
********
Lidya saat ini sedang merajuk. Saat dia membuka matanya Hans tak ada di sampingnya. Suaminya itu benar-benar sangat membuatnya kesal. Padahal kedatangannya ke Indonesia sangat ditunggu olehnya. Namun ekspektasinya sepertinya terlalu tinggi.
"Kamu memang keterlaluan honey."
"Maafkan aku cintaku. Kakakmu mengajakku menyelesaikan urusannya. Aku ikut karena aku pikir siapa tahu aku bisa membantu."
"Lalu, apa dia butuh bantuanmu?"
"Tentu saja. Harlan tadi sedang ada pekerjaan lain jadi aku membantu kakakmu." Lidya menatap tajam wajah Hans. Laki-laki itu justru malah meringis seraya mengacungkan dua jari tanda damai. Lidya hanya bisa mendengus. Dia sama sekali tidak bisa jika harus kesal berlama-lama.
"Jangan diulang lagi, atau nanti aku bakalan potong pusakamu." Kata Lidya tangannya bergerak seakan sedang memotong sesuatu. Hans hanya tertawa melihat tingkah Lidya yang masih saja menggemaskan padahal usianya terbilang tak lagi muda.
Lidya memeluk Hans erat. Hans pun membalas pelukan istrinya agar ia bisa mendapatkan jatah malamnya.
Mitha tampak sibuk menyiapkan sarapan pagi ini. Kali ini dia masak spesial karena semua keluarganya berkumpul. Meskipun kini Mitha sudah bisa mengikhlaskan kepergian ibu namun kadang dia merasa sepi karena tak ada Laila, ibunya yang selalu memberikan tatapan penuh kasih. Mitha kadang-kadang melamun karena terlalu rindu pada ibunya.
"Sayang, masak apa?" tanya Suryo seraya mencium puncak kepala Mitha.
"Masak banyak, mas. Kan tamu kita juga nambah." Jawab mitha masih sibuk dengan peralatan dapurnya.
"Kenapa tidak biarkan koki yang memasaknya?"
"Siapa bilang aku tidak membiarkan mereka memasak? itu mereka juga sedang menyiapkan menu. Aku membantu mereka agar kita bisa cepat sarapan."
"Jika begitu, besok atau nanti aku akan mencari tambahan koki agar kamu tidak perlu ke dapur."
"Memang kenapa jika aku ke dapur mas?"
"Aku takut tubuhmu yang wangi ini terkontaminasi dengan asap makanan." Ujar Suryo lembut. Mitha tersenyum dan menggeleng.
"Sudah tua, masih saja suka gombal."
"Hanya sama kamu, istriku." Suryo akhirnya menyingkir tak ingin mengganggu istrinya. Suryo melihat kedua cucunya turun dengan di gandeng oleh calon mempelai wanita. Senyumnya merekah saat Devan dan Davin berlarian menghambur ke arahnya.
"Kakek .... "
__ADS_1
"Jagoan-jagoan kakek, Kalian sudah siap ke sekolah?" Suryo memeluk kedua cucunya.
"Iya kakek. Kami siap."
"Ayo sayang, sarapan dulu." Mitha mendekat dan mengandeng tangan kedua cucunya sementara Lisa sudah duduk tak jauh dari kedua bocah itu.
"Apa hanya kita yang akan sarapan?" tanya Lisa pemasaran karena dia tidak melihat yang lainnya.
"Entahlah, kita tunggu sebentar ya." Kata Mitha. Tapi baru selesai bicara anggota keluarga yang lain bermunculan. Mitha segera menuju kamar ibu mertuanya. Kegiatan paginya selain sibuk dengan urusan dapur. Ia juga mengurus ibu mertuanya. Mitha sendiri merasa senang dan tidak menganggap Ratih sebagai beban. Dia begitu tulus merawat Ratih. Bahkan Mitha juga sering menemani Ratih terapi.
"Ayo bu, kita sarapan dulu," kata Mitha.
Ratih tersenyum dan mengangguk perlahan. Setelah beberapa kali menjalani terapi, bibir Ratih mulai menunjukkan sedikit perubahan awalnya saat sakit bibir Ratih miring, tapi kini sudah hampir kembali normal. Mitha mendorong kursi roda Ratih, saat tiba di ruang makan, semua orang sudah berkumpul. Rumah yang dulunya sepi kini kembali ramai. Semua orang memulai sarapannya. Delano masih tampak pendiam tak seperti biasanya.
"Ayah, apa ayah sakit?" tanya Davin saat melihat Delano seperti kehilangan selera makannya.
"Tidak sayang, ayah baik-baik saja."
"Tapi Davin lihat, dari tadi ayah cuma mainin sendok sama garpu."
Lusi pun akhirnya mengalihkan pandangannya menatap suaminya. Bahkan sepertinya semua yang ada di meja makan itu menatap Delano.
"Mungkin nyidamnya pindah ke mas Delano, bu." jawab Lusi, namun alasan tak masuk akal itu justru bisa di terima oleh semua orang. Hingga semuanya kembali lagi pada kesibukan makan paginya.
Lusi dan Lisa saat ini sedang ada di salon. Regan sudah reservasi tempat untuk Lisa dan sepupunya melakukan perawatan. Sebenarnya Lidya awalnya ingin menemani tapi karena ada Hans, Lidya urung berangkat.
"Mbak, saya mau perawatan sama saudara saya. Tapi tolong untuk saudara saya ini perawatannya komplit ya." Kata Lusi, pegawai salon itu mengangguk lalu menjadi penunjuk arah bagi kedua sahabat itu.
Hampir dua jam keduanya menikmati Spa dan pijat (untuk Lisa). Keduanya keluar dari salon dengan wajah yang fresh.
"Bagaimana jika kita berputar-putar dulu, Lusi? Tawar Lisa. Akhirnya mereka berdua memutuskan berjalan-jalan dulu. Toh Lusi berpikir nanti setelah Lisa dan Regan sudah menikah mereka belum tentu memiliki waktu hanya untuk sekedar hangout.
Lisa dan Lusi memilih menonton, Lisa mengantri tiket sementara Lusi mengantri di food court. Tanpa sengaja Jeff melihat Lusi. Dia pun mendekat dan menyapanya.
"Hai, kamu istri Delano kan?" sapa Jeff. Lusi hanya tersenyum miring. Dia sendiri tidak ingat siapa pria yang sok kenal padanya saat ini.
"Aku Jeff, teman Delano."
__ADS_1
"Oh ... " hanya itu tanggapan Lusi. Jeff tampak kecewa dengan respon Lusi.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Maaf, tapi aku sedang buru-buru. Temanku menungguku." Lusi segera berlalu meninggalkan Jeff yang masih mematung menatap punggung Lusi.
"Hmm ... gadis yang unik." Gumam Jeff.
Lusi tampak ngos-ngosan seperti dikejar hantu. Lisa menatap aneh pada sahabatnya itu.
"Kenapa lari?" tanya Lisa penasaran.
"Tadi di sana ada teman suamiku."
"Trus kenapa lari?"
"Aku takut. Karena ia adalah pria yang membuang Devan dan Davin dulu." terang Lusi pada Lisa. Lisa sempat terkejut namun kenj
"Ya sudah ayo masuk saja." ajak Lisa mengandeng tangan Lusi. Sejenak keduanya melupakan masalah yang sempat menimpa Lisa.
Setelah pergi menonton, Lisa dan Lusi kembali berjalan-jalan. Mereka benar-benar menghabiskan waktu di mall hingga lupa waktu.
Delano benar-benar mengkhawatirkan kondisi Lusi. Ponsel Lusi bahkan tidak bisa di hubungi. Delano langsung menghubungi Marco. Ia bisa bernafas lega setelah mendengar jika Lusi dan Lisa sedang menikmati waktu mereka.
Malam mulai beranjak saat Lisa dan Lusi tiba di rumah. Tatapan tajam Delano mampu membuat Lusi takut.
"Dari mana kamu?"
"Jalan-jalan mas."
"Lusi, tuan Delano aku permisi dulu." Lisa langsung mengambil langkah seribu meninggalkan pasangan Delano dan Lusi.
"Kenapa kamu tidak menghubungi ku tadi. Taukah kamu aku mengkhawatirkan mu." Delano membingkai pipi Lusi yang mulai memerah. Delano perlahan mengecup bibir Lusi lembut.
"Jangan membuatku khawatir sayang."
"Maaf, aku kira kamu tahu. Aku pergi karena Regan sudah pasti memberitahu kamu." Kata Lusi. Delano dengan gemas kembali mengecup bibir Lusi yang manis.
__ADS_1
"Bunda .... "
🌹🌹🌹🌹🌹🌹