lusi tangan gadis itu masih sedikit gemetaran saat membalas pelukan pria itu.


"Apa itu artinya .... " Delano tak melanjutkan ucapannya karena Lusi sudah lebih dulu mengangguk.

__ADS_1


Delano langsung mengunci pintu dan mengangkat tubuh Lusi. gadis itu memekik lirih dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Delano.


Delano membaringkan Lusi di atas ranjangnya. Matanya memindai seluruh bagian tubuh Lusi dari atas hingga bawah.


"Jangan menatapku seperti itu." Ujar Lusi, wajah cantiknya mulai bersemu merah.


"Kamu cantik sekali istriku .... " Delano membelai wajah Lusi dengan lembut. Lusi tersipu malu, baru kali ini dirinya mendapat pujian seperti itu dari laki-laki. Perlahan Delano mendekatkan wajahnya pada Lusi. Ciuman lembut mendarat di kening Lusi, dan disusul ciuman di kedua mata Lusi yang terpejam, hidung, pipi dan yang terakhir bibir Delano mendarat di bibir Lusi. Setiap selesai mengecup Delano mengatakan kata pujian dan cinta untuk Lusi.


"Open your eyes .... " Lirih Delano, Lusi perlahan membuka matanya. Senyuman yang begitu menenangkan dari Delano membuat Lusi terbuai. Lusi mengangkat tangannya dan membelai alis Delano, hidung dan juga bibir.


"Terimakasih sudah hadir di hidupku." Lirih Lusi, suaranya bergetar dan parau.


"Aku yang seharusnya bilang seperti itu. Terimakasih kau sudah merawat anak-anakku dengan baik. Terimakasih kau sudah mau menjadi ibu untuk mereka." Ucap Delano tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Lusi.


"Bolehkah aku memulainya?" tanya Delano. Lusi tersipu dan mengangguk.


Delano segera melu*mat bibir Lusi dengan lembut. Dia ingin memberikan pengalaman yang tak terlupakan dan tanpa menggunakan nafsu hanya cinta.


Tubuh Lusi terasa kaku. Seketika matanya terpejam erat, Delano menghentikan aksinya dan membelai wajah Lusi.


"Buka matamu Lusi." Lusi perlahan membuka kelopak matanya, menatap suaminya kembali, namun Lusi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Jangan menatapku begitu. Aku malu .... " Delano terkekeh melihat tingkah menggemaskan Lusi.


"Bagaimana aku bisa mengalihkan pandanganku dari bidadari secantik dirimu?" Lusi memukul dada Delano pelan.


"Jangan menggombal."


"Aku senang kau sudah mulai terbiasa denganku Lusi."


"Hmm ... aku juga senang. Ini tidak buruk." kata Lusi. Delano tersenyum mendengar ucapan Lusi.


"Jika begitu menurutmu ijinkan aku melanjutkan yang tadi."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Nungguin yah, dua hari ini sibuk banget tapi hari ini othor usahakan untuk double up.


jangan lupa dukungan kalian, like koment dan vote.

__ADS_1


__ADS_2