Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 90. Karisa Kabur


__ADS_3

********


Suryo tersenyum puas saat mendapat laporan dari Harlan. Dia tak akan melepaskan siapapun yang berani mengusik putrinya.


Suryo memang orang yang tampak ramah dari luar. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan di usianya itu murah senyum. Namun dia memiliki sisi gelap yang tidak banyak orang tau. Hanya segelintir orang saja yang pernah berurusan dengannya yang betul-betul tahu bagaimana mengerikannya pria itu.



"Tuan, tugas telah selesai" ucap Harlan seraya menunduk memberi hormat pada Suryo.


"Bagus, kita lihat dulu saja sekarang. Umpan harus benar-benar termakan dengan baik. Kita lihat apa yang akan Aditya lakukan melihat sekutunya perlahan hancur."


Harlan tersenyum tipis mendengar jawaban dari tuannya. Pria yang terlihat ramah itu memiliki begitu banyak taktik brilian untuk menjatuhkan lawannya.


"Harlan, pastikan acara lamaran Regan 3 hari lagi berjalan lancar. Hans akan pulang besok. Kita tidak bisa mempermalukan nama keluarga Syailendra. Akan ada banyak wartawan yang memperhatikan nanti."


"Siap laksanakan tuan."


Suryo memandang jauh ke hamparan taman di belakang rumahnya di mana istrinya sedang duduk menemani ibunya. Rasanya tak ingin ada sedikitpun yang mengusik kebahagiaan mereka sampai kapan pun.


.


.


.


Waktu sudah beranjak sore. Delano menggenggam jemari Lusi seraya memperhatikan kedua putranya yang sedang berlarian. Ponsel dalam sakunya berdering dan nama Kevin pengacaranya muncul.


"Ada apa Kev?"


"Gawat tuan, nona Karisa kabur dari lapas."


"Apa ... !" Delano langsung berdiri dan berkacak pinggang saat mendengar berita itu.


Lusi tersentak kaget dan menatap Delano bingung. Wajah suaminya tampak sangat khawatir. Tiba-tiba perasaan Lusi mendadak merasa tidak enak.


"Ada apa mas?" Lusi menyentuh lengan Delano. Namun sedetik kemudian Delano tersenyum kaku melihat kekhawatiran di wajah istrinya


"Tidak ada apa-apa sayang, hanya ada sedikit masalah di kantor. Ajak anak-anak pulang. Mas harus segera menyelesaikan masalah itu." Ujar Delano seraya mengusap kepala Lusi. Lusi mengangguk patuh dan memanggil kedua putranya. Devan dan Davin terlihat sangat berkeringat namun wajah mereka sangat bahagia.

__ADS_1


"Ada apa bunda?" Devan dan davin mendekati Lusi.


"Kita pulang ya sayang. Ini sudah sore, sebentar lagi malam. Kita bisa kesini lagi kapan-kapan." ujar Lusi seraya mengelap keringat yang membasahi kening dan leher kedua putranya.


"Yah bunda," Devan seperti akan mengeluarkan keluhannya namun buru-buru Delano memotong ucapan bocah itu.


"Ayah harus kembali ke perusahaan. Bunda tidak boleh terlalu capek sayang. Kalian juga pasti sudah capek seharian jalan-jalan. Sekarang sebaiknya kita pulang." Devan dan Davin pun akhirnya mau tak mau mengangguk.


"Iya, ayah." jawab keduanya kompak.


Akhir nya Delano langsung ke kantor melajukan mobilnya, sementara Lusi dan kedua putranya pulang dengan Marco. Saat di perjalanan Devan dan Davin yang sudah berganti baju terlelap di pangkuan Lusi. Kedua anak itu tampak begitu kelelahan.


Marco sesekali melirik kaca spion memastikan tidak ada mobil yang mencurigakan yang mengikuti mereka. Gelagat itu membuat Lusi mengerenyitkan alisnya.


"Apa ada yang mengikuti kita?" tanya Lusi. Marco menoleh sebentar lalu kembali fokus menyetir.


"Tidak nona, saya hanya berjaga-jaga jika ada yang membuntuti kita seperti tempo hari." jawab Marco, Lusi mengelus dadanya lega.


"Jika ada sesuatu yang sekiranya mencurigakan katakan saja padaku. Jangan sampai akhirnya justru malah membuatku terkejut tanpa persiapan. Kamu pasti tahu semua tentangku? Meskipun aku perlahan bisa terlepas dari trauma ku tapi jika tiba-tiba berhadapan dengan laki-laki yang menakutkan aku pasti langsung tremor. Tapi jika kamu memberitahuku setidaknya aku bisa mempersiapkan diri."


"Baik nona, akan saya ingat pesan anda."


"Wanita ular itu benar-benar berbahaya. Sampai sekarang aku juga masih menyelidiki motifnya melakukan semua kejahatan yang telah dia lakukan namun masih belum ada titik terang. Selama ini dia berperilaku seperti seorang psikopat," ujar Delano pada Kevin pengacaranya.


"Kenapa anda tidak meminta bantuan asisten ayah mertua anda. Saya yakin sebenarnya ayah mertua anda sudah memiliki informasi mengenai nona Karisa. Anda hanya perlu menanyakannya tuan."


"Apa menurutmu tidak apa-apa seperti itu? aku seperti merasa menjadi menantu yang tidak berguna." Lirih Delano putus asa.


Delano akhirnya memutuskan untuk kembali pulang di kediaman Syailendra. Dia masuk kedalam rumah, memasang wajah cerianya kembali agar tidak membuat Lusi yang sedang hamil menjadi khawatir terhadapnya.


"Lano kemarilah... !" Suara Suryo terdengar tegas. Delano hanya menunduk saat tatapan Suryo seakan mampu membelah tubuhnya saat ini.


"Iya ayah ... "


"Katakan kenapa bisa terjadi?" tanya Suryo, Harlan yang berdiri di belakang kursi Suryo hanya diam menjadi penonton dengan tatapan mata yang datar.


"Aku juga tidak tahu ayah, dia membohongi petugas lalu kabur."


"Bagaimana dengan orang-orang mu? kenapa kamu selalu lambat sekali menanggani masalah. Bagaimana kelak aku menghadapi ayahmu? aku merasa gagal membimbingmu." ujar Suryo dengan wajah berubah sendu.

__ADS_1


"Maaf ayah ... " hanya satu kata itu yang terpikirkan oleh Delano saat pandangan matanya bertemu dengan mata Suryo.


"Aku begitu menaruh harapan besar padamu. Aku menyerahkan keselamatan dan kebahagiaan putriku satu-satunya padamu. Tapi lihatlah sekarang! mengurus seorang parasit saja kamu tidak mampu. Bagaimana jika kelak dia kembali menodongkan senjatanya pada putriku?"


Delano mengangkat wajahnya menatap Suryo lekat. Dari sorot mata ayah mertuanya tersimpan keresahan akan keselamatan Lusi. Delano tahu saat ini dia telah gagal.


"Akun akan segera mengurusnya ayah."


"Harlan akan membantumu dan pastikan jangan sampai wanita itu mengusik ketenangan putriku apalagi sampai melukainya. Atau aku sendiri yang akan bertindak."


"Baik ayah, Lano akan segera mengurusnya."


"Apa yang akan mas urus?" Lusi berdiri di ambang pintu menyahut ucapan suaminya.


"Lusi, sayang. Kamu tidak sopan." Tegur Suryo dengan nada bicara yang halus. Lusi hanya tersenyum menampilkan derretan giginya yang putih dan rapi.


"Habisnya ayah menahan suamiku terlalu lama. Aku sudah menunggunya dari tadi. Biarkan suamiku membersihkan dirinya dulu. Mengisi perutnya baru berbincang." Sudut mata Delano terasa panas mendengar perhatian yang istrinya berikan untuknya. Sementara Suryo menatap Delano penuh arti seraya menyunggingkan senyum.


"Baiklah, ayah mengaku salah. Maafkan ayah ya nak." Suryo membelai kepala Lusi. Wanita itu memilih duduk di samping ayahnya dan bergelayut manja di lengan sang ayah.


Ayo mas... kita ke atas." Lusi mencium pipi ayahnya lalu perlahan bangkit dan menarik tangan suaminya. Sebenarnya tadi tanpa sengaja Lusi mendengar pembicaraan antara suami dan ayahnya. Lusi merasa ayahnya terlalu keras menekan suaminya. Tapi bukan itu yang menjadi pikiran Lusi saat ini melainkan saat ia mendengar ayah dan suaminya membicarakan seseorang. Siapa sebenarnya yang ayahnya maksud.


Lusi membantu Delano melepaskan jasnya. Senyum manis tersungging di bibir Delano, lalu tanpa aba-aba Delano mengecup bibir Lusi yang merah.


"Terima kasih istriku sayang."


"Terima kasih untuk apa mas?"


"Untuk semua bentuk perhatian kamu ke aku." Kata Delano, Lusi memerah wajahnya saat nafas hangat suaminya terasa menggelitik di telinganya.


"Ini sudah jadi kewajibanku mas, tanggungjawab ku sebagai seorang istri. Seperti halnya kamu yang tidak perlu dituntut untuk kerja tapi mas selalu melakukannya dengan sepenuh hati."


"Aku beruntung memilikimu." Delano membelai wajah cantik Lusi dengan lembut. Namun saat Delano akan kembali melabuhkan ciumannya Lusi mendorong dada Delano.


"Airnya keburu dingin cepetan mandi sana mas." Lusi berlalu meninggalkan Delano yang tersenyum dengan tingkah malu-malu istrinya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Maaf ya tsay kemarin libur up. Migrain ku kambuh

__ADS_1


jangan lupa di pencet jempolnya ya


__ADS_2