
********
Lusi membuka kelopak matanya perlahan. Seketika air matanya mengalir dengan sendirinya saat ia mengingat kabar terakhir yang dia terima. Isakan tangisnya membuat Lisa segera mendekati ranjang.
"Lusi" sapa Lisa lirih.
"Nenek, nenek .... " Tangis Lusi semakin kencang saat mengingat sang nenek. Lusi telah lama meninggalkan rumah dan jauh dari ibu dan neneknya. Kini saat dirinya bisa berkumpul kembali dengan nenek dan ibunya, takdir justru berkata lain.
"Lusi, tenang. Yang sabar, ikhlas ya." Lisa menggenggam jemari Lusi yang tidak diinfus. Air mata Lisa pun tak urung ikut mengalir melihat kondisi sahabatnya.
Lisa mengetikkan sesuatu di ponsel nya, entah dengan siapa dia berkirim pesan. Lisa terus mencoba menguatkan sahabatnya dan tak lama pintu terbuka. Regan, Delano dan dokter yang tadi memeriksa Lusi masuk ke dalam kamar Lusi.
Lisa menyingkir, saat dokter dan Delano mendekat. Regan menggenggam tangan Lisa dan membawanya duduk di sofa.
"Apa kau mau istirahat di kamarku?" tawar Regan. Lisa hanya menggeleng lemah. Regan menatap jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.
"Kamu butuh istirahat untuk melewati hari esok."
"Ibu dimana?" Ibu sudah beristirahat di kamar mama" tutur Regan.
"Aku mau menemani Lusi saja." Lirih Lisa, dia terlalu canggung untuk berada di kamar Regan. Apalagi status keduanya belum resmi. Apa kata orang nanti.
"Tuan Delano juga butuh istirahat. Ayo ikut aku!" Regan menarik tangan Lisa dengan lembut dan membawanya ke kamarnya. Ini kali pertama Lisa masuk ke dalam kamar seorang pria. Bahkan saat bersama Sean dirinya tak pernah masuk ke kamar mantan kekasihnya itu.
Lisa mengedarkan pandangan menelisik kamar Regan yang sangat rapi. Kamar dengan cat berwarna abu-abu dimana di setiap dinding terpasang lukisan tanpa ada foto Regan satupun.
"Kenapa tidak ada fotomu?" tanya Lisa penasaran. Regan menoleh dan tersenyum.
"Nanti saja, kalo ada foto pernikahan kita. Aku akan memajangnya dengan ukuran yang besar" ujar Regan yang sukses membuat Lisa malu dengan wajah yang memerah hingga ke telinga.
"Kenapa tiba-tiba kamu bermulut manis."
"Aku tidak sedang merayumu Lisa. Aku serius ingin menjadikanmu permaisuri di hidupku dan di hatiku."
"Aku tidak mau jadi permaisuri, karena nanti pasti akan ada selir."
protes Lisa mendengar ucapan Regan. Regan seketika menyentil kening Lisa.
"Jangan berpikir terlalu jauh. Percayalah hanya kamu the only one yang akan bertahta di hatiku."
__ADS_1
Lisa mengulum senyum saat Regan mengatakan hal demikian. Sumpah demi apapun Lisa merasa diterbangkan diatas awan saat Regan mengatakan semua itu.
.
.
.
Lusi masih terisak di pelukan Delano. Delano pun merasa sedih melihat Lusi yang sangat rapuh. "Kenapa semua ini terjadi disaat aku baru saja merasakan kebahagiaan? apa aku benar-benar tidak layak untuk bahagia?" lirih Lusi.
"Jangan bicara seperti itu, seakan kamu menyalahkan takdir dan ketetapan Allah. Percayalah semua yang terjadi dalam hidup kita itulah yang terbaik dari Allah untuk kita. Baik itu ujian, kesenangan, kesusahan, sehat dan sakit. Semua itu sudah diatur olehNya. Ikhlaskan nenek, beliau saat ini sudah bahagia. Apalagi di sana nanti ada kakek yang akan menjemputnya. Nenek juga ingin bahagia sama seperti kita." Delano membelai surai rambut Lusi sambil mencoba memberi kekuatan dan semangat pada istrinya itu.
Lusi diam tak menyahut. Namun ia mencerna setiap kata-kata Delano.
"Aku mau lihat nenek."
"Besok saja ya, sekarang beristirahatlah. Ingat kata dokter, kamu harus banyak istirahat dan jangan stress. Meskipun janin kita belum terlihat setidaknya kamu juga harus memikirkannya." Delano dengan hati-hati membaringkan Lusi. Tanpa penolakan Lusi hanya diam dan menuruti apa yang Delano katakan.
Lusi pun akhirnya terlelap di pelukan Delano. Delano terus mengusap punggung Lusi hingga lama kelamaan matanya pun ikut terpejam.
.
.
.
"Bunda, meninggal itu apa?" tanya Devan.
"Meninggal itu, pergi untuk selamanya sayang." jawab Lusi.
"Tapi eyang uyut cuma tidur ga kemana-mana." sanggah Davin.
"Raganya mungkin tidur tapi jiwanya yang pergi."
Meski tak mengerti maksud yang dikatakan oleh Lusi, Devan dan Davin mengangguk. Setidaknya menurut penglihatan mereka saat ini nenek buyutnya sedang tertidur.
Lusi memeluk Devan dan Davin, tangisnya kembali pecah hingga membuat kedua bocah itu bingung.
"Bunda kenapa? apa kami berbuat salah?"
__ADS_1
"Tidak sayang, bunda hanya kelilipan" Lusi berusaha tersenyum di depan kedua putranya. Devan dan Davin mengusap air mata Lusi yang terus mengalir.
"We love you bunda, don't cry." Devan bergelayut manja begitupun Davin. Keduanya terlihat sangat menyayangi Lusi.
Tak terasa waktu pemberangkatan Jenazah Laila sudah tiba. Sesuai dengan apa yang ibunya inginkan. Mitha akan mewujudkan keinginan ibunya untuk bersanding dengan makam mendiang ayahnya di Solo. Jadilah sekarang Mitha, Suryo, Diana Regan dan Lisa yang berangkat mengikuti prosesi pemakaman. Sementara Lusi dilarang ikut demi kehamilannya.
Lusi sedang berbaring di ranjang neneknya. Ia mengingat beberapa petuah dari sang nenek yang salah satunya menyinggung tentang legowo atau menerima dengan hati lapang pada apa yang sedang terjadi dalam hidup kita. Laila tahu betul jika cucunya masih abu-abu dengan perasaannya pada Delano. Namun dengan yakin Laila sanggup meyakinkan Lusi untuk serius menjalani pernikahan mereka meskipun awalnya tidak cinta.
Flashback
"Kemarilah sayang." Laila menepuk sisi ranjangnya agar Lusi mendekat.
"Ada apa nenek?"
"Nenek harap kamu selalu bahagia, Legowo dengan rencana Gusti Pangeran. Semua pasti ada hikmahnya. Jika kamu legowo pasti kebahagiaan akan senantiasa hadir dalam hidupmu. Selain membuat hatimu tenang, kamu tidak akan merasa terbebani saat menjalaninya."
"Iya nenek, terima kasih. Lusi akan mengingat petuah nenek."
"Jangan sekali-sekali meninggikan suaramu pada suamimu, dan jika kamu pergi jangan lupa untuk selalu berpamitan meminta ridho darinya. Karena ridho suami itu Ridho nya Allah."
Laila mengusap wajah Lusi. Senyumnya selalu menyejukkan dia benar-benar sosok panutan bagi Lusi."
Flashback off
"Belum juga sehari, aku sudah merindukan nenek. Maafkan Lusi nek. Sampai sekarang Lusi belum bisa membahagiakan nenek."
Lusi pun terlelap karena kelelahan menangis. Sementara Delano sibuk menidurkan kedua putranya yang sejak tadi mengeluh tubuhnya lelah.
"Dimana Lusi? kenapa dia dari tadi tak terlihat?" gumam Delano.
Setelah kedua putranya tertidur, Delano mencari keberadaan Lusi. beberapa pelayan yang berpapasan dengannya pun semua ditanya. Dan beruntung salah satunya melihat Lusi masuk ke kamar Laila.
Delano masuk ke dalam kamar itu, ia melihat Lusi meringkuk seraya memeluk foto sang nenek. Sisa air mata masih terlihat jelas di wajah Lusi. Delano membelai wajah Lusi dengan lembut dan membetulkan posisi tidur Lusi lalu ia menarik selimut hingga menutup dada Lusi.
"Tidur yang nyenyak istriku." Delano membenamkan ciuman lembut di bibir Lusi.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Like, komen dan Votenya ya guys
__ADS_1