Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 48. Habis manis


__ADS_3

********


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, Lusi membuka matanya dengan enggan. Rasanya sekujur tubuhnya terasa begitu lemas. Namun suara perutnya terus menuntut untuk segera diisi. Lusi menoleh ke arah samping akan tetapi dia tak mendapati Delano ada di sana. Entah mengapa Lusi merasa sedikit kecewa.


"Huft ... habis manis sepah ditinggal." Saat Lusi akan bangkit dari tempat tidur dia teringat akan sahabatnya Lisa. Dia segera mengambil ponsel di nakas dengan alis berkerut.


"Kenapa rasanya seperti ada yang tertinggal di dalam?" gumam Lusi, ia segera mencari nomor Lisa dan menghubungi nya. Namun berulang kali Lusi mencoba menghubungi sahabatnya selalu saja operator yang menjawab nomor tidak aktif.


"Maafkan aku Lisa, apa aku terlambat?" Lusi memaksakan tubuhnya yang lemas untuk ke kamar mandi membasuh wajahnya. Lusi pun bergegas berganti pakaian dan menyambar tas dan ponselnya.


Lusi turun dari lantai atas dengan buru-buru dan hampir saja ia jatuh terjungkal jika tidak ada lengan kokoh yang menahannya.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Delano.


"Aku harus pergi. Aku lupa jika hari ini Lisa akan pergi. Aku seharusnya mengantarkan dia." Delano dapat menangkap jika saat ini Lusi pasti merasa bersalah.


"Aku akan mengantarmu tunggulah sebentar."


"Tapi .... "


"Lusi, aku suamimu. Aku akan mengantarmu. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu." Tegas Delano namun dengan nada yang lembut.


Tak menunggu lama keduanya sudah membelah jalanan ibukota. Berulang kali Lusi menghubungi Lisa namun hasilnya sama saja. Wajah Lusi pun telah memerah menahan tangisnya. Delano melirik Lusi, rasanya ia menjadi ikut merasa bersalah karena membuat Lusi kelelahan.


Setibanya di depan rumah kontrakan Lisa, Lusi mengetuk pintu berulang kali namun sepertinya rumah Lisa sepi. Tubuh Lusi jatuh merosot dengan isak tangis yang terdengar sangat mengusik hati Delano. Pria itu akhirnya mendekat dan berjongkok lalu memeluk Lusi.


"Aku benar-benar sahabat yang buruk, aku jahat. Aku .... "


"Sshh ... Jangan berkata seperti itu." ucap Delano, ia tak tahu harus berkata apa untuk menghibur istrinya itu.


"Lusi .... "


Lusi seketika menoleh, dan mengusap air matanya.


"Ibu, Lisa sudah berangkat?" Lusi mendekat ke arah ibu Yuyun dan menggoyang tangan wanita paruh baya itu. Bu Yuyun mengusap sisa air mata Lusi dan tersenyum. Meskipun Lusi juga tahu wajah bu Yuyun juga sembab tapi wanita paruh baya itu terlihat tampak tegar.


"Lisa sudah berangkat dari kemarin, jadwalnya di majukan. Tapi dia tidak sempat mengabarimu. Dia hanya titip salam sama ibu buat disampaikan ke kamu maaf."


"Ta...tapi kenapa bu?"

__ADS_1


"Temannya ada yang berhalangan jadi Lisa mengisi kuota pertama untuk diberangkatkan."


"Dimana bu?"


"Maaf Lusi ibu sendiri juga tidak tahu. Lisa bilang juga tidak akan lama. Dan mengenai uang yang Lisa pinjam .... "


"Ibu, Lusi ikhlas bantu mas Tio. Selama ini ibu juga sudah bantu Lusi merawat Devan dan Davin tanpa pamrih. Ibu dan Lisa tidak perlu mengembalikan apapun pada Lusi."


"Terimakasih Lusi, semoga pernikahanmu membawa kebahagiaan untuk Devan dan Davin. Kasihan mereka selalu ingin memiliki keluarga yang utuh."


"Aamiin, terimakasih doa nya ibu."


"Kamu sepertinya kurang sehat sayang? apa kamu makan dengan teratur? ingat kamu punya maag jangan sampai telat makan." ucap bu Yuyun mengingatkan. Delano menatap Lusi menyelidik namun gadis itu memilih membuang pandangannya.


"Lusi baik-baik saja bu, bu ini Lusi titip kunci rumah. Nanti kalo misalkan kontrak rumah ibu habis, ibu bisa pindah ke sebelah. Lusi kan sekarang tinggal dengan suami Lusi."


"Tapi kenapa Lusi, ibu bisa carikan orang untuk mengontrak rumah kamu?" Ucap bu Yuyun penuh haru. Pasalnya tak hanya sekali Lusi membantunya baik itu dari finansial maupun tenaga. Maka dari itu bu Yuyun juga dengan suka rela membantu Lusi.


"Lusi lebih percaya ibu yang merawatnya. Lusi mohon bu." ujar Lusi memelas.


"Ya sudah kalo begitu. Nanti sesekali ibu akan bersihkan rumah kalian."


"Ya, ibu akan membantu besok. Sering-seringlah mengunjungi ibu meskipun Lisa berada jauh dari ibu."


"Tentu saja bu, lagi pula ruko Lusi ada di depan. Ibu Lusi pamit ya." Delano menyalami bu Yuyun, begitupun Lusi. Lusi juga memeluk bu Yuyun erat.


"Ibu jaga kesehatan jangan sampai sakit. Nanti Lusi di marahi Lisa."


"Iya Lusi."


.


.


.


Sementara itu orang yang menjadi bahan perbincangan antara bu Yuyun dan Lusi telah sampai di tempat terpencil yaitu desa Hebing, Mapitara kabupaten Sikka NTT. Perjalanan yang di tempuh cukup membuat Lisa harus merasakan mabuk perjalanan. Karena memang medan menuju ke sana di penuhi jalan yang rusak. Bahkan menurut informasi dari rekannya jika di sana masih sangat sulit mencari jaringan internet. Namun bukannya sedih Lisa sedikit bersyukur setidaknya untuk beberapa waktu ke depan dia bisa fokus pada kegiatannya dan melupakan semua hal-hal buruk yang terjadi di kehidupannya kemarin.


"Eh Lisa ... kamu Lisa kan?" Ujar seorang pria berseragam TNI.

__ADS_1


"Siapa ya?" tanya Lisa bingung.


"Aku dulu yang pernah nolongin kamu dan sahabat kamu Lusi. Kalian di kejar anjing di komplek TNI ingat tidak. Sahabat kamu sampai pingsan."


Lisa tampak sedang mengingat ingat lalu dia memekik keras.


"Ah abang cilok .... !!"


"Sembarangan kamu, aku udah bilang berapa kali juga. Aku itu seorang anggota TNI bukan tukang cilok. Kok kamu bisa di sini? gimana kabar sahabat kamu itu?" tanya pria berseragam TNI itu.


"Dia kemarin baru saja menikah. Karena aku di tinggal nikah aku memutuskan buat nyari jodoh juga." Ujar Lisa seraya meringis.


"Lisa ayo, kak adam sudah nunggu."


"Eh maaf ya bang, aku pergi dulu." Ucap Lisa


"Tunggu dulu main pergi saja. Kamu ikut menjadi relawan medis disini?" tanya Pria itu lagi.


"Iya bang, selama 6 bulan. Udah dulu ya abang cilok. Kapan-kapan kalo ada waktu kita ngobrol lagi." Lisa berlalu dari hadapan pria itu.


Pria itu terus memandangi kepergian Lisa. Seraya mendesah berat. "Hah ... ternyata sudah menikah. Sayang sekali."


.


.


.


Karisa terbangun dengan keadaan tanpa busana dan hanya tertutup selimut. Batinnya menggerutu kesal karena dia tidak mengingat apa yang telah terjadi. Namun bunyi pintu kamar mandi yang terbuka membuatnya menoleh dan menatap pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan gagah di usianya.


"Siapa kau?"


"Apa kau lupa kucing liar. kau yang telah membawaku kemari dan kau juga yang memintaku untuk melayani nafsumu yang begitu buas itu."


"Apa kau sedang membual?"


"Wah, kau belum buta kan? lihatlah ini semua bekas sentuhanmu di tubuhku yang berharga ini." Ujar pria itu memperlihatkan dadanya yang di penuhi kissmark dari Karisa.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


like komen dan votenya jangan lupa ya.


__ADS_2