
*******
Regan segera melilitkan handuk di tubuh Lisa dan membawanya keluar dari kamar mandinya. Regan mendudukkan tubuh Lisa di tepi ranjang. Regan berjongkok di depan Lisa. Gadis itu terus menunduk seraya menggigit bibirnya sendiri. Regan melihat lengan Lisa dimana di sana ada memar bekas gigitan Lisa sendiri. Regan mengangkat dagu Lisa.
"Maaf .... "
"Tidak apa-apa. Pergilah.. ! aku tahu kamu tidak nyaman melihatku seperti ini."
Regan tersenyum dan membelai wajah Lisa. Namun sentuhan lembut itu membuat Lisa kembali memanas dan lenguhan lirih terdengar dari bibir Lisa.
"Aku takut kamu menyesal." ujar Regan.
"Tentang apa? bukankah kita suami istri? Seharusnya pertanyaan itu yang harusnya aku tanyakan. Apa aku tidak sesuai harapanmu?"
Regan sudah tidak bisa mundur lagi. Sekarang atau tidak sama sekali. Perkara membuat perhitungan dengan ayahnya akan dia balas nanti.
"No, jangan bilang seperti itu. Kamu tahu aku sangat mencintaimu. Jadi hanya kamulah yang aku inginkan untuk melengkapi kebahagiaanku."
"La-lakukan sekarang jika kamu mencintaiku." Lirih Lisa sembari meraih tangan Regan dan mengecupnya dengan lembut. Regan memejamkan matanya hatinya berdesir hebat. Aliran darahnya terasa mendidih dengan perlakuan Lisa. Regan membuka matanya dan mencumbu Lisa dengan lembut. Lisa mengalungkan tangannya di leher Regan. Sesekali tangannya menyusup diantara rambut Regan dan merem*asnya dengan lembut. Meskipun ini yang pertama bagi Lisa, tidak sulit untuknya mengimbangi gerakan Regan karena Lisa sering menonton drama Korea.
Regan melepas ciumannya sejenak ia menatap wajah Lisa lalu tersenyum.
"Setelah ini kamu tidak akan bisa mundur lagi sweety. Aku akan memuaskanmu sampai kamu berteriak meminta ampun padaku." Regan mulai merebahkan tubuh Lisa, dan dia melepas kemejanya. Lisa menggigit bibirnya saat melihat tubuh seksi Regan. Jantungnya berdetak tak beraturan saat Regan kembali menghimpit tubuhnya dan mulai melakukan serangan. Lisa hanya bisa menikmati setiap sentuhan Regan. Tubuh Lisa melengkung naik saat ia mendapat pelepasan pertamanya, tangannya mencengkeram rambut Regan yang berada di bawah perutnya. Keduanya larut dalam pengalaman baru.
Regan meskipun banyak digandrungi sebagian besar karyawan wanita di perusahaan namun dirinya sama sekali tak pernah menanggapinya. Lisa adalah wanita kedua setelah Lusi yang berhasil merebut perhatiannya.
Regan dan Lisa sudah sama-sama polos tanpa sehelai kain yang melekat di tubuh mereka. Regan sudah bersiap masuk ke inti acara. Dengan melakukan sedikit percobaan Regan berhasil menembus benteng pertahanan Lisa. Air mata Lisa mengalir, Regan mengusapnya seraya tersenyum dan membelai wajah Lisa.
__ADS_1
"Terima kasih Lisa." Desis Regan, kemudian dia bergerak aktif mengikuti nalurinya tak lama suasana di dalam kamar mulai memanas seiring suara de*sahan Lisa dan Regan yang bersahutan. Setelah dua jam melakukan penyatuan berulangkali, Regan akhirnya tumbang di samping Lisa yang lebih dulu terlelap. Regan mengecup kening Lisa. Ia tersenyum mengingat apa yang baru saja dia lakukan.
Haruskah ia berterima kasih pada papanya atau haruskah ia memberi perhitungan pada pria tua itu.
Regan bangun dan mengambil salep dari kotak obat. Dia mengolesi luka gigitan lengan Lisa. Rasanya melihat luka itu membuat Regan benar-benar merasa bersalah pada istrinya. Regan membersihkan dirinya. Perutnya terasa lapar sekarang, ia bergegas memakai baju dan keluar kamar.
Di saat yang bersamaan Delano turun untuk mengambil air minum. Wajahnya terlihat kusut karena dia harus menenangkan Lusi yang terus menangis.
"Ada apa dengan wajah anda tuan?" tanya Regan, Delano memicingkan matanya tak suka dengan sebutan Regan padanya.
"Di rumah ini kita saudara. Bagaimana bisa kau memanggilku tuan?" ujar Delano tak senang.
"Baiklah, aku akan memanggilmu seperti yang lain." jawab Regan mengalah.
"Devan dan Davin dirawat di rumah sakit. Aku ingin menyusul dan melihat kondisi mereka. Tetapi ayah memintaku menjaga Lusi. Karena dia sempat panik padahal dia sedang hamil dan tidak boleh stress."
"Sore tadi Davin terjatuh. Dagunya tergores ujung sudut meja kaca hingga harus dijahit. Tapi entah mengapa justru Devan yang demam tinggi sampai tidak sadarkan diri." Kata Delano. Tatapan matanya terlihat sekali jika dia benar-benar mencemaskan kedua anaknya.
"Apa kau sudah menghubungi paman?"
"Sudah, ayah bilang Devan hanya kelelahan. Davin juga sekalian mendapat perawatan karena sedikit demam."
"Syukurlah, setidaknya kondisi mereka tidak terlalu buruk." jawab Regan. Dia mulai memanaskan air dan mengambil sebungkus mie instan.
"Apa kau mau?" tanya Regan.
"Boleh, sudah lama aku tidak makan mie." Kata Delano seraya duduk di bar chair sesekali Delano tampak sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Apa anda sudah mendapat asisten baru?"
"Aku akan memakai Freya sementara waktu. Gisel dan Selly sedang aku ikutkan pelatihan, Tapi sepertinya nanti aku akan mengikuti saran ayah untuk menempatkan orangnya di sekitarku."
"Seperti itu lebih baik. Paman tidak akan sembarangan menempatkan orang. Lagi pula selagi itu demi kebaikan anda dan Lusi saya rasa tidak ada salahnya." Kata Regan. Dia menghidangkan semangkuk mie yang begitu menggiurkan di mata Delano. Tanpa menunggu lama Delano langsung menikmati mie miliknya meskipun uapnya masih mengepul.
Kedua pria itu makan sembari mendiskusikan masalah pekerjaan. Ada kalanya sesekali Delano melirik ke arah pintu. Takut jika lusi terbangun.
Hingga makanan keduanya tandas ternyata istri mereka tidak ada yang terbangun dan hal itu sungguh melegakan.
Regan membuat dua cangkir kopi untuk dirinya dan Delano. Meskipun sebenarnya matanya sudah mengantuk tapi entah mengapa dirinya seperti kelebihan tenaga. Mungkin karena tadi dia berolahraga dengan Lisa jadilah sekarang dia seperti punya tenaga ekstra. Padahal besok acara resepsinya tapi Regan seakan masih belum ingin memejamkan matanya. Regan membawa laptopnya begitupun Delano. Regan akan menyelesaikan hutang pekerjaannya sesegera mungkin agar bisa segera memulai kehidupan barunya bersama Lisa.
Ada kalanya Delano menguap begitu juga Regan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 pagi. akhirnya kedua pria itu justru terlelap di kursi ruang keluarga.
Pukul setengah 6 pagi Suryo membawa kedua cucunya kembali ke rumah. Kondisi Devan dan Davin sudah membaik dan kembali ceria. Devan dan Davin berjalan bergandengan naik ke kamar Lusi. Keduanya ingin memberi kejutan pada bunda nya.
Ceklek!!
Devan membuka pintu kamar Lusi. Namun ternyata Lusi masih terlelap. Devan dan Davin mendekati Lusi lalu keduanya bersamaan mencium pipi Lusi bergantian."
"Bunda, wake up." teriak Devan, Lusi membuka matanya dan terkejut melihat kedua putranya ada di depan matanya. Lusi mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan ini bukanlah mimpi.
"Sayang," Lirih Lusi. Dia lantas memeluk kedua buah hatinya dengan erat. "Bunda senang kalian sudah sembuh." Ujar Lusi penuh haru.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kalo jadwal up mulai eror itu tandanya othor lagi oleng banyak kegiatan di dunia nyata. Termasuk menghadapi duo krucil rempong yang beneran suka ngerempongin emaknya nulis. ðŸ¤ðŸ¤ jangan lupa tekan jempolnya ya.
__ADS_1