
******
Delano menghembuskan nafas kasar. Jika saja dulu dia tidak mendapatkan semua bukti kejahatan Karisa mungkin saat ini dirinya akan terpedaya oleh saudari kembar almarhumah istrinya.
Delano mengetuk ruang pribadinya yang di kunci oleh Lusi. Kedua anaknya sudah tampak biasa saja. Akan tetapi Lusi justru seperti sedang melamun.
"Kenapa melamun?" Delano menepuk bahu Lusi. Gadis itu tersentak, lalu tersenyum kaku ke arah Delano.
"Tidak ada .... aku hanya sedang kepikiran sesuatu." Ucap Lusi berbohong. Nyatanya dia sedang mengingat-ingat sesuatu saat ini.
"Lupakan wanita tadi. Jangan pernah sekalipun mendekatinya. Jika dia mendekatimu sebisa mungkin menghindar lah."
"Memang dia kenapa?"
"Dia wanita yang berbahaya." Jawab Delano singkat. Dia tak ingin menakut-nakuti Lusi dengan menceritakan padanya siapa Karisa sebenarnya.
Lusi mengangguk meskipun sebenarnya ada hal yang mengganjal di pikirannya. Tapi dia akan mencari tahu sendiri nanti.
.
.
.
Mitha, dan Diana sibuk mengawasi pekerja yang mendekor halaman mansion keluarga Syailendra. Meskipun pernikahan nanti terkesan tertutup tapi dekorasi yang mereka tampilkan tampak mewah berkelas.
"Tante ... " Lisa yang di undang langsung oleh Mitha tampak sangat terpukau dengan penampilan rumah keluarga dari ayah Lusi itu.
"Eh sayang, kemarilah!" Mitha menghampiri Lisa dan memeluk sahabat putrinya sejenak.
"Serius Lusi mau nikah tante?" tanya Lisa belum percaya. Pasalnya selama kakak Lisa sakit karena kecelakaan Lusi jarang sekali menghubungi dirinya. Mungkin karena Lusi tidak ingin mengganggu Lisa saat itu. Bahkan Lisa juga sampai harus mengambil cuti kuliah karena Bumi keponakannya tidak ada yang mengurus, sementara ibu dan kakak iparnya harus bolak balik Bandung-Jakarta untuk bergantian merawat Tio kakak Lisa.
"Tentu saja sayang. Oh iya bagaimana perkembangan kakak kamu?" tanya Mitha, mereka berbincang-bincang di kursi dekat halaman.
"Sudah jauh lebih baik tante, hanya saja untuk kakinya masih butuh waktu untuk bisa berjalan normal. Karena waktu itu kakinya terjepit badan mobil. Untungnya lokasi kakak kecelakaan itu ramai tan, telat sedikit mungkin da ga tertolong." Tutur Lisa dengan air mata yang berderai. Diana mengambil tisu dan memberikannya pada Lisa Tangannya mengusap bahu gadis itu dengan lembut. Regan menaikan sebelah alisnya saat melihat Lisa. Sepertinya pernah bertemu tapi dimana?
__ADS_1
Lisa mengangkat wajahnya. Matanya langsung tertuju pada Regan, dan seketika mata Lisa melebar.
"Kamu ... "
Regan yang merasa ditunjuk oleh Lisa mendekat. Dia pun penasaran dimana pernah bertemu wanita ini.
Lisa
"Lisa kenal dengan Regan?" tanya Mitha.
"Dia ini pernah ngambil payung aku tante, gara-gara dia aku sampai masuk rumah sakit." Ujar Lisa. Regan menepuk kepalanya. Dia baru ingat bahwa gadis ini adalah gadis aneh yang ia jumpai di depan kafe setahun yang lalu.
Saat itu Regan sedang mengintai Karisa di sebuah kafe. Karisa sudah masuk kedalam mobil bersama seorang pria. Tapi karena takut kehilangan jejak Karisa, Regan lalu menyambar payung Lisa begitu saja dan membawanya pergi. Padahal saat itu hujan sedang lebat-lebatnya. Lisa kehujanan dan menggerutu. Keesokan harinya Lisa harus dilarikan rumah sakit karena demam tinggi dan tak sadarkan diri.
"Maaf, waktu itu aku sangat terburu-buru." Ucap Regan.
"Enak banget ngomong maafnya baru sekarang. Buru-buru tapi ga pake mikir." Sewot Lisa. Tak lama Lusi datang bersama Devan, Davin dan Delano.
"Onty .... " Devan dan Davin langsung menyerbu memeluk Lisa. Sudah hampir 3 minggu mereka tak bertemu.
"Hai sayangnya onty .... "
"Kita kan pergi berempat bu." jawab Lusi, sedangkan Delano hanya diam seraya mengulum senyum.
"Lisa .... " Lusi langsung memeluk sahabatnya dengan erat. Lisa benar-benar tak menyangka sahabatnya sudah mau membuka hati bahkan berdekatan dengan pria.
"Mau nikah diem-diem bae lo ... " Protes Lisa, setelah kedua bocah itu melepaskan diri dari nya dan memilih duduk di samping kedua neneknya. Lusiana terkekeh melihat ekspresi wajah sahabatnya.
"Bukan begitu Lis, aku takut malah membebani kamu kalo aku ngomong. Lagian juga kamu masih kudu fokus merawat Bumi."
"Bumi udah ada pawangnya. Kemarin kak Tio udah di bolehin pulang. Aku ga tau kalo ga ada kamu. Mungkin nyawa kakakku .... "
"Sshh ... jangan ngomong seperti itu. Ga baik. Semua jalan hidup !kita baik itu jodoh, rejeki, hidup dan mati kita sudah jadi ketetapan Allah. Sekalipun saat itu aku tidak bisa bantu kamu dan Allah menghendaki kakak kamu hidup. Dia pasti akan tetap bertahan." Lusi menghapus air mata sahabat baiknya itu. Lisa memang tipikal wanita melow yang mudah menitikkan air mata namun juga judes.
__ADS_1
Diana, Mitha dan Delano merasa senang sekaligus bangga dengan cara berpikir Lusi. Regan hanya menatap interaksi antara Lusi dan Lisa dengan tatapan kagum. Kagum akan kecantikan sahabat Lusi itu.
Lusi mengajak Lisa masuk ke dalam rumah, setelah sebelumnya berpamitan pada semua yang ada di sana. Hari ini Lusi akan mendapat perawatan tubuh sebelum hari pernikahannya besok.
Di dalam rumah Lusi membawa Lisa masuk kedalam kamarnya. Lisa terbengong melihat penampakan kamar mewah milik Lusi yang sengaja di siapkan oleh ayahnya.
"Mimpi apa sih lo? bisa punya bokap tajir melintir gini." Ujar Lisa seraya mengelilingi kamar Lusi, layaknya youtuber yang sedang mereview kamar Lusi tersebut.
"Aku juga ga nyangka. Akan seperti ini pada akhirnya." Ucap Lusi menatap foto keluarganya yang sudah terpampang di kamarnya dengan ukuran frame yang sangat besar.
Lisa sesaat memandangi Lusi dan bertanya, "Lalu trauma lo gimana? sejauh ini gue lihat lo nyaman di deket Delano."
Lusi memutar badannya menghadap Lisa. Tatapan nya terlihat serius. "Lis, ada yang mau aku omongin sama kamu. Delano itu ternyata ayah biologis mereka."
"Bercanda lo ga lucu Lusi."
"Aku ga lagi bercanda Lisa. Sudah beberapa kali Devan dan Davin menanyakan ayahnya di depan Delano. Akhirnya membuat dia dan keluarganya penasaran. Aku hanya bilang pada mereka jika sebenarnya Devan dan Davin bukan anak kandungku dan kebetulan selama ini Delano sedang mencari anak-anaknya yang hilang 5 tahun lalu. Tepat di hari aku menemukan mereka. Akhirnya tante Diana meminta padaku untuk mengijinkan mereka di tes DNA. Hasilnya sesuai dengan apa yang mereka harapkan."
"Trus, itu yang jadi alasan lo mau nikah sama Delano?"
"Alasan utamanya iya seperti yang kau pikirkan. Tapi alasan yang lain adalah aku merasa dengan bersama dia aku merasa bisa sembuh dari trauma ku." Ucap Lusi.
"Lo cinta kali ma dia?" Lisa memicingkan mata melihat reaksi Lusi. Wajahnya memerah dan Lusi langsung menghindari tatapan mata Lisa.
"A...aku juga ga tau."
"Ya lo, mesti cari tau. Apakah saat di dekat Delano jantungmu berdebar kencang? atau apa saat ada Delano kamu merasa aman dan nyaman? dan satu lagi yang terpenting. Apa dengan traumamu itu, Delano masih bisa menyentuhmu tanpa membuat kamu pingsan. Jika jawabannya iya, udah fix kalo kamu emang sudah jatuh hati ma calon imam lo." Tutur Lisa. Lusi termenung memikirkan ucapan Lisa. Apakah benar dia jatuh cinta pada Delano?
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Bener ga ya??
Senin Vote yuk. Like dan komennya jangan lupa.
Aku rekomendasi juga ya karya kakak satu ini. Judulnya Aku dan Masa lalu ... dijamin bikin baper.
__ADS_1