
********
Raihana menghempaskan tubuhnya di sofa. Rasanya dia benar-benar tak tahan ingin merebut Delano dari Lusi. Ia tidak pernah menyadari akan ada badai yang menantinya setelah ini.
Frederick menatap layar ponselnya dengan tangan terkepal kuat, Video berdurasi 10 menit itu cukup membuat darahnya mendidih dan kepalanya terasa berdenyut hebat.
Klien yang sedang duduk di hadapannya mengernyit heran dengan perubahan raut wajah Frederick.
"Ada apa Fred sepertinya kau sedang dalam suasana hati kurang baik?" tanya klien lamanya.
"Anak bodoh itu berulah lagi, Ditya." keluh Frederick pada klien lamanya Aditya.
"Memangnya apa yang dia perbuat?"
"Kau sangat kenal dengan orangnya. Hana mencari masalah dengan mantan iparmu." Mata Aditya melebar.
"Bagaimana bisa? Kenapa bisa putrimu bertindak ceroboh seperti itu?" Aditya benar-benar terkejut. Dia hanya bergumam dalam hati mengasihani Frederick.
"Aku juga tidak tahu. Dia menjadi sangat terobsesi pada menantu Suryo. Awalnya aku ingin memperkenalkan Hana pada Delano karena aku ingin menjalin kerja sama baru dengannya. Tapi siapa sangka dia langsung menolak dan mempertegas hubungannya dengan putri dari Suryo."
"Maaf Fred, sepertinya kontrak kerja sama kita kali ini dibatalkan saja. Aku tidak mau dia menggali info tentang dirimu dan mengetahui hubungan kedekatan kita lalu akhirnya masalah ini akan berimbas pada usahaku." Wajah Aditya tampak sangat prihatin terhadap apa yang sedang terjadi pada Frederick. Namun bisnis tetaplah bisnis. Sebagai pengusaha dia tidak ingin merugi. Dia tahu betul siapa lawan yang akan dihadapi oleh Frederick. Bahkan dulu dirinya pernah berhadapan langsung dan berakhir dengan usahanya yang hampir gulung tikar.
"Apa kau yakin tidak akan terseret? aku dengar saat ini kau juga mengincar putrinya. Dari pada kamu mundur sebaiknya kita bekerja sama. Berdua lebih baik dari pada sendirian," bujuk Frederick.
Aditya tampak berpikir, alisnya bertaut dalam. Bukan sesuatu yang buruk jika dia memiliki sekutu. Akhirnya Aditya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, mari kita bekerja sama." Keduanya lalu saling berjabat tangan. Mereka lanjut membahas mengenai kerjasama barunya.
Frederick menyeringai tipis. Setidaknya jika dia hancur maka Aditya juga jadi dia tidak sendirian.
.
.
.
__ADS_1
Harlan dan beberapa tim IT sudah menyusun serangan yang akan mereka kirimkan nanti malam. Suryo sudah memerintah Harlan memberikan pelajaran pada Raihana sebagai sambutan darinya karena telah berani mengusik kehidupan putrinya. Harlan memang selalu bisa diandalkan. Tidak ada pekerjaan yang tidak mampu dia kerjakan. Harlan sendiri dulunya adalah anggota satuan pengawal khusus seorang PM di negri tetangga. Namun karena suatu insiden yang menyebabkan putri dan istrinya tewas akhirnya Harlan mengundurkan diri. Selama beberapa tahun kepergian istri dan anaknya hidup Harlan tak tentu arah. Bahkan setelah membalas dendamnya Harlan seperti kehilangan arah. Hingga suatu insiden dirinya harus berurusan dengan Suryo. Namun karena kebaikan hati Suryo akhirnya Harlan mengabdikan dirinya pada Suryo.
"Bagaimana?"
"Saya sudah mengirim Video itu pada Frederick tuan. Serangan nanti malah juga tinggal menunggu perintah anda."
"Baiklah, kita akan lihat sampai mana niat gadis itu untuk merusak kebahagiaan putriku." Ujar Suryo.
Lusi menatap makanan yang dibawakan ibunya dengan kurang minat. Dia hanya makan dua sendok saja selebihnya makanan tadi hanya dia aduk-aduk saja. Delano terus memperhatikan raut wajah Lusi yang terlihat malas dan enggan.
"Apa kamu menginginkan makanan lain?"
"Hmm, ya."
"Katakan saja. Aku akan meminta koki untuk membuatkannya untukmu."
"Aku ingin makan kue klepon, mochi atau apa aja yang kenyal dan manis."
"Baiklah, sesuai keinginanmu sayang." Delano membawa nampan berisi makanan itu lagi untuk di bawa ke bawah. Ia mengecup puncak kepala Lusi sesaat lalu Delano bergegas turun. Lusi merebahkan tubuhnya, ia menghubungi ibu menrtuanya untuk menanyakan kabar kedua putranya.
"Devan dan Davin sedang apa ma?"
"Mereka berdua sedang bermain sayang. Memangnya kamu dimana tumben jam segini tidak di rumah?"
"Lusi di rumah ayah mah, sepertinya Lusi ingin menginap di sini. Jika Devan dan Davin mencari Lusi, tolong hubungi Lusi ya mah. Nanti biar mereka dijemput ayahnya."
"Nanti mama yang akan mengantar mereka jika mereka mencarimu. Nikmatilah waktumu di sana sayang."
"Terima kasih mama."
Setelah mengakhiri panggilannya Lusi yang merasa bosan akhirnya memilih turun ke bawah dia ingin menemui sang ayah untuk menuntaskan rasa penasarannya tentang pertanyaan yang tadi sempat ia lontarkan pada Harlan.
Lusi mengetuk pintu ruang kerja Suryo. Setelah mendapat ijin dari ayahnya Lusi langsung masuk. Harlan dan 2 orang IT yang ada di sana langsung keluar.
"Apa ayah sibuk?"
__ADS_1
"Sedikit, ada apa sayang?"
Lusi duduk di sofa dan Suryo mendekat ke arah putrinya. Suryo membelai rambut Lusi dengan lembut.
"Boleh Lusi berbaring di pangkuan ayah?" Suryo tersenyum seraya mengangguk. Lusi merebahkan kepalanya di pangkuan Suryo. Rasanya begitu nyaman dan Lusi merasa tidak ada ketakutan sama sekali saat bersama sang ayah.
"Ada apa, nak?"
"Boleh Lusi bertanya mengenai sesuatu?"
"Tentu saja boleh, apa yang ingin Lusi ketahui?"
"Ayah 23 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Jika sekarang ayah begitu hebat mengapa butuh waktu lama saat itu untuk mencari Lusi dan ibu?"
"Ayah akan ceritakan semuanya. Tapi maukah Lusi memaafkan semua kesalahan nenek dan ayah?" Suryo menunduk menatap wajah putrinya. Lusi langsung mengangguk dia hanya ingin benar-benar tahu apa yang ayahnya lewati hingga butuh waktu begitu lama."
"Semenjak ibumu pergi dari kota jakarta ayah sempat benar-benar terpuruk. Hari-hari yang ayah lalui terasa begitu berat sampai 3 bulan ayah larut dalam kesedihan. Ayah mabuk setiap pulang dari bekerja hampir setiap hari seperti itu hingga om Galuh, ayah Delano menegur ayah dan memarahi ayah.
Dulu bukan perkara yang mudah untuk mencari jejak seseorang. Karena naik kereta atau naik bus tidak perlu KTP seperti sekarang."
Lusi terlihat semakin penasaran, dia juga menikmati belaian lembut Suryo di kepalanya.
"Lalu?"
"Ayah berusaha keras mencari ibu, di setiap kota di sudut Jakarta. Saat itu ayah sama sekali tidak tahu jika nenekmu terlibat dengan kepergian ibumu. Ayah terus mencari hingga tanpa terasa waktu bergulir dengan cepat. Waktu itu ayah juga jarang pulang ke mansion ini jadi ayah sama sekali tidak tahu apa yang nenekmu lakukan. Sampai suatu saat ayah dengar sendiri nenek menghubungi seseorang dan menanyakan keadaanmu dan meminta orang itu membawa kalian jauh dari ayah.
Saat ayah tahu orang itu membawa kalian ke Semarang, ayah sempat bertengkar hebat dengan nenek. o satu minggu. Hasilnya ayah mendapatkan fotomu yang begitu cantik. Ayah pulang ke Jakarta naik mobil saat itu dalam keadaan lelah dan putus asa hingga kecelakaan itu terjadi." Suryo menghembuskan nafas panjang. Lusi menatap sendu sang ayah. Tampak jelas pria itu seakan menanggung beban berat.
Lusi mengusap punggung tangan sang ayah. "Maafin Lusi ya yah. Ayah jadi harus mengingat kenangan buruk. Tidak perlu di lanjutkan jika ayah merasa berat."
Suryo menggelengkan kepalanya. Dia memang harus menceritakan semuanya pada Lusi. "Tidak apa-apa. Toh sekarang ayah sudah bersama kamu dan ibumu. Ayah akan lanjutkan ceritanya. Jadi setelah ayah kecelakaan nenekmu terkena serangan jantung. Saat itu kondisi benar-benar kacau. Kedua tantemu yang meminta om Galuh untuk mengelola usaha ayah. Sementara kedua tantemu fokus merawat ayah dan nenek bergantian. Ayah koma cukup lama, kondisi nenekmu tidak jauh berbeda dengan ayah. Ayah tersadar dari koma namun kata semua orang ayah mengalami amnesia. Namun hanya ingatan tentang ibumu yang terhapus. Menurut dokter yang saat itu menangani ayah itu disebabkan karena ayah terlalu mencintai ibumu dan terus memikirkannya sehingga setelah kecelakaan terjadi memori tentang ibumu terkunci. Hal yang membuat ayah butuh waktu bertahun-tahun setelah itu karena ayah mengalami kelumpuhan pada kedua kaki ayah karena tulang ekor ayah sempat bermasalah.
**To be continue...
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Lanjut besok ya tsay. othor hari ini super sibuk sekali**.