
*******
Lisa langsung menoleh saat mendengar suara deheman mertuanya. Wajahnya seketika memerah hingga menyebar ke telinga.
"Oh ya ampun." Pekiknya. Lantas Lisa melepas pelukannya dan berlari masuk ke kamar.
"Daddy merusak suasana saja." Kesal Regan. Namun dia belum berniat menyusul Lisa. Karena sebenarnya tadi dia sedang terlibat pembicaraan serius dengan papanya. Hingga tiba-tiba Lisa memeluknya.
"Gadis itu benar-benar lucu." Ujar Hans seraya terkekeh.
"Papa benar, itulah mengapa aku menjadi tergila-gila padanya. Padahal awalnya kami saling benci."
"Ha.. ha.. ha itu namanya benci jadi bucin."
"Menurut daddy, Regan harus berbuat apa?"
"Tidak ada, ikuti permainan pamanmu. Maka masalahmu akan selesai. Jangan seperti atasanmu itu. Merasa apa-apa bisa sendiri lantas dia merasa tidak butuh bantuan. Nyatanya istrinya mati sampai 5 tahun saja mencari motifnya dia tidak bisa. Padahal sudah jelas jika Karisa itu kejiwaannya terganggu. Kenapa sejak awal tidak di singkirkan saja."
"Daddy ikut-ikutan om Suryo pakai kata singkirkan segala."
"Jelas saja, memang pengganggu harus di singkirkan." tutur Hans.
"Tapi Regan takut, Lisa membenci Regan."
"Tidak akan. Kamu lihat sendiri air mata yang dia keluarkan tadi setidaknya menunjukkan bahwa dia mulai menyadari keberadaanmu."
"Bukan karena perasaan hutang budi?"
"papa berani bertaruh. Tidak lama dia akan mencintaimu dengan sangat besar." Hans menyeruput kopinya lalu beranjak dan menepuk pundak Regan.
"Butuh kesabaran untuk membalik hati seseorang. Namun setiap ketulusan pasti akan mendapatkan balasan yang baik."
Regan langsung ikut masuk. Dia sudah tidak sabar menggoda Lisa. Namun ternyata dia tidak menemukan Lisa di kamarnya. Regan langsung menghembuskan nafas kasar.
"Huft... sabar... sabar." Regan tersenyum sendiri mengingat tingkah konyolnya tadi. Dia bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum tidur.
Sementara itu di kamar ibunya nafas Lisa masih terputus-putus karena berlari. Beruntung ibunya sudah tidur. Jika tidak maka ia akan semakin malu. Lisa menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya yang masih memerah.
__ADS_1
"Bagaimana besok kalo bertemu papa? duh.. malu banget. Kenapa tadi Regan juga ga ngomong kalo ada papa di sana." Lisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
.
.
.
Jika Lisa dan Regan sedang salah tingkah. Berbeda halnya dengan apa yang terjadi di kamar Lusi. Kedua insan itu tengah bergelut saling memberi kenikmatan pada pasangannya. Lusi yang memimpin permainan. Gerakan keduanya bertempo cepat dengan nafas yang terengah-engah. Delano memegangi bo kong Lusi hingga memudahkan ibu hamil itu bergerak naik turun mendaki puncak kenikmatannya. Lidah Delano berputar-putar di sekitar ujung da-da Lusi yang sudah menegang hingga membuat Lusi terus mengerang dan mende sah.
"M.. as, aku mau sampai."
"Tunggu sebentar lagi sayang. Kita barengan ya." jawab Delano, bibirnya mulai menghisap dengan kuat puncak dada Lusi. Keduanya bergetar bersamaan. Tubuh Lusi langsung lunglai bersandar di dada bidang Delano.
"Kamu itu, sejak hamil makannya susah maunya naik-naik ke puncak gunung terus." Kata Delano menggoda Lusi, Lusi yang masih mengatur nafas hanya memukul lengan Delano pelan.
"Aku juga kan ga tau. Tiba-tiba pengen."
Tanpa merubah posisi Delano bergeser hingga ke pinggir ranjang. Lalu menggendong Lusi dan membawanya ke kamar mandi.
Delano mendudukkan Lusi di meja wastafel. Lalu ia mengisi bathtub dengan air hangat. Ia juga mengambil handuk kecil untuk mengeringkan keringan Lusi. Setelah air terisi dan Delano menuang cairan dengan wangi bunga mawar Delano memasukkan tubuh Lusi dengan sangat hati-hati.
Delano masuk ke dalam bathtub dan bergabung berendam bersama Lusi. Kebiasaan baru yang kini digemarinya.
Lusi membuka matanya, menatap wajah Delano dari samping kerena pria itu memeluk tubuhnya posesif. "Mas .... "
"Ya sayang."
"Kamu harus selalu berhati-hati. Selama Karisa masih berkeliaran aku benar-benar tidak tenang." Delano menatap lembut wajah Lusi dan membelainya.
"Tenanglah, kamu pikirkan saja anak-anak dan dia." Kata Delano seraya membelai perut Lusi.
"Bagaimana aku bisa tenang jika aku tahu dia mengincar nyawa kamu."
"Sstt ... jangan diteruskan. Kamu tenang saja. Kita punya Allah, kita punya ayah Suryo dan orang-orang nya yang akan selalu melindungi kita." Lusi mengangguk patuh. Delano segera membilas tubuhnya dan Lusi. Lalu dengan telaten memakaikan bathrobe di tubuh Lusi.
"Aku ambilkan baju ganti dulu. Kamu di sini saja." Delano masuk ke walking closet memakai kaos dan celananya setelah itu ia mengambil daster untuk Lusi.
__ADS_1
"Mas, CD nya mana?"
"Tidak usah pakai." Jawab Delano enteng membuat Lusi ternganga kaget.
"Tapi mas, dingin."
"Mas yang akan menghangatkan kamu." Jawab Delano. Ia merebahkan tubuh Lusi lalu dirinya ikut berbaring dan menghadap ke samping memeluk Lusi.
Keduanya langsung terlelap setelah olahraga malam sampai sampai mereka tak mendengar ketukan pintu kamar mereka di mana Devan dan Davin menangis mencari Lusi.
"Bunda... " Davin.
"Bukain pintu bunda." Devan.
Mitha yang saat itu memang ingin melihat cucunya terkejut mendapati kedua cucunya menangis di depan pintu kamar Delano dan Lusi. Pengasuh mereka juga menunggu kedua bocah itu dengan cemas.
"Ada apa sayang?"
"Devan mau tidur sama bunda."
"Davin juga" rengek kedua bocah itu. Mereka menangis seraya menggosok mata mereka. Mungkin mereka sudah terlalu mengantuk.
"Nenek temani saja ya. Mungkin bunda capek jadi sudah tertidur."
Mitha membawa kedua cucunya kembali ke kamar dan meminta pengasuh si kembar untuk beristirahat. Devan dan Davin masih sesenggukan saat Mitha mengajak mereka mencuci kaki dan tangannya.
"Kalau kalian mau tidur bersama bunda, sore hari kalian harus bilang pada bunda. Karena kalian kan tidak tahu kapan bunda istirahat. Bukankah kalian ingin punya adik bayi seperti teman kalian? jadi kalian juga tidak boleh mengganggu waktu istirahat bunda dan ayah mulai sekarang."
"Iya nenek, kami mau adik bayi."
"Kalau begitu mulai sekarang kalian tidak boleh mengganggu waktu istirahat bunda. Nanti kalau kalian mau ditemani bobo bilang sama nenek. Nanti nenek temani kalian."
"Iya nenek." Devan dan Davin mulai berbaring di kasurnya. Dan Mitha menceritakan dongeng hingga kedua putra Delano itu terlelap. Senyum Mitha mengembang menatap kedua cucunya itu.
"Tidur yang nyenyak ya cucu-cucu nenek. Nenek berterima kasih pada kalian. Karena kehadiran kalian, bunda kalian mau merubah prinsipnya. Terima kasih." lirih Mitha seraya membelai wajah kedua susunya. Dia pun ikut merebahkan dirinya dan akhirnya terlelap. Karena Suryo malam ini pergi entah kemana. Suaminya itu hanya berpamitan akan pergi karena ada urusan penting.
Mitha tidak mau memenuhi otaknya dengan berpikiran buruk mengenai suaminya. Pasti dia memiliki alasan yang sangat kuat sehingga harus menyelesaikannya malam hari.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹