Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 99. Sudah Menikah?


__ADS_3

********


Sean merasa lega mamanya sudah melewati masa kritis. Namun dia masih belum bisa meninggalkannya karena sampai sekarang mamanya belum juga sadarkan diri.


Sean sudah mencoba menghubungi Lisa lewat telepon tapi nomor Lisa tidak aktif. Pikiran Sean sungguh sangat kacau. Terlebih papanya terus mendesak agar Sean segera menyelesaikan masalahnya sementara dia tidak mungkin meninggalkan ibunya seorang diri.


"Sean .... " Jesika masuk ke ruang perawatan Chandra. Sean menoleh sebentar lalu kembali mengalihkan pandangannya.


"Kau datang?"


"Ya, paman memintaku untuk menjaga tante Chandra. Beliau memintamu untuk segera menyelesaikan masalahmu dengan gadis itu. Kalau perlu kau beri gadis itu uang agar dia mau menarik videonya atau dia mau mengklarifikasi jika dia yang terlebih dulu menggodamu." Sean langsung menatap Jesika tajam.


"Apa kau pikir Lisa adalah wanita gila harta?" ucap Sean dingin. Ada perasaan tak Terima gadis pujaan hatinya dihina seperti itu.


"Jika tidak, untuk apa dia menyebar video itu? atau dia ingin kamu bertanggung jawab atas dirinya?" tanya Jesika kesal, kalau saja bukan karena kekayaan orangtua Sean yang melebihi kekayaan keluarganya Jesika juga tidak akan mau menerima perjodohan ini. Apalagi dirinya sudah memiliki pacar. Dia terpaksa berpura-pura baik demi bisa menjadi menantu di keluarga ini.


"Tolong jaga mama, aku akan selesaikan masalahku." Kata Sean, lalu berjalan meninggalkan ruang perawatan mamanya.


Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam Sean tiba di rumah Lisa. Namun rumah itu sepi dan gelap hanya lampu di halaman depan yang menyala.


"Kenapa sepi sekali?" gumam Sean. Namun tak lama dia melihat seorang pria paruh baya masuk ke halaman rumah Lisa.


"Maaf Pak, yang ngontrak di sini orangnya kemana ya?"


"Oh, neng Lisa sama ibunya?" tanya pria itu. Pria dengan perut tambun dan tinggi badan sedang itu, tersenyum melihat Sean.


"Iya Pak, saya cari mereka."


"Mereka sudah tidak tinggal di sini mas, Baru kemarin kunci rumah dibalikin ke saya."


"Maksud bapak? mereka pindah?" tanya Sean terkejut.


"Sepertinya sih iya mas, soalnya Tio kakaknya neng Lisa katanya mau terapi di luar negeri. Jadi mereka semua pindah." tutur bapak pemilik kontrakan tersebut. Ternyata tujuannya datang adalah untuk memasang tulisan di kontrak kan.


"Kira-kira bapak tahu mereka pindah kemana?"

__ADS_1


"Wah, kalo itu saya ga ngerti mas. Kata bu Yuyun teh neng Lisa mau di boyong suaminya. Makanya bu Yuyun ikut si Tio."


DUAR!!


Seketika hati Sean bergemuruh mendengar perkataan pemilik kontrakan itu. Suami? seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya. Sean merasa udara di sekitarnya lenyap. Pemilik kontrakan langsung bergerak cepat memegangi bahu Sean yang hendak jatuh.


"Eh .. eh mas, mas ga apa-apa?" wajah pemilik kontrakan itu terlihat iba melihat Sean. Pemilik kontrakan itu memapah tubuh Sean untuk duduk di beranda rumah kontrakannya.


"Memang masnya ini siapanya neng Lisa?"


"Sa-saya pacar Lisa pak." Lirih Sean.


"We... lha dalah. Gadis jaman sekarang kok ya serakah. Anak bapak saja satu ga laku-laku. Ini malah neng Lisa udah kaya ban mobil aja pake serep." Bapak pemilik kontrakan itu geleng-geleng kepala.


"Lisa kapan menikah nya pak?"


"Wah bapak ga tau mas. Sudah seminggu ini bapak sudah ga pernah lihat neng Lisa pulang. Ini saja sebagian barang-barang keluarga neng Lisa masih di dalam. Katanya besok akan ada orang suruhan suami neng Lisa buat memindahkannya ke rumah neng Lusi."


"Kalo begitu terima kasih pak." Sean berdiri, rasanya kini dia tak hanya patah hati. Tetapi juga hancur. Selain dia kehilangan Lisa, reputasinya sudah jatuh karena video itu. Pihak rumah sakit memberinya surat pemberhentian. Meskipun sebenarnya Sean bisa saja bekerja di rumah sakit milik ayahnya tapi dia memilih mencari tempat kerja sendiri tanpa campur tangan orang tuanya.


Sean berjalan dengan gontai, pikirannya sedang tidak berada di tempatnya. Sean masuk kedalam mobil dan menangis. Hatinya begitu sesak. Hanya karena menuruti egonya dia harus kehilangan Lisa untuk selamanya. Tapi siapa yang menikah dengan Lisa? hal itulah yang kini masih mengganggu pikiran Sean. Setelah sedikit tenang Sean menjalankan mobilnya. Ponsel Sean berdering, ia mendapat panggilan dari Jesika.


"Sean, mama kamu sudah sadar. Dia mencari kamu."


"Ya, aku sedang dalam perjalanan ke sana sekarang." Sean langsung mematikan sambungan teleponnya. Jesika benar-benar kesal dan muak dengan tingkah Sean.


"Jes .... " lirih Chandra. Jesika menoleh dan melempar senyum palsunya.


"Iya tante, kenapa?"


"Apa Sean menemui wanita itu?"


"Benar tante, masalah ini harus diluruskan dan di selesaikan."


"Terima kasih Jesika, kamu mau bersabar menghadapi anak tante."

__ADS_1


"Cih, kalo bukan karena harta kalian, aku juga tidak sudi." batin Jesika.


Sean tiba di rumah sakit dengan nafas terengah-engah. Dia sedikit berlari untuk bisa mencapai ruang perawatan ibunya.


"Mama ... " Sean mendekati brankar nyonya Chandra dan mengecup kening wanita yang melahirkannya. Air mata Sean kembali menetes. Chandra tersenyum senang. Ia kira Sean menangisi kondisinya. Tapi sayang Sean masih terlalu larut dengan kesedihannya sendiri. Dia menangis karena ingin menumpahkan kesedihannya pada mamanya.


"Jangan menangis sayang, mama tidak apa-apa."


"Lisa mah... "


Chandra membelalakkan matanya. Ia ingat penyebab dirinya sampai terjatuh dari tangga.


"Jangan sebut gadis rendahan itu lagi. Mama tidak mau dengar apapun tentangnya Sean. Mama akan menuntutnya atas tindakan pencemaran nama baik.


"Lisa ga salah mah, semua salah Sean."


"Masih saja kamu membelanya. Dia sudah melempar kotoran ke wajah kita Sean. Bagaimana nanti mama menghadapi teman-teman mama, kolega papa kamu juga?" Dan lagi-lagi yang terpenting bagi Chandra adalah nama baik keluarganya bukan kebahagiaan putranya. Hal itu tentu semakin memperdalam luka di hati Sean. Sean akhirnya memilih diam dari pada berdebat dengan mamanya.


"Sebaiknya setelah mama keluar dari rumah sakit. Kita temui keluarga Jesika. Kamu harus secepatnya menikahi Jesica. Jangan sampai wanita itu datang kembali meminta pertanggungjawaban kamu." Lanjut Chandra. Kali ini Sean tersenyum getir mendengar perkataan ibunya.


"Semua itu tidak akan terjadi. Karena Lisa sudah menikah mah." Ujar Sean.


"Halah, itu cuma akal-akalan dia saja pasti." sanggah nyonya Chandra.


"Itu benar mah, tadinya Sean berniat menemuinya untuk membicarakan masalah video itu. Tapi kata pemilik kontrakannya sudah seminggu Lisa tidak ada di sana. Bahkan ibu juga kakaknya pergi."


"Kalo begitu bagus lah. Setidaknya tidak akan ada yang mengganggu kamu dan Jesika lagi."


"Maksud mama apa? atau jangan-jangan selama ini yang Lisa katakan padaku semuanya benar? mama hanya berakting merestui kami, padahal sebenarnya tidak?"


Nyonya Chandra seketika gelagapan. Kenapa dia tidak bisa menahan dirinya?


"K-kamu nuduh mama?"


"Sean ga nuduh. Sean cuma bilang jangan-jangan omongan Lisa tentang mama itu benar semua."

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa tekan likenya, komen apa aja boleh tapi tetap hargai juga perasaan othor. Berikan mawar kamu, kopi kamu atau apapun itu othor bakalan nerima dengan senang hati ga nolak 🥰🥰


__ADS_2