Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DJB 36. Apa Kamu Malu?


__ADS_3

*******


Lusi kembali dari pemakaman bersama Delano, setelah berbagai paksaan dari Kedua orangtuanya dan juga Diana. Alih-alih mereka ingin trauma Lusi bisa segera sembuh. Tapi siapa yang tau maksud dan tujuan mereka sebenarnya.


"Apa kamu keberatan pergi bersamaku?" tanya Delano sesekali menatap Lusi.


"Tidak, aku hanya merasa belum terbiasa."


"Maka biasakanlah, sebentar lagi kita akan menjadi suami istri kita akan lebih sering berinteraksi."


"Ya kamu benar, tapi kita menikah bukan karena saling mencintai. Tapi kita menikah demi Devan Dan Davin." Ucap Lusi.


"Siapa bilang?" tanya Delano menatap Lusi intens. Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"M-mau apa k-kamu?" ujar Lusi tergagap.


"Lusi, tidak semua pria sama seperti Jaka. Kamu harus memberi pengecualian. Seperti kamu bisa menerima om Suryo sebagai ayahmu. Aku ingin kamu menerima ku sebagai suamimu." Delano menatap dalam dan teduh. Manik mata Lusi bergerak resah saat mendapat tatapan seperti itu dari Delano. Setiap kali mata mereka bertaut jantung Lusi seakan di pompa lebih cepat. Delano memberanikan diri membelai wajah Lusi, mata Lusi terpejam.


Delano tersenyum menatap Lusi. "Buka matamu Lusi." Bisik Delano lembut. Lusi membuka mata dengan wajah yang sudah sangat memerah.


"Apa kamu percaya cinta pada pandangan pertama Lusi?" gadis itu menggeleng.


"Ti-dak .... "


"Tapi aku percaya Lusi. Saat 5 tahun yang lalu aku melihatmu masuk ke dalam mobilku. Entah mengapa ada perasaan aneh yang menyelusup di hatiku. Lalu pertemuan kedua kita lebih meyakinkan ku jika aku memiliki rasa lebih terhadapmu." Ujar Delano menghimpit tubuh Lusiana hingga gadis itu bersandar di badan mobil.


"B-bisa kah ka-mu menjauh. A-aku tidak nyaman seperti ini." Lirih Lusi. Dia tak ingin Delano tahu jantungnya saat ini berdebar kencang.


"Apa kamu malu padaku? atau sebenarnya sudah ada cinta di hatimu untukku? tanya Delano dengan senyum yang mampu melemahkan seluruh syaraf di tubuh Lusi.


.


.

__ADS_1


.


Mereka berdua tiba di depan butik Lusi. Aditya sudah menunggunya dan melemparkan senyuman menawan pada Lusi. Tapi sayangnya Lusi sama sekali tidak tergoda. Delano menatap jijik ke arah Aditya. Namun sebisa mungkin dirinya bersikap biasa saja.


"Nona Lusi aku sudah menunggumu sejak kemarin." Ujar Aditya seakan tak menganggap keberadaan Delano.


"Ah maaf tuan, kemarin putra-putraku sedikit rewel, dan tidak ada yang bisa menenangkan kecuali saya. Silahkan masuk tuan." Lusi mempersilahkan Aditya. Delano mengenggam tangan Lusi. Meskipun sedikit terkejut tapi Lusi merasa ini bentuk perlindungan Delano kepadanya jadi Lusi diam saja dan menuruti kemauan pria itu.


Aditya tampaknya sangat terganggu dengan kehadiran Delano. Ditambah lagi pria itu dengan posesif terus menggandeng tangan Lusi hingga sampai di ruangan Lusi.


"Maaf sebelumnya nona Lusi, saya ingin membicarakan bisnis dengan anda. Apakah perlu pria ini ada di sini?" tanya Aditya dengan nada tak suka yang sangat ketara, Delano tau pasti Aditya gusar karena dari tadi dirinya terus menempel pada Lusi.


"Maaf tuan, ehm ... suami saya perlu memakai laptop saya. Kita abaikan saja kehadirannya." Ucap Lusi canggung menatap Delano. Namun bukannya marah Delano justru sepertinya sangat senang karena Lusi mengakuinya sebagai suaminya.


"Percayalah tuan Aditya, saya tidak akan mengganggu."


"A-anda sudah menikah?" Aditya tampak terpana mendengar informasi yang baru saja mengguncang dirinya.


"Itu benar tuan, hanya saja pernikahan kami memang belum go public karena aku masih sangat sibuk." Sahut Delano, ia tahu saat ini Lusi pasti sangat gugup berhadapan dengan mantan suami tantenya itu. Apa lagi Lusi memiliki masa lalu yang kelam yang berhubungan dengan laki-laki.


"Baiklah jika begitu ... saya tidak akan sungkan lagi" Ucap Aditya, dia tetap menjaga ketenangan meskipun saat ini hatinya sedang di liputi oleh rasa marah. Karena Lusi ternyata ada yang memiliki.


"Aku tidak akan menyerah, aku akan memilikimu sayang. Aku hanya harus bertahan dan menunggu kesempatan untuk membawamu." Batin Aditya, tersenyum tipis.


Delano diam-diam menatap Aditya. Entah mengapa perasaan Delano merasa tak enak melihat cara Aditya menatap Lusi.


"Oh iya tuan Aditya, bisnis apa yang ingin anda tawarkan kepada saya?" Lusi mencoba mengalihkan perhatian Aditya yang sedari tadi menatapnya seakan ingin menelan*jangi dirinya. Lusi pun bergidik ngeri membayangkan pria itu ada di dekatnya.


"Saya ingin butik anda membuka cabang di mall milik saya." Ujar Aditya seraya tersenyum mesum. Lusi menggigit bibir bawahnya. Tampaknya dia mulai kesulitan mengontrol dirinya. Tangan Lusi terasa basah hanya karena mendapat tatapan mesum dari pria itu.


"Nanti akan saya pikirkan lagi. Apa ada yang lain tuan?" tanya Lusi rasanya ia ingin segera mengakhiri pembicaraan ini. Berhadapan dengan pria seperti Aditya membuat pikiran Lusi terbayang-bayang akan masa lalunya saat tinggal bersama Jaka.


Lusi mulai terlihat Gelisah, dan Delano melihat perubahan gelagat Lusi.

__ADS_1


Delano akhirnya mendekat. "Apa kau masih merasa tak enak badan sayang?" Dia duduk dan berjongkok di depan sofa yang Lusi duduki.


"Maaf tuan Aditya, sepertinya istriku masih belum begitu fit untuk membicarakan bisnis denganmu."


"Maaf nona Lusi, saya tidak tahu jika anda sedang tidak fit. Baiklah, saya akan menunggu kabar baik dari anda." ucap Aditya.


"Kamu istirahat saja dulu di sini. Aku akan antar tuan Aditya dulu." Ujar Delano. Lusi mengangguk tetapi tidak berani bersitatap dengan Aditya.


Aditya tersenyum miring, sepertinya dia harus mencari celah agar dia bisa membawa Lusi dan memiliki wanita itu sepenuhnya.


"Permisi nona Lusi ... " Aditya berlalu di susul Delano. Lusi memijat pelipisnya. Entah kenapa bayangan itu tiba-tiba muncul lagi. Apa karena dirinya mendengar cerita dari ayahnya tadi?


Sementara itu di luar Delano dan Aditya sudah tidak bisa berpura-pura lagi. Aditya menatap sinis kearah Delano.


"Tak ku sangka kau bisa berpindah ke lain hati juga." Sindir Aditya.


"Saya hanya manusia biasa om. Lagipula saya sah-sah saja menikahi Lusi karena saya Duda. Bukan seperti anda yang menelantarkan istri sendiri demi wanita lain. Bahkan sampai menyebabkan istri sendiri bunuh diri mengenaskan." jawab Delano ketus.


Aditya mengepalkan tangannya mendengar jawaban Delano telak melukai harga dirinya. Memang semua yang dikatakan Delano benar adanya tapi dia merasa tak terima.


"Aku pastikan akan merebut Lusi darimu." Desis Aditya tersenyum miring.


"Anda salah mencari lawan. Apa anda tau siapa Lusi?"


"Lusi adalah istriku, dan anda tau betul apa yang bisa saya perbuat untuk menghancurkan siapa saja yang berani mengusik apa yang sudah menjadi milik Delano." Ujar Delano datar.


Aditya terkekeh, dia tidak akan menyerah. Meskipun lawannya adalah seorang Delano. Jika cara halus tidak bisa untuk memiliki Lusi maka ia akan memakai cara kasar.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Dikit dulu ya guys ... mak othor RL nya lagi ruwet.


Sabar kalian pasti bakalan othor bales dengan Crazy up. Tapi ga dalam waktu dekat. Nunggu nikah dulu merekanya oke.

__ADS_1


Eh aku punya rekomendasi karya Judulnya Bukan Pernikahan Impian karya dari temen othor Green_tea



__ADS_2