
*******
Sean menutup telinganya. Ia sungguh sangat kesal dengan tingkah ibunya yang terus menggedor pintu kamarnya sembari mengomel.
"Sean, jangan kekanak-kanakan kamu. Keluar Sean! beri mama penjelasan, apa yang sudah kamu lakukan haa...?" Teriak nyonya Chandra dari luar pintu Sean. Rasanya dia benar-benar frustasi, kesal dan malu.
Nyonya Chandra menunggu di depan pintu kamar Sean dengan tidak sabar. Rasanya ingin ia dobrak pintu kamar Sean saat ini juga.
"Sean ....!!" pekik nyonya Chandra sekali lagi. Semua pelayan berdiri tegang melihat nyonya nya sedang marah besar.
Namun tetap tak ada respon dari Sean, pria itu justru kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasanya dia benar-benar ingin mengakhiri semuanya.
Nyonya Chandra menuruni tangga rumahnya dengan perasaan kesal. Sangking kesalnya, wanita paruh baya itu tak menyadari langkahnya. Dia melewati satu anak tangga sehingga tubuhnya langsung jatuh terguling sampai ke lantai dasar.
"Nyonya ... " pekik salah satu pelayan hingga menarik perhatian pelayan lain nya. Keributan pun terjadi hingga membuat Sean mau tak mau membuka pintunya. Dia berjalan melewati kerumunan pelayan di rumahnya. Mata Sean langsung membulat saat melihat mamanya tergeletak dengan bersimbah darah di kepalanya. Sean langsung mendekat bersimpuh di samping Chandra.
"Mama, mama bangun ma!" Sean panik saat ibunya sama sekali tidak meresponnya. Sean mengecek denyut nadi dan nafas Chandra. Tak lama kepala pelayan datang bersama dua petugas medis. Ternyata kepala pelayan di rumah itu bertindak cepat dengan menghubungi rumah sakit. Nyonya Chandra dibawa naik ambulans bersama Sean. Sean merasa sangat bersalah pada mamanya.
"Sean mohon bertahanlah ma, Sean akan turuti semua kemauan mama. Sean akan menikah dengan Jesika jika itu yang mama mau." Sean terus menggenggam tangan nyonya Chandra.
Sebenarnya Sean sama sekali belum melihat berita viral dirinya. Karena dia terus menerus mengunci dirinya di kamar dan mematikan ponselnya.
Setibanya di rumah sakit nyonya Chandra segera mendapatkan penanganan karena luka serius di kepalanya. Sepanjang lorong orang-orang menatap Sean dengan tatapan menghakimi namun Sean yang belum tahu apapun memilih untuk tidak mempedulikan semua orang.
"*Bukankah itu pria yang ada di video tadi?"
"Dasar tidak tahu malu."
"Iya, hanya modal tampan tapi kelakuannya seperti binatang*."
Seperti itulah beberapa selentingan dari orang-orang yang duduk tidak jauh dari Sean. Bahkan ada beberapa ibu-ibu yang tidak ragu menunjuk kearah Sean.
"Aku dengar dia seorang dokter anak. Aku jadi takut membawa anakku periksa ke dokter." seorang ibu muda menatap Sean dengan tatapan jijik.
Sean tak tahan lagi akhirnya buka suara.
__ADS_1
"Siapa yang sedang kalian perbincangkan. Sejak tadi kalian terus berdengung di sekitarku seperti lebah?" tanya Sean seraya mengedarkan pandangannya ke beberapa orang yang kebanyakan ibu-ibu.
"Cih... kalian hanya bisanya bergunjing." Gumam Sean, saat tidak ada satu pun orang yang berani membuka suaranya.
"Sean, bagaimana kondisi tante?" Jesika, wanita yang digadang-gadang akan menjadi calon istri Sean datang menghampiri Sean.
"Aku juga tidak tahu. Bagaimana kamu bisa sampai di sini?"
"Aku tadi ke rumah Sean, aku khawatir dengan kesehatan tante karena video viral itu." ucap Jesika seraya melirik ke pintu ruang IGD.
"Video viral?" beo Sean tak mengerti
"Jangan bilang kamu belum melihatnya Sean?"
"Aku memang tidak tahu." ujar Sean "Memangnya video apa?" sambungnya.
"Video ini." Jesika memberikan ponselnya pada Sean. Video berdurasi 5 menit yang memperlihatkan betapa Sean begitu tega menyakiti Lisa. Tangan Sean terkepal, matanya memerah menahan luapan emosi yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
"Lisa, aku tidak menyangka kamu akan berbuat sampai sejauh ini. Tidak adakah cinta yang tersisa di hatimu untukku?" Sean memejamkan matanya, seperti ada belati yang menancap di hatinya saat ini. "Seperti inikah akhir yang kamu inginkan Lisa? Tak hanya ingin lepas dariku, kamu bahkan tega membuatku terlihat seperti seorang pecundang." jerit batin Sean.
"Saya dok." Sean menatap dokter itu dengan perasaan yang benar-benar berkecamuk.
"Nyonya Chandra mengalami pendarahan di otak. Kami membutuhkan persetujuan anda melakukan operasi tuan."
"Baiklah ayo segera saja. Lakukan yang terbaik untuk mama saya."
"Pasti tuan." Dokter itu masuk diikuti oleh Sean dan Jesika. Seorang perawat menyerahkan map berisi surat pernyataan persetujuan untuk tindakan operasi.
Tanpa berpikir panjang Sean langsung menandatangani surat itu. Nanti setelah kondisi mamanya membaik dia akan menemui Lisa. Saat ini fokusnya hanya pada kesembuhan sang mama.
"Sean, aku akan menghubungi kepala pelayan untuk membawakan kamu baju ganti. Apa ada yang lain yang kamu perlukan?"
"Suruh dia membawa ponselku di kamar." Jawab Sean singkat tanpa menatap Jesika.
Sean akui Jesika gadis yang cantik, tingginya hampir sama dengan Sean, tidak seperti Lisa yang hanya sebahunya. Jesika berasal dari keluarga yang kaya. Bisnis keluarganya bergerak di bidang kontruksi. Jesika merupakan anak kedua, kakaknya sudah menikah. Jesika juga lulusan dari luar negeri. Gadis itu begitu sempurna di mata banyak orang. Tapi di mata Sean, hanya Lisa yang paling sempurna.
__ADS_1
Sean dan Jesika menunggu di depan ruang operasi. Hari semakin gelap namun operasi yang dijalani oleh Chandra belum juga selesai. Sean juga sudah berganti pakaian yang bersih. Ponsel miliknya pun sudah ada dalam genggamannya, saat Sean menyalakan ponselnya, begitu banyak notifikasi masuk. Terutama panggilan dari papanya.
Belum lama ponselnya dihidupkan, dering ponselnya membuat Sean terkejut.
"Halo pa ... "
"Apa yang telah kamu lakukan Sean? Apa seperti itu caramu untuk menunjukkan keseriusanmu?"
"Maaf pa, Sean akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Tapi masalahnya mama saat ini sedang sakit. Mama jatuh dari tangga."
"Lihatlah, akibat ulahmu itu! Jika terjadi sesuatu pada mamamu, itu semua karena kamu."
Setelah telepon dari papanya terputus, Sean meremas rambutnya frustasi. Hidupnya bagai sudah jatuh tertimpa tangga. Masalah dengan Lisa belum selesai, ditambah masalah video itu dan sekarang mamanya juga masih belum tahu bagaimana kondisinya.
Jesika mengusap bahu Sean. Mencoba memberikan semangat dan dukungannya.
"Everything will be fine... don't afraid." lirih Jesika. Sean melirik jam di ponselnya. Dia sekilas menatap Jesika.
"Pulanglah, ini sudah terlalu larut. Maaf aku tidak bisa mengantarmu."
"Aku akan menemanimu. Aku sudah meminta ijin papa tadi." Kata Jesika.
"Di sini tidak bagus. Kamu bisa sakit Jes."
Jesika tersenyum, dia merasa senang karena Sean memperhatikannya.
"Aku tidak apa-apa Sean, sungguh."
"Baiklah, terserah padamu dan terima kasih kamu begitu perhatian pada mama."
"Bagaimanapun, mama Chandra adalah calon mertuaku. Sudah sepatutnya aku menjalin hubungan yang baik dengannya."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Senin oh senin. Tolong di Vote ya bestie 🥰🥰
__ADS_1