
******
Aufar menatap Regan dengan tajam penuh selidik. Meskipun Lisa sudah menjelaskan jika pria itu adalah saudaranya namun Aufar bisa melihat jika tatapan Regan pada Lisa adalah perasaan cinta dan ingin memiliki. Bagaimana pun Aufar adalah laki-laki dia tahu bagaimana perasaan sesama pria.
"Laki-laki kok lemah." Cibir Aufar.
"Bang Aufar .... "
"Serius Lis, kalo bukan karena kamu teman Lusi aku ga mau bantu kamu."
"Ga ikhlas ini ceritanya?" ketus Lisa karena sejak dalam perjalanan menuju pusat kota Aufar terus mengoceh tidak jelas. Sementara kondisi Regan semakin tidak jelas. Lisa berfikir jika Regan terkena typus sehingga Lisa memilih mengundurkan diri dari tim relawan dan pulang kembali ke Jakarta.
"Kalo cuma ngangkut kamu mau sampai ujung dunia juga bakalan abang anterin Lis."
"Saya bayar kamu berapapun yang kamu mau." Sahut Regan dengan suara lemah.
"Saya ga butuh uang kamu. Dasar orang kaya bisanya cuma mengandalkan uang." Akhirnya Aufar diam karena kesal. Setidaknya, sebelumnya Aufar berpikir akan mengejar Lisa karena Lusi sudah memiliki suami. Tapi mengingat pria yang ada di samping Lisa ini sungguh membuat Aufar merasa kisah cintanya sama sekali tak seberuntung karirnya.
Lisa hanya diam seraya memejamkan matanya entah mengapa dia begitu lelah untuk menanggapi kedua pria itu. Saat ini yang Lisa rasa adalah resah karena sebenarnya dia belum siap kembali ke Jakarta. Tapi mengingat Regan, dia juga menjadi tidak tega. Apalagi pria itu sakit demi untuk mencarinya. Lisa merasa sedikit tersanjung namun Lisa tidak akan berharap lebih pada Regan.
Tanpa diduga oleh Lisa, Regan menarik tangannya dan menggenggam jemari gadis itu. Regan tahu dan dapat merasakan jika saat ini Lisa sedang resah.
"Tenanglah, aku akan melindungimu." Lirih Regan.
"Ck ... dasar tidak tahu malu." Gerutu Aufar, namun Regan sama sekali tidak peduli. Sementara Lisa hanya diam saja.
.
.
.
"Terima kasih bang Aufar. Lisa ga akan lupain jasa abang." Ujar Lisa saat tiba di Bandara Wai Oti atau Frans Seda Maumere.
"Hm ... Kalo aku ke Jakarta aku akan hubungi kamu." Aufar mengacak rambut Lisa. Regan tidak dapat berbuat banyak meskipun hatinya terasa panas karena tubuhnya benar-benar lemas.
Dalam hitungan menit Regan dan Lisa sudah berada di dalam pesawat
"Mama, aku kembali membawa calon menantumu." Batin Regan.
.
__ADS_1
.
.
Di kota Jakarta, saat ini Lusi sudah di kediaman nenek Ratih. Dia memeluk tubuh renta Ratih dengan erat.
"Lusi kangen .... " Ujar Lusi manja. Meskipun dulu wanita renta inilah yang menciptakan penderitaan untuknya dan keluarganya tapi Lusi bukanlah gadis pendendam.
Ratih tersenyum meskipun sudut bibirnya tak lagi sejajar. Dia mengusap kepala Lusi dengan sayang. Suryo yang melihat putrinya begitu mengasihi ibunya pun merasa terharu. Sikap putrinya sungguh sangat berjiwa besar.
"Apa kamu baik-baik saja sayang?" Suryo menatap putrinya lekat.
"Lusi baik-baik saja ayah, tadi Lusi hanya sedikit terkejut dan teringat trauma Lusi." Lusi tersenyum kaku, Suryo bisa melihat betapa putrinya masih berada di bawah bayang-bayang traumanya.
"Apa kau butuh seorang hipnoterapi? ayah tidak mau kamu hidup di bawah bayang-bayang traumamu Lusi."
"Ayah tenang saja. Lusi bisa mengatasinya. Hanya saja Lusi perlu waktu."
"Ya sudah jika seperti itu. Tapi jika kamu perlu bantuan ayah, kamu bisa mengatakannya pada ayah."
"Tentu saja ayah."
Kini semuanya sedang berada di ruang tamu membahas pernikahan Suryo dan Mitha. Wajah Lidya tampak lesu tanpa kehadiran putra tercintanya.
"Biarkan saja! dia sudah dewasa mungkin dia sedang mencari pasangan untuk dirinya." Celetuk Suryo dan Lidya hanya tersenyum kecut mendengar ucapan sang kakak.
Suasana dalam ruangan itu terasa lebih hidup setelah hampir puluhan tahun terasa sepi dan mati. Kini ada canda tawa dan suara anak-anak yang membawa suasana terasa lebih berwarna.
Delano datang dengan membawa sebuket bunga baby breath.
Bunga ini juga dikenal dengan nama Gypsophila paniculata. Bunga baby breath ini mempunyai arti nafas bayi yang melambangkan kepolosan, kesucian.
"Bunga cantik untuk wanitaku yang paling cantik." Delano menyodorkan buket bunga berwarna putih itu pada Lusi seraya mengecup pipi Lusi.
Lusi menepuk lengan Delano karena malu. "Ish ... malu tahu."
"Lho memang kamu paling cantik. Coba kamu tanya mereka." Ucap Delano seraya menunjuk semua yang ada di ruangan. Sontak wajah Lusi semakin memerah malu.
"Iya bunda yang paling cantik." Seru Devan dan Davin.
"An... tik, uci an... tik." Ujar Ratih terbata.
__ADS_1
"Dengar 'kan? semua mengakuinya." Delano mendudukkan dirinya di samping Lusi. Lusi menciumi bunga itu, senyumnya mengembang di balik buket. Hati Lusi turut berbunga-bunga mendapat perhatian manis dari suaminya.
"Nah begitu, senyum dong! jangan cemberut terus." Goda Delano. Lusi kembali menepuk lengan Delano.
"Berhubung semua sudah berkumpul aku akan menyampaikan niatan baikku untuk menikahi Mitha lusa nanti. Jadi aku minta doa restu dari kalian semua.
Laila yang duduk di samping Mitha meneteskan air matanya. Dia benar-benar bahagia karena anak dan cucunya kini telah menemukan kebahagiaan mereka.
Mitha memeluk lengan ibunya, melihat ibunya menangis tersirat rasa haru dan kesedihan di mata Mitha. Bagaimanapun ibunya lah satu-satunya keluarga yang dia miliki di saat dirinya jatuh dan terpuruk, sang ibu lah yang menjadi saksi bagaimana dia berjuang selama ini. Laila bagaimana teman di saat Mitha merasa lelah dan ingin menyerah. Dia yang mendorong Mitha untuk bangkit dan kembali menjadi Mitha yang dulu.
"Terima kasih ibu," lirih Mitha.
"Semoga kalian selalu bahagia sampai maut memisahkan." Bisik Laila seraya mengecup puncak kepala putri semata wayangnya.
"Pasti bu, semua berkat doa ibu."
Lusi pun turun menitikkan air mata namun bibirnya mengulas senyuman melihat ibu dan neneknya. Mereka berdua lah yang menjadi alasan Lusi untuk lebih maju dan berkembang lagi agar tidak ada orang yang meremehkan keluarganya yang miskin. Tapi kini semua sudah terbayar lunas. Hidup Lusi dan ibunya sudah mencapai titik kebahagiaan.
"Kenapa kamu ikut menangis sayang?" Ujar Delano seraya mengusap air mata Lusi yang terus menetes.
"Karena aku bahagia .... "
"Aku juga bahagia memiliki kamu."
"Mas, jangan peluk-peluk." Lusi memberontak saat Delano dengan erat memeluk pinggangnya. Lusi merasa risih karena Delano begitu dekat hingga nafas Delano membentur lehernya dan menimbulkan efek geli.
"Coba sekali lagi kamu panggil aku."
"Mau lepasin ga? kalo engga aku ga akan tidur bareng kamu mas. Aku tidur sama anak-anak." ancam Lusi dan akhirnya Delano melepas pelukannya.
"Aku suka kamu manggil aku mas." bisik Delano.
"Bunda sama ayah dari tadi kenapa sih?" tanya Davin penasaran. Karena keduanya tampak seperti sedang bertengkar.
"Ga kenapa-kenapa sayang." Sahut Lusi dengan cepat.
"Tapi dari tadi bunda sama ayah kaya orang berantem. Ya 'kan bang?" Devan mengangguk hingga tatapan semua orang kini mengarah ke pasangan itu.
"Ayah sama bunda sedang bercanda sayang." Jawab Delano, Devan dan Davin akhirnya hanya manggut-manggut lalu kembali sibuk dengan mainan mereka. Sementara para tetua hanya menatap pasangan itu sambil geleng kepala.
"Kalian harus berhati-hati dalam bertindak. Karena usia mereka ini usia anak kritis dan penasaran dengan banyak hal." Nasihat Suryo pada pasangan itu.
__ADS_1
"Iya ayah. Kami akan lebih berhati-hati lagi." jawab Lusi sementara Delano hanya tersenyum miring.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹