Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 77. Ayah Janji


__ADS_3

*********


Lusi tertidur pulas setelah berolahraga dengan Delano. Sementara Delano mendatangi kamar anak-anaknya untuk bertanya penyebab pertengkaran mereka. Dia curiga jika itu hanya akal-akalan putranya saja.


Delano masuk ke kamar mereka, setelah mengetuk pintu. Devan dan Davin menoleh sekilas lalu mereka kembali asyik memandangi ikan yang baru saja Delano belikan tadi.


"Bagaimana guys, kalian suka?" tanya Delano seraya mengacak rambut kedua bocah itu.


"Tentu saja ayah, ini sangat keren." Gumam Devan, sementara Davin terlihat tak acuh dan asyik menatap ikan yang bergerak itu.


"Guys, ada yang ingin ayah tanyakan. Perihal kejadian tadi siang di sekolah. Bisa kalian jelaskan kenapa kalian berkelahi?"


Davin mengerjap berkali-kali, lalu menoleh ke arah sangat ayah. Sementara Devan menunduk takut karena dia tidak ingin salah bicara.


"Kami hanya ingin bunda datang, agar bunda menjemput kami dari sekolah dan membawa kami ke kebun binatang" jawab Davin.


"Tapi apa kalian harus berbohong dan membuat bunda cemas?" Davin menggeleng begitu juga Devan. Mereka tidak berpikir sampai ke sana.


"Tidak ayah."


"Apa hanya itu alasan kalian?"


"Devan mengangguk tapi Davin terdiam sejenak, ia lalu menatap mata Delano dengan sendu. " Ayah ... jika sampai ayah menyakiti bunda, kami akan bawa bunda pergi dan lebih baik kita tidak pernah bertemu. Aku dan kakak tidak apa jika tidak memiliki ayah. Tapi bagi kami, bunda adalah segalanya. Meskipun kami senang memiliki ayah tapi jika bunda tidak bahagia, lebih baik kami tidak memilikinya." Davin mengatakan semua yang ada di hatinya dengan mata berkaca-kaca. Delano tersenyum lembut dan memeluk kedua putranya.


"Ayah janji, tidak akan pernah menyakiti bunda kalian sampai kapan pun dan ayah tidak akan membiarkan bunda bersedih."


Delano mengusap punggung Davin dan Devan. Kedua bocah itu memeluk leher Delano seakan mereka menggantungkan seluruh kepercayaannya pada sang ayah untuk melindungi bunda yang paling mereka sayangi.


"Sekarang, ayo ganti baju kalian dan segera istirahat. Bunda juga sudah tidur karena kecapekan" tutur Delano membawa Devan dan Davin ke walk in closet. Mereka telah berganti dengan baju santai. Delano berbaring di tengah-tengah Devan dan Davin. Kedua putranya memeluk lengannya.


"Ayah apa suatu saat kami akan punya adik?" tanya Devan.


"Bukankah sudah ada aku kak?" Davin tampak tidak suka dengan pertanyaan Devan.

__ADS_1


"Maksudku seperti Gabriel. Dia punya adik perempuan yang sangat cantik. Aku mau punya adik perempuan." Mata Devan berbinar saat membicarakan mengenai adik perempuan temannya.


"Oh, aku juga mau kalau adik perempuan. Agar aku bisa menggodanya setiap saat." Davin terkekeh, sementara Delano tersenyum mendengar ucapan kedua putranya.


"Kita do'akan saja. Semoga adik perempuan kalian akan secepatnya hadir di perut bunda" ucap Delano kemudian. Ia ingat jika Lusi belum mau menceritakan apapun mengenai kehamilannya saat ini pada kedua anaknya. Jadi sebagai suami Delano harus mendukung apapun keputusan Lusi demi kebaikan dan kesehatan Lusi juga.


Tak lama kedua putranya sudah terlelap. Delano perlahan melepas tangan kedua putranya dan bangun. Dia ingin menghubungi Regan untuk menanyakan hasil meeting tadi siang.


Sesaat Delano menunggu panggilannya tersambung, sebelum akhirnya suara Regan terdengar menyapa kesal.


"Kenapa anda baru menghubungi saya, tuan?"


"Memangnya kenapa?"


"Saya membatalkan kerjasama ini. Meskipun nilai kerjasamanya cukup memuaskan tapi harga yang harus dibayar adalah keutuhan rumah tangga anda." Regan menjelaskan dengan masih sangat emosi. Bagaimana tidak? jika dari kliennya berniat menjalin kerjasama karena ingin menjodohkan putrinya dengan Delano. Tentu saja sebagai seorang sepupu dari istri Delano, Regan sangat tidak senang dengan syarat yang mereka ajukan.


Delano yang mendengar penjelasan Regan hanya tersenyum. Baginya kerja sama itu hanya sebagai sarana mengembangkan perusahaannya saja. Jika pun mereka tanpa kerja sama itu Delano tidak serta merta akan jatuh miskin karena dia juga memiliki beberapa kontrak ekslusif dengan negara berkembang lainnya.


Setelah berbicara beberapa saat Delano pergi ke kamar, dia duduk di tepi ranjang dan membelai wajah pucat Lusi. Bibirnya mengulas senyum saat Lusi menggeliat dan membuka matanya.


"Mas ga istirahat ya?" tanya Lusi dengan suara serak. Dia berusaha bangun dan Delano membantunya. Delano mengambil gelas air putih di atas nakas dan memberikannya pada Lusi. Lusi tersenyum lalu meminum air itu hingga tandas.


"Aku baru dari kamar anak-anak."


"Apa kamu ingin makan sesuatu?" Delano merapikan rambut Lusi yang berantakan. Lusi mengangguk. Dia memang terbangun karena perutnya lapar minta di isi.


"Apa yang ingin kamu makan?" Lusi tampak berpikir, bibirnya mengerucut menggemaskan hingga membuat Delano tak tahan dan mengecupnya.


"Berpikir saja, jangan menggoda begitu."


"Siapa yang menggoda sih mas?" Lusi mengerucutkan bibirnya lagi.


"Itu, bibir kamu dari tadi godain mas terus."

__ADS_1


"Huh, itu pasti cuma akalยฒan mas aja. Dasar mesum."


"Cepat katakan, apa yang ingin kamu makan?"


"Aku ingin makan siomay mas." raut wajah Lusi berbinar saat membayangkan olahan dengan bumbu kacang itu masuk ke mulutnya. Rasanya dia sudah tak tahan lagi.


"Aku akan pesankan siomay-nya tapi sekarang kamu basuh muka dulu."


Lusi benar-benar menyukai sikap Delano yang lembut dan penuh kasih sayang, seakan-akan sikap pria itu mampu mengisi ruang kosong di hati Lusi yang dulu haus akan kasih sayang dari ayahnya. Dan kini sebagai suami, Delano juga mencurahkan segala perhatiannya untuk Lusi.


Pesanan Lusi tiba 45 menit kemudian. Selama menunggu dia sudah menghabiskan segelas susu hamil dan 2 potong sandwich daging yang di beri keju. Namun begitu siomay nya tiba, Lusi sudah benar-benar tidak sabar menunggu.


"Sari, cepatlah. Aku sudah lapar." Lusi meminta pelayan yang seumuran dengannya agar cepat memindahkan siomay ke piringnya. Diana keluar dari kamar dan menghampiri Lusi di ruang makan.


"Wah, makan apa sayang?" tanya Diana seraya mengambil segelas air putih hangat untuk dirinya.


"Siomay mah, mama mau?" tawar Lusi. Diana hanya menggeleng.


"Kemarin ibu gimana mah?"


"Ibu kamu sudah jauh lebih baik. Dia sudah bisa menerima kepergian nenek kamu. Mama juga berharap kamu jangan terlalu banyak bersedih ya." Diana adalah wanita yang lembut sama seperti Mitha, sehingga Lusi pun merasa nyaman saat bersamanya.


"Iya ma," jawab Lusi.


Delano turun dengan menggendong kedua putranya di sisi kanan dan kiri dengan hati-hati.


"Sepertinya aku mau renovasi rumah saja mah, kita butuh lift." ujar Delano setibanya di ruang makan. Sungguh bukan hal mudah menggendong kedua putranya apalagi mereka terus bergurau saat ada dalam gendongannya. Lusi menyodorkan gelasnya yang berisi air putih dan Delano langsung meneguknya.


"hahahaha, ayah lelah menggendong kita kak." Ujar Davin mengejek Ayahnya. Devan tersenyum seraya bergelayut manja di lengan Lusi.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Jangan lupa like, komen dan gift kalian tsay ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2